Karena senior sialan yang menyeretku tiba-tiba untuk membantunya menulis essai, aku jadi pulang telat di bulan kedua berada di kampus.
Saat mengikuti krida bulan lalu, ada bidang pemilihan minat dan bakat yang bersifat wajib, aku memilih bidang essai karena bermanfaat untuk keberlangsunganku sebagai mahasiswa berprestasi untuk mengikuti lomba essai dan karya ilmiah sampai menjadi juara dan dapat "uang". Sejak penampilan minat dan bakat pertamaku bersama mahasiswa baru lain saat krida, beberapa dosen dan senior melirik essai kelompok kami, fokus mereka tertuju padaku yang ditunjuk sebagai pemimpin kelompok-- yah, aku juga tidak keberadaan. Tau-tau, di bulan pertama kuliah, aku sudah disuruh ikut lomba essai oleh dosen-- walau tidak berhasil masuk semi final.
Jalan 1 km malam-malam sendirian melewati beberapa gang pasti menyeramkan karena aku sedang berada di Jakarta, ibu kotanya Indonesia. Kota besar. Tak menutup kemungkinan banyaknya pelaku kriminal malam ini.
Aku tak masalah jika sampai terluka, tapi saat ini aku sedang membawa laptop, aku tidak ingin sampai terjadi apa-apa dengan laptopku, dia adalah sumber uangku. Aku memutuskan untuk menunda membuka usaha dan tidak jadi kerja paruh waktu karena ingin fokus saja mengukir prestasi ber-uang di kampus. Hadiah juaranya rata-rata mencapai gaji 3 bulan pekerja paruh waktu. Lebih dari cukup.
"Ah." Suara gebukan terdengar di sebelah kiri, tinggal satu langkah lagi sampai aku berada di simpang 3 gang kecil ini. Aku tertegun sejenak, memikirkan nasib baik atau nasib buruk. Tentulah nasibku buruk juga maju satu langkah dan berlagak macam pahlawan kemalaman, dan aku tidak terlalu yakin dengan nasib baik di detik ini.
Jika putar balik, akan jauh. Aku yakin para tukang pukul itu tak akan membiarkanku lewat begitu saja, walau kita berada di arah yang berbeda.
Suara desahan korban yang dipukul terdengar semakin keras, aku menelan ludah-- bukan karena takut aku terluka jika berlagak menjadi pahlawan, aku hanya takut laptopku rusak saja saat dibawa bertarung, atau jika ditinggalkan, mana tau dicuri oleh komplotan tukang pukul di sebelah kiri sana, atau diambil oleh orang lewat.
Dari suaranya, hanya ada satu korban, dan tukang pukul berbadan besar mungkin 8-10 orang, cukup banyak. Aku mengintip sedikit, hitunganku nampaknya benar, tukang pukulnya ada 10 orang, dan yang sedang tersudut di dinding itu kemungkinan korban mereka. Lampu di sana juga mati, kesempatan besar untuk menjadi pahlawan misterius yang wajahnya tidak nampak karena tertutupi langit gelap, cahaya bulan tak mampu mengusik.
Aku meregangkan tubuh, memutar leher, melayangkan tinju ke udara, melompat di tempat beberapa kali sebagai pemanasan. Kuletakkan tas sandang bersama laptop di sudut gang-- berharap tidak ada yang mencurinya.
Saat hampir dekat, aku menelan ludah melihat bentuk pisau di samping pinggang salah seorang tukang pukul. Pasti di balik bajunya itu memang benar-benar ada pisau, senjata tajam. Apalah daya, aku terlanjur sampai, tak bisa berbalik lagi.
"Permisi."
Rombongan preman merangkap tukang pukul itu langsung melirik dengan kening terlipat padaku. Aku menyeringai kaku melihatnya, tatapan mereka semua penuh intimidasi, salah sedikit saja, aku akan berakhir seperti pemuda itu-- eh. Pemuda yang sejak tadi jadi korban itu ternyata tidak apa-apa, padahal bunyi pukulannya cukup keras, lama pula, tapi lihat, hanya ada luka lebam di pipi dan tangannya-- nampaknya sejak tadi dia berlindung di balik tangannya, memasang pertahanan. Berarti pemuda ini ahli bela diri, sekali dilihat pun aku tau, dari bahunya yang lebar itu. Tapi, kenapa dia tidak membalas para preman tukang pukul ini?
"Oi, kenapa kau berdiri di sana?! Cari mati?!" seru tukang pukul dengan wajah paling boros yang sedang menarik kerah baju si pemuda. Dia menatap tajam ke arahku, menantang, meremehkan.
Nampaknya dia ketua tukang pukulnya.
"Ah, saya masih ingin hidup panjang, Om." Aku tertawa kecil, mencairkan suasana yang terlampau tegang ini. Tetap was-was dengan salah satu tukang pukul yang membawa senjata tajam, atau mungkin teman-temannya yang lain juga membawa senjata tajam. Ah, aku sial sekali.
