Lupa Punya Suami

1100 Words
"Aku memang kesulitan untuk mengenalimu karena kamu sangat berbeda dengan Jihan yang dulu aku kenal, tapi kamu seharusnya bisa sadar dari awal pertemuan kita.Kenapa setelah ijab qobul kamu baru sadar aku ini adalah laki-laki yang kamu benci?"tanya Fajar. "Bagaimana bisa aku mengira laki-laki yang sangat sholeh dihadapanku ini adalah b******n yang membullyku dimasa lalu." ucap Jihan dengan kesal. Jihan langsung keluar dari kamar karena sangat kesal dengan kenyataan yang baru saja dia terima, bagaimana bisa dia tidak teliti dalam memilih suami.Kenapa harus Fajar? dia tidak masalah dengan siapapun laki-laki di dunia ini asal itu bukan Fajar, memang itu hanya masa lalu.Tapi hal itu sangat melukai hati Jihan,masih terekam jelas bagaimana dia dibenci dan ditertawai oleh teman satu kelasnya karena memiliki tubuh yang gendut.Selalu terkucilkan hanya karena tubuh gendut, semenjak saat itu Jihan meminta untuk sekolah di rumah saja, dia tidak sanggup jika setiap hari dibully oleh teman-temannya.Jihan tidak pernah menceritakan hal buruk itu kepada orangtuanya sampai sekarang, yang orangtuanya tau hanya Jihan anak yang sangat ambisius terhadap berat badan, karena Jihan memang melakukan cara apapun untuk menurunkan berat badannya padahal usianya saat itu masih sangat muda.Setiap usaha kerasanya untuk menurunkan berat badan tidak menghasilkan hasil yang memuaskan Jihan selalu menangis, karena menurunkan berat badan tidak semudah yang dipikirkan.Tapi mengingat kalau tetap bertubuh gendut dia akan selalu direndahkan oleh orang lain, membuat semangat Jihan kembali lagi Hingga dia berhasil mendapatkan tubuh yang sehat dan cantik, di usia 17 tahun saat dia sudah tamat SMA.Walaupun Jihan sudah memiliki tubuh yang ideal, tapi tetap jiwanya tidak percaya diri dan tidak percaya jika dekat dengan orang lain.Karena itu dia tidak pernah dekat dengan laki-laki.Jihan tertanam dihatinya kalau laki-laki di dunia ini jahat, kecuali ayah dan abangnya.Dan bertekad untuk hidup mandiri tanpa sosok laki-laki di dalam hidupnya, sampai akhirnya dia selalu bertengkar dengan ayahnya mengenai jam pulang kerja.Jihan merasa tidak ada yang salah dengan jam pulangnya, tetapi ayahnya merasa sangat khawatir dan ingin putrinya memiliki suami agar terjaga dari tindakan maksiat dan fitnah. "Andai saja aku menuruti kata hatiku, bahwa hidup sendirian itu lebih baik daripada menikah.Aku pasti tidak menikah dengan dia, kedepannya aku harus bagaimana? hidup bersama dengan laki-laki yang aku benci? aku tidak mungkin mengajukan untuk bercerai setalah beberapa hari atau minggu aku menikah dengannya.Ayah dan ibu sangat bahagia sekali tadi, orangtua Fajar juga memperlakukan aku sangat baik.Seharusnya pernikahanku sangat sempurna sekali kalau laki-laki itu tidak pernah melukai hatiku.Bahkan sifatnya ternyata masih sama saja, keras kepala dan sangat egois. Setelah puluhan tahun dirinya sama sekali tidak ada perubahan. Ah iya ada sedikit perubahan, dia seorang hafiz karena ini aku menerimanya.Dasar Jihan bodoh, kenapa hatiku mudah lemah sekali jika mendengar laki-laki yang sangat pandai dalam melantunkan ayat suci.Allah sedang menulis scenario apa sih untuk jalan hidupku ini, kenapa harus musuhku yang menjadi suamiku." batin Jihan sambil memukul kesal ke bantal kursi yang ada di sofa ruang keluarga. "Eh adek kenapa belum tidur?" tanya Amran yang kebetulan keluar dari kamar dan melihat Jihan duduk di sofa keluarga. "Ayah, itu adek belum ngantuk mau nonton hehe." ucap Jihan langsung menghidupi televisi dengan sembarang, membuat ayahnya tersenyum lucu melihat tingkah anaknya yang dikiranya pasti anaknya sedang gerogi bersama menantunya.Amran pun duduk di sebelah Jihan dan mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Masih belum terbiasa ya nak?" tanya Amran. "Iya yah," jawab Jihan. "Tapi sebagai istri yang baik, jangan meninggalkan suaminya.Masuk ya kasian tuh sendirian Fajar." ucap Amran menarik putrinya masuk ke kamarnya, Jihan berusaha ingin menolak. "Tapi ayah," ucap Jihan. "Masuk." ucap Amran yang tidak bisa ditolak oleh Jihan dan dengan terpaksa dia masuk ke kamar, dan ternyata di kamar Fajar sedang mengaji.Ya ini memang suara merdu Fajar melantunkan ayat suci membuat hati Jihan menjadi tenang.Hatinya yang tadi sangat kesal dan ingin marah dengan suaminya, kini bisa menjadi lebih tenang.Dia memperhatikan Fajar yang serius membaca Al-quran. "Ternyata bocah tengil dan nakal itu, tumbuh dengan sangat baik.Di usianya sekarang dia berhasil lulus S2 dan menjadi seorang dosen, bukan salahku kalau aku juga tidak mengenalimu." batin Jihan lalu perlahan dia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut lalu memejamkan matanya tertidur. Tak lama kemudian Fajar selesai membaca Al-quran.Dia menutup al-qurannya dan menoleh ke kanan melihat istrinya tertidur dengan pulasnya.Dan bantal guling yang disusun tinggi seolah memberi pembatas antara Fajar dan Jihan yang dibuat oleh Jihan, tentu saja membuat Fajar sedikit tersenyum dengan tingkah istrinya.Fajar memang tadi sangat emosi dari pada semakin memuncak karena hasutan setan, dia pun langsung mengambil wudhu dan mengambil al-quran untuk menenangkan hati.Dan benar saja hatinya tenang begitu pula dengan istrinya.Malam itu mereka berdua tidur tanpa bersentuhan sama sekali, hanya tidur saja tidak melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri. Subuhnya, karena sudah terbiasa bangun subuh Jihan bangun lebih awal dari Fajar.Saat membuka mata dia lupa kalau sudah menikah dan terkejut ada laki-laki tepat dihadapannya.Karena saat tidur Jihan memang banyak bergerak dan membuat pembatas yang dia buat berantakan.Mereka pun tidur dengan jarak yang sangat dekat. "AHHHH" teriak Jihan sangat terkejut tentu saja membuat Fajar langsung bangun dan menutup mulutnya. "Jihan ngapain kamu teriak." tanya Fajar heran. "Kamu ngapain disini!" tanyanya. "Allahuakbar," ucap Fajar langsung mengakat tangan Jihan memperlihatkan cincinya. "Ngerti sekarang?" tanya Fajar. Brak Tiba-tiba pintu kamar mereka dibuka dan masuk lah orangtua Jihan yang sangat panik karena mendengar teriakan Jihan yang sangat besar. "Ada apa nak?" tanya Ina sangat cemas. Fajar langsung turun dari ranjang. "Maaf ya bu, ayah. Ada yang lupa kalau sudah punya suami, jadi dia kaget bangun ada laki-laki di hadapannya." ucap Fajar sedikit tertawa membuat Ina dan Amran juga tertawa. "Oalah kirain ada apa, bikin jantung mau lepas aja." ucap Amran lalu mereka segera keluar dan tertawa kecil melihat tingkah pengantin baru ini. Jihan menutup dirinya kembali dengan selimut karena sangat malu. "Sudah ngga usah malu, bangun ambil wudhu sana udah mau adzan." ucap Fajar. "Siapa juga yang malu!" ucap jutek Jihan lalu langsung bangkit dari ranjangnya.Lalu melangkahkan kakinya ke dapur, mengambil air putih untuk segera ia minum.Terlihat rona merah di pipinya menandakan bahwa dia benar-benar malu.Setelah dia merasa cukup lama di luar kamar dan menebak kalau Fajar sudah selesai mengambil wudhu, dia langsung bergegas masuk ke kamarnya namun dengan bersamaan Fajar juga membuka pintu yang hampir saja membuat mereka bertabrakan. "Ihh apa sih." ucap Jihan merasa sedikit kesal.Namun Fajar tidak kunjung menyingkir dari depan pintu. "Mau sampai kapan berdiri disitu?" tanya Jihan. "Mau gimana,kamu juga tidak mau geser.Aku mau lewat nanti tersentuh." ucap Fajar. "Oh gitu," ucap Jihan langsung mengeser tubuhnya dan membiarkan suaminya keluar, namun saat melewatinya dengan tak terduganya dia menyentuh tangan Fajar yang tentu saja membuat Fajar spontan terkejut dan menoleh kearahnya, namun dengan cepat Jihan langsung masuk ke kamar dan menutupnya. "YaAllah Jihan." ucap geram Fajar karena wudhunya menjadi batal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD