– Bayangan di Balik Pintu

827 Words
Ponsel di genggaman Ariana bergetar pelan. Matanya terpaku pada pesan misterius itu. "Hati-hati, Ariana. Tidak semua yang kau lihat adalah kenyataan. Beberapa rahasia lebih baik tetap terkubur." Siapa yang mengirim ini? Jari-jarinya gemetar saat ia mencoba melihat nomor pengirimnya. Tidak dikenal. Pikirannya langsung dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Apakah ini dari Celeste? Tidak, itu terlalu terang-terangan. Jika Celeste ingin mengancamnya, ia akan melakukannya secara langsung—bukan dengan pesan samar seperti ini. Atau… bisa jadi ini dari seseorang yang tahu tentang Leonardo? Ariana menelan ludah, merasakan udara di sekitar menjadi lebih dingin. Jika ada rahasia yang disembunyikan Leonardo, seberapa berbahayakah itu? Ia berpikir untuk mengabaikannya. Mungkin ini hanya lelucon. Tapi firasatnya mengatakan tidak. Matanya kembali mengarah ke pintu ruang kerja Leonardo yang masih tertutup. Ia bisa mendengar suara samar dari dalam—mungkin suara lembaran kertas yang dibalik, atau kursi yang sedikit bergerak. Haruskah ia bertanya? Atau… haruskan ia mencari tahu sendiri? Langkah Diam-Diam Pukul 02.00 dini hari. Ariana masih belum bisa tidur. Pesan misterius itu mengganggunya. Leonardo belum kembali ke kamar. Dengan hati-hati, ia bangkit dari ranjang, memastikan langkahnya tidak bersuara. Udara malam terasa lebih dingin saat ia berjalan mendekati ruang kerja suaminya. Pintu sedikit terbuka. Dari celah kecil itu, ia bisa melihat Leonardo duduk di mejanya, membaca sebuah dokumen tebal. Tatapan pria itu begitu fokus. Tangannya sesekali menyentuh pelipisnya, seolah apa yang ia baca sangat mengganggu pikirannya. Lalu, Ariana melihat sesuatu yang lain. Di atas meja, ada sebuah amplop cokelat tua. Amplop itu tampak lusuh, dengan segel merah di bagian belakangnya. Firasat Ariana mengatakan amplop itu penting. Ia menahan napas, mencoba melihat lebih jelas. Leonardo tampaknya terlalu sibuk untuk menyadari keberadaannya di luar pintu. Tapi tiba-tiba— Ceklek. Ponsel Ariana berbunyi pelan. Jantungnya langsung melonjak ke tenggorokan. Leonardo menoleh tajam. Mata mereka bertemu. Untuk sepersekian detik, ruangan terasa beku. Konfrontasi Tengah Malam “Apa yang kau lakukan?” suara Leonardo terdengar rendah, tetapi penuh dengan otoritas. Ariana menelan ludah. “Aku tidak bisa tidur.” Leonardo berdiri dari kursinya, berjalan mendekat. Cahaya lampu di ruang kerja membuat sosoknya terlihat lebih mengintimidasi. “Maka seharusnya kau tetap di tempat tidur,” katanya pelan, tetapi tajam. Ariana berdiri di ambang pintu, hatinya berdebar kencang. “Aku hanya ingin tahu… apa yang kau sembunyikan.” Leonardo terdiam sejenak. “Sembunyikan?” Tatapan Ariana jatuh pada amplop cokelat di mejanya. “Itu. Apa itu?” Mata Leonardo ikut mengikuti arah pandangnya. Tapi alih-alih menjawab, ia justru tersenyum tipis. “Kau mulai penasaran, ya?” katanya, suaranya sedikit mengejek. Ariana mengangkat dagunya. “Apakah salah jika aku ingin tahu sesuatu tentang suamiku sendiri?” Leonardo menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ia kembali ke mejanya, mengambil amplop itu, lalu menggenggamnya erat. “Ada beberapa hal yang lebih baik tidak kau ketahui, Ariana.” Jawaban itu hanya membuatnya semakin curiga. Ariana melangkah masuk ke dalam ruang kerja, menolak untuk diintimidasi. “Kalau begitu, kau takut aku tahu?” Leonardo menatapnya. “Aku hanya ingin melindungimu.” “Melindungiku dari apa?” desak Ariana. Hening. Sejenak, Leonardo tampak ragu. Namun, akhirnya ia menggeleng. “Tidurlah, Ariana.” Ariana mengepalkan tangannya. Ini bukan pertama kalinya Leonardo menutup-nutupi sesuatu. Tapi jika ia berpikir Ariana akan menyerah begitu saja… maka ia salah besar. Kejutan di Pagi Hari Keesokan paginya, saat Ariana bangun, Leonardo sudah tidak ada di ranjang. Seperti biasa, pria itu selalu bangun lebih awal, tetapi ada sesuatu yang berbeda hari ini. Di atas meja rias, ada sebuah kotak kecil dengan pita merah. Ariana mengernyit. Apa ini? Dengan hati-hati, ia membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kalung berliontin berlian biru. Matanya membesar. Kalung ini… bukan sekadar perhiasan biasa. Ia pernah melihatnya sebelumnya. Di salah satu majalah fashion, disebutkan bahwa kalung ini adalah barang koleksi pribadi dari keluarga Devereaux. Mengapa Leonardo memberikannya padanya? Di dalam kotak, ada sebuah catatan kecil. "Jangan terlalu penasaran, Ariana. Kadang, lebih baik menerima sesuatu apa adanya." Tangan Ariana mengepal. Leonardo benar-benar menyuruhnya diam dengan cara seperti ini? Seolah-olah hadiah bisa menghentikan kecurigaannya? Ariana merasakan amarah kecil mulai muncul. Baik. Jika Leonardo ingin bermain seperti ini, maka ia juga bisa bermain. Penyelidikan Dimulai Hari itu, Ariana menghabiskan waktu di kamar kerjanya sendiri. Ia membuka laptopnya, mencari semua informasi yang bisa ia temukan tentang keluarga Devereaux, perusahaan Leonardo, dan bahkan Celeste. Setelah beberapa jam, ia akhirnya menemukan sesuatu. Sebuah berita lama dari lima tahun lalu. "Tragedi di Paris: Kematian Misterius Tuan dan Nyonya Devereaux." Ariana membelalakkan mata. Ia membaca lebih dalam. Orang tua Leonardo meninggal secara misterius di rumah mereka di Paris. Polisi menyatakan bahwa itu kecelakaan, tetapi ada rumor bahwa… itu bukan kecelakaan, melainkan pembunuhan. Jantung Ariana berdetak kencang. Leonardo tidak pernah bercerita tentang ini. Dan lebih aneh lagi… berita ini tidak banyak diliput di media lain. Seolah-olah… seseorang mencoba mengubur fakta ini. Ariana bersandar di kursinya, pikirannya berputar. Apakah ini rahasia yang Leonardo coba sembunyikan? Apakah ini sebabnya Celeste kembali? Apakah ini sebabnya seseorang mengirim pesan misterius padanya? Dan… Apakah Leonardo benar-benar orang yang selama ini ia kira?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD