Bab 1: Malam Penyerahan dan Sisi Monster Arsenio
"Paman, bajingan! Lepaskan aku!"
Clarissa menyentak lengannya dengan kasar, tetapi cengkeraman Paman Bram justru makin mencekik kulitnya. Pria paruh baya itu menyeretnya menembus badai, mengabaikan fakta bahwa sepatu flat Clara sudah terlepas satu dan gaun rajutnya basah kuyup akibat air hujan. Di depan mereka, gerbang besi raksasa mansion gotik itu terbuka lambat. Seperti rahang monster yang siap menelan mangsa hidup-hidup.
"Diam, Clara! Tutup mulutmu kalau masih mau hidup!" Bram membentak, suaranya parau bercampur ketakutan yang histeris. Kulit wajahnya pucat pasi, dipenuhi keringat dingin yang terus luntur oleh air hujan.
Pintu ganda mansion dibanting terbuka dari dalam oleh dua pengawal bertubuh tegap. Tanpa belas kasihan, Clara didorong masuk ke dalam aula utama yang megah namun terasa dingin seperti kuburan. Di langit-langit yang menjulang tinggi, lampu gantung kristal bergoyang pelan, memantulkan cahaya redup ke atas sofa kulit hitam di ujung ruangan.
Di sanalah iblis itu duduk.
Arsenio. Pewaris takhta tirani yang menguasai separuh bisnis gelap dan legal di kota ini. Pria yang dirumorkan memiliki gangguan jiwa, kejam tanpa batas, dan memiliki darah sedingin es.
Arsen duduk dengan satu kaki bertumpu santai. Kemeja hitamnya digulung berantakan hingga siku, memamerkan urat-urat menonjol di sepanjang lengan bawahnya yang kokoh. Jemari tangannya yang panjang sibuk memainkan sebuah pemantik api perak.
Klitik. Klitik. Klitik.
Suara logam itu beradu secara konstan di keheningan ruangan. Kedengarannya seperti ketukan jam kematian yang sedang menghitung sisa umur mereka.
"T-Tuan Muda Arsenio..."
BRUK!
Tanpa sisa harga diri, Paman Bram langsung menjatuhkan lututnya ke lantai marmer yang sedingin es. Pria itu bersujud, dahinya menempel rapat ke lantai. "Saya membawa apa yang saya janjikan. Tolong ampuni saya... nyawa saya, Tuan. Utang judi saya... semua taruhan malam itu... saya bayar dengan gadis ini. Dia masih bersih! Belum pernah disentuh siapa pun!"
Clara merasa seluruh pasokan udara di parunya tersedot habis. Kepalanya berputar hebat, dihantam kenyataan yang lebih brutal dari badai di luar.
Dia dijual. Oleh satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kecelakaan maut merenggut orang tuanya. Pria yang selama ini dia rawat, pria yang dia panggil 'Paman', ternyata hanyalah seekor binatang yang menumbalkannya demi melunasi utang judi.
"Paman..." Suara Clara bergetar, parau oleh rasa hancur yang menguliti dadanya. "Kau... melacurkanku pada orang asing?"
"Tutup mulutmu, anak sialan! Ini demi melunasi utang orang tuamu juga!" Bram memaki tanpa berani mendongak.
Klitik.
Suara pemantik api mendadak berhenti. Keheningan yang mencekik langsung turun ke ruangan itu.
Arsen perlahan menggulirkan pandangannya. Sepasang mata elang yang sehitam malam itu mengunci sosok Clara. Dingin. Kosong. Ada kilat ketidakstabilan mental yang pekat di dalam manik mata itu—jenis tatapan dari seorang psikopat yang tidak mengenal rasa takut ataupun empati.
Arsen bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi tegap seketika menenggelamkan atmosfer ruangan. Setiap langkah kakinya yang mendekat terdengar seperti ketukan lonceng kematian di atas marmer.
"Utangmu lima puluh miliar, Bramantyo," suara Arsen bariton, rendah, namun mengirimkan gelombang getaran mengerikan yang membuat bulu kuduk Clara berdiri. Arsen berhenti tepat di depan Bram, bahkan tidak sudi melirik pria tua itu. Matanya tetap menelanjangi Clara dengan tatapan menilai yang tajam. "Dan kau pikir, satu nyawa gadis kurus berantakan ini bisa menutup angka itu?"
"Tuan... saya mohon... dia berharga..."
"Pergi," potong Arsen pendek. Dingin dan mutlak. "Sebelum aku berubah pikiran dan membiarkan anjing-anjingku merobek lehermu di halaman."
Bram tidak melepaskan kesempatan itu. Tanpa menoleh sedikit pun pada Clara yang menatapnya dengan pandangan hancur, pria tua itu bangkit dan berlari tunggang-langgang keluar dari mansion, meninggalkan keponakannya sendirian di dalam sangkar emas sang monster.
Keheningan malam kembali menyelimuti aula besar itu. Rasa marah, takut, dan terhina bergolak menjadi satu di dalam dada Clara. Namun, dia menolak untuk merangkak. Clara mengepalkan tangan hingga kukunya memutih, menelan paksa seluruh tangisnya, dan mengangkat dagunya tegap—menantang langsung tatapan Arsen yang kini berjalan mengitarinya seperti singa lapar.
Aroma maskulin yang bercampur dengan bau tembakau mahal dari tubuh Arsen mengepung indra penciuman Clara. Pria itu berhenti tepat di depannya.
"Kau tidak menangis?" tanya Arsen, ada nada ketertarikan yang sinis dalam suaranya. "Semua wanita yang diseret ke sini biasanya akan merangkak di kakiku, mengencingi lantai karena takut. Tapi kau... matamu seolah ingin menguliti kepalaku."
"Kalau aku punya pisau, lehermu yang pertama kukuliti," jawab Clara. Suaranya bergetar hebat karena amarah, tetapi matanya menyorotkan kebencian yang murni. Dia menolak menjadi mangsa yang lemah.
Mendengar ucapan kasar itu, sudut lipatan bibir Arsen terangkat. Dia tersenyum tipis—sebuah senyuman mengerikan yang tidak sampai ke mata.
Sret!
Sebuah gerakan kilat terjadi. Tangan Arsen yang besar melesat maju, mencengkeram rahang Clara dengan sangat kuat hingga gadis itu memekik tertahan. Jari-jari kokoh Arsen menekan persendian rahangnya, memaksa Clara untuk mendongak lurus. Cengkeraman itu begitu dominan, seolah Arsen bisa mematahkan lehernya hanya dengan satu sentakan kecil.
"Sakit?" bisik Arsen, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas hangatnya yang berbau mint menerpa bibir Clara, kontras dengan sentuhan tangannya yang sedingin es. "Ini bahkan belum dimulai, Clarissa."
Clara mencengkeram pergelangan tangan Arsen, mencoba melepaskan diri, namun kekuatannya seperti semut melawan gajah.
"Kau hanya mainan baruku," Arsen berbisik lagi, suaranya kini terdengar sangat lembut, namun kelembutan itu justru ribuan kali lebih mengerikan daripada bentakan. "Dan di rumah ini... aku bisa menghancurkanmu sampai tidak ada yang tersisa."
Sebelum Clara sempat membalas, Arsen melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Clara terhuyung dan jatuh terduduk di atas lantai marmer yang keras.
BRAK!
Pintu aula besar di belakang mereka didobrak dari luar. Seorang pengawal berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.
"Tuan Muda Arsenio!" seru pengawal itu, suaranya gemetar panik. "Ini... ini tentang Tuan Bramantyo. Mobilnya baru saja dihantam truk kontainer tepat di depan gerbang bawah. Mobilnya meledak... dia tewas terbakar di tempat!"
DEG.
Jantung Clara serasa berhenti berdetak. Kepalanya berputar hebat. Tewas? Pamannya baru saja keluar tidak lebih dari dua menit yang lalu, dan sekarang... mati terbakar?
"Ada pesan dari Dewan Direksi di dinding gerbang, Tuan Muda," lanjut pengawal itu, tubuhnya menggigil ketakutan di bawah atmosfer yang mendadak mendingin. "Mereka billing... itu hadiah sambutan karena Anda baru saja menerima 'barang' baru malam ini."
Atmosfer di dalam ruangan langsung berubah drastis. Keheningan berganti menjadi hawa membunuh yang luar biasa pekat.
Clara bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Sepasang mata Arsen yang tadinya tenang dan dingin, mendadak bergetar hebat. Urat-urat di pelipis dan leher pria itu menonjol keluar seperti mau pecah. Napas Arsen yang tadinya teratur kini berubah menjadi helaian napas yang berat, kasar, dan memburu. Nama 'Dewan Direksi' tampaknya telah memicu trauma mendalam dan kegilaan dari masa lalunya yang kelam.
Arsen perlahan membalikkan badannya. Pandangannya kembali tertuju pada Clara.
Namun kali ini, itu adalah tatapan kegilaan total. Mata Arsen memerah, penuh dengan haus darah yang tak terkendali. Langkah kakinya yang lebar kembali mendekati Clara. Pria itu membungkuk, menyentak kasar kerah gaun Clara hingga tubuh gadis itu terangkat paksa dari lantai.
"Mereka ingin bermain?" Arsen menggeram parau, amarahnya meledak total. "Mereka membunuh umpan mereka sendiri untuk menantangku? Dan kau..."
Arsen mencengkeram leher Clara dengan satu tangan, mendorongnya kasar dan menekannya ke dinding terdekat hingga kepala Clara terbentur keras. *BUGH!* Pasokan oksigen Clara seketika terputus. Sepasang mata merah Arsen menatapnya dengan kekosongan jiwa seorang psikopat yang siap mengeksekusi korbannya.
"Kau membawa sial ke dalam rumahku! Jika mereka ingin kau mati untuk memancingku..." Cengkeraman Arsen di leher Clara makin mengencang, membuat pandangan Clara mulai mengabur dan berkunang-kunang. "Maka lebih baik aku yang mencekikmu sampai mati malam ini juga!"
Clara mencengkeram pergelangan tangan Arsen yang mengunci lehernya, kakinya menggelepar di udara mencari pijakan. Di ambang kesadarannya yang mulai menipis, di bawah tatapan mata monster yang mengerikan itu, Clara menyadari satu hal yang aneh.
Tangan Arsen yang sedang mencekiknya... bergetar hebat. Pria ini tidak hanya sedang mengamuk. Dia sedang tersiksa oleh histeria di dalam kepalanya sendiri.
KRETEK.
Suara gesekan tulang leher Clara terdengar lamat-lamat di telinganya sendiri seiring dunianya yang perlahan berubah menjadi hitam pekat.