Bab 9: Cerita Atas Sumpah

1233 Words
Pernahkah kau melihat bangunan rumah orang kaya di mana tetangganya jarang berada di rumah. Sebuah tempat hidup yang tidak punya aura kehidupan? Di tengah matahari terik pun, lingkungan itu tetap nampak dipenuhi nuansa gelap tak bernyawa? Itu lah yang kulihat langsung saat ini. Sebuah bangunan 2 tingkat yang cukup besar menyerupai bangunan panti pada umumnya, di samping bangunan dengan pagar tinggi ini terdapat tanah kosong yang sudah dipenuhi semak-semak tinggi, di seberangnya tersusun rumah-rumah sederhana dengan jarak yang jauh-jauh pula-- di samping masing-masing rumah bisa membuat jalan kampung. "Pengurus panti ini teman Oma," jelas wanita paruh baya ini tanpa perlu kutanyai. "Ayo masuk!" ajaknya riang sambil menggandeng tanganku. Wanita paruh baya yang menyebut dirinya Oma ini mengetuk pintu panti sebanyak 3 kali diiringi salam. 'Apa panti ini tidak berpenghuni? Kenapa tidak ada anak-anak yang bermain di luar?' bathinku heran. "Wa'alaikumsalam." Seorang perempuan muda berkerudung melilit leher macam orang tercekik muncul dari celah pintu yang sudah terbuka seperempatnya. "Ah, Bu Indah. Mau ketemu bu Ratna, Bu?" tanyanya dengan senyum ramah. Melirikku, tersenyum lagi. Wanita paruh baya yang menyebut dirinya "Oma" sejak tadi ini, yang dipanggil "Bu Indah" oleh perempuan muda itu mengangguk. "Ada bu Ratna nya di dalam?" Perempuan muda mengangguk, pertanda seseorang bernama bu Ratna itu berada dalam panti. "Ayo masuk Bu, ayo Dek!" ajaknya, membuka pintu lebih lebar. Ibuk indah menarik tanganku masuk ke dalam, perempuan muda itu memimpin jalan. Tempat ini benar-benar panti asuhan, ruang depan dipenuhi sofa dan kursi kayu, sepertinya ruang depan berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan tempat anak-anak panti biasa bermain dan belajar bersama. Di bilik samping kiri dari pintu masuk setelah ruang depan, ada ruang makan yang besar, lebih banyak kursi kayu berderet di sana. Mulutku sampai melongo melihat tempat yang dipenuhi dengan kursi ini. "Anak-anak sedang di sekolah, Sa?" tanya bu Indah pada perempuan muda. "Iya Bu, sebagian yang lain sedang tidur siang di kamar masing-masing," jawab perempuan muda, mulai menaiki anak tangga. Tampaknya teman bu Indah yang bernama bu Ratna ini berada di lantai 2. Kami berhenti tepat di depan sebuah pintu kamar dengan papan gantung bertuliskan "Pengurus". Perempuan muda mengetuk pintu, mengucapkan, menyampaikan perihal tujuannya, menyebutkan nama wanita paruh baya yang berdiri di sampingku saat ini, "Bu Indah." Terdengar sahutan memberi izin dari dalam ruangan. Perempuan muda langsung membuka pintu, mempersilahkan aku dan bu Indah masuk, melangkah lebih dulu menghampiri seorang wanita paruh baya yang nampak seusia dengan bu Indah tengah duduk di balik meja berisi tumpukan map. "Lama tidak bertemu, Ratna," sapa bu Indah pada temannya itu. Perempuan muda pamit undur diri setelah bu Indah bersaliman bagai sahabat lama yang baru berjumpa kembali setelah sekian lama. "Apa kabarmu, Indah? Ada apa tiba-tiba datang ke sini tanpa pemberitahuan?" tanya bu Ratna sambil melirikku dengan senyum tipis. "Apa karena anak laki-laki yang tampan ini?" tanyanya, memalingkan pandangan padaku kembali. "Begitulah. Bisa anak ini tinggal di sini?" "Siapa namamu, Nak?" tanya bu Ratna, berdiri dari duduknya, berjalan menghampiriku. "Abdul. Abdul Muiz," jawabku datar. "Berapa umurmu?" "6 tahun kurang." "5 tahun?" "Bukan. 6 tahun, kurang sedikit." Perempuan paruh baya yang disebut "Bu Ratna" oleh perempuan muda tadi tergelak mendengar jawabanku-- mungkin lebih tepatnya dia menertawai aku yang tetap bersikukuh mengatakan bahwa usiaku 6 tahun. "Baiklah, baiklah. Usiamu 6 tahun," angguk bu Ratna yang masih tertawa gelak, mengelus lembut kepalaku. "Abdul mau tinggal di sini?" tanya bu Ratna kemudian. Aku mengangguk. "Jika diperbolehkan." "Tentu saja." Bu Ratna mengambil sebuah buku di raknya, memberikan buku itu padaku. "Bisa kamu bermain atau membaca buku ini sebentar di luar, Abdul?" tanya bu Ratna dengan raut muka ramah bersahabat. Aku mengangguk pelan, menerima buku yang disodorkannya padaku, berlari kecil meninggalkan ruangan. Hari itu, aku resmi tinggal di panti asuhan. Bu Ratna mengurus semua kebutuhan-kebutuhanku, mulai dari pakaian, kartu identitas dan kegiatan-kegiatan yang akan kulakukan di panti nanti. Hanya saja... ekspektasiku tidak sesuai dengan realita yang ada. Aku sadar, aku berbeda dengan anak-anak lainnya. Keadaan kami memang sama, tapi cerita hidup kami berbeda. oOo Jarak dari rumah orangtua angkatku dengan panti memang jauh, aku tak bisa langsung mengandalkan angkot untuk ke sana, transportasi utama yang harus kugunakan adalah kereta api, baru disusul angkot. Karena apa? Karena daerah tempatku tinggal dan tempat panti itu berada, berbeda kota. Butuh 3 jam perjalanan untuk sampai ke panti yang sampai sekarang lingkungannya tetap tak punya hawa kehidupan, saking tidak adanya sosialisasi antar tetangga. Aku menghembuskan pelan, memasang ekspresi wajah terbaik. Hari ini, sebelum berangkat ke Jakarta, aku akan menemui teman pertamaku di panti, sekaligus teman satu-satunya yang kupunya. Aku tidak tau apa dia masih tinggal di panti atau tidak, jika tidak, aku cukup menanyai keadaannya pada pengurus panti. Seperti biasa, pagar tidak pernah dikunci. Aku langsung melangkah masuk ke dalam, mengetok pelan pintu depan. Di hari dan di jam seperti ini, biasanya anak panti sedang istirahat siang. Kemungkinan yang membuka pintu adalah kakak-kakak atau ibuk-ibuk pengurus. "Ya, siapa?" Perempuan 30 tahunan muncul dari balik pintu, menatapku cukup lama. "Apa kamu Abdul?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan dengan senyum tipis. "Lama tidak bertemu, Kak Sarah." Sarah, adalah perempuan muda yang 12 tahun lalu membuka pintu untukku dan bu Indah. Orang pertama yang kutemui di panti ini. "Senang melihatmu tumbuh dewasa, Abdul." Kak Sarah membuka pintu lebih lebar, sekarang dia sudah sempurna berdiri di hadapanku. "Ada perlu apa kamu di sini? Tidak sedang ingin mengunjungi kakak kan?" canda kak Sarah sambil mempersilahkan aku masuk ke dalam. Aku menggeleng pelan, menolak masuk. "Apa Nara masih tinggal di sini kak?" tanyaku langsung tanpa berbasa-basi. Ekspresi wajah kak Sarah berubah seketika, senyum di bibirnya menghilang, tatapan riangnya memudar. Kak Sarah melangkah keluar, menutup pintu. "Nara sudah tidak ada di sini." Kak Sarah menggeleng ringan dengan senyum yang nampak dipaksakan. "Ah begitu. Apa sekarang kakak tau Nara di mana?" tanyaku masih bersemangat, belum menyadari perubahan hawa situasi ini. "Untuk apa kamu ingin bertemu Nara?" tanya kak Sarah datar. "Eh?" Aku menatap heran kak Sarah. Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa salah aku ingin menemui temanku sendiri? Kak Sarah menghela nafas. "Percuma Abdul. Nara sudah tidak ada." Detik itu aku terdiam cukup lama, mencoba memahami kata demi kata dari kalimat kak Sarah. "Tidak ada... karena sudah diasuh oleh keluarga barunya kan?" tanyaku menolak apa-apa yang terlintas dipikiranku saat itu. Kak Sarah menggeleng ringan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Nara sudah meninggal, Abdul." "Ka... kapan?" Hari itu rasanya aku lupa bagaimana caranya bernafas, bagaimana caranya berpikir, bagaimana caranya menangis. Aku lupa. Tubuhku mati rasa. "Seminggu setelah kamu meninggalkan panti." Kak Sarah menyeka air matanya yang sudah terjun bebas membasahi pipinya. Ia memalingkan wajahnya, tak ingin aku melihat tangisan kesedihan atas kejadian yang sudah lama berlalu itu. Mungkin kak Sarah tak mau aku ikut pula menangis saat melihatnya menangis. "Ke... kenapa?" tanyaku-- tercekat. Kak Sarah hanya diam, nampak tak mau menjawab pertanyaanku. Aku tersenyum tipis dengan mata yang sudah terasa panas-- menahan diriku agar tidak mengeluarkan setetes pun air dari sana. "Terima kasih atas kabarnya kak. Semoga kakak sehat selalu. Abdul pamit." Aku menganggukkan kepala dengan senyum tipis yang diliputi kesedihan pada kak Sarah yang bahkan tak menoleh padaku, masih sibuk menghapus air matanya. "Terima kasih doanya, Abdul. Semoga kamu bahagia selalu," ucap kak Sarah dengan suaranya yang sudah terdengar serak, bahkan kak Sarah tetap belum melirikku. 'Bahagia?' Aku tertawa kecil, bagaimana bisa bahagia di hari ini? Kepalan tangan yang kuat ini, menyakiti jari-jariku sendiri. 'Ah, aku ingin mendaratkan kepalan yang sempurna ini.' Hari itu, sumpah ketiga terbentuk, ia terukir penuh kemarahan di dalam hatiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD