MEH-BAB 6

1129 Words
Masih dengan air wajah penuh amarah bercampur jijik, Hazel meninggalkan kamar mandi. Sakit hati? Entahlah, ia tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Hanya saja ia tidak menduga selama ini jika Valen bermain api di belakangnya. Hazel dan Valen menjalin kasih sejak delapan bulan yang lalu. Masih sangat jelas di dalam ingatan Hazel bagaimana Valen mengungkapkan perasaannya pada Amber. Di bulan Februari, tepatnya di tanggal 14 yang diyakini banyak orang sebagai hari kasih sayang. Hazel sendiri tidak mempercayai hal semacam itu. Baginya setiap hari adalah hari kasih sayang. Valen yang menjabat sebagai ketua BEM tersebut membuat geger seantero kampus. Di jam kuliah ia mengumumkan perasaannya melalui pengeras suara. Tentu saja semua mahasiswa berhamburan ke luar untuk menyaksikan kekonyolan Valen yang justru dianggap kebanyakan dari mahasiswa adalah sesuatu yang romantis. Bahkan banyak dari mereka yang menjerit histeris karena iri. Valena adalah idola kampus, banyak wanita menggilainya dan hanya Hazel yang mampu menarik perhatiannya, begitu lah anggapan semuanya termasuk Hazel tentunya. Disaat para mahasiswa berkerumun tampak lah beberapa para sahabat Valena merentangkan spanduk dengan tulisa besar HAZEL, JADILAH KEKASIHKU. Semua bersorak, meminta Hazel untuk menyambut perasaan Valen. Hazel menggeleng, mengenyahkan pikirannya dari kenangan itu. Ia masuk ke dalam kelas, mengambil tasnya dan kembali ke luar. Temannya-Keira, melihat Hazel pergi juga beranjak dari kursinya. "Mau ke mana?" "Valen berselingkuh!" Bukan jawaban yang diharapkan Keira tapi mendengar hal itu ia juatru terkejut. Sulit untuknya percaya, Valena terlihat seperti b***k cintanya Hazel. "Bagaimana bisa? Dengan siapa? Kau yakin itu Valen? Jangan mendengarkan apa yang dikatakan orang begitu saja tanpa bukti." "Deby, Velen bercintanya dengannya di toilet!" Amarah Hazel kembali berkobar mengingat bagaimana keduanya mengerang dan mendedesah. "Toilet? Menjijikkan! Apa negara ini sudah kekurangan hotel?" Hazel menggerutu sembari terus melangkahkan kakinya. "Deby? Oh Tuhan, aku tidak percaya ini!" Keira memekik kaget. Pasalnya Deby memang terkenal sebagai wanita yang menggilai Valen. Ia tidak malu untuk mengejar pria itu ke mana pun. Dan selama ini yang terlihat Valen selalu mengabaikannya. Ck! Ternyata itu hanya untuk mengakali pandangan publik. "Oh Hazel, Sayang. Tenang saja aku akan mengiburmu." Keira menarik tangan Hazel agar berhenti. Wanita itu pun menariknya ke dalam pelukannya. "Menangislah jika ingin menangis, aku ada di sini untukmu." Dengan penuh kelembutan Keira mengusap kepala Hazel. Hazel memutar bola matanya, tidak ada yang menangis dan Keira selalu berlebihan. Hazel mengurai pelukan mereka, dan mendelikkan mata. "Air mataku terlalu berharga untuk mereka." "Ya, kau benar. Pria itu terlalu b******k untukmu," Felix sudah berdiri di hadapan mereka. Hazel memutar bola matanya, "Kuharap Anda tidak termasuk di dalam golongannya, Sir." Hazel menarik tangan Keira dan meninggalkan Felix begitu saja. "Mr. Grissham sepertinya sangat tertarik padamu," goda Keira. "Di mana Moren?" "Kenapa kau bertanya tentang kekasihku?" Keira memicingkan mata, menatap Hazel penuh curiga. Hazel mendengkus, "Aku tidak tertarik dengan pria yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer bermain game seperti kekasihmu." "Setidaknya dia tidak selingkuh seperti Valen," jawab Keira telak dan ia tersenyum penuh kemenangan begitu air wajah Hazel berubah masam. ________ "Kau yakin ingin masuk?" Tanya Keira untuk kesekian kalinya. Saat ini mereka sedang berdiri di depan sebuah bar yang cukup terkenal. Moren dari tadi hanya diam menyaksikan sesi tanya jawab antara kekasihnya bersama sahabatnya itu. "Aku tidak ingin dituduh membawa pengaruh buruk untukmu. Kukatakan sekali lagi, di dalam itu hanya kenikmatan sesaat dan sisanya penuh dengan bergelimang dosa. Asap rokok, alkhol, p****************g berbaur jadi satu. Aku tidak mau menanggung apa-apa jika sesuatu terjadi