Enam tahun berlalu sejak pertemuan pertama Felix dengan gadis kecil itu. Felix tersenyum hangat menatap figura foto yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Bukan hanya satu foto tapi ada beberapa foto yang menampilkan wajah sang gadis. Mulai dari gadis itu masih remaja hingga sekarang gadis itu sudah beranjak dewasa. Felix mengambil satu figura dan mengusapnya lembut.
"Ckckk...kenapa kau cantik sekali" Felix seperti orang bodoh yang berbicara kepada benda mati itu.
"Uncle, sebaiknya kau cepat temui keluarga Hazel dan segera melamarnya. Aku khawatir Felix mulai kehilangan kewarasannya, Uncle" Felix mendengus mendengar sindiran sahabat yang merangkap sebagai sepupunya itu.
"Kenapa? Apa aku salah berbicara?" Dave menyunggingkan senyum sinis.
"Enam tahun Felix, wuah aku sungguh tidak percaya selama itu kau mengikuti dan mengumpulkan foto Hazel. Aku yakin jika Hazel tahu itu ia akan menjauh darimu."
"Diamlah brrengsek!! Aku juga masih tidak percaya bagaimana bisa kau dan Sean mengenali Hazel, sedangkan aku tidak. Dan sialnya Hazelku juga dekat dengan kalian berdua," Felix menatap Dave dengan wajah kesal.
"Hazelku..?!!" Dave tergelak.
"Belum tentu Hazel mau menerimamu, kawan"
"Dad, apa aku punya wewenang untuk memberhentikannya?" Felix bertanya kepada Ayah_nya tapi matanya tertuju pada Dave dan menatapnya dengan tajam. Dave tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Felix. Ia malah semakin tergelak.
Tuan Jeremy, daddy Felix ikut tergelak
"Kau yakin dengan keputusanmu, Son?" tanyanya kepada Felix.
"Ya Dad, aku sudah memikirkannya matang-matang" jawab Felix mantap tanpa ada keraguan dalam suaranya.
"Kau tahu kawan, pekerjaan sebagai Dosen bukanlah hal yang mudah. Apa lagi kau tidak mempunyai pengalaman dalam hal mengajar sama sekali. Yang kau tahu hanyalah pasar modal dan tender yang menguntungkan" Dave kembali menimpali. Dave, selain sebagai sahabat dan sepupunya juga merupakan sekretaris Felix di perusahaan Grissham yang dipimpin oleh daddy Felix.
"Kau meragukankan kemampuanku?" tanyanya masih dengan wajah masam. Sungguh ia sangat kesal kepada sepupunya itu.
Dave mengidikkan bahunya acuh membuat Felix semakin geram.
"Huh..ternyata kau memang meragukanku" desisnya.
"Bukannya aku meragukan kemampuanmu, hanya saja sebagai seorang pendidik kau harus menjaga wibawamu dan tentu saja kau harus mengajarkan hal yang benar kepada para mahasiswamu. Aku khawatir kau malah mengajak mereka ke hal yang tidak benar alias sesat."
"Apa maksudmu, sialan!" Felix melempar sebuah bolpoin ke arah Dave yang langsung di tangkap pria itu dengan mulus, kembali Felix berdecak kesal. Lemparannya tidak mengenai sasaran.
"Bisa saja kau mengajak para mahasiswamu ke klub untuk mengadakan tesis" jawab Dave enteng sambil terkikik dengan ucapannya sendiri.
"Nasehat itu berlaku jika itu dirimu! Kau tahu aku pria baik-baik bukan seperti dirimu yang suka mabuk-mabukan dan berakhir dengan wanita one night standmu itu" sindir Felix tajam.
"Kau juga sama saja denganku" Dave tidak mau kalah.
"Itu dulu sebelum aku bertemu dengannya" Felix tersenyum hangat.
"Aku juga melakukannya dulu, tapi tidak sekarang setelah aku bertemu dengan, Amber."
"Kau tahu dude, Hazel sangat menyukaiku" kembali Dave menggoda Felix. Pria itu tidak menjawab tapi jika tatapan bisa membunuh, Dave yakin detik itu juga ia sudah mati akibat tatapan maut yang dilayangkan Felix terhadapnya.
"Hazel yang malang, ia masih kecil tapi harus berurusan denganmu."
"Dia sudah bukan anak kecil lagi. Dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik." ucap Felix dengan wajah berbinar.
"Dan kau tumbuh menjadi pria tua sepupu" ledek Dave dan kembali mendapat lemparan bolpoin dari Felix dan kali ini lemparannya tepat sasaran. Bolpoin itu mengenai kepala Dave dengan sempurna.
"Akan kupastikan Amber tidak menerima perasaanmu, sialan."
"Sayangnya kau kalah satu langkah dariku sepupu, kemarin aku baru menyatakan perasaanku dan kau tau Amber menerimaku tanpa berfikir, ayolah kawan, sepupumu ini sangat tampan, tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku bukan seperti kau yang hanya untuk merebut hati Hazel, kau harus berperan sebagai Dosen, oouhh itu pasti sangat membosankan dan sialnya Hazel belum tentu mengenalimu" Dave tertawa lepas membayangkan betapa Felix harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan perhatian Hazel.
"Yang dikatakan Dave ada benarnya juga, son, Jika memang alasanmu ingin dekat dengan gadis itu, kita bisa langsung mendatangi rumahnya dan melamarnya untukmu, bukan hanya sebagai tunangan lagi tapi langsung jadi istrimu. Daddy yakin keluarga Gloria akan menyetujuinya dan menyambut kita dengan baik. Selain Daddy yang bersahabat dengan Papanya, tentu saja kau juga layak baginya" Tuan Jeremy kembali menyuarakan suaranya agar putranya itu kembali memikirkan keputusannya itu.
"Tidak, Dad, itu akan membuatnya terkejut. Aku ingin dia mengenalku sebelum aku melamarnya. Selain mendekatinya aku juga ingin mencari suasana yang baru."
"Baiklah jika memang itu sudah keputusanmu. Untuk sementara waktu biarkan Dave yang menghandle pekerjaanmu di sini. Kau fokus saja menarik perhatian calon menantuku" tuan Jeremy beranjak dari kursinya lalu menepuk-nepuk bahu putranya itu untuk memberi semangat.
**
Felix Grissham, pria tampan berusia 32 tahun itu adalah seorang pengusaha sukses yang sangat diperhitungkan dalam dunia bisnis. Hari ini ia memutuskan untuk memutar haluan menjadi seorang Dosen hanya untuk bertemu dengan wanitanya yang sangat dirindukannya itu. Dan kebetulan universitas tempat gadis itu kuliah adalah universitas swasta milik keluarga Grissham. Jadi bukan sesuatu yang sulit buatnya untuk mengajar di universitas yang notabene adalah miliknya itu.
Selama perjalanan Felix tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Enam tahun sudah ia menunggu untuk hari ini, hari dimana ia akan menemui gadis kecilnya dulu. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia seperti ABG labil yang akan bertemu dengan cinta pertamanya.
"Belum bertemu saja, jantungku sudah menggila seperti ini, bagaimana kalau sudah bertemu. Aku takut tidak bisa mengontrol diri dan mempermalukan diriku sendiri di hadapannya" gumam Felix kepada dirinya sendiri.
"Maaf, Sir, apa Anda mengatakan sesuatu?" tanya wanita berusia 40-an kepadanya yang memang sedari tadi berjalan bersama dengannya.
"Huh..oh tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa Mrs.Laura." jawab Felix gelagapan.
"Kita sudah sampai, Sir. Ini adalah kelas yang akan Anda masuki dihari pertama Anda mengajar di sini. Mari ,Sir, saya perkenalkan dengan mereka, para mahasiswamu." Mrs. Laura mempersilahkan Felix masuk.
Felix masuk ke dalam ruangan itu yang disambut riuh oleh para mahasiswa itu. Bisa dipastikan suara ricuh itu didominasi oleh suara mahasiswi karena kagum dengan ketampanan Dosen baru itu. Mereka bersorak, bersiul dan melemparkan beberapa pertanyaan nyeleneh lainnya.
Felix seolah tuli dengan suara sumbang yang dilemparkan oleh para mahasiswi itu. Ia lebih fokus mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang sangat dirindukannya itu. