Padahal, sebelumnya aku sudah mempersiapkan diri untuk perpisahan dengan Adit, tetapi entah mengapa, sekarang lebih terasa sulit dibandingkan kemarin. Padahal—lagi—aku seharusnya lebih tenang karena tidak perlu memikirkan uang ganti rugi kontrak seperti yang Adit ucapkan, tetapi ... dadaku sesak setiap kali mengingat pertemuan terakhir kami. Lalu berakhir dengan aku yang akan mengepel lantai, merosot lemas. Hanya bisa menutupi wajah demi menyembunyikan kelemahan sekarang ini dari siapa pun, sebagai bentuk penguatan diri terakhir. Aku ingin lari ke kamar mandi, tetapi kakiku sungguhan kehilangan tenaga. Aku ... rapuh. Sementara kemarin, aku sudah optimis mau berpisah. Kenapa sekarang jadi begini? Apa karena pria itu membuatku berharap dan terbang oleh perasaan sebentar, lalu membuangku

