Adakah Kesempatan

1137 Words
Namun Fajar tidak mengubris pernyataan Jihan, dia sibuk menata barang agar lebih rapi. “Fajar! Aku ini bicara sama kamu,jawab dong.” ucap Jihan dengan wajah yang cemberut karena ucapannya tidak di respon. “Jawabanku tetap sama, aku tidak ingin tidur di kamar yang berbeda.” jawab Fajar menghadap Jihan walau dari jarak yang agak jauh. “Dasar laki-laki! jangan kira aku tidak tau ya niat burukmu.” ucap Jihan. “Niat buruk apa?”tanya Fajar sangat bingung . “Kamu sengaja tidak ingin tidur di kamar sebelah karena ingin menyentuhku kan? jangan berharap!”ucap Jihan menyilangkan kedua tangannya ditubuhnya seolah melindungi dirinya.Ucapan Jihan tentu saja terdengar sedikit lucu menurut Fajar.Dia pun melangkah mendekat ke arah Jihan, sontak saja membuat Jihan melangkah mundur menjauh dari Fajar. “Berhenti disana, jangan mendekat.” ucap Jihan terlihat sangat panik. “Fajar!aku tidak mau ya disentuh olehmu, menjauh lah!” ucap Jihan semakin gelisah melihat Fajar tidak menghentikan langkahnya. “Menyentuhmu mendapat pahala sayang dong untuk dilewatkan.”ucap Fajar mendekat. Jihan sudah sangat takut karena akan disentuh oleh Fajar.Tiba-tiba… BUK Kaki Fajar diinjak keras oleh Jihan,tentu saja hal itu tidak terduga oleh Fajar dan sedikit meringis kesakitan.Jihan langsung berlari ke ranjang. “Sakit loh ini.” ucap Fajar menunjuk kakinya. “Kamu pikir aku akan diam saja saat ingin dilecehkan,enak saja ingin menyentuhku.Aku sudah memperingatimu jangan mendekat.” ucap Jihan. “Melecehkan apa? aku hanya ingin mengambil sapu ini dibelakangmu.” ucap Fajar memegang sapu. “Lagi pula kita ini suami istri kenapa menyentuhmu saja dibilang pelecehan, aku juga tau adab.Kamu jangan khawatir aku tidak akan menyentuhmu tanpa seizinmu.” ucap Fajar dengan serius. “Buaya di taman sana juga bisa bicara seperti itu,aku tidak percaya ucapan laki-laki sepertimu!” ucap Jihan. “Aku tidak menyuruhmu percaya, lihat dan rasakan saja faktanya.”ucap Fajar. “Besok jam 7 aku sudah pergi, kamu kerja jam berapa?” tanya Fajar. “Jam kerjaku tidak menentu, tapi memang besok aku perlu mengontrol rumah produksi dan pulang bisa sampai larut malam tak masalah kan, jangan melarangku untuk berkarir.” ucap Jihan. “Sebagai perempuan dan istri shalihah sebaiknya jangan sampai larut malam, tidak baik.” ucap Fajar. “Kenapa jadi ngatur-ngatur sih?” ucap Jihan tidak terima dengan sikap Fajar yang selalu melarangnya. "Bukan mengatur, hanya mengingatkan.Aku tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi padamu." ucap Fajar. "Jangan sok perhatian deh, mengelikan." ucap Jihan dengan tatapan tidak suka kepada Fajar. "Kamu boleh membenciku, tapi tidak boleh menentangku.Mau bagaimanapun aku suamimu loh dosa tau kalau menentang." ucap Fajar lalu naik ke atas ranjang untuk istirahat. "Eh eh kenapa kamu naik ke ranjang sih, sana jangan mendekat."ucap Jihan. "Kalau naik ke aras ranjang itu artinya mau tidur." ucap Fajar dengan santai. "Fajar! aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu," ucap Jihan langsung berdiri dari ranjang karena dia sedikit takut. "Jihan, kemarin malam kita juga tidur bersama kenapa kamu sangat panik seperti itu,santai saja." ucap Fajar. "Ngga mau!" ucap Jihan langsung keluar dari kamar. "Masih saja keras kepala." gumam Fajar. Jihan langsung keluar kamar dengan hati yang sangat kesal karena Fajar sama sekali tidak mau menuruti perkataanya, dia dengan hati yang marah masuk ke kamar sebelah dan ternyata kamar sebelah belum dibersihkan. "AHHH FAJAR!!!" teriak Jihan, yang tadinya Fajar sudah hampir tertidur langsung terbangun dan melangkah ke pintu, namun pintu sudah terbuka karena Jihan berlari masuk dengan ketakutan. "Ada apa?" tanya Fajar. "Ih kamu sengaja ya tidak melarangku ke kamar sebelah, karena disana masih kotor kan? itu ada tikus, cepat bunuh." ucap Jihan sambil bersembunyi di belakang tubuh Fajar karena dia benar-benar takut dengan tikus. "Cepat Fajar! itu tikusnya masuk ke kamar ih jijik."teriak Jihan semakin memegang lengan Fajar karena ketakutan, tentu saja ini hal yang lucu menurut Fajar dan muncul ide isengnya. "Awas itu di kakimu tikusnya." ucap Fajar mengerjai istrinya. "Ihh geli, cepat bunuh!" ucap Jihan semakin memeluk Fajar tanpa dia sadari yang membuat Fajar tersenyum senang karena bisa dipeluk oleh istrinya yang jutek ini. Karena menyadari tidak ada tikus yang masuk ke kamar mereka dan melihat Fajar tersenyum, barulah menyadarkan Jihan bahwa dia sedang dikerjai oleh suaminya, dengan cepat dia melepas pelukannya dan kembali menginjak kaki suaminya jika tadi yang sebelah kiri, maka sekarang Jihan menginjak kaki Fajar yang sebelah kanan. "Aw sakit loh," rintih Fajar. "Dalam keadaan apapun tetap saja modus!" ucap Jihan. "Aku loh yang dilecehkan nih, di peluk-peluk di pegang-pegang.Aku dong yang seharusnya marah." ucap Fajar. "Mau marah? padahal dalam hatinya juga senang." ucap Jihan. "Disentuh istri sendiri ya senang, kalau di sentuh istri orang baru bahaya." ucap Fajar dengan bercandanya. "Berisik, keluar sana bunuh dulu tikusnya." ucap Jihan mendorong pelan suaminya agar segera keluar. Fajar pun keluar untuk memberesekan tikus yang menganggu istrinya, setelah selesai dia tidak langsung masuk ke kamar.Fajar tau butuh waktu untuk Jihan terbiasa dengan dirinya, jadi dia membiarkan Jihan untuk tidur di kamar dan dia tidur di sofa ruang tengah. Pukul 2 dini hari, Fajar terbangun karena memang sudah menjadi rutinitasnya terbangun disepertiga malam untuk mengerjakan sholat tahajud, namun kali ini sholat tahajudnya agak seidkit berbeda.Dia akan mengajak istrinya untuk sholat berjamaah, sebuah impian yang selama ini Fajar inginkan. Fajar ingin sekali sholat tahajud bersama dengan istrinya, kini sudah menikah dam mempunyai istri dia akan mewujudkan impiannya. Fajar masuk ke kamar, melihat istrinya sedang tertidur pulas.Ada sedikit keraguan di dalam hatinya untuk membangunkan istrinya karena tidak tega, namun dia akhirnya memutuskan untuk tetap membangunkan Jihan. "Jihan bangun." ucap Fajar menepuk perlahan bahu istrinya, namun tidak ada respon dari Jihan. "Jihan istriku bangun yuk sholat tahajud." ucap Fajar mencubit perlahan pipi chuby Jihan.Berhasil membuat Jihan sedikit membuka matanya. "Hm apa sih," gumamnya. "Bangun tahajud yok."ucap Fajar. "Ngga ah, ngantuk." tolak Jihan lalu menarik selimutnya lagi. Fajar membuka selimut tersebut, lalu mengendong Jihan ke kamar mandi, tentu saja membuat Jihan langsung membuka matanya karena sangat terkejut tiba-tiba digendong Fajar. "Fajar apaan sih aku ngantuk." ucap Jihan saat di turunkan di depan pintu kamar mandi. "Wudhu ya, udah di depan kamar mandi loh."ucap Fajar dengan senyumnya,dan seolah menghadang Jihan agar tidak bisa kabur dan dengan sedikit menghentak kakinya Jihan masuk kamar mandi dengan mata yang memang masi mengantuk.Sementara Jihan mengambil wudhu, Fajar menyiapkan mukena dan sajadah untuk istrinya.Jihan keluar dari kamar mandi dengan tetap cemberut, Fajar pun berinisiatif memasangkan mukena kepada istrinya yang sama sekali tidak di tolak oleh Jihan. "Udah siap kan, tau niatnya?" tanya Fajar. "Hm tau." jawab Jihan tetap dengan jutek. "Menghadap Allah jangan dengan wajah yang cemberut, tidak baik." ucap Fajar. "Iya iya, ayo cepat mulai." ucap Jihan. Selesai sholat, Fajar melanjutkan dengan membaca doa sampai tak terasa dia meneteskan air matanya.Dia berbalik menghadap ke Jihan dan mengulurkan tangannya, Jihan pun merespon dengan baik dengan menyium tangan suaminya. "Jihan dengan cara apa aku bisa menebus kesalahanku di masa lalu?apa aku tidak memiliki kesempatan lagi?" tanya Fajar dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD