bc

BUKAN MENANTU PILIHAN (Kesenjangan Status Sosial)

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
family
stepfather
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
city
small town
like
intro-logo
Blurb

"Siapa bilang wanita miskin tidak pantas dicintai? Rania, gadis desa yang sederhana, dipersunting oleh Bagas, pewaris tunggal perusahaan besar. Bagi orang lain, ini adalah pernikahan yang membanggakan. Namun bagi Rania, pernikahan itu bukan awal mimpi indah, melainkan awal dari mimpi buruk. Di mata keluarga suaminya, Rania hanyalah BUKAN MENANTU PILIHAN. Ibu mertuanya selalu membandingkan Rania dengan wanita-wanita kaya yang dianggap memiliki kedudukan setara. "Kau itu cuma belut yang ingin jadi naga! Tidak pantas duduk di meja makan ini!" — begitu kalimat penghinaan yang hampir setiap hari ia dengar. Rania tidak pernah membalas kata-kata pedas itu. Ia memilih diam, bersabar, dan membuktikan segalanya lewat perbuatan nyata. Hingga suatu saat, masalah besar datang menerpa keluarga itu. Harta kekayaan yang dulu dibanggakan hampir ludes, dan semua orang yang dulu dekat pun pergi meninggalkan. Di saat itulah terbukti... ternyata hanya rania, si wanita sederhana yang dianggap rendah itu, yang punya hati tulus dan akal sehat untuk bertahan dan menolong. Akhirnya mereka sadar... Harta bisa habis seketika, tapi hati yang mulia tak ternilai harganya."

chap-preview
Free preview
Bab 1 : Rania, Gadis Desa Asuhan Nenek
Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, di gubuk sederhana berdinding papan dan beratap rumbia, hiduplah seorang gadis muda bernama Rania. Sejak ia masih kecil, takdir memang tidak berpihak padanya. Bapak dan Ibunya memutuskan berpisah saat Rania belum mengerti arti kehidupan. Mereka pergi masing-masing mencari kebahagiaan sendiri, meninggalkan Rania seorang diri. Hanya ada satu orang yang tetap tinggal dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, yaitu Neneknya, wanita tua yang sudah renta namun memiliki hati selembut kapas. "Jangan bersedih, Nak. Meskipun Bapak dan Ibu tidak ada di sampingmu, Nenek akan selalu ada. Ingat, nasib kita bisa diubah dengan kerja keras dan ilmu," begitu kata Nenek setiap kali Rania bertanya mengapa ia berbeda dari anak-anak lain. Kata-kata itulah yang menjadi pegangan hidup Rania. Meski hidup serba kekurangan, makan seadanya, dan pakaian sederhana, Rania tidak pernah mengeluh. Ia sadar, satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan hanyalah PENDIDIKAN. Setiap pagi buta, Rania sudah bangun. Ia membantu Nenek menyiapkan makanan, menyapu halaman, dan menggembala kambing. Setelah itu, ia berjalan kaki berkilo-kilometer melewati jalan tanah yang berdebu atau berlumpur demi sampai ke sekolah. Di sekolah, Rania adalah murid yang paling rajin. Ia tidak pernah membuang waktu. Saat teman-temannya bermain, Rania memilih duduk di bawah pohon besar, membaca buku bekas yang ia dapatkan dengan susah payah. Berkat kegigihannya, Rania selalu menjadi juara kelas. Ia lulus Sekolah Dasar dengan nilai tertinggi, melanjutkan ke SMP, hingga ke SMA. Semua guru memuji kecerdasan dan ketekunannya. Bahkan, Rania berhasil mendapatkan beasiswa penuh hingga ke Perguruan Tinggi di kota besar. Ia meninggalkan desa dengan tekad bulat: Aku harus sukses, aku harus membahagiakan Nenek, dan aku akan buktikan bahwa anak desa pun bisa menjadi orang hebat. Tahun-tahun berlalu, Rania pulang ke desa bukan lagi sebagai gadis desa yang polos, melainkan sebagai seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan berijazah sarjana dengan nilai terbaik. Ia pandai berbicara, beretika, dan memiliki wawasan luas yang tidak kalah dari orang-orang kota. Bagi warga desa, Rania adalah kebanggaan, bukti nyata bahwa kemiskinan bukan penghalang kesuksesan. Neneknya pun tersenyum bahagia, merasa semua lelahnya membesarkan cucunya terbayar lunas. Namun, siapa sangka... kecerdasan dan pendidikan tinggi yang telah Rania perjuangkan bertahun-tahun itu, ternyata tidak ada harganya di mata orang-orang yang memandang hidup hanya dari sisi kekayaan dan keturunan. Takdir mempertemukan Rania dengan Bagas, anak tunggal dari keluarga terpandang dan kaya raya di kota. Bagas jatuh hati pada kecerdasan, kelembutan, dan ketulusan Rania. Bagi Bagas, Rania adalah wanita paling sempurna yang pernah ia temui. Wanita yang tidak hanya cantik, tapi juga punya otak cerdas dan hati mulia. Sayangnya, pandangan Bagas sangat berbeda jauh dengan pandangan ibunya, Bu Ratna. Wanita tua yang memimpin keluarga itu sangat memuja harta, jabatan, dan status sosial. Baginya, uang dan keturunan adalah segalanya. Saat Bagas memperkenalkan Rania sebagai calon istrinya, wajah Bu Ratna langsung berubah hitam. Ia menatap Rania dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan, seolah Rania hanyalah debu yang menempel di sepatunya. "Bagas, kau gila ya?" suara Bu Ratna terdengar lantang dan tajam, tak ada sedikit pun rasa sopan santun di hadapan Rania. "Kau mau menikah dengan gadis ini? Lihatlah dia! Dia anak desa, Bagas! Orang tuanya saja berpisah dan entah di mana rimbanya. Dia cuma dibesarkan oleh nenek tua yang tidak punya apa-apa!" Bagas mencoba membela Rania. "Ibu, tapi Rania hebat. Dia lulusan universitas terbaik, dia pintar, dia berpendidikan tinggi. Dia wanita yang cerdas dan berbudi pekerti luhur. Itu lebih berharga daripada sekadar harta." Bu Ratna tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan hati Rania. Ia mendekat, menatap tajam ke arah Rania, lalu berkata dengan nada menghina: "Pendidikan? Kecerdasan? Apa gunanya semua itu? Sekolah tinggi, sarjana segala, tapi apa isinya? KOSONG! Dia tidak punya harta warisan, tidak punya nama besar, dan tidak punya status sosial! Di mata kami, di mata masyarakat terhormat, pendidikanmu itu cuma sampah yang tidak ada harganya! Kau tetap saja anak miskin, anak orang bercerai, yang tidak pantas masuk ke keluarga kami." Kalimat itu menancap tepat di d**a Rania. Sakit, perih, dan kecewa bercampur jadi satu. Ia telah berjuang bertahun-tahun, berdarah-darah belajar malam hari demi cahaya lilin, demi menjadi orang hebat. Ia pikir dengan berpendidikan tinggi ia akan dihargai. Ternyata... salah besar. Di hadapan kekayaan dan status sosial, semua ilmu dan kepintarannya tidak ada artinya sama sekali. Meskipun ditentang keras, Bagas tetap bersikeras. Pernikahan pun dilangsungkan, namun bukan pernikahan impian. Pesta yang mewah itu terasa seperti neraka bagi Rania. Di sana, di antara tamu-tamu kaya dan terpandang, ia merasa seperti benda asing. Bu Ratna terus berbisik-bisik dengan kerabatnya, suaranya cukup keras hingga Rania bisa mendengarnya. "Lihat saja dia, berpakaian bagus, berbicara sopan seolah-olah dia nyonya besar. Padahal dasar tetaplah sampah desa. Ijazah tinggi tidak akan pernah mengubah nasibnya. Dia tetap saja BUKAN MENANTU PILIHAN kami. Kami butuh menantu yang setara, yang punya harta dan nama besar. Bukan dia yang cuma bawa kepintaran tapi kantong kosong!" Malam itu, saat Rania melangkah masuk ke rumah mewah keluarga itu, rumah yang megah dan dingin, ia sadar sepenuhnya. Di sini, di keluarga ini, Pendidikan tidak dihargai. Kecerdasan tidak dilihat. Yang dilihat hanyalah seberapa banyak hartamu dan seberapa tinggi kedudukan orang tuamu. Rania mengusap air matanya. Ia ingat pesan Nenek: "Jangan menyerah, Nak. Buktikan dengan perbuatan." Rania menghela napas panjang, menegakkan punggungnya meski hatinya remuk. Ia mungkin miskin, ia punya satu hal yang tidak dimiliki oleh mereka semua: Ketulusan hati dan akal sehat yang didapat dari pendidikan yang ia perjuangkan sendiri. mungkin anak desa, dan ia mungkin BUKAN MENANTU PILIHAN mereka. Tapi ia Suatu saat nanti, mereka akan sadar... bahwa harta bisa habis, nama besar bisa hilang, tapi ilmu dan hati yang mulia tak akan pernah ternilai harganya. Dan saat itu tiba, Rania akan membuktikan siapa yang sebenarnya berharga. © LENTERA PIJAR MEDIA (Karya asli, terbit di berbagai platform)

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
750.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
983.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
362.1K
bc

Not just, the Beta

read
349.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook