8. [ Manis ]

1708 Words
Nick tahu Lea sedang mengumpati dirinya habis-habisan. Tapi jangan salahkan dia, ia hanya ingin mengikuti nalurinya saja, apa itu salah? Sudah lima hari dihitung dengan hari ini Nick merasa sangat rindu akan Lea. Bohong jika ia tidak menyesal dengan kata-katanya yang menolak Lea secara tidak langsung di toko bunga tempo hari. Dan sekarang ia di sini di kampus-nya yang berperan sebagai rektor. Seharusnya ia berterima kasih dengan pamannya yang mau membantunya mendekati Lea dengan beralasan ingin mengambil buku di perpustakaan khusus untuk staf kampus itu.  Mendengar alasan itu, Nick malah mendengus sebal tidak adakah alasan lain? Sedangkan koleksi buku di rumah Nick sudah melebihi apa yang ada di toko buku dengan berbeda jenis dan semuanya ada, lengkap. Tapi mengingat perpustakaan staf yang cenderung sepi Nick kembali menyeringai akan hal itu. Kesempatan untuknya berbicara dengan gadis manis ini.   Nick terkekeh geli dengan u*****n-u*****n Lea sepanjang perjalanan menuju perpustakaan. Tapi ia menjaga sikapnya ia tak mau orang lain tahu termasuk Lea sendiri, yang ada ia menjadi bahan lelucon Lea karena sikap dingin nya yang tiba-tiba mencair karena adanya global warming (?) Eh? Lea sebenarnya gadis yang unik. Nick tahu Lea memikirkan kata-katanya tempo hari dan Nick juga tahu kalau Lea menangis sepanjang malam terbukti dari kantung matanya yang sedikit menghitam di poles dengan make-up alami. Kau terlalu percaya diri, Nick!  Ia mendengus saat Lea menertawakan dirinya sedang dirayu secara terang-terangan oleh mahasiswa kampusnya saat di elevator. Apa-apaan ini berani-beraninya perempuan murahan ini menunjukkan sikap jalang depan dirinya di area kampus. Nick semakin mendidih merasakan lengannya diraba oleh perempuan di samping kirinya ini. Meskipun ia lelaki b******k setidaknya ia masih mempunyai hati tidak menyakiti hati Lea dengan cara seperti ini di depan matanya. Terkecuali keinginan dia sendiri.  Nick semakin geram melihat gadis itu dengan santainya berdiri dan mengerlingkan mata ke arahnya sambil terkekeh. Ingin rasanya ia membungkam bibir gadisnya dengan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh gadis itu sendiri. Ow, tanpa sadar Nick tersenyum dalam hati. Secara tidak sengaja ia memberikan klaim pada Lea, gadisnya.   "Jauhkan tanganmu! Kurasa ini bukan Bar, Nona. Jangan kau bersikap murahan depan mataku!" hardik Nick dengan memandang lurus ke depan. Terbukti ucapan Nick membuat perempuan murahan di sampingnya mundur bersama kedua temannya hingga di sudut ruangan.   Nick yang masih kesal apalagi Lea yang tidak berhenti-henti menertawainya akhirnya menarik dengan sedikit menyentak pergelangan tangannya. Terkejut akan paksaan akhirnya kening Lea mendarat tepat di d**a Nick. Nick yang mencium aroma Vanila bercampur Rose tepat di depan hidungnya hanya bisa menggeram.  Jika ini yang bisa membuatmu diam dan tidak membantahku seharusnya sudah ku lakukan dari tadi, ucap Nick menyeringai dalam hati. Oh tidak bisa di bayangkan ini adalah kali kedua Lea berada di dekapannya. Lea yang berusaha lepas dalam dekapan Nick semakin membuat Nick mencengkeram pinggul Lea. Padahal ia sudah berusaha selembut mungkin tapi tetap saja itu membuat Lea meringis. Diam-diam Nick menghirup aroma yang menguar dari rambut Lea saat Lea masih memperhatikan angka di atas pintu saat elevator berjalan.  Tepat lantai sembilan! Perempuan perayu itu dan kedua temannya keluar dan menghindari Nick karena merasa dipermalukan. Nick tahu apa yang akan diperbuat oleh ketiga perempuan itu dengan erat lengannya memegang pinggang Lea. Sentakan pundak berturut-turut membuktikan apa yang dipikirkan Nick benar terjadi, Lea pasti akan terhuyung ke depan jika tidak di pegang olehnya. Berbanggalah Nick yang bisa membaca suasana.   Elevator kembali berjalan Nick akan membebaskan gadisnya, tangannya ia lepaskan pada pinggul Lea. Nick tahu Lea merasa lega atas perbuatannya.   Tidak semudah itu, Sayang! Seringainya.  Tanpa memberikan waktu Lea untuk menjauh, Nick memegang telapak tangan Lea dan meremasnya. Tangan Lea terasa kecil di genggamannya, bahkan jika dirasa jari-jari Lea terasa rapuh saat Nick memilinnya.   Ku tidak menyangka kau sekecil ini. Kau saja yang besar, Bodoh! sahutan terdengar di pikiran Nick. Ah, jika tahu seperti ini rasanya Nick tidak mau melepaskan Lea, lagi.    *    Lea sedang mencari-cari buku yang sedang Nick butuh kan padahal ia sendiri tidak mengetahui jenis buku apa yang  ada di pikiran pria itu. Nick yang melihat Lea tengah sibuk di rak Biologi hanya bisa mendengus, tidak ada seorang pun yang berani mengabaikan dirinya kecuali gadis kecil ini.   "Kau tahu apa yang aku inginkan, Nona Warner?"  Lea tersentak apa yang Nick katakan, ia merasa ingin meneriaki pria arogan ini. Seenaknya saja ia mengagetkan.   "Kau belum memberitahuku, Sir." Lea yang merasa di tatap Nick hanya bisa mengalihkan pandangannya pada rak buku di belakangnya, memunggungi Nick.   "Ku kira kau bukan hanya gadis yang manis tapi juga gadis yang sok tahu, Nona," jawab Nick ringan. Ia merasa puas melihat pipi Lea yang memerah menahan amarah. Apalah daya, ia tidak bisa bersikap kurang ajar terhadap rektornya.   "Maafkan aku. Jadi apa yang kau butuh kan sekarang?" Lea menghela nafasnya lelah. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan gugupnya saat bersama pria ini.Ya Tuhan Lea benci dengan keadaan seperti ini. Apakah tidak ada satu pun manusia yang memasuki perpustakaan besar ini. Bahkan tempat ini lebih mengerikan dibanding dengan kamar mayat.  "Kau!" Terkejut lagi karena suara Nick, Lea yang sedang membaca buku hanya bisa mengernyit. Apa maksud pria satu ini, di mana pun tidak ada buku materi pembelajaran yang berjudul Kau terkecuali judul puisi.   "Maaf, tapi tidak ada buku pembelajaran yang berjudul Kau."  "Kau polos sekali, Lea." Nick berdiri di hadapan Lea. Ia memegang ujung rambut pirang gadisnya. Rambut yang diikat memperlihatkan leher jenjang. Nick yang sedang memilin-milin rambut di balik punggung Lea hanya bisa menggeram rendah. Tangannya semakin lama semakin mendekati lengan yang tertutup mantel itu.   Tanpa disangka, Nick sudah memperkecil jaraknya bahkan sepatunya pun sudah bersentuhan langsung dengan ujung pantofel milik Nick. Nick semakin mendekatkan jemarinya mendekati tulang selangka Lea, menyentuhnya lembut leher jenjang di hadapannya.  "Aku menginginkanmu, Sayang."  Oh tidak! Lea tidak bisa mendengar suara geraman rendah itu. Ia merasakan hembusan hangat menerpa  telinganya saat Nick berbicara. Nick juga menggigit kecil daun telinga gadis di dekapannya ini. Lea menutup mata dan mendesah akan perbuatan Nick.  "Sir ...." Lea merasakan hawa panas di sekitar tubuhnya saat tubuhnya didekap erat oleh sang rektor. Seakan tidak mau mengerti dengan kekalutan Lea Nick tetap melanjutkan aktivitasnya.   "Sir, kumohon." Suara lirih Lea bahkan terekam jelas di otak Nick. Menambah kesan e****s untuknya, ia harus mengingat jelas suara ini. Nick semakin mencumbu daun telinga itu dengan sedikit menggebu. Menghantarkan setiap kehangatan yang keluar dari setiap tiupan mulutnya. Ia merasakan kedua tangan Lea memegang erat kedua lengannya. Wanita yang agresif, pikir Nick.   Lea yang merasa dalam posisi bahaya tapi tidak bisa menolak apa yang sedang terjadi saat ini. Apalagi letupan-letupan aneh seakan keluar dari dalam tubuhnya tidak pernah ia rasakan saat berdekatan dengan siapa pun termasuk Hans, pacar pertamanya. Tapi berbeda dengan pria ini. Lea merasa gairahnya naik juga jantungnya berdegup kencang. Ia tak ingin terlalu jauh, kejadian ini pun sudah salah menurutnya.   "Kau menginjak kakiku."   Terasa dijatuhkan dari lantai dua puluh Nick mundur selangkah menjauhi Lea. Ya Tuhan, desahan Lea telah merusak momen romantisnya. Nick merasa apakah Lea tidak bisa menahan bobot tubuhnya untuk sebentar saja. Padahal sebentar lagi ia akan merasakan pipi halus Lea yang memerah akibat perbuatannya.   Lea menatap Nick yang sedang memejamkan matanya, sambil mengatur detak jantungnya yang menggila akibat pria ini. Ia sebenarnya tidak merasakan apa-apa pada kakinya. Memang Nick menginjak kakinya tapi hanya diujung. Itu hanya alasan agar pria ini menghentikan perbuatannya. Lea merasa sikap Nick tidak wajar terhadapnya apalagi sampai mendekapnya seperti tadi. Tapi setidaknya tidak ada yang melihat kejadian ini, jika tidak mungkin gosip akan beredar luas. Belum lagi masalah saat di elevator tadi bisa saja dijadikan bahan perbincangan oleh ketiga perempuan yang mencoba merayu Nick, dan itu dipastikan akan menyebar ke seantero kampus. Ia merasa mulai detik ini hari-hari tenangnya akan berubah dengan sangat cepat.   Lea menatap salah satu tangannya yang masih memegang erat lengan Nick yang tertutup mantel. Lengan sangat kokoh, dan ia yakini lengan yang sudah membuat pinggangnya seakan mati rasa akibat dekapannya tadi.   Sebelum Lea melepaskan sentuhannya, Nick lebih dulu mencegah tangan Lea dengan tangan kanannya agar tetap berada di posisi sebelumnya.  Lea menatap wajah Nick bingung, apa maksudnya ini? Dilihatnya kelopak mata itu perlahan-lahan terbuka.   "Sir, matamu," ucap Lea pelan. Ia tahu kalau pria ini mendengar karena jaraknya hanya selangkah dari tepatnya berdiri. Lea melihat mata itu, pertama kali ia melihatnya maniknya berwarna biru muda bening, kemudian saat di toko bunga berwarna biru agak gelap yang ia pikir karena efek cahaya dan sekarang manik itu berwarna biru dengan iris merah. Apakah retina mata Nick bisa berganti sesuai keinginan sang empunya? Lea terkejut akan hal itu.   Nick yang melihat Lea memperhatikan matanya sekejap mengontrol hasrat yang akan keluar dari tubuhnya. Ia sempat kehilangan kendali tadi.   Sedetik kemudian ia membuka matanya dan melihat wajah Lea yang masih memerah. Oh, ingin sekali ia mencumbu gadis itu sekarang juga. Dan jangan lupakan telinga kiri Lea yang lebih merona dibandingkan wajahnya akibat kecupan dan cumbuannya tadi.   Nick melepaskan pegangan Lea di lengannya, kemudian tangannya merayap membelai telinga kiri Lea. Menyampirkan anak rambut yang menutupi pipinya.  "Kau memerah, Sayang," lirih Nick pelan.   Nick segera memegang lembut pergelangan tangan Lea dan menariknya, mendekati meja yang berada di pojok ruangan. Mencari privasi agar tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka berdua. Lea mengerutkan keningnya atas perbuatan pria yang berkuasa ini.   Nick mendudukkan Lea di kursi putar dan segera mungkin menarik kursi di sekitarnya untuk dirinya sendiri.   Lea yang merasa gerah atas perbuatan Nick ditambah penghangat ruangan ini membuat keningnya sedikit berkeringat. Apalagi sekarang pria ini duduk di hadapannya sangat dekat bahkan kedua lutut pria ini sudah mengapit kedua kaki Lea.   Lea merasa ini terlalu intim untuk seorang rektor dan mahasiswa, ia mencoba menjauhkan kursinya dari jangkauan Nick. Tapi tidak ada pergerakan dari kelima roda kursi yang berfungsi sebagaimana mestinya. Dan ia yakin pria ini sudah menahan roda-roda itu dengan kedua telapak kakinya.   Nick melihat tatapan frustrasi gadis yang ada di hadapannya ini. Ia menyenderkan punggungnya, menatap lekat manik mata itu yang sedang menjelajahi setiap sudut ruangan. Ia tahu kalau Lea tidak mau melihat matanya karena dirinya merasa terintimidasi.   "Aku tidak akan meminta maaf atas perbuatanku padamu beberapa menit lalu. Karena kurasa yang kulakukan itu sudah benar." Nick mengucapkannya dengan nada datar tapi mengandung makna di dalamnya. Kedua telapak tangannya saling memilin diudara sambil memperhatikan keterkejutan di wajah gadisnya. Tepat seperti dugaannya pembicaraannya kali ini telah membuat Lea fokus padanya.   "Bagaimana perasaanmu?" Nick bertanya sambil mencondongkan tubuhnya mendekati Lea. Diambilnya kedua telapak tangan Lea yang berada di atas paha gadis itu. Ia merasakan telapak tangan Lea yang dingin juga berkeringat. Matanya tetap memandang tajam Hazel coklat itu.   Lea yang sedari tadi mencoba menormalkan detak jantungnya seakan sia-sia saja ditambah sekarang Nick memegang tangannya dan menatapnya penuh tanya. Jika malaikat maut ingin mencabut nyawanya sekarang ia rela, daripada merasakan kegugupan luar biasa seperti ini.   Ia tersadar jika Nick bertanya sesuatu padanya tentang perasaannya. Tapi ia bingung perasaan yang mana, perasaan yang beberapa menit yang lalu atau apa. Ia bingung karena setiap ia berdekatan dengan pria itu ada terlalu banyak emosi dalam dirinya.  "Bukan. Tapi saat kau kuberikan bunga itu?" Nick semakin tajam menatap Lea ingin mengetahui kejujuran gadisnya.   Lea ingat, itu adalah hal buruk. Tanpa alasan Nick menyerahkan Bunga Carnetion kuning itu padanya. Apakah pria itu mengetahui arti sebenarnya dari bunga itu? Jika ia mengetahui mengapa ia menyerahkan padanya dan apa salahnya saat ini terhadap pria itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD