Bab 10: Berada di Tempat Ini, Menyedihkan

1041 Words
"Ah sudah jam 9!?" Aku terperanjat kaget saat menatap jam di layar ponsel, buru-buru aku bangkit dari tempat tidur. Hari sudah berganti, ini menjadi hari kedua ku berada di kota besar ini-- bukan pencapaian. Setelah 12 tahun lebih berlalu, kini aku kembali tinggal seorang diri, bedanya dulu aku mencari tempat tinggal sendiri dan lesehan di mana pun, jika hujan tiba aku basah kuyup, sekarang aku punya tempat pulang yang pasti, tidur di ranjang empuk, dan tidak perlu khawatir dengan hujan malam. Perutku mulai keroncongan, mengeluarkan bunyi protes. Alat masak tidak ada di kamar kost ini-- aku juga tidak berniat untuk memasak makanan sendiri, walau memang sebenarnya ini lebih hemat. Selesai mencuci muka, aku keluar dari kamar kost, mencari sarapan di luar-- mana tau bisa jadi tempat langganan. oOo Hari ketiga di Jakarta. Hari pertama ke kampus, ospek. Aku berjalan kaki ke kampus-- 1 km lebih, aku sengaja mengambil kost yang tidak terlalu dekat dari kampus karena 2 alasan; pertama, aku bisa berolahraga selama menuju ke kampus dan yang kedua, aku tidak terlalu ingin satu gedung kost yang penuh dengan mahasiswa yang satu kampus denganku. Aku tak punya waktu untuk main-main dengan mereka. Ospek berjalan lancar dan meriah sebagaimana ospek pada umumnya, penuh dengan promosi-promosi kampus, perkenalan rektor, dekan dan perangkat BEM. Menceritakan bedanya mahasiswa dengan siswa, kegiatan-kegiatan, dan pentingnya mengikuti organisasi di kampus. Kegiatan ini berlangsung dengan alur maju-mundur selama seminggu ini. Akhir minggu disusul dengan krida fakultas, ada acara perkenalan lebih dekat dengan senior fakultas dan teman-teman mahasiswa, acara diakhiri dengan duduk mengelilingi api unggun-- aku berpikir kegiatan ini hanya membuang-buang waktu dan membuat kulit kering saja. Pun menimbulkan polusi udara. Senin, minggu keduaku berada di Jakarta. Hari pertama perkuliahan. Aku melangkahkan kaki ke fakultas ilmu sosial, memasuki kelas, duduk tenang menunggu dosen-- seperti mahasiswa pada umumnya, tak ada yang spesial dalam kisahku. oOo Selesai mengantarku di panti, Bu Indah pamit pulang begitu saja. "Baik-baik di sini ya Nak Abdul, semoga betah." Kata terakhir bu Indah sambil melambaikan tangan dengan senyum hangat bersahabatnya padaku. Pertemuanku dengan Bu Indah ibarat pelanggan dengan sopir ojol, bermanfaat tapi tidak terlalu membekas. "Sarah, antar Abdul ke kamarnya ya." Perintah Bu Ratna, pengurus asrama sambil mengelus kepalaku. Perempuan muda itu mengangguk, mengiyakan. Sebelum mengantarku, dia lebih dulu memperkenalkan dirinya. "Namaku Abdul, Dek?" tanyanya riang. Aku mengangguk pelan. "Abdul Muiz." "Namanya tradisional sekali!" seru perempuan muda itu-- rasa-rasanya dia tidak sedang menyinggungku. "Nama Kakak, Ratna. Kamu panggil Kak Ratna saja. Ok?!" Aku kembali mengangguk. "Ayo ikut kakak ke kamarmu, kamu harus berkenalan juga dengan anak-anak lainnya!" seru kak Ratna yang senang dapat adik baru lagi-- wajahnya sangat mudah dibaca. Kak Ratna membangunkan anak-anak panti yang sebagian masih setengah tidur, kesadaran mereka belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata, masih mengawang-awang di alam bawah sadar. Beberapa anak panti yang bersekolah juga sudah pulang, berkumpul di ruang depan. Pekerja panti yang lainnya juga ikut berkumpul-- mungkin ini semacam perkumpulan menyambut keluarga baru atau sekedar memenuhi rasa penasaran saja. "Ini Abdul, mulai hari ini dia akan menjadi keluarga kita. Tolong bantu Abdul untuk bisa beradaptasi di sini! Ok?!" jelas kak Ratna pada semua anak-anak panti dan pekerja panti lainnya. "OK!" jawab yang lain bersamaan. Setelah kak Ratna pergi, anak-anak panti yang lain sibuk berbisik-bisik sambil melirikku. Ada yang menatap sinis, ada yang menatap bingung, setelah temannya berbisik padanya, dia juga mulai menatapku sinis. Akhirnya, di hari pertamaku di panti, aku dikucilkan. Tak ada satu pun yang mau berteman denganku, saat aku mencoba mendekat, mereka menjauh. Hari kedua di panti, Bu Ratna memberikanku beberapa helai baju bekas yang setengah lusuh. "Maaf ya Abdul, baju yang ada hanya ini, anggaran panti kita hanya cukup untuk biaya makan, bahkan biaya sekolah anak-anak lainnya juga sudah susah, beasiswa mereka tidak sepenuhnya full," terang Bu Ratna sambil menghela nafas berat. Aku menggeleng ringan. "Ini sudah lebih dari cukup, Buk. Terima kasih." Lagi-lagi Bu Ratna menghelus kepalaku. "Kamu memang anak yang baik ya. Semoga masa depanmu cerah." Aku tersenyum tipis, membawa barang pemberian Bu Ratna ke kamar. "Eh lihat, itu si anak bau sudah datang!" sahut anak panti yang sekamar denganku tiba-tiba. "Aku semalam sampai tidak bisa tidur loh, aroma kamar ini jadi busuk sejak kedatangan dia!" sahut yang lain menambahkan. Aku melirik sinis mereka, menahan kesal. Mereka balas menatap sinis, nyengir. Anak panti lainnya yang mungkin beberapa tahun di atasku mampir ke kamar, memanggil teman-temannya di kamar ini untuk bermain bersama. "Ah, anak jalanan itu masih di sini?" tanyanya. Dia salah satu dari anak-anak panti yang mulai berbisik-bisik pada anak-anak yang lain. Dia provokator yang menyebabkanku dijauhi. "Apa yang salah dari anak jalanan!?" tanyaku berseru ketus. Tak terima anak jalanan dianggap rendah. Kami sadar bahwa kami memang tidak berpunya, tapi setidaknya kami sudah berusaha keras untuk bertahan hidup. Anak laki-laki itu menyeringai menyebalkan. "Haha, lucu sekali," tawanya. "Kau pikir kami tidak tau bahwa kau itu pencuri? Kau anak yang pernah dikejar orang-orang dewasa di pasar bukan?" Aku tercekat. Memang, aku pernah dua-tiga kali tertangkap basah saat mencuri di pasar. "Liat ekspresinya. Haha. Aku benar bukan? Pencuri tidak berhak berada di sini. Kami tidak mau temenan sama penjahat!" serunya riang, tampak bagai tokoh antagonis dalam drama. "Teman-teman, lebih baik kalian perhatikan baik-baik barang-barang kalian sebelum hilang dicuri. Yah... walau kita memang tidak punya apa-apa." Aku terduduk diam di kamar seorang diri setelah semuanya keluar. Di mana pun aku berada, tidak ada yang berjalan dengan lancar. Aku teringat dengan obrolan terakhirku bersama anak jalanan lainnya... "Apa Tuhan itu benar-benar ada? Apa dia sedang mempermainkanku saat ini?" oOo Aku tersenyum tipis mengingat hinaan menyakitkan di hari-hari pertamaku selama di panti. Tanpa kusadari, mata kuliah pertama sudah selesai, saatnya pindah kelas ke mata kuliah berikutnya. Apa aku bahagia? Tidak. Itu menyakitkan. Tapi apa aku harus marah dan memasang wajah kesal? Nampaknya para pembully akan lebih senang jika orang yang dibully nya memasang wajah marah dan jengkel, bukan? Daripada tersenyum seolah semua baik-baik saja. Aku memang hanya suka tersenyum-- karena itu keren. Hari-hariku berikut di panti dulu tetap berlanjut seperti di hari pertama, aku tidak punya teman, selalu dibully dengan paket komplit; hinaan, kekerasan, dan jebakan-jebakan yang bisa membuat anak berusia 6 tahun gagal mental, gila. Saat kesabaranku sudah mencapai puncaknya, gadis kecil itu datang. Hari kedatangannya di panti menjadi hari paling bahagia dalam hidupku selama berada di panti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD