Pemotretan kedua, di hari selasa. Kali ini aku bisa katakan bahwa pemotretan sekarang tidak seberat yang pertama. Mungkin karena aku sudah punya pengalaman; seperti tidak perlu kaku, rileks, apalagi tahu bahwa fotografer bernama Naya ini sangat ramah padaku. Dia termasuk tipe friendly, hingga hanya dua kali pertemuan kami sudah akrab. Namun, ketika diarahkan untuk melihat ke kamera, aku langsung terkejut pada sosok di belakang Naya. Hampir menjatuhkan botol toner kaca yang aku pegang, jika seandainya tidak segera sadar bahwa harganya setara dengan makanku selama tiga hari. Sosok itu ... Adit. Begitu mengintimidasi dengan tatapnya lurus padaku, dengan tangan terlipat di depan d**a. Keningnya juga berkerut tipis, seolah tidak suka. Maka dari itu, aku nyaris kesulitan untuk bersikap t

