Nick menyusuri hutan pinus, menginjak dedaunan kering dengan kaki cepatnya. Jantungnya ikut berlarian mengingat apa yang terjadi saat ini. Daun pinus yang lembap karena embun seolah menyayat pipi serta lengannya saat bersentuhan. Genangan air mata yang tidak sampai jatuh dari matanya membuat manik itu memerah menahan sedih serta amarah. Nick melihat gadis berambut cokelat sedang duduk membungkuk membelakanginya. Suara isak tangis terdengar dari wanita itu. “Lea ...” Nickholas memanggil lirih gadis itu. Ya dia tahu siapa yang ada di hadapannya saat ini, belahan jiwanya. Seakan mendengar seseorang memanggil namanya Lea memutar badannya mencari sumber suara itu. Dia melihat Nick yang berada empat langkah di hadapannya. Seharusnya Nick senang ia sudah menemukan gadisnya tapi kenyataan

