Wanita paruh baya target korban itu melambaikan senyum tipis di wajah ramahnya itu padaku. Aku terkesiap, balas tersenyum.
'Jangan-jangan dia tau aku mau mencuri uangnya?' bathinku dilema.
Kulewati wanita paruh baya itu karena ragu, mungkin dia tau aku mau mencopet uangnya, makanya dia tersenyum untuk mengintimidasiku.
"Nak," panggil wanita paruh baya tadi yang membuattku refleks menghentikan langkah, menoleh ke belakang. "Bisa tolong bawakan belanjaan Oma?" tanyanya masih dengan senyum ramah bersahabat.
Aku diam sejenak, suara hujan yang berisik bahkan tidak sampai ke kupingku saking kosongnya isi pikiranku sekarang.
"Nak?"
Aku buru-buru berlari kecil ke tempat wanita paruh baya yang menyebut dirinya "Oma" itu berdiri, kubantu dia membawakan barang belanjaannya. "Ke mana?" tanyaku menengah menatap wanita paruh baya itu.
"Tak jauh, ke depan perempatan sana," jawabnya sambil mengacungkan telunjuk ke arah simpang empat tempat angkot banyak berseliweran.
Aku mengangguk paham, melangkah duluan.
Kudapati dompet kecil wanita paruh baya itu ada di dalam salah satu kantong plastik yang kubawa, aku menoleh ke belakang, menampaki wanita paruh baya yang tak melihat ke arahku-- nampak tak khawatir jika barang belanjaannya kularikan.
Mata kami berpapasan, dia kembali melambaikan senyum. Menyusul jalanku, kini kami jalan bersebelahan.
"Sudah berapa lama di sini, Nak?" tanyanya dengan suara sedikit keras, agar bisa mengalahkan suara air hujan.
"Baru," jawabku pendek, masih mencari-cari kesempatan untuk mengambil dompet kecil dalam kantong belanjaan wanita paruh baya ini.
"Usiamu berapa, Nak?" tanya wanita paruh baya ini lagi, terus memanggilku "nak" sejak tadi.
"6 tahun," jawabku singkat, sesuai pertanyaan.
Wanita paruh baya masih tersenyum. Kupikir dia tak akan melanjutkan pertanyaan lagi, ternyata masih. "Orangtuamu di mana, Nak?"
"Di tanah," jawabku jujur, apa adanya.
Wanita paruh baya itu terdiam sejenak dengan ekspresi bingung, tiba-tiba dia menutup mulutnya, kaget. "Orangtuamu pasti ada di surga sekarang," ujar wanita paruh baya itu mencoba menghiburku.
Aku menatap lama wajahnya yang menampilkan ekspresi bersalah dengan bibir yang tetap menarik simpul senyum. Aku menggeleng ringan. "Tidak, ayahku tukang mabuk, pas ustad yang suka ceramah di masjid pasar pernah bilang, ibadah tukang mabuk tak akan diterima selama 40 hari. Jadi ayahku tak akan masuk surga karena ia mabuk tiap hari, apalagi dia juga tidak pernah beribadah."
Wanita paruh baya itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, memijit keningnya sehingga matanya tertutup, mungkin sedang memikirkan kalimat selanjutnya untuk mencoba menghiburku dan tak salah paham dengan keberadaan ayahku. Detik itu juga aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan, tanganku lincah mengambil dompet kecil di dalam kantong belanjaannya, kulipat langsung ke dalam kantong kresek hitamku-- tak ada waktu untuk membuka kresek dan memasukkan dompet ke dalamnya.
"Ah begitu? Haha," tawanya terdengar kaku. "Tapi ayahmu pasti bisa masuk surga jika kamu jadi anak saleh dan selalu mendo'akannya," hibur wanita paruh baya sambil menepuk-nepuk bahuku.
Aku menengadah kembali menatap wanita paruh baya itu. "Memangnya Ibuk itu Tuhan? Sampai tau pasti ayahku akan masuk surga jika aku jadi anak saleh?" tanyaku datar.
Wanita paruh baya itu nampak kaget dengan pertanyaanku. Dia menggeleng ringan dengan ekspresi wajah yang tak bisa dirangkaikan dengan kata-kata. "Maafkan Oma."
"Tidak masalah." Aku menggeleng ringan, anggap saja uang yang kucuri ini bayaran dari pertanyaannya tadi.
"Ini." Kusodorkan kembali kantong belanjaannya setelah sampai di simpang empat, saat hendak buru-buru pergi, wanita paruh baya itu menarik tanganku.
Aku berdiri kaku, apa dia sudah menyadari dompetnya hilang?
"Sebentar. Oma ada uang jajan untukmu." Dia masih tetap memegang tanganku sambil menyikap kantong belanjaannya satu persatu.
Aku berdiri diam, memasang ekspresi tak bersalah.
"Ah, di mana ya?" gumamnya bingung, lanjut memeriksa tas sandang sampingnya.
"Ada apa?" tanyaku pura-pura tak tau.
"Dompet Oma hilang, Nak."
"Oh begitu. Wajar saja, di pasar ini banyak pencuri," tanggapku.
"Ah bagaimana ini? Oma tak bisa membayarmu," ujarnya panik.
Aku menggeleng ringan. "Tidak apa-apa." Toh semua uangnya ada di tanganku.
"Ah begini saja, kamu tinggal di mana? Biar kapan-kapan Oma datang bawa buah tangan."
Aku diam sejenak, menatap lama wajah bersahabat dari wanita paruh baya itu. "Ibuk bercanda?" tanyaku.
Kepala wanita paruh baya itu sedikit teleng, nampaknya dia tak paham dengan maksud pertanyaanku tadi. "Ber... bercanda? Ti-- tidak. Oma serius."
"Mana ada anak jalanan yang punya rumah, kami tidur di teras toko, kolong jembatan, halte bis, dan di mana saja tempat kosong yang membuat kami tidak diusir warga dan tidak akan diangkut satpol PP," jelasku sejelas-jelasnya. "Apa?" tanyaku datar, wanita paruh baya ini menatapku lama dengan ekspresi wajah yang kembali tak bisa dirangkai dengan kata-kata.
"Apa ibumu juga sudah tiada?" tanyanya ragu-ragu.
Aku mengangguk pelan. "Ibu meninggal saat melahirkanku."
Wanita paruh baya itu jelas menelan ludahnya, mengunci rapat-rapat bibirnya. Dia berpikir semua pertanyaan yang dilontarkannya padaku penuh dengan pertanyaan tepi jurang. "Kamu mau ikut Oma?"
"Ke mana?"
Wanita paruh baya itu kini tersenyum tipis masih dengan wajah bersahabatnya. "Nanti kamu juga akan tau," jawabnya. "Ah tapi bagaimana ini? Dompet Oma hilang, Oma tak punya uang untuk bayar ongkos," sadarnya kemudian.
"Apa ibuk mengajakku ke tempat yang bisa mengubah hidupku? Sedikitpun tak apa, asal aku punya tempat berteduh saat hujan."
Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. "Tentu saja. Di sana nanti kamu juga akan punya banyak teman, makan gratis, dapat pendidikan dan diurus oleh orang-orang dewasa yang baik."
"Baiklah. Aku akan ikut," anggukku sambil membuka lipatan kresek hitamku. "Ini, dompet ibuk," kataku sambil menyodorkan dompet kecil wanita paruh baya.
Pupil mata wanita paruh baya itu membulat, kaget. "Eh?! Kenapa ada di kamu?"
"Aku yang mengambilnya. Sekarang aku tidak membutuhkannya lagi karena ibuk bilang mau membawaku ke tempat di mana aku bisa berteduh dan mendapatkan makanan gratis."
Wanita paruh baya itu terdiam cukup lama, dia mengelus lembut kepalaku kemudian. "Terima kasih."
Aku menggeleng. "Aku seharusnya yang minta maaf pada ibuk, kenapa harus ibuk yang berterima kasih padaku?" tanyaku bingung.
Wanita paruh baya itu tertawa kecil. "Siapa namamu, Nak?"
"Abdul. Abdul Muiz."
"Nama yang bagus," pujinya tulus.
Aku tersenyum tipis, baru kali ini ada orang yang menganggap namaku bagus.
Kami menaiki angkot 3 jurusan, di jurusan kedua hujan sudah mulai reda. Angkot yang kami naiki berhenti di perempatan jalan kecil-- bukan jalan raya.
"Apa ini gang rumah ibuk?" tanyaku penasaran, membawa setengah barang belanjaan wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu menggeleng ringan. "Rumah tidak di daerah ini. Gang ini menuju rumah baru nak Abdul," jawabnya riang.
"Ooh." Aku mengangguk paham. "Apa Oma mau membawaku ke panti asuhan?" tebakku.
Wanita paruh baya itu menoleh, berkedip dua kali. "Apa nak Abdul tak suka tinggal di panti?" tanyanya tampak khawatir.
Ternyata tebakanku benar. "Entahlah." Aku menggelengkan kepala, tidak tau jawaban dari pertanyaan sederhana itu.
"Ah Oma lupa," sadar wanita paruh baya itu kembali. "Apa tidak masalah nak Abdul pergi tanpa pamitan dengan teman-teman nak Abdul di pasar?"
"Tidak apa-apa. Kami juga tidak dekat, hanya senasib. Hilang satu anak jalanan, tak akan berpengaruh pada apa pun, karena kami bukan keluarga, bukan orang penting juga."