Adit benar-benar membuktikan ucapannya. Setelah aku turun, ia turut menghampiri usai mematikan mesin, dan mengunci pintu mobilnya. Aku langsung kikuk, karena di sini ... kontrakannya hampir semua diisi orang, dengan berdempatan dengan rumah sebelah. Aku takut, jujur saja. Namun, pria ini malah menunjukkan gelagat sebaliknya. Meraih tanganku untuk digenggam, sembari memasuki kontrakan setelah aku membuka kuncinya. Mencari sakelar, lalu ruangan gelap ini langsung disinari cahaya. "Kamu tidur di sana?" tanya Adit, seolah tidak terima ketika melirik ke kasur Kak Fajar. Aku menggeleng. "Kakak aku nggak sejahat yang kamu pikirin, Adit." Sedikit memaksa, aku melepaskan tangan dari genggaman pria ini, sehingga Adit bisa mengecek sekitarnya. "Nggak biasa sama rumah kecil, ya?" "Kamu tanya itu

