Kabar lamaran Asyila ternyata sudah tersebar ke perusahaan. Saat dirinya masuk kerja, sudah banyak yang memberikan selamat kepadanya. Asyila benar-benar tidak menyangka kalau kabar bahagianya tersebar begitu cepat. Bukan hanya itu, bahkan video dan foto-foto lamaran Fatih dengannya pun tersebar.
“ Syil.” Panggil mamanya saat masuk kedalam ruangan Asyila, namun Asyila masih terdiam sambil tersenyum sendiri. “ Asyila.” Panggilnya untuk yang kedua kalinya. Namun masih sama juga Asyila belum juga menyahut. “ Azzahra Asyila Rahma.”
“ Astagfirullah, mama. Sejak kapan mama kemari. Ada apa mama cari Asyila.” Tanyanya yang langsung terlihat gugup.
“ Sudah dari tadi mama panggil-panggil kamu, tapi kamu justru asyik ngalamun.”
“ Siapa yang ngalamun ma, Asyila Cuma lagi mempelajari ini.” Ucapnya yang langsung menunjukkan file yang ada dimejanya pada mamanya.
“ Ok, kalau memang itu yang kamu lakukan. Terus apa file itu jauh lebih penting dari pada meeting kita hari ini.” Tanya mamanya, dan Asyila langsung menutup mulutnya karena terkejut. Dia langsung melihat jam tangannya. Dengan terburu-buru dirinya langsung keluar dari ruangannya bersama mamanya.
“ Maaf ma, Asyila lupa. Asyila janji ngga akan mengulanginya lagi.” Balas Asyila yang menyesal.
“ Mama tahu kamu lagi bahagia, tapi ingat syil. Disini kamu punya tanggung jawab lain.”
“ Iya ma, Asyila ngerti kok. Maaf ya ma.” Ucapnya yang menyesal lagi. Dia pun langsung merutuki dirinya yang ketahuan sedang melamun. Karena kalau di perusahaan, mamanya tidak akan membedakan antara anak dan karyawan. Baginya, Asyila sama seperti pekerja yang lain. Jadi dia akan semaksimal mungkin bersikap professional.
***
Saat jam pulang kantor tiba, Asyila yang tadinya akan pulang bersama mamanya pun langsung dia urungkan karena ternyata dirinya dijemput oleh Fatih. Awalnya Asyila malu-malu karena ini pertama kalinya dia dijemput oleh seorang laki-laki, dan langsung dilihat oleh banyak orang-orang di kantor. Namun Fatih justru terlihat cuek dengan pandangan orang-orang tersebut.
“ Mas, aku kan malu diliatin sama karyawan. Apalagi berita tentang kita udah tersebar.”
“ Hal baik ngga perlu di tutup-tutupi Syil, justru aku bangga karena bisa bersatu dengan wanita sepertimu.”
“ Jangan mulai ngegombalnya deh mas.” Balas Asyila.
“ Orang lagi muji kok, oh ya aku hampir lupa. Semalam setelah aku cerita ke papa sama mama mereka langsung terlihat bahagia. Karena akhirnya kamu mau menerima lamaranku. Dan bahkan papa mama nanti malam mau datang ketemu mamamu untuk membicarakan masalah kita berdua.”
“ MAS.”
“ Kenapa syil.” Ucap Fatih yang terkejut karena Asyila begitu keras memanggilnya.
“ Mas kamu lagi bercanda kan, kamu ngga serius kan.”
“ Kok malah dikira bercanda sih, aku serius syil.”
“ Kok secepat itu sih mas. Kita kan baru merencanakannya kemarin. Kenapa orang tuamu langsung mau datang ke rumah.”
“ Lebih cepat kan lebih baik syil. Aku ngga mau menunda apapun lagi. Aku juga udah kasih tahu mamamu kok.”
“ Iya memang bagus, tapi semua ini seperti mendadak mas. Baru juga kemarin kamu nyataiinnya.”
“ Aku memang baru kemarin menyatakannya, tapi kan perjuanganku buat dapetin kamu udah bertahun-tahun Syil.” Balas Fatih.
Asyila langsung tersenyum dan merasa bersalah jika ingat perbuatannya dulu yang berulang kali menolak Fatih. “ Iya… iya maaf. Abisnya kamu juga baru berani akhir-akhir ini.”
“ Ya iyalah Syil. Aku baru berani kembali. Masa aku mau melamar gadis luar biasa aku sendiri ngga punya apa-apa yang perlu di banggakan di depan kamu dan mamamu. Jadi aku harus punya sesuatu yang bisa meyakinkan kamu kalau aku itu benar-benar serius.”
“ Iya…. Iya aku percaya, oh ya mas temenin aku ya.”
“ Kemana.”
“ Aku harus beli baju buat acara nanti malam mas.”
“ Ya Allah, ngga perlu syil. Nanti malam kan Cuma makan malam biasa. Ngga formal.”
“ Ya tetap aja aku harus kelihatan baik di depan orang tuamu mas. Aku ngga mau keliatan buruk didepan mereka. Emangnya kamu ngga suka kalau aku tampil cantik.”
“ Ya suka, tapi mau diapain aja dan pakai apapun kamu tetap cantik kok.” Ucap Fatih dan Asyila langsung tersipu karena berulang kali medapat pujian dari Fatih.
***
Asyila dan mamanya pun menyambut kehadiran Fatih dan keluarganya. Mereka semua sudah terlihat begitu akrab satu sama lain. Bahkan mama Fatih pun sampai terharu karena putranya bisa menemukan wanita yang dicintainya dan mencintainya dengan tulus.
Bahkan acara ini pun sekaligus menentukan acara lamaran resmi dan acara pernikahan mereka berdua. Asyila dan Fatih sebagai anak pun hanya ikut apa yang menurut orang tua mereka baik. Bahkan orang tua mereka terlihat jauh lebih antusias untuk menyiapkan segala sesuatunya di pernikahan anak-anak mereka. Fatih dan Asyila benar-benar bahagia karena orang tua mereka bahagia.
Setelah acara selesai, dan keluarga Fatih sudah pulang. Asyila yang tadinya akan langsung masuk ke kamar pun langsung ia urungkan niatnya ketika melihat mamanya sedang membantu bibi membereskan semuanya. Asyila langsung sedih mengingat mamanya, karena dirinya sebentar lagi menikah dan memiliki kehidupan yang baru. Karena setelah dia menikah mau tidak mau tanggung jawabnya akan jauh lebih besar pada suaminya. Asyila langsung memeluk mamanya dari belakang, dan mamanya yang mendapat pelukan tiba-tiba pun terkejut.
“ Astagfirullah, Asyila. Kamu buat mama terkejut sayang. Kamu kenapa tiba-tiba meluk mama.”
“ Mama, Asyila sayang mama.”
“ Mama pun sayang Asyila.”
“ Mama harus tahu kalau sayang Asyila ke mama sampai kapanpun ngga akan berubah.” Balasnya. Dan sekarang mamanya mengerti arah kelakuan Asyila sekarang.
“ Mama tahu kok. Mama ngga menyangka kalau anak mama sudah dewasa dan sekarang sudah siap untuk menikah, mama bahagia sekali Syil.”
“ Syila juga bahagia, tapi ngga tahu kenapa tiba-tiba Syila sedih.” Ucapnya yang ternyata sudah mengeluarkan air matanya.
“ Kamu sebentar lagi mau menikah, kenapa jadi sedih begini.”
“ Karena mama, Asyila mau sama mama terus.”
“ Kok gitu, kelak kalau Syila udah menikah, tanggung jawab Syila sudah berbeda nak.”
“ Andai papa ada disini, pasti Syila ngga akan setakut dan sekhawatir ini ninggalin mama.” Ucapnya dengan refleks, namun bibirnya langsung bungkam ketika melihat raut wajah mamanya yang langsung berubah. “ Ma, maafin Syila, Syila ngga bermaksud buat mama sedih.”
Mamanya langsung menampakkan senyuman diwajahnya, menghilangkan kekhawatiran Asyila. Kemudian mamanya langsung kembali membantu bibi membereskan semuanya. Asyila pun kembali menyesal, mau tidak mau dirinya telah membuka lagi luka yang sengaja mamanya simpan karena kehilangan sang papa.
Sejak kecil, Asyila seringkali merasa iri pada teman-temannya. Karena dia tidak memiliki kedua orang tua yang utuh seperti teman-temannya yang lain. Saat dirinya mengerti akan sosok papa, pun Asyila menanyakan tentang papanya pada sang mama. Mama Asyila pun tahu kalau suatu saat anaknya yang semakin tumbuh dewasa pun akan menanyakan sosok papanya. Namun mamanya pun terluka dan sakit setiap mengingat sosok laki-laki yang begitu berharga baginya telah tiada meninggalkan dirinya dan Asyila. Bahkan mama Asyila sampai tidak tega mengatakan kalau Asyila sudah tidak memiliki papa, papa Asyila telah meninggal. Mendengar hal itu dari mamanya pun membuat Asyila bersedih, namun dia tidak tega melihat mamanya yang jauh lebih bersedih. Bahkan setelah Asyila bertanya pada mamanya tentang papanya pun membuat mamanya jauh lebih sering menangis sendiri tanpa sepengetahuan Asyila. Dia tahu mamanya sedih sejak dirinya bertanya akan sosok papa pada mamanya, maka sejak itu Asyila tidak pernah menanyakan ataupun ingin berkunjung ke makam papanya. Karena dia tahu keinginannya mungkin akan kembali membuka luka hati mamanya. Jadi sampai sekarang Asyila selalu menyimpan rasa rindu, rasa ingin tahu itu sendirian.
Setelah kejadian tadi, Asyila benar-benar tidak bisa tidur, dia terus memikirkan tentang keadaan mamanya sekarang. Maka Asyila memutuskan untuk pergi ke kamar mamanya.
TOK TOK TOK.
“ Assallamualaikum ma, apa Syila boleh masuk.” Tanyanya.
“ Waalaikumsalam, boleh dong sayang.” Jawab mamanya yang ternyata sedang membaca buku di ranjang. Setelah mendapat izin dari mamanya, Asyila pun langsung masuk dan berbaring di samping mamanya.
“ Mama lagi baca apa.” Tanyanya yang langsung bergelayut manja di pangkuan mamanya dengan meletakkan kepalanya di paha sang mama..
“ Lagi iseng baca buku sayang, kalau begini kan nanti lama kelamaan mama ngantuk sendiri. Terus kamu sendiri ngapain udah hampir tengah malam begini belum tidur dan ke kamar mama.” Tanya mamanya sambil mengelus rambut putrinya yang sedang tidak mengenakkan hijab.
“ Malam ini Ayila tidur sini ya sama mama.” Pintanya.
“ Yakin mau tidur sini.”
“ Asyila pingin tidur sama mama, Asyila pingin manja-manja sama mama.” Ucapnya yang langsung memeluk tubuh mamanya. Melihat kemanjaan putrinya membuat mamanya langsung meletakkan buku dan berbaring.
“ Ok kalau memang Asyila mau tidur sama mama.” Balas mamanya yang juga langsung membalas pelukan Asyila.
“ Ma.”
“ Iya sayang.”
“ Maafin Asyila yak arena udah buat mama sedih karena mengingat papa.” Ucap Asyila yang memang merasa bersalah.
Mama Asyila hanya tersenyum dia tahu pasti putrinya ini ingin mengatakan seuatu makannya dia bersikap seperti ini padanya.
“ Kamu ngga salah kok Syil, mama pun ngga sedih. Kamu berhak membicarakan tentang papa kapanpun.”
“ Asyila janji, Asyila ngga akan bahas masalah ini lagi. Asyila ngga suka liat mama sedih.
“ Syil.”
“ Iya ma.”
“ Apa mama boleh tanya.”
“ Boleh dong ma.”
“ Kenapa sejak Asyila tahu papa ngga ada, Asyila ngga pernah bertanya ataupun meminta mama untuk bertemu dengan papa.” Tanya mamanya.
“ Karena dari dulu Asyila tahu kalau mama akan terluka dan sedih kalau teringat tentang papa. Dulu sejak kecil, Asyila sering liat mama nangis sendiri karena rindu pada papa. Sebenarnya Asyila ingin tahu tentang papa, tapi mulut Asyila sangat sulit mengatakan itu ke mama, karena Asyila benar-benar ngga suka liat mama sedih.” Jawabnya.
“ Maafin mama ya sayang, karena mama udah buat Asyila menderita. Mama sudah buat Asyila ngga bisa merasakan kasih sayang seorang papa, mama minta maaf ya sayang.”
“ Kok mama bilang begitu sih ma, mama ngga salah apapun. Semua ini memang sudah takdir Asyila, suka atau ngga suka yang harus tetap dijalani. Asyila tahu kalau Allah jauh lebih sayang papa.” Balasnya yang langsung menghapus air mata mamanya.
“ Syil.”
“ Iya ma.”
“ Apa Asyila mau ketemu sama papa.” Pertanyaan Asyila langsung membuatnya bangun dan terkejut dengan pertanyaan mamanya yang mengajaknya untuk mengunjungi makan papanya untuk yang pertama kalinya.
“ Apa mama serius, apa mama benaran akan bawa Asyila ketemu sama papa.” Tanyanya lagi untuk memastikan apa yang mamanya ucapkan itu benar. Dan mamanya pun mengangguk dengan yakin pada Asyila.