Kening tukang pukul itu semakin berkernyit. "Siapa yang kau panggil om, hah!?" serunya tak terima dianggap tua. Padahal wajahnya mengukir jelas fakta yang ada. Dasar, om-om tak sadar diri.
"Hei kalian, habisi anak itu!" seru om tukang pukul pada anak buahnya yang sejak tadi asik menonton.
Mereka mengangguk, mulai menyerangku.
"Aduh Om, jangan kasar-kasar!" seruku protes, tapi tetap kuladeni tendangan terbang dan layangan tinju yang mendarat ke arahku. Lengah sedikit saja, aku juga akan lebam macam pemuda yang menatap bingung diriku kini.
Tak sampai 30 detik, ketujuh anak buah om tukang pukul terkapar di jalan.
Dua orang tukang pukul tidak menyerangku, hanya menonton diam di samping om tukang pukul, salah satunya yang membawa senjata tajam itu.
Mulut si pemuda membulat melihat preman-preman itu terkapar pingsan, sedangkan om tukang pukul semakin geram padaku. Dia melangkah mendekat, nampaknya ingin melawanku langsung. "Kau siapa!?" tanyanya lantang, macam orang ngajak gelud.
"Orang lewat," jawabku seadanya sambil melambai-lambaikan tangan, tak bermaksud merendahkan si om, cuman urat tanganku sedikit meregang karena belum pemanasan maksimal tadi, jadi terasa kaku dan sedikit nyeri.
"Kalian! Bawa dia!" seru om tukang pukul pada dua anak buahnya yang tersisa.
Aku mengambil jarak, mundur 4 langkah. Malam-malam begini hanya dengan mengandalkan cahaya bulan, banyak kemungkinan pisau yang sudah keluar dari balik baju itu menerkamku tanpa sempat kulihat arahnya.
"Kenapa kau mundur? Pengecut," sindir om tukang pukul. "Banyak omong saja kau ternyata," tambahnya, berhasil membuatku jengkel.
Kedua anak buahnya itu langsung menyerang tanpa pembukaan-- kulihat di film-film biasanya ada suara teriakan dulu sebelum adegan baku hantam, ini sepi senyap saja, hanya bos mereka yang tua bangka ini saja yang sejak tadi sibuk berceloteh.
Saat aku sedang menahan tinju temannya, si preman senjata tajam memanfaatkan celah yang ada untuk mendaratkan pisaunya ke tubuhku dari samping. Aku refleks menghindar, menyeret temannya untuk jadi korban-- aku tak sengaja, hanya refleks.
Si preman senjata tajam tak sempat bergidik, dia tak bisa menghentikan serangannya, jadilah perut temannya bersimbah darah.
"Ah, maaf. Aku tak sengaja. Paman ini harus cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit, mumpung yang tertusuk hanya perut saja, bukan d**a atau lehernya," saranku sambil memasang ekspresi bersalah, menutup mulut seolah-olah aku sedang terkejut. Kutatap sekilas darah yang terus mengalir keluar dari perut teman si preman senjata tajam.
"Bos!" seru si preman senjata tajam panik, matanya berkaca-kaca. Gede-gede sangar begitu ternyata hatinya rapuh juga, tak tega melihat temannya terkapar tak berdaya meregang nyawa.
Ah, aku benar-benar menyesal. Sungguh.
Aku melirik om tukang pukul yang dipanggil bos oleh anak buahnya. "Om tak mau adu tonjok dengan saya?" tanyaku ramah, tak lupa mengukir senyum ala mas-mas sales.
Om tukang pukul itu meludah, mendesis. "Lihat saja kau nanti, kutandai kau!" ancamnya berlalu pergi, diikuti oleh preman senjata tajam yang memapah temannya yang menahan pendarahannya dengan kaos.
Selebihnya masih pingsan, mungkin mereka lelah, jadi kebablasan tidur sekalian.
"Wah, saya takut sekali, Om!" seruku sambil melambaikan tangan pada om tukang pukul yang lucu itu. "Orang kota benar-benar unik."
"Hei, omongmu itu macam orang kampung saja," ujar si pemuda yang sudah berdiri sambil menyenderkan tubuh ke pohon. "Aww, sakit sekali, sial," umpatnya setelah nyeri lebamnya terasa. Dia meringis mengaduh.
Aku meniru gaya berlalunya om tukang pukul, tak meladeni pemuda itu. Dia nampak baik-baik saja, bisa berlari untuk pulang ke rumahnya sendiri.
"Hei tunggu! Kau tak mau mengobatiku dulu!?" tanyanya menyeru, melangkah ke arahku dengan wajah meringis memegangi lebam di tangannya.
Aku menatap jengkel pemuda itu, jika dilihat-lihat usianya tak jauh beda denganku atau bisa jadi kami seumuran. "Tidak," jawabku pendek. Menolak permintaan tolongnya sebelum dia benar-benar sempurna berada di sampingku, ini akan menyebalkan.
Aku menghela nafas lega melihat tas dan laptopku masih ada di tempat, untung tidak hilang.
"Oh kau seorang karyawan?" tanya pemuda korban tadi yang sekarang persis berada di sampingku. "Tapi dilihat-lihat tampangmu masih muda, apa kau mahasiswa?" tambahnya.
Aku tidak menjawab, menyandang tasku, memeluk laptopku dan melangkah ke sebelah kanan gang, saatnya pulang ke kost-an. Aku ingin istirahat.
"Hei kenapa kau tidak menjawabku?" tanya pemuda yang tak mau menyerah menggangguku itu. Padahal sudah diabaikan, dia benar-benar tebal muka. Apa dia tidak takut padaku yang sudah menghabiskan tukang pukul yang memukulinya tadi?
Aku menatapnya jengkel, tetap melanjutkan langkah. Pemuda itu tetap mengikutiku, menyamai langkahku dengan tetap memegangi tangannya yang luka lebam, sesekali meraba wajahnya yang juga terluka.
"Kau benar-benar tidak mau mengobatiku?" tanyanya lagi saat aku sudah menaiki tangga kost.
Aku tetap mengabaikannya.
Aku mengambil kunci kamar dalam tas, membuka pintu, masuk ke dalam kamar.
Laki-laki itu berdiri di depan pintu kamarku dengan muka datar.
Aku langsung menutup pintu kamar, pura-pura tak melihatnya.
Baru berbalik mau meletakkan tas dan laptop, pintu kamarku diketok, sudah jelas itu ulah si pemuda tadi.
Aku tetap memilih mengabaikannya, palingan nanti dia capek sendiri, terus pulang ke rumahnya.
Dugaanku salah, 30 menit kemudian pemuda itu tetap berdiri di depan kamar kost-ku. Bahkan mengabaikan luka lebamnya, tiap 5 menit sekali dia mengetok pintu kamarku sebanyak 15 kali.
"Apa!?" kesalku, memunculkan wajah di balik pintu. Menatap jengkel pemuda sialan itu.
Pemuda itu menyeringai lebar macam orang tak bersalah. "Tolong obati lukaku," pintanya.
"Ke rumah sakit saja! Di sini bukan puskesmas!" seruku sambil membanting pintu. Saat berbalik ke ranjang, pemuda itu kembali mengetok pintu.
Aku menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.
Kubuka kembali pintu kamar, menyeret pemuda itu masuk ke dalam kamar. Untung saja mama memasukkan kotak P3K ke dalam koperku-- barang wajib yang harus ada di rumah, kata mama.
Terpaksa kuobati luka lebamnya pemuda tak tau malu ini. Dia menyeringai senang, melirik setiap sisi kamarku saat aku sibuk mengobati lukanya.
"Ah, bukanlah itu buku catatan dari ospek bulan lalu!?" tanyanya berseru riang, menunjuk meja belajarku. "Kau maba juga ya?"
'Juga?'
"Kau jurusan apa?!" tanyanya lagi berseru riang.
Aku hanya diam, tak menjawab.
"Aku Ekonomi Bisnis," ungkapnya duluan.
Dia menatapku lama, menunggu jawabanku.
"Ilmu hukum."
"Wah! Kau pintar ya!?" tanyanya lagi.
Aku tetap diam. Tak berselera menjawab.
"Yah, kelihatan sih," ucapnya tiba-tiba, menjawab pertanyaannya sendiri.
"Pulang sana," usirku dengan muka datar.
"Aku menginap di sini saja ya? Rumahku jauh soalnya, sudah kemalaman. Haha." Dia mengucapkan kata menyebalkan itu dengan wajah tanpa dosa, malah tersenyum senang padaku.
"Pulang," suruhku kembali.
Pemuda tak tau malu itu malah rebahan di kasurku, mengambil bantalku, meletakkan di bawah kepalanya. "Selamat tidur."
Aku mengepalkan kuat-kuat tanganku. Bersiap menonjoknya, biar bisa langsung dibawa ke rumah sakit.
"Ah, jangan pukul aku, aku sudah kesakitan dipukuli tadi," ucapnya tiba-tiba, seolah bisa melihat tanganku yang sudah siap memukulinya.
Aku menghela nafas, niatku pudar. "Kenapa kau diam saja?"
Pemuda itu segera berbalik. "Woh! Akhirnya kau mengajakku bicara juga!" kagumnya.
Aku memasang wajah kesal.
Pemuda itu langsung tertawa. "Diam bagaimana?" tanyanya pura-pura tidak paham.
Aku mendengus, tak berselera lagi untuk bertanya. Kubuka bukuku, tak jadi istirahat karena kasurku sudah dikuasai pemuda tak tau malu itu.