padamu." Alih-alih mendengar kicauan Keira, Hazel justru mengabaikan ancaman Keira. Ia berjalan mendekati pintu masuk, meninggalkan sepasang kekasih tersebut. Ia butuh hiburan dan pengalihan atas pengkhianatan Valen. Walau ia tidak tahu seperti apa sesungguhnya perasaannya terhadap pria b******k itu, tetap saja dikhianati itu rasanya sakit. Terlihat seorang algojo bertubuh besar dan berwajah sangar yang bertugas menjaga pintu masuk menghadang Hazel. Tubuh Hazel yang sedikit pendek dan wajahnya yang menggemaskan membuat banyak orang tertipu, menganggap bahwa ia masih di bawah umur. Hazel terlihat membuka tasnya dan menunjukkan ID card miliknya dan ia pun dipersilakan masuk. Keira mendesah dan berjalan dengan gontai, berdoa di dalam hati semoga keluarga sahabatnya itu tidak mengetahui kekonyolan yang dilakukannya. Kini Hazel berada di tengah hiruk pikuk klub malam. Apa yang dikatakan Keira beberapa saat lalu benar adanya. Asap rokok, musik yang berdentum dengan keras dan kerlap kerlip lampu warna warni membuat kepalanya pusing seketika. Belum lagi aroma parfum yang sangat menyengat, membuatnya mulai seketika. Ia mengedarkan pandangan, bukan hanya p****************g, di bar itu ternyata banyak para wanita yang berpenampilan dengan pakaian yang sangat minim dan kurang bahan, dan mereka tidak merasa risih sama sekali. "Apa mereka tidak takut masuk angin," Hazel bergumam dan kembali merotasi tempat tersebut untuk mencari tempat duduk. "Sekali lagi kukatakan aku tidak akan tanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu. Kau yang meminta kemari." Suara Keira dari balik punggungnya membuat Hazel berbalik. "Kau dengar apa yang kukatakan?" Tanya Keira dengan suara yang melengking beradu dengan musik Dj. "Ya, ya. Kau berisik sekali. Nikmati waktumu bersama kekasihmu, aku akan duduk di sana." Hazel menunjuk beberapa kursi kosong di depan meja bartender. Tidak perlu memerintah dua kali, Keira dan Morem sudah berbaur dengan ratusan orang di lantai dansa. Keduanya menari, bergoyang mengikuti irama lagu yang dimainkan sang Dj. "Orange juice." Pesan Hazel tanpa menoleh ke arah sang bartender. "Segala jenis juice tidak ada, Nona." Si bartender tersebut tersenyum simpul. Ia bisa tahu jika Hazel baru pertama kali masuk ke dalam tempat laknat ini. "Air mineral kalau begitu," Hazel meluruskan tubuhnya dan kini ia dan sang bartender saling berhadapan. Hazel memperhatikan pria yang ada di hadapannya yang sedang meracik minuman. Penampilannya cukup menarik. Wajahnya terlihat nakal didukung dengan rambut sedikit gondrong yang diikat rapi. Jack-nama yang tertulis di dadanya. "Tidak ada air mineral juga," Jack mengerling jenaka. "Apakah itu bisa diminum?" Tanya Hazel penasaran. Jack mengangguk, "Ya, alkoholnya mencapai 45 persen. Tidak disarankan bagi pemula." Lagi dan lagi pria itu mengerling. "Aku ingin mencobanya. Berikan aku 1 gelas." Jack tergelak, "Kau akan mabuk, Nona. Aku berani bertaruh." "Bukankah itu tujuan mereka dan mereka datang ke tempat ini." Hazel menunjuk sembarang orang. "Mabuk untuk melupakan kepenatan mereka." "Ya, dan mereka termasuk pada golongan-golongan manusia bodoh. Karena begitu mereka kembali sadar dari pengaruh alkohol, masalah yang mereka hadapi justru semakin bertambah." "Jika mereka yang meminum racikanmu kau anggap bodoh, lalu kau sebut apa dirimu?" Jack tertawa renyah, "aku hanya bekerja." "Patah hati?" Jack menebak sembari menyodorkan minuman di dalam gelas berukuran kecil. "Alkoholnya tidak sampai mencapai 15 persen." "Ya, begitulah." Hazel mengambil gelas tersebut dan meneguknya dengan satu kali tegukan. "Oh rasanya pahit dan panas di tenggorakan." Wajahnya mengernyit aneh. "Bukan begitu konsepnya. Minumlah sedikit demi sedikit. Jika yang kau lakukan tadi sama saja membunuh dirimu sendiri. Kau baik-baik saja?" Hazel menutup dan membuka matanya berulang kali sembari menggeleng. "Kepalaku pusing, dan kenapa kau terlihat banyak sekali." "Astaga, kau mabuk, Nona."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD