Perasaanku masih tidak nyaman, jujur saja. Ada banyak kegelisahan, dan penyesalan—entah untuk hal apa; pernikahan ini, atau perpisahannya. Namun, tidak masalah. Entah sudah berapa kali dalam sehari aku meyakinkan diri sendiri, dan selalu ... optimisme yang berusaha aku bangun akan luruh seiring waktu. Aku wajib membuat kesibukan baru untuk membuat pikiran perasaanku beralih dari perpisahan ini, dan segala sikap Adit. Setelah membersihkan kafe yang masih sepi, aku lanjut membantu bagian dapur—meski awalnya ditolak. "Saya nggak minta bayaran tambahan sama Bu Irma, kok," ucapku menenangkan. "Emang mau sibuk aja, soalnya nggak enak diem aja." Jadilah, mereka memberikan banyak tugas padaku. Seperti mencuci sayuran untuk makanan, atau jika ada bahan habis, aku diarahkan untuk menemani tem

