Jihan tersenyum puas karena bisa membuat Fajar harus mengulang wudhunya lagi.Fajar langsung pergi ke masjid karena sudah ditunggu oleh Amran di depan pintu, dia wudhu di masjid saja nanti.Selesai sholat subuh Jihan seperti mendapat pencerahan atas kegelisahannya, Jihan berpikir ini mungkin hukuman yang diberikan kepada Fajar, menikah dengan perempuan yang dulu dia bully bukankah itu sangat tidak nyaman.Jihan berpikir sekarang waktu yang tepat untuk membalas semua perbuatannya, jika dulu hanya dua tahun dibully oleh Fajar.Sekarang Jihan bisa membalasnya lebih dari dua tahun dan setia saat.
"Pernikahan ini bukan musibah, ini adalah anugrah yang Allah berikan kepadaku.Bagaimana dia akan merasa di dalam penjara hidup bersama denganku,permainan bisa dimulai dari sekarang kan? untung saja hati ini tidak mudah jatuh hati."batin Jihan tersenyum senang.
Pagi itu mereka sarapan bersama, dengan suasana yang sangat bahagia dan damai,padahal Jihan dan Fajar tadi malam hampir saja perang dunia.
"Ayah ibu, hari ini Jihan dan Fajar langsung pulang ke rumah ya."ucap Jihan tiba-tiba memulai obrolan.
"Boleh," jawab Ina.
"Ke rumah Fajar?" tanya Amran.
"Sepertinya lebih nyaman di rumah Jihan, lagi pula ayah dan ibu paling tau kan kalau Jihan sudah lama ingin tinggal disana, sekarang sudah punya suami jadi udah boleh tinggal disana." ucap Jihan dengan semangatnya.
"Iyadeh yang sudah punya suami, ciee." ucap Ina menggoda anaknya.
"Ibu jangan gitu." ucap Jihan tersipu malu.
Saat di kamar Fajar tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Jihan secara sepihak, karena tidak pernah mendiskusikan hal itu dengannya.
"Kenapa harus di rumahmu? aku juga punya rumah, sebaiknya tinggal di rumahku saja." ucap Fajar.
"Sama orangtuamu? aku tidak ingin satu rumah dengan mertua, lagi pula aku sudah punya rumah." ucap Jihan sambil membereskan barangnya.
"Bukan cuma kamu yang punya rumah,aku juga sudah punya rumah.Sepertinya kamu memang tidak membaca CV yang aku berikan,tidak pentingkah?" tanya Fajar.
"Yasudah kalau memang kamu tidak ingin tinggal di rumahku tidak apa-apa.Aku bisa tinggal sendiri disana." ucap Jihan.
"Istri itu ikut dimana suaminya." ucap Fajar singkat dan jelas lalu membawa barang Jihan keluar.Karena tidak terima, dengan keputusan Fajar dia langsung menyusul suaminya.
"Hijabnya," ucap Fajar melotot sambil mengeser istrinya untuk masuk ke dalam rumah, karena Jihan keluar tidak memakai hijab, memang dia biasa kalau hanya di depan rumah tidak memakai hijab, tapi menurut Fajar harus memakai hijab walau hanya di depan rumah.
"Ih kok dia yang ngatur-ngatur sih nyebelin." gerutu Jihan namun tetap menuruti ucapan suaminya dengan mengambil hijabnya, dan membiarkan suaminya membawakan barang-barangnya.
Sebelum pergi, Jihan dan Fajar berpamitan terlebih dahulu kepada orangtua Jihan.Terlihat Ina yang menangis sangat sedih harus berpisah dengan putri bungsu mereka.
"Hati-hati dijalan ya nak." ucap Amran.
"Iya ayah." jawab Fajar.
Lalu mereka masuk ke dalam mobil, di perjalanan terlihat Jihan yang sangat cemberut karena tidak bisa menentang Fajar, mau bagaimana pun Fajar memanglah suaminya.
"Aku juga tetap jadi dibawah tekanan dia juga kan, karena melawan suami itu dosa.Semakin menyebalkan saja." pikir Jihan.
"Ngga capek menekuk wajah terus seperti itu?" tanya Fajar yang tidak digubris oleh Jihan.
Melihat perjalanan tak kunjung sampai membuat Jihan jadi terpaksa buka suara.
"Apa ini masih jauh?" tanya Jihan.
"Benar kamu sama sekali tidak membacanya, alamatku juga sudah jelas tertulis di CV padahal.Rumahku tidak jauh dari tempat kerjaku." jawab Fajar.
"Gila ya, jauh banget itu dari tempat kerjaku." ucap Jihan sangat terkejut.
"Bicaranya dijaga, perempuan tidak boleh bicara seperti itu." ucap Fajar.
"Dih, kuno." cibir Jihan.
"Kamu nanti kalau mau kerja, biar aku yang antar." ucap Fajar.
"Tunggu dulu, kamu tidak ingin bertindak sebagai suami kan?" tanya Jihan.
"Maksudnya? aku memang suamimu sah dimata agama dan hukum negara jadi wajar kalau aku mau bertindak sebagai suami." ucap Fajar santai.
"Hei, permasalahan kita masih belum selesai loh." ucap Jihan.
"Masalah yang mana? kamu masih mau memperhitungkan kejadian di masa lalu? aku harus apa Jihan,kita sudah menikah dan tidak mungkin berpisah." ucap Fajar.
"Kenapa tidak mungkin,kita masih bisa berpisah kok.Kamu memangnya mau hidup selamanya bersama gadis yang dulu kamu benci dan kamu bully?" ucap Jihan.
"Aku hanya ingin menikah sekali seeumur hidup,dan aku sudah menikah dengamu.Kita hanya perlu penyesuain dan tetap menjalankan rumah tangga ini.Aku tau kamu akan kesulitan untuk menjalankan rumah tangga ini karena kamu pasti sangat membenciku, aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku atau bahkan mencintaiku, tapi jangan melarangku untuk melakukan kewajiban sebagai suami.Tanggung jawab orangtuamu sudah berpidandah kepadaku, jadi apapun yang terjadi kepadamu itu jadi tanggung jawabku." ucap Fajar.
"Aku akan selalu membencimu." ucap Jihan penuh dengan rasa kebencian.
Sampai di rumah, Jihan tidak membantu Fajar menurunkan barang-barangnya dia langsung duduk di sofa, namun dia langsung beridiri karena merasa sofa itu penuh dengan debu.Jihan juga melihat sekitar rumah yang masih kotor,karena memang rumah Fajar ini tidak di tunggu jadi tidak terurus.
"Rumah penuh debu seperti ini, kamu mengajakku untuk tinggal disini?"ucap Jihan.
"Tinggal dibersihkan saja, pasti bersih kok kamu masuk ke kamar saja istirahat.Kamar bersih kok." ucap Fajar.
Jihan pun masuk ke kamar,memang kamarnya sangat bersih dan luas.Jihan tidak langsung rebahan,dia membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaanya yang tertunda kemarin.Menelepon sana-sini tentang pekerjaanya, dia benar-benar hanya fokus ke pekerjaanya saja tidak membantu sedikitpun suaminya yang membersihkan rumah, belum lagi ternyata Fajar menyiapkan makanan karena Jihan sama sekali tidak berinisiatif untuk masak.Sampai adzan dzuhur berkumandang.Fajar menghentikan pekerjaanya dan masuk ke kamar untuk bersiap ke masjid, dia melihat Jihan sangat serius dengan pekerjaanya.
"Udah adzan sholat dulu, setelah itu makan baru lanjutkan kerjaanya.Aku ke masjid dulu assalamualaikum." ucap Fajar.
"Waalaikumssalam," jawab Jihan tetap fokus dengan laptopnya tanpa melirik ke Fajar, setelah itu dia memang langsung menutup laptopnya dan mengerjakan sholat.Selesai sholat dia keluar dari kamar dan terlihat lantai masih basah karena Fajar tadi mengepel, rumah sudah terlihat jauh lebih bersih dari yang tadi. Jihan melihat dimeja makan juga sudah tersedia makanan, dia sedikit terkejut dengan keahlian Fajar dalam memasak.
"Enak juga," ucap Jihan tersenyum sambil menghabiskan makanannya.
"Assalamualaikum." ucap Fajar baru saja pulang.
"Waalaikumssalam." jawab Jihan.
Fajar menarik nafasnya sedikit kesal melihat lantai yang dia bersihkan kembali kotor oleh jejak kaki Jihan yang kotor.
"Nanti kamu cuci kaki dulu, liat lantainya jadi kotor." ucap Fajar lembut tidak dengan nada tinggi.
"Marah kamu karena aku menggotori lantaimu?" ucap Jihan.
"Aku tidak marah, hanya memberitahu saja." ucap Fajar.
"Tinggal bersihkan ulang saja kok ribet," jawab Jihan dengan ketus, lalu langsung berdiri dari meja makan dan meninggalakan piring makannya dia sama sekali tidak berniat untuk mencucinya.Fajar hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah Jihan.
"Aku tau kamu sebenarnya bukan perempuan seperti ini,bukan tanpa alasan kenapa aku menerimamu untuk menjadi istriku.Jihan yang aku tau adalah perempuan yang ramah,baik, pintar, shalihah dan sangat penurut.Aku akan berusaha lagi untuk lebih sabar menghadapimu." batin Fajar sambil mencuci piring.
Malam telah tiba, mulai terjadi lagi perdebatan antara Jihan dan Fajar karena masalah untuk tidur sekamar atau tidak.
"Pokoknya aku tidak ingin tidur satu kamar denganmu, lagi pula di sebelah ada kamar kan? tidur sana kamu." ucap Jihan.
"Kenapa harus tidur di kamar sebelah, kita suami istri sudah halal untuk tidur bersama." ucap Fajar dengan santainya.
"Ih ngga mau, pokoknya harus tidur di kamar yang berbeda."ucap Jihan.