Suasana di penthouse masih dipenuhi keheningan setelah Leonardo masuk ke ruang kerjanya. Ariana berdiri di ruang tamu dengan perasaan campur aduk. Pernikahan ini memang dimulai sebagai kesepakatan, tetapi semakin lama ia berada di dalamnya, semakin banyak rahasia yang ia temukan.
Ia berjalan ke jendela besar yang menghadap kota New York yang berkilauan. Dari luar, hidupnya tampak sempurna—istri dari pria kaya dan berkuasa, tinggal di apartemen mewah, mengenakan pakaian mahal. Tapi kenyataannya? Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas.
Ia masih belum bisa menghilangkan wajah Celeste dari pikirannya. Wanita itu jelas memiliki hubungan yang lebih dalam dengan Leonardo daripada yang ia duga. Dan jika Celeste memang mengkhianatinya di masa lalu, mengapa Leonardo tampak begitu santai terhadap kehadirannya?
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?
Ariana tahu ia tidak akan mendapatkan jawaban hanya dengan berdiri di sini. Ia harus mencari tahu sendiri.
Malam yang Gelisah
Malam semakin larut, tetapi Ariana tetap terjaga.
Ia berbaring di ranjang besar mereka, menatap langit-langit. Biasanya, ia tidur di sisi kanan, sedangkan Leonardo mengambil sisi kiri. Namun, pria itu masih berada di ruang kerjanya.
Pikiran tentang masa lalu Leonardo dan Celeste terus berputar di kepalanya. Jika mereka sudah berakhir, mengapa Celeste kembali?
Setelah beberapa menit berguling-guling tanpa bisa tidur, Ariana akhirnya menyerah. Ia duduk di tepi ranjang, menatap pintu kamar.
Haruskah ia bertanya langsung kepada Leonardo?
Atau…
Ariana menghela napas panjang sebelum berdiri. Dengan langkah hati-hati, ia meninggalkan kamar dan berjalan menuju ruang kerja Leonardo.
Menggali Masa Lalu
Di depan pintu ruang kerja, Ariana ragu sejenak sebelum akhirnya mengetuk.
Tidak ada jawaban.
Dengan hati-hati, ia memutar kenop pintu. Tidak dikunci.
Ketika ia masuk, ruangan itu dipenuhi aroma khas kayu cendana dan sesuatu yang lebih tajam—seperti aroma kertas tua dan buku yang sudah lama tersimpan.
Ruang kerja Leonardo sangat rapi. Buku-buku tersusun sempurna, dokumen tertata dengan presisi, seolah-olah pria itu membangun benteng tak terlihat di sekitar dirinya—mencegah siapa pun melihat siapa dirinya sebenarnya.
Di salah satu rak, Ariana melihat beberapa bingkai foto. Ia mendekat dan mengambil salah satunya.
Itu foto Leonardo dan seorang wanita.
Celeste.
Dalam foto itu, mereka tampak bahagia—Leonardo mengenakan jas hitam elegan, sementara Celeste bersandar padanya dengan senyum manis.
Ariana menggigit bibirnya. Jadi, dulu mereka memang saling mencintai?
“Memang menyenangkan melihat masa lalu, bukan?”
Ariana tersentak dan berbalik. Leonardo berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam, ekspresi wajahnya sulit ditebak.
“Aku…” Ia menelan ludah, merasa tertangkap basah. “Aku hanya ingin bicara.”
Leonardo melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih tebal.
“Bicara tentang apa?”
Ariana meletakkan kembali bingkai foto itu di tempatnya. “Tentang Celeste. Tentang masa lalu kalian.”
Leonardo tetap diam sejenak, lalu berjalan ke meja dan duduk di kursinya. “Dan mengapa itu penting bagimu?”
Ariana mendesah, frustrasi. “Karena aku ingin tahu dengan siapa aku menikah.”
Leonardo menatapnya lama sebelum akhirnya berbicara. Suara rendahnya membuat bulu kuduk Ariana berdiri.
“Celeste dan aku bertunangan lima tahun lalu. Kami dijodohkan oleh keluarga kami—hampir seperti kita.”
Ariana terkejut mendengar pengakuan itu.
“Tapi dia pergi,” lanjut Leonardo. “Saat itu, Richard Moreau menginginkan merger dengan keluarga lain yang lebih berpengaruh. Celeste setuju untuk menikah dengan pria yang dipilih ayahnya, dan dia meninggalkanku.”
Ariana menahan napas.
“Jadi, dia menikah?”
Leonardo mengangguk. “Ya. Tapi pernikahannya tidak bertahan lama. Suaminya selingkuh, dan akhirnya mereka bercerai.”
Ariana merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya. Jadi, Celeste kembali setelah gagal dalam pernikahannya?
“Dan sekarang dia ingin kembali padamu,” gumamnya.
Leonardo mengangkat satu alis. “Apa itu masalah bagimu?”
Ariana menegang. “Aku hanya tidak ingin menjadi pion dalam permainan lamamu dan Celeste.”
Leonardo tersenyum miring. “Jadi, kau mengakuinya?”
Ariana mengerutkan kening. “Mengakui apa?”
“Bahwa kau peduli.”
Ariana ingin membantah, tetapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya.
Ia memang peduli. Lebih dari yang seharusnya.
Leonardo berdiri, mendekatinya hingga jarak di antara mereka begitu tipis. Ariana bisa mencium aroma maskulin khasnya—campuran kayu cendana dan sesuatu yang tajam, misterius.
“Dengarkan aku baik-baik, Ariana,” katanya dengan suara rendah. “Celeste adalah bagian dari masa lalu. Kau adalah istriku sekarang.”
Ariana menatap matanya, mencari kebohongan, tetapi ia hanya menemukan ketegasan.
Ia ingin mempercayainya. Tetapi sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa ini belum selesai.
Dan ia harus bersiap menghadapi apa pun yang akan datang.
Sebuah Peringatan
Saat Ariana kembali ke kamar, pikirannya masih kacau. Ia duduk di tepi ranjang, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Lalu, ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Hati-hati, Ariana. Tidak semua yang kau lihat adalah kenyataan. Beberapa rahasia lebih baik tetap terkubur."
Darah Ariana berdesir. Siapa yang mengirim ini?
Apakah ini peringatan? Atau ancaman?
Matanya kembali tertuju ke pintu ruang kerja Leonardo.
Apa yang sebenarnya ia sembunyikan?