Tingkah Jihan

1085 Words
Jihan menatap mata Fajar yang berkaca-kaca, dia bingung karena tidak siap menjawab pertanyaan yang ditanyakan secara spontan oleh Fajar. "Aku tidak tau," ucap Jihan langsung berdiri dan membuka mukenanya, lalu dia keluar dari kamar, berjalan ke dapur untuk mengambil air putih,setelah minum. Jihan memikirkan ucapan suaminya tadi, sebenarnya hatinya mudah sekali merasa sangat kasihan, apalagi melihat Fajar tadi terlihat sangat tulus dan menyesal. Tapi tetap saja tidak bisa dengan mudah menyembuhkan hati Jihan yang terluka, mungkin bagi Fajar itu memang kesalahan kecil dimasa lalu, tapi tidak menurut Jihan. Dia harus melewan dirinya sendiri untuk bertahan sampai sekarang, beberapa kali Jihan menyakiti dirinya sendiri,membenci dirinya sendiri.Sampai akhirnya sekarang Jihan mulai bisa menerima dirinya, tetapi Allah pertemukan mereka lagi tentu saja kembali membuka goresan luka dihati Jihan. Jihan kembali ke kamar karena memang dia ingin bersiap bekerja, sedangkan Fajar dari tadi membersihkan kamar sebelah, agar nanti Jihan tidak ketakutan lagi bertemu tikus.Selesai membersihkan kamar sebelah, Fajar masuk ke kamar dan melihat Jihan sudah rapi bersiap untuk bekerja. "Aku pergi sendiri saja, kamu tidak perlu mengantar." ucap Jihan. "Kenapa?" tanya Fajar. "Karena aku sekarang sudah mau pergi, sedangkan kamu belum mandi." ucap Jihan. "Pergi sama siapa?" tanya Fajar. "Aku pesan taksi online," jawab Jihan. "Nanti kasih kabar saja kalau sudah sampai, atau ingin pulang." ucap Fajar. "Iya, aku pergi Assalamualaikum." ucap Jihan. "Waalaikumssalam hati-hati istriku." ucap Fajar dengan senyumnya. "Dih apa sih." gumam Jihan lalu langsung pergi. Jihan dari pagi memang sudah sangat sibuk dengan pekerjaanya,mulai dari mengntrol produksi, memilih bahan yang nyaman dan bagus dia benar-benar terjun langsung untuk memilih kwalitas bahan yang bagus.Saat makan siang dia teringat kondisi rumah Fajar yang sangat tidak nyaman menurutnya, selesai makan dia langsung pergi lagi untuk mengurus rumah Fajar.Jihan membeli perlengkapan rumah kesukaannya tanpa mendiskusikan terlebih dahulu bersama suaminya, hampir seluruh perlengkapan dia beli baru.Ketika kurir sedang memasukan barang yang Jihan beli, Fajar pun pulang dan kelihatan bingung.Melihat mobil Jihan juga sudah parkir di halaman rumahnya, lalu ada beberapa mobil lagi yang juga mengantarkan barang masuk ke dalam rumahnya. "Assalamualaikum." ucap Fajar. "Waalaikumssalam." jawab Jihan lalu melanjutkan dengan kegiatannya yang sibuk mengatur posisi barang-barang baru.Fajar melihat semua barang yang Jihan beli. "Apa ini?" tanya Fajar. "Bisa lihat sendiri kan?" jawab Jihan singkat. "Ya kenapa kamu ganti semua? itu semuanya juga masih bagus dan baru." ucap Fajar. "Karena tidak cocok denganku, aku tidak nyaman tidur di ranjang yang bukan brand A.Lalu untuk meja kerja juga aku tidak cocok dengan yang kamu punya, begitu juga dengan yang lain.Apa yang aku ganti, berarti iti tidak cocok denganku." jawab Jihan dengan santainya. "Kamu bisa diskusikan terlebih dahulu bersamaku,agar aku juga tidak kaget seperti ini.Memang perlengkapan rumahku tidak sebanding dengan yang biasanya yang kamu punya, tapi kamu boleh minta izin dulu ngga sih kalau mau mengantinya?" tanya Fajar dengan lembut agar tidak memancing keributan. "Fajar aku izin ganti semua perlengkapan rumah ya, udah gitu aja kan? hal sepele aja selalu mau dibesar-besarkan." ucap Jihan tanpa merasa bersalah sama sekali. "Lalu mobilmu, kenapa di bawa lagi?" tanya Fajar. "Aduh Fajar ini banyak tanya sekali ya, aku capek kamu pulang udah banyak tanya ini itu, semuanya ditanya." ucap Jihan terlihat kesal, lalu menjauh dari Fajar dan memilih untuk duduk di sofa dengan melipat kedua tangannya.Fajar pun mengikuti dan duduk di hadapannya. "Maaf ya, aku sudah banyak tanya. Jihan mau makan malam apa hari ini?" tanya Fajar sangat lembut membujuk istrinya. "Ngga tau," jawab judes Jihan. Karena melihat Jihan tidak ingin bicara dengannya, Fajar pun memutuskan untuk masuk ke kamar. "Seharusnya aku memang harus siap dengan ini, menikahi perempuan yang jauh lebih sukes dari aku, pasti banyak sekali kesenjangan diantara kita.Tetapi aku tidak mengira kalau perubahan itu akan terjadi secepat ini, karena kesalahanku di masa lalu aku jadi kesulitan untuk bersikap tegas terhadap Jihan.Aku takut dia semakin salah paham dengan sikap tegasku, aku masih berharap dia tetap menurut dan tidak melanggar dari kewajibannya sebagai istri." pikir Fajar. Malamnya, setelah sholat Isya Fajar pulang dan melihat Jihan berpakaian rapi seperti ingin pergi. "Mau kemana Jihan?" tanya Fajar. "Belanja bahan makanan dan cemilan, di rumahmu sudah habis." ucap Jihan sambil merapikan hijabnya. "Tunggu, aku ikut." ucap Fajar. "Tidak usah, aku bisa sendiri. Kamu di rumah saja." ucap Jihan ingin menolak Fajar untuk ikut bersamanya, karena dia sudah biasa berpergian sendiri dan kurang nyaman jika harus bersama dengan orang lain. "Ayo pergi." ucap Fajar tidak mebgubris ucapan Jihan yang menolaknya untuk pergi bersama. "Aku bisa sendiri, kamu dengar tidak?" ucap Jihan menghentikan Fajar yang ingin membuka pintu mobil. "Ini sudah malam, sebaiknya kamu aku temani.Kamu tidak lupa kalau aku ini suamimu kan?" ucap Fajar yang tidak bisa di bantah oleh Jihan, dengan wajah cemberutnya dia masuk ke dalam mobil. Sampai di mall, Fajar membawakan kereta belanja dan mengikuti kemana saja Jihan memilih bahan makanan dan cemilan.Terlihat Jihan berbelanja dengan jumlah yang sangat banyak sekali tanpa melihat harga atau bahkan tanggal kadraluasa barang tersebut, hal itu tentu saja tidak di sukai oleh Fajar. "Jihan kalau pilih makanan, coba di lihat tanggal kadraluasa dan halal atau tidaknya dulu jangan asal pilih." ucap Fajar mengingatkan. "Kamu aja yang lihat," ucap Jihan lalu memilih jenis makanan lagi. Setelah merasa semua terpenuhi, mereka pun langsung ke kasir untuk membayar.Jihan mengeluarkan kartu ATM nya bersamaan dengan Fajar, yang membuat mbak kasir bingung untuk mengambil kartu yang mana. "Biar aku saja yang bayar." ucap Fajar. "Ngga, ini semua belanjaanku. Aku yang bayarlah." ucap Jihan. "Buk, pak? jadi mau pake kartu yang mana?" tanya kasir. "Yang ini saja." ucap mereka serentak. "Fajar, aku bisa bayar belanjaanku sendiri." ucap Jihan dengan mata yang tersirat marah. "Pake yang ini mbak, maaf ya menunggu." ucap Fajar memberikan kartu ATM nya, dan menurunkan tangan Jihan yang memegang kartu ATM nya.Terlihat wajah Jihan sangat marah dengan tindakan Fajar, tapi dia berusaha menahannya karena tidak ingin bertengkar di tempat umum.Saat di dalam mobil Jihan langsung mengutarakan semuanya. "Aku boleh bicara?" tanyanya. "Iya boleh, dari tadi menahannya kan? bicaralah sekarang." ucap Fajar. "Fajar bagaimana kalau kita membuat perjanjian pernikahan saja?" ucap Jihan tiba-tiba diluar dugaan Fajar. "Maksudnya apa?" tanya Fajar. "Hm seperti kontrak pernikahan, nanti di dalamnya ada hal hal yang boleh dan tidak boleh kita lakukan dalam jangka waktu, dua atau tiga tahun cukup sepertinya.Kamu setuju kan?" tanya Jihan. "Dua atau tiga tahun itu maksudnya setelah itu kamu mau kita selesai?" tanya Fajar. "Terlalu lama ya? atau satu tahun? tapi tidak enak dengan orangtua kita ya." ucap Jihan sangat santai sekali tidak merasa apa yang dia ucapkan itu hal tidak baik. Fajar langsung memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan, untuk bicara yang lebih serius dengan Jihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD