Hanya suara dentingan alat makan yang menghiasi kesunyian antara mereka berempat. Tak ada yang berniat memberikan suara termasuk Jonathan dan Nick. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. “Aku akan mengajak Lea ke Italia.” Nick membersihkan sisa-sisa makanan di bibirnya dengan menggunakan kain putih yang tersedia. Sang empu yang memiliki nama mendengar itu kontan memelotot-kan matanya seolah tak percaya. Bagaimana bisa pria gila ini mengucapkan hal begitu bahkan mereka berdua belum mendiskusikan hal ini. “Apa kau sudah berbicara padanya?” Jonathan menunjuk Lea menggunakan dagunya. “Tidak, dia bahkan belum berbicara padaku.” Sedikit menyentakkan pisau dan garpu karena keterkejutannya. “Lea akan setuju.” “Kapan?” Jonathan menyudahi acara makannya memfokuskan matanya pada san

