MEH-BAB 5

1227 Words
“Sampai bertemu minggu depan, dan jangan lupa kumpulkan tugas sebelum aku mamasuki ruangan,” jelas Felix yang dijawab oleh para mahasiswanya dengan serempak. “Sudah boleh ke luar, Sir?” Hazel menoleh sekilas ke arahnya dan melintas begitu saja sebelum Felix memberikan jawaban. Melihat Hazel keluar, Felix pun terburu-buru memasukkan buku ke dalam tas. Ia perlu berbicara pada Hazel. Apakah gadis itu sungguh sudah melupakannya. Felix tersenyum begitu melihat Hazel sedang berbicara dengan temannya, namun senyumnya memudar begitu melihat kepala gadis itu diusap oleh pria yang berada di sampingnya. Keduanya terlihat bahagia dan berjalan sambil bergandeng tangan menuju kantin. Felix menggeram kesal. Mengeluarkan ponsel dari sakunya ia segera menghubungi Amber. “Apakah Hazel memiliki kekasih?” todong Felix begitu panggilannya tersambung. “Dia cukup populer di kampus ya wajar saja jika ia sudah memiliki kekasih,” kelakar Amber. “Kau sudah bertemu dengannya? Apa dia melupakanmu?” Amber semakin tertawa begitu mendegar Felix berdecak kesal. “Kenapa kau tidak pernah mengatakannya.” Desis Felix. “Bukannya kau selalu mengikutinya,” Amber membela diri. Ya selama beberapa tahun ini Felix memang bertingkah seperti seorang penguntit yang selalu mengikuti Hazel. Memantau perkembangan gadis itu sebelum ia menjadikannya sebagai istri. Felix memutuskan panggilannya secara sepihak dan melangkah ke kantin. Ia harus melihat secara langsung sejauh mana hubungan Hazel dengan kekasihnya. Begitu ia masuk ke dalam kantin, ia berpapasan dengan pria yang tidak lain adalah kekasih dari Hazel. Cukup tampan, namun ia tidak kalah tampan dari pria itu. Ia hanya kalah di usia. Tapi bukankah sekarang para wanita lebih menyukai pria matang dan berkelas. Felix menenangkan dirinya sendiri. “Boleh aku duduk di sini,” Felix menarik kursi di depan Hazel dan mendaratkan bokongnya sebelum Hazel memberikan jawaban. Hazel mengernyit bingung. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan lalu kembali menatap Felix. “Masih banyak bangku kosong, Pak. Itu bangku keka- maksudku temanku,” Felix tidak bergeming, ia mengangkat sebelah tanganya memanggil seorang pelayan dan menyebutkan pesananannya. “Anda bisa di meja lain, ini-“ kalimatnya menggantung begitu Felix mengarahkan tatapannya pada Hazel. Ada apa dengan dosen baru ini. Kenapa ia harus duduk di sini? Sungguh menyebalkan sekali. Rutuk Hazel dengan jengkel. “Sudah nyaman di sini untuk apa di tempat lain,” sahut Felix dengan tatapan penuh arti serta senyum menggoda yang membuat Hazel kembali mengernyitkan dahinya. Sok kegantengan! Hazel membatin. Hazel segera berdiri dari kursinya dan mengambil tasnya. “Mau ke mana?” tanya Felix sebelum Hazel mulai melangkahkan kakinya. “Toilet,” jawab Hazel dengan ketus. Felix pun ikut berdiri. “Anda mau ke mana, Sir?” hardik Hazel mulai menunjukkan kekesalannya secara terang-terangan. “Toilet,” sahut Felix dengan lempeng. Hazel mulai merasa ada yang tidak beres dengan dosen baru di hadapannya itu. Sejak di dalam ruangan Hazel juga tanpa sengaja melihat bahwa Felix mencuri pandang ke arahnya beberapa kali. “Anda sedang tidak mengikuti saya ‘kan?!” Hazel bertingkah formal. Felix mengulum senyumnya, “Apa kau merasa?” Mendengar jawaban Felix membuatnya semakin kesal. “Permisi,” pamit Hazel dan melangkah pergi. Hazel berdiri di depan pintu toilet pria, menunggu kekasihnya keluar dari sana. Sudah lima belas menit berlalu sejak Valen meminta izin ke toilet. Kampus mulai sepi karena jam kuliah memang sudah selesai. Hazel juga tidak bisa menghubunginya karena ponsel kekasihnya ada bersamanya. Ingin masuk ke dalam toilet ia ragu. Bisa saja ada orang lain di sana dan menganggapnya c***l. Yang benar saja. “Toilet wanita di sebelah sana.” Hazel terlonjak kaget dan menoleh ke belakang dan menemukan Felix di sana. Untuk kali ini ia tidak kesal dengan kehadiran pria itu, ia membutuhkan pertolongannya. “Anda belum pulang, Sir? Hm, saya mau minta tolong, bisakah Anda menemaniku ke dalam, kekasihku, hmm maksudku temanku ada di sana. Saya perlu memeriksanya, ia meninggalkan ponselnya,” Hazel mengangkat benda pipih milik Valen, menunjukkannya ke Felix. Tanpa berbicara Felix melangkah masuk dan Hazel pun mengekorinya dari belakang. “Ada dua penyebab seorang pria berlama-lama di dalam toilet,” tukas Felix yang diabaikan Hazel karena ia sibuk membuka pintu toilet satu persatu. “Yang pertama karena ia sedang bermain dengan tangannya,” Felix mengulum senyumnya begitu Hazel berbalik dan menatapnya dengan horor. “Dan yang kedua,” Felix menggantung kalimatnya dan mendekat ke arah Hazel, berdiri di hadapan wanita itu seraya menundukkan kepalanya sedikit, “Bercinta dengan wanita,” bisik Felix di telinganya dengan nada sensual. “Akhhh..” terdengar erangan bertepatan dengan apa yan baru saja Felix bisikkan ke telinganya. Felix dan Hazel kompak melebarkan mata. “Kau mendengar sesuatu?” tanya Felix. Hazel menganggukkan kepala, “Seperti suara kucing betina yang sedang merintih,” ucapnya polos yang hampir membuat Felix tergelak. Ia bahkan tidak tahu bahwa seekor kucing bisa merintih. “Aku akan sampai,” terdengar geraman dan Hazel hafal betul siapa pemilik suara tersebut. Valen. “Apa Anda punya dendam pribadi kepadaku?” tanya Hazel seraya menggigit bibirnya menahan gejolak emosi yang mulai menguasai dirinya. Felix mengernyit tidak mengerti. “Sepertinya ucapan yang Bapak katakan tadi benar adanya. Aku mendengar suara kekasihku beradu dengan rintihan seekor kucing,” Ia menelan ludahnya susah payah. Felix terdiam begitu mengerti yang dimaksud oleh Hazel. “Sebaiknya kita pergi kalau begitu,” Felix menarik tangan Hazel agar segera keluar dari dalam toilet. Hazel bergeming. “Hazel,” panggil Felix dengan lembut. “Bapak mengetahui nama saya?” Hazel memaksakan diri untuk tersenyum. “Ayo kita pergi,” ajak Felix kembali. Hazel menggelengkan kepala seraya mengeluarkan ponsel dan earphone miliknya. “Jadi kau ingin menyaksikan kekasihmu berselingkuh?” tanya Felix dengan nada tidak suka. Kembali Hazel menggeleng, “Aku akan menunggu di sini,” ucapnya seraya memasangkan earphone ke telinganya dan memutar lagu kesukaannya serta menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Aku tidak akan mencemari mata suciku dan membuat telingaku terkontaminasi dengan suara menjijikkan itu,” Hazel menggidikkan bahunya tidak acuh. Felix terpana untuk sesaat dan detik berikutnya ia tersenyum bangga. Ya, ini baru gadisku, ia membatin. Tadinya ia mengira Hazel akan histeris dan mengamuk serta menangis layaknya gadis pada umumnya jika mendapati kekasihnya berselingkuh. Tentunya Felix lebih tahu bagaimana rasanya dikhianati. Dan sekarang melihat Hazel yang begitu tenang, ia menyesali kebodohannya beberapa tahun lalu, kenapa ia harus menggila yang justru membuatnya kehilangan harga diri. Lima belas menit kemudian pintu toilet terbuka. Hazel menoleh dengan santainya, menatap dua manusia yang masih menyisakan gairah di wajah keduanya serta napas yang belum teratur. “Kenapa tidak ke hotel?” Pertanyaan Hazel membuat Valen menoleh begitu juga dengan Deby, teman satu ruangan Hazel. Dan keduanya memang tidak berhubungan dengan baik. “Sa-sayang,” gugup Valen dan melangkah cepat ke arahnya. “Ya, tempat menjijikkan memang layak untuk orang yang menjijikkan,” sarkas Hazel, menatap Valen dan Deby dengan tatapan mencemooh. ‘Sayang aku bisa menjelaskan,” Valen menarik tangan Hazel yang dihempaskan Felix dengan segera. “Tanganmu kotor, apa kau sudah mencucinya. Dan perbaiki kancing celanamu.” Felix berdiri di hadapan Hazel menjadi pembatas diantara keduanya. Dan dengan tenangnya Felix menarik resleting celana mantan kekasih Hazel. Wajah Valen merah seperti kepiting rebus tatkala melihat seringai mengejek yang diperlihatkan Hazel kepadanya dari balik punggung Felix. Ia tertangkap basah. “Tidak ada yang perlu dijelaskan Valen. Bukankah kau juga akan mengakhiri hubunganmu dengannya. Dan sekarang sedang dipermudah. Kita tidak perlu bersembunyi lagi,” pungkas Deby dengan tidak tahu malunya. “Perbaiki bramu wanita nakal! Dasar sampah!” Hazel menendang kaki Valen sebelum ia berbalik pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD