Hari itu kami tiba di Villa Mas Gardy sore hari. Aku turun dari mobil dan mendapati Mas Faiz yang juga baru turun dari mobil. Ada kerinduan di hati ketika melihatnya. Entah kenapa ada rasa senang ku rasa saat itu. Tapi kenapa dia sendirian? Kemana wanita itu? Apa dia tak mengajaknya? Ah, bukakkah itu malah bagus karena aku tak harus bersama wanita itu. Mas Faiz tiba-tiba menatapku dan tersenyum, aku terkejut dan membalas senyumannya, namun ketika Mas Gardy mendekat padaku, wajah Mas Faiz seketika berubah.
“Lho Mas Faiz, Dita nya mana?”tanya Mas Gardy ketika melihat laki-laki itu sendiri turun dari mobilnya.
“Oh itu, dia udah dua bulan ini kembali ke luar negri melanjutkan kuliahnya.” jawabnya datar sembari melirikku.
Kulihat Mas Gardy hanya tersenyum dan kembali mempersilakan semua untuk masuk. Mas Faiz sekilas menatapku kemudian perlahan berbalik dan berjalan membawa tasnya. Aku dan Mas Gardy pun berjalan masuk mengikuti yang lain. Setelah menunjukan kamar masing-masing, kamipun berlalu termasuk aku yang ingin berbaring istirahat karena perjalanan jauh tadi.
Malamnya kami yang wanita mempersiapkan makan malam. Ketika semua berkumpul di ruang makan, aku teringat kalo harus menghubungi ibu. Aku izin pamit hendak ke kamar mengambil Hp. Setelah mengambil Hpku dan berjalan keluar kamar, sebuah tangan menarikku. Aku terkejut karena melihat seseorang yang menarikku barusan.
“Mas Faiz.”ucapku sembari melepas pegangan tangannya.
Aku langsung menatap sekeliling, takut jika ada orang yang melihat kami, atau Mas Gardy yang melihat, takut terjadi salah paham.
“Nada, aku merindukanmu.” ucapnya pelan.
Aku terkejut mendengar ucapannya, tapi lagi-lagi perasaan bahagia itu hadir . Aku tak tahu kenapa aku bahagia mendengar ucapannya? Apa aku merasakan hal yang sama? Merindukannya? Gak, aku gak boleh lemah.
“Maaf Mas, aku harus kembali ke ruang makan.” ucapku berusaha menghindarinya.
“Nada, aku mohon.”
“Mas, bukankah Mas sudah berjanji padaku tak akan mengangangguku lagi?”
“Iya aku tahu, akupun berusaha untuk itu. Kau lihat bukan, dua bulan aku menahan diriku untuk tak mendekatimu lagi, bahkan aku membiarkan dirimu pindah ke bagian yang lain, biar apa? Biar aku bisa perlahan melupakanmu pelan-pelan, tapi apa yang ku rasa, aku tersiksa dengan perasaanku sendiri. Aku tak bisa melupakanmu begitu saja.”
“Dulu aku merasakan itu Mas, tersiksa dengan perasaanku sendiri. Ketika aku dengan tulus mencintai, Mas malah pergi meninggalkan aku dengan perasaanku yang sedang tumbuh. Jangan katakan Mas tersiksa dengan itu, karena itu tak seberapa dengan apa yang ku rasa dulu ketika berusaha melupakan Mas.”
“Nada, masih sebenci itukah kau padaku?”
“Pertanyaan macam apa itu mas? Sebuah hati tersakiti dengan dalam, dan segampang itu Mas berharap aku bisa langsung menerima maaf Mas dan melupakannya?” ucapku sambil menatapnya dengan marah.
“Nada aku tahu …”
“Maaf, tak ada yang perlu dibahas lagi. Mas lihatkan kalo aku sudah membuka hatiku untuk orang lain. Mas Gardy laki-laki baik, dan aku rasa dia laki-laki yang tepat untukku.”
“Apa kau mencintainya?”
Lidahku seketika tak bisa menjawabnya, entalah aku masih bingung dengan hatiku ini. Dulu setiap bersama Mas Faiz aku selalu berdebar dan berbunga-bunga serta selalu merasa bahagia, sementara ketika bersama Mas Gardy aku belum pernah sekalipun merasakan perasaan seperti itu lagi.
“Mas tak punya hak untuk menanyakan perasaanku lagi.” ucapku sembari berbalik, Namun lagi-lagi Mas Faiz kembali menarik tanganku membuat aku sangat terkejut dan menghempaskannya lagi.
“Nada, aku tahu kalo kau tak mencintai Mas Gardy. Aku tahu masih ada cinta di hatimu untukku.”
Aku menatapnya dengan wajah bingung, “Darimana Mas bisa punya pemikiran seperti itu?”
“Ya aku tahu, meski kau telah pindah ke bagian lain, tapi setiap aku datang ke kantor atau bertemu denganmu, kau selalu mencuri pandang dan menatapku. Kaupun merasakan rindu itu juga bukan?”
Ya Tuhan, kenapa laki-laki ini bisa mengerti perasaanku, padahal aku sudah berusaha menutupinya dengan sikapku, tapi gak, aku tak mau lagi terlena menghancurkan perasaanku sendiri. Laki-laki ini telah menyakitiku, aku tak bisa membiarkan perasaanku terluka lagi.
“Gak, aku sama sekali ga merindukan Mas sedikitpun.” ucapku dengan suara tegas.
“Kau bohong Nada.” ucapnya sembari menatap mataku dengan lembut seolah mencari jawaban.
“Sudah kukatakan gak!! Tak ada rindu maupun cinta untuk Mas lagi.” Jawabku sambil membuang mukaku. Sungguh aku tak bisa menatapnya. Air mataku tertahan di pelupuk mata.
“Jangan bohongi dirimu.”
“Kenapa Mas terus memaksaku?”
“Kenapa kau tak berani menatapku?”
“Kenapa Mas ingin menyakitiku lagi? Apa belum cukup yang Mas lakukan padaku dulu?”
“Nada, aku tak ingin menyakitimu. Aku cuma ingin tahu perasaanmu, dan …?”
“Dan apa? Dan jika aku masih memiliki perasaan pada Mas, apa Mas berharap itu bisa mengembalikan hubungan kita?”
“Nada …”
“Gak Mas, gak akan ada yang berubah dengan semua yang terjadi. Mas pikir Mas bisa mengembalikan semua air mataku dan semua kesedihan aku dan ibuku?”
“Nada, aku tahu aku sangat bersalah padamu, aku mohon maafkan aku.”
“Sudah ku katakan, Aku belum memiliki ruang maaf di hatiku untuk Mas.”
“Iya aku tahu, kau sudah mengatakan itu, tapi setelah dua bulan berlalu apa aku belum bisa mendapatkan maafmu?”
“Mas bukan cuma meminta maafku, Mas berharap aku juga menerima Mas kembali. Iya kan ?!!”
Nampak wajahnya terkejut dengan ucapanku.
“Iya. Iya, kau benar. Aku masih mengharapkan hubungan kita kembali. Aku tahu aku telah salah meninggalkanmu waktu itu, tapi aku juga merasakan tersiksa dengan semua itu. Aku sudah mencarimu namun takdir belum
mempertemukan kita waktu itu. Dan sekarang kita bertemu, perasaan ini tetap ada, bahkan aku merasakan itu semakin besar padamu. Aku berusaha membunuh cinta ini, tapi yang ku rasa aku semakin mencintaimu.”
“Aku tak punya rasa percaya lagi padamu Mas.”
“Maukah kau menikah denganku?”
Mataku seketika membesar mendengar ucapannya. Laki-laki ini telah meninggalkan aku di hari pernikahan kami, dan sekarang dengan gampangnya dia meminta untuk menikah lagi dengannya. Aku perlahan menangis yang sedari ku tahan.
Plaak sebuah tamparan kuberikan pada laki-laki ini.
“Mas pikir aku boneka?!! Mas pikir aku gak punya perasaan? Hingga dengan gampang Mas kembali dan mengajakku menikah. Mas egois, Mas hanya memikirkan diri Mas aja.” ucapku dengan air mata yang terus mengalir.
“Nada, tampar aku, pukul aku jika itu bisa membuat kau memaafkan aku. Lakukan semua yang ingin kau lakukan padaku. Aku akan diam dan menerimanya.” jawabnya dengan perasaan bersalah.
Sungguh hatiku dilema dengan semua ini, perasaanku campur aduk.
“Maaf, aku harus pergi.” ucapku sembari menghapus air mataku.
“Kau tak akan pergi kemana-mana Nada, sebelum kau yakinkan diriku kalo kau tak mencintaiku lagi.” ucapnya sembari mendekat.
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan tajam. Kali ini kami begitu dekat, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajah yang harusnya dulu adalah menjadi wajah pertama yang kulihat ketika aku bangun di pagi hari. Aku perlahan mendorong tubuhnya untuk menjauh.
“Apa Mas butuh bukti kalo aku sudah melupakan Mas?” jawabku dengan nafas menahan marah.
“Ya, buktikan padaku. Buktikan sekarang juga!!”
“Baiklah, jika Mas benar-benar memaksaku.”
Aku menarik nafas panjang dan perlahan meraih Hpku dan menekan sebuah nomor.
“Hallo, Mas Gardy aku terima lamarannya.” ucapku dengan suara bergetar.
Laki-laki itu menatap dengan wajah yang akupun tak mengerti.
Bersambung.