Lea memandangi gadis di hadapannya. Gadis yang membalas menatapnya dengan angkuh, dengan memakai blus abu-abu serta celana jeans hitam sama seperti dirinya.
"Kau bodoh Lea! Jangan buat hidupmu hancur karena mereka!" sinis gadis di hadapannya. Lea mengamati wajah itu, wajah yang lelah akan hidupnya.
"Kau benar, aku berhak bahagia." Lea memoles wajahnya dengan terampil ingin menyamarkan wajah lelahnya dengan make-up natural. Tidak lupa ia mengikat seluruh rambutnya yang gelombang menjadikan bentuk ponytail memperlihatkan leher jenjangnya.
Dilihat lagi gadis di depannya ia bangga atas apa yang diperbuatnya. Gadis itu sekarang menjadi dirinya, wajah yang tampak lebih ceria.
"Perfect!" Seringai senyum menghiasi bibir Lea menunjukkan ia bisa lebih baik. Seringai yang diperuntukkan untuk gadis di depannya dengan senyuman angkuh.
Setelah selesai dan merasa lebih baik, Lea mengambil tas dan mantel cokelatnya yang terdampar di tempat tidur. Segera memakainya, ia tak ingin menjadi beku karena di luar ruangan. Mengingat butir-butir es sudah mulai jatuh sedikit demi sedikit dari langit.
"Tidak sarapan dulu, Lea?" tanya Bibi Ellen, pelayan keluarga Lea sekaligus pengasuh Lea sewaktu kecil.
Bibi Ellen sedang menata makanan di meja makan melihat Lea yang sedang terburu-buru.
"Tidak, Bibi. Aku sepertinya akan terlambat". Lea mengambil sepatu dan memakainya di sofa.
"Oh tunggu sebentar aku akan membawakannya untukmu!" perintah Bibi Ellen segera bergegas mempersiapkan makanan Lea untuk dibawa.
"Terima kasih Bibi aku selalu merepotkanmu," ucap Lea memandang sekilas pengasuhnya dan melanjutkan memakai sepatu. Tak lama kemudian Bibi Lea keluar dari dapur sambil membawa tas yang berisikan makanan untuknya.
"Tidak merepotkan. Kau kan sudah aku anggap sebagai anakku."
"Ah, Bibi aku menyayangimu. Mengapa tidak kau saja yang menjadi ibu tiriku, Bibi? Bukan nenek sihir beserta anaknya itu!” Lea mengambil kotak makan itu kemudian dimasukkan ke dalam tas ranselnya.
"Kau ada-ada saja. Terus bagaimana dengan suamiku?"
"Paman Geo menjadi ayahku juga." Tawa Lea meledak saat menggoda Bibi Ellen. Bibi Ellen pun tertawa mendengar celoteh gadis itu. Bibi Ellen tahu bahwa Lea kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.
Sebenarnya ia merasa iba atas hidup gadis ini. Awalnya Lea sangat gembira karena mempunyai kakak perempuan tapi tidak dengan ibu tirinya. Lea berpikir hanya satu ibu dalam hidupnya yaitu ibu kandung yang sudah meninggal. Tapi semakin lama Lea semakin dekat dengan ibu tirinya karena perkataan manis ayah dan kakak tiri, Grace.
Bulan berganti bulan Lea sepenuhnya menerima Bella dan Grace. Bibi Ellen pun senang atas perbuatan Lea yang mau menerima seseorang dan tidak menutup diri.
Selama tiga tahun Lea mendapat kasih sayang lengkap dengan ayah, ibu dan saudara perempuannya. Tapi semenjak Tuan Warner meninggal, ibu tiri serta Grace berubah menjadi wanita yang jahat dan haus alan kekayaan.
"Bibi, mengapa melamun?" Lea mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Bibi Ellen.
"Ah, tidak Lea. Sudah sana cepat berangkat, kau bilang tadi terlambat bukan? Dan kau tahu sebentar lagi kedua monster itu akan turun ke bawah untuk sarapan."
"Hmmm." Lea mengetuk-ngetuk jarinya di dagu.
"Tapi aku sudah lama tidak mengerjai mereka." Bibi Ellen hanya menggelengkan kepalanya atas perbuatan Lea.
Tak lama Lea melihat kakak dan ibunya turun dari kamarnya.
"Hai, kalian berdua! Kalian pikir ini rumah kalian, seenaknya saja bangun sesiang ini. Aku harap kalian berdua sesudah sarapan segera membersihkan rumah!" perintah Lea pada Ibu dan saudara tirinya. Sedangkan mereka berdua yang belum sepenuhnya sadar hanya membelalakkan matanya tanda belum mengerti dengan situasi di sekitarnya.
"Kau kira kami pelayan!" Grace akhirnya tersadar apa perkataan Lea. Ia tidak terima itu, ia dan ibunya diperlakukan seperti ini.
"Apa kau bilang, Grace? Lihatlah rumah ini seperti puing pesawat yang baru jatuh akibat perbuatanmu juga teman-temanmu!" Lea menyingkirkan beberapa botol bekas minuman yang tergeletak di karpet lantai dengan kakinya.
"Ayolah Lea sayang, ada pelayan di rumah ini bukan untuk membereskan kekacauan kakakmu." Perkataan lembut ibunya membuat emosi Lea menyulut. Ia marah karena Bibi Ellen yang ia sayangi dipanggil dengan sebutan pelayan.
"Ingat Grace, jangan membuat aku marah atau ...."
"Iya nanti akan ku bersihkan!" Grace mengentak-entakkan kakinya menuju meja makan.
"Bibi, aku berangkat dulu.” Lea mencium pipi Bibi Ellen. "Dan jangan kau bantu si Grace," sambungnya.
"Tidak akan, Sayang."
Lea tersenyum atas perbuatannya pagi ini. Ini cukup untuk menghibur hatinya. Segera mungkin ia mengendarai mobilnya membelah jalanan yang dingin.
**
Lea memperhatikan dengan saksama lembaran kertas hadapannya. Ini kuis paling sulit menurutnya. Si dosen killer itu bahkan tidak segan-segan memberikan soal yang menurutnya belum terlalu di pahami olehnya dan teman temannya. Terbukti dari seluruh temannya yang terlihat pusing ingin menjawab.
Hanya tiga soal memang tapi persyaratannya mereka harus menyelesaikan minimal dua jawaban yang benar, ini kuis salah satu syarat untuk lulus mata pelajaran dosen tersebut. Atau mereka mengulangi lagi semester depan. Lea mengusap-usap wajahnya dengan kasar, ia baru menyelesaikan satu soal.
"Apa ada masalah, Miss. Warner?" teguran mendadak dalam suasana hening menjadi sangat jelas di telinga Lea. Belum lagi seisi ruangan memandang ke arahnya.
Tidak sedikit dari mereka langsung mencari jawaban pada teman terdekatnya, seakan inilah waktu yang pas untuk berdiskusi.
"Nothing, Sir." Lea memandang lembaran di depannya dalam-dalam.
"Baik, dan untuk kalian pria barisan belakang, ku yakini kalian mengulang mata pelajaranku semester depan!" Dosen berkacamata itu pun mengambil kertas jawaban keempat pria tersebut. Mereka hanya pasrah apa yang diperbuat oleh dosen itu dengan seenaknya.
Mr. Mark memandang arlojinya. "Kurasa sepuluh menit cukup untuk menyelesaikan kuis ini."
Semua orang terkesiap atas perkataan Mr. Mark. Ini seperti hukuman mati bagi siapa saja yang menjalankan. "Dan Miss. Warner, kuharap kau mau membantuku untuk mengumpulkan tugas teman-temanmu dan membawanya ke ruanganku."
"Baik, Sir!"
*
Lea membawa setumpuk kertas di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memainkan ponsel pintar sesekali matanya memandang jalan agar tidak menabrak sesuatu.
Dahinya berkerut kadang senyum tipis menghiasi bibirnya, Lea merasa puas apa yang telah dikerjakannya selama ini tidak sia-sia. Terbukti dari orang kepercayaannya, perusahaan yang setengah tahun lalu hampir dikatakan pailit sekarang mengirimkan ia email memberikan laporan bahwa bulan ini transaksi perusahaan semakin stabil dan bisa menutupi segala hutang hutangnya. Begitu juga dengan toko bunga dan restoran, banyak pemasukan dari kedua usaha itu.
Tidak sia-sia ia belajar tentang bisnis bersama mendiang meskipun di usia yang belia.
Langkah Lea terhenti saat ruangan yang ditujunya ada di depan mata. Dimasukkan ponsel di saku mantel cokelatnya. Lea mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali menunggu ada sahutan dari dalam sana.
Setelah beberapa detik tidak ada sahutan, Lea berpikir mungkin ia terlalu pelan mengetuk pintunya sebelum tangannya kembali mengetuk, sahutan berasal dari dalam menginterupsinya.
Lea menekan hendel pintu dan memasuki ruangan hangat tempat dosennya berada. Ah, Lea jadi betah di sini berlama-lama daripada udara dingin di luar sana. Lea melihat dosennya sedang berbicara pada seseorang yang memunggunginya. Sepertinya ia mengenali punggung yang tertutup jas itu.
Lea memperhatikan dengan saksama siapa yang sedang berbicara dengan Mr. Mark. Seorang pria yang sedang menyandarkan punggungnya di kursi dengan kaki kanannya berpangku pada kaki kiri.
"Oh Miss. Warner silakan masuk!" perintah Mr. Mark mengalihkan pandangan pada lawan bicaranya.
Lea pun mendekati meja dosennya itu, entah kenapa langkah Lea semakin lama semakin berat. Ruangan ini tidak lagi hangat melainkan panas. Bulir-bulir peluh mulai muncul di pelipis Lea. Tengkuknya juga seketika meremang saat ia tepat berdiri di samping tamu sang dosen.
“A—aku hem ...." Lea mengontrol suaranya agar tidak gugup. Ia masih belum berani melihat samping kanannya, lebih tepatnya orang yang melihatnya dengan intens. Lea merasakan itu.
Lea menaruh setumpuk kertas di meja Mr. Mark dengan gugup.
"Aku ingin memberikan lembar jawaban kuis, Sir." Lea menjelaskan apa maksud ia datang ke ruangan yang terasa panas ini.
"Terima kasih atas bantuannya, Miss. Warner." Mr. Mark memberikan senyum simpul, tapi Lea tidak bisa mengartikan senyum itu terasa aneh menurutnya.
"Tidak masalah, Sir. Kalau begitu saya pamit keluar dulu." Belum sempat Lea membalikkan badan,
"Tunggu, apakah saya boleh meminta bantuanmu lagi?"
Ow. Tidak! Jangan, aku butuh udara dingin sekarang. Batin Lea menolak. Lea memasukkan kedua tangannya di saku kantung, merasa gelisah.
"Iya, apa yang bisa saya bantu?" Bibir Lea memberikan bantuan tapi tidak dengan batinnya.
"Bisakah kau membantu Mr. Dermon mencarikan buku yang ia butuh kan di perpustakaan yang berada di gedung sebelah kanan tepatnya lantai paling atas?"
DEG!
Lea menatap horor pria di sampingnya. Pria yang saat ini menatapnya dengan mata biru yang tajam. Pantas saja sedari tadi Lea merasa ada yang janggal ternyata rektornya berada di sini. Ia bahkan merasa familier dengan punggung tegap itu. Ia merasa aneh jika dekat-dekat dengan pria satu ini. Lea baru ingat perkataan Jenny, bahwa rektornya jarang sekali ke kampus ini tapi mengapa belum ada satu bulan dari acara kunjungannya kemarin ia sudah berada di hadapan Lea.
Lea ingin rasanya menolak permintaan dosennya, tapi ia tidak sanggup dan ia sekarang harus membantu Mr. Dermon ke perpustakaan itu. Perpustakaan yang dikhususkan untuk seluruh para dosen pengajar, rektor ataupun staf yang lainnya. Apalagi ditambah suasana perpustakaan yang tidak terlalu ramai dikunjungi pada saat pertengahan semester seperti sekarang.
"Kau tidak akan menolak ‘kan?" Mr. Mark menaikkan kedua alisnya saat melihat Lea merasa keberatan atas permintaannya.
Lea tergagap atas segala pertanyaan yang berpusat untuk dirinya apalagi mata itu semakin menatap Lea seakan ingin memakan hidup-hidup. Dengan pasrah ia menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Sekarang tunggu apalagi, antarkan rektormu."
Rektormu?
Tanpa adanya suara Mr. Dermon melangkah menjauh mengambil mantel yang ia sampirkan di tiang khusus untuk menggantung sesuatu dan memakainya.
Lea yang melihat itu hanya menganga tidak menyangka atas apa perbuatan pria itu. Ia pun mengikuti dari belakang dengan terpaksa saat rektornya membuka pintu dan menghilang di tikungan.
Mr. Mark yang melihat itu hanya menggelengkan kepala atas aksi keponakannya yang memperlakukan Lea dengan seenaknya saja.
*
"Kalau kau jalan seperti siput begitu kapan selesainya pekerjaanmu untuk membantuku. Jangan buang-buang waktu, aku masih ada pekerjaan lainnya!" Langkah Nick terhenti dan tanpa menoleh ke belakang, melihat Lea yang susah payah mengikuti langkah kakinya.
"Maaf, Sir. Tapi sepertinya langkahmu saja yang terlalu lebar hingga aku tak bisa menjangkaumu!" sungut Lea yang mendapat omelan.
Seakan hari ini adalah hari ter sial menurutnya. Terlambat datang ke kelas, untung Mr. Mark tidak mengusirnya belum lagi si dosen killer itu mengadakan kuis dadakan yang sama sekali Lea tidak paham. Dan ditambah sekarang ia harus menghadapi rektor angkuh ini, membantunya mencarikan buku yang ia mau tapi sedari tadi Lea tidak mendengar kata tolong keluar dari mulut pria ini.
Seakan tidak mau menjadi objek seluruh penghuni kampus, Nick segera melanjutkan langkahnya meninggalkan Lea yang sedang memaki-maki dirinya berupa desisan. Nick mendengar dengan jelas apa yang dirutuki Lea ketika berjalan di belakang dirinya. Menurut Nick itu adalah hiburan tersendiri saat bersama gadisnya. Nick terkekeh geli mendengar, sehingga bibir kanan nya pun tertarik ke atas tanpa ada yang tahu.
Lea yang melihat sekelilingnya pun merasa waswas dengan apa yang dialaminya, semua mata tertuju padanya juga pada rektor angkuh yang sedang ingin memasuki elevator. Ia sadar akan tingkahnya yang lambat segera dikejarnya Nick dan mulai ikut memasuki ruangan yang akan bergerak menuju lantai atas itu. Tidak banyak orang di ruangan ini tapi cukup untuk membuat Lea lega karena tidak terlalu gugup saat berdekatan dengan Nick yang hanya berdua saja.
Lea menyandarkan punggungnya di dinding, memasukkan tangannya ke saku mantel. Dilihatnya tiga orang perempuan yang ia yakini kakak tingkatnya berada di belakang Nick satu diantara-nya maju selangkah menyejajarkan tubuh di samping Nick.
Lea mengamati ketiga perempuan itu, terlebih pada perempuan di samping Nick, perempuan yang memakai tanktop putih dibalut mantel berbulu berwarna merah muda memperlihatkan bagian depan tubuhnya yang menonjol. Lea yakin sebentar lagi mereka bertiga akan melakukan sesuatu. Dasar murahan.
Lea memutar bola matanya jengah, ia melihat kedua teman perempuan seksi itu berbisik bisik sambil menatap dua orang di depannya.
"Mmm ... Mr. Dermon apakah kau tidak merasa dingin, kurasa mantelmu terlalu tipis." Si wanita mulai menunjukkan rayuan mautnya sambil menyampirkan seluruh rambut merahnya di bahu kiri, memperlihatkan leher jenjang untuk Nick. Sedangkan kedua perempuan itu hanya cengengesan melihat temannya mencoba merayu.
Nick merasa tidak terpengaruh dengan apa yang dilakukan ketiga orang itu, ia hanya fokus menghadap depan melihat pintu elevator yang sering kali terbuka karena ada yang menekan tombol di luaran sana. Tapi tidak ada yang berani bergabung saat melihat wajah garang Nick.
"Mr. Dermon ...." Suara manja itu kembali terdengar. "Auu, kalian berdua jangan mendorongku."
Tubuh bagian depan si seksi ini menempel erat pada lengan kiri Nick. Lea yakini lagi bukan teman perempuan itu yang mendorongnya melainkan perempuan seksi itu sendiri yang mencoba mendekati Nick.
"Mm ... maafkan aku, Sir." Suara itu bahkan lebih terdengar manja dari sebelum-sebelumnya. Sambil menggigit sebelah bibirnya, si perempuan mencoba mengusap lengan kiri Nick tanpa mau menjauhkan diri.
"Jauhkan tanganmu! Kurasa ini bukan bar, Nona. Jangan kau bersikap murahan depan mataku!" Nick menginterupsi, ia bahkan tidak menoleh tapi suaranya memancarkan kebengisan dari setiap kata-katanya.
Lea terkikik geli melihat pemandangan di depan mata. Perempuan itu dengan cepat mundur menjauhi Nick bersama kedua temannya hingga berdiri di pojok belakang.
Lihat muka mereka bertiga yang pucat pasi bagai melihat makhluk halus terlebih perempuan penggoda itu, Lea rasa mereka sudah mempermalukan diri mereka sendiri di depan rektornya. Ingin rasanya Lea tertawa melihat kejadian ini jika tidak ada orang di ruangan sempit ini.
Belum sempat Lea menetralkan suasana hatinya, ia merasa pergelangan tangannya ditarik paksa oleh seseorang. Hidung Lea menghirup aroma yang tidak asing menurutnya. Lea segera mungkin menjauhkan tubuhnya dari d**a Nick yang tidak sengaja menabraknya karena tarikan paksa orang ini. Belum sempat Lea menjauh tangan Nick berpindah pada pinggang Lea, mencengkeramnya dengan erat.
Lea bingung atas perbuatan rektornya, belum lagi dadanya berdebar kencang. Lea memperhatikan wajah Nick, wajah yang selalu dipasang dengan mimik datar. Lea merasa kecil di samping Nick dilihat dari tingginya yang hanya sebahu pria ini.
Ia mencoba melepaskan rangkulan Nick pada pinggangnya tapi yang ada Nick semakin mencengkeram erat membuat nya sedikit meringis. Merasa mengerti akan situasi, Lea mengamati angka yang terdapat di atas pintu elevator, delapan masih ada empat lantai lagi.
Saat pintu lift terbuka di lantai sembilan ketiga perempuan itu keluar dengan wajah masam juga amarah menguasainya. Disenggolnya secara beruntun bahu Lea, membuat Lea sedikit terhuyung ke depan meskipun Nick masih memegangnya.
Lea mendengus akan hal itu, apa yang salah dari dirinya bahkan ia tidak melakukan apa-apa. Bukankah sedari tadi pria di sampingnya ini yang bertindak sesukanya.
Dirasa elevator ini kembali berjalan Lea merasakan tangan Nick lepas dari pinggangnya. Ia menghembuskan nafas lega dan mencoba memberikan jarak sejauh mungkin, lagi-lagi tangan Nick hinggap di telapak tangan Lea dan meremasnya pelan. Lea sadar jari besar itu memilin jari-jarinya menghantarkan panas yang terhubung untuknya. Tangan Nick terasa lebih hangat dibandingkan tangannya.
"Sir ..." Lea menatap kedua telapak tangan itu. Tangannya yang tenggelam dalam jari-jari Nick.
"Aku tak ingin kejadian tadi terulang lagi!" ucap Nick menatap Lea yang tengah kebingungan.
Oh, Lea tahu sekarang. Nick hanya memanfaatkannya sebagai tameng dari perempuan-perempuan penggoda seperti tadi di kampus ini.
Sial. Lea merutuki dalam hati. Ia kira Nick tidak punya maksud terselubung atas perbuatannya, ternyata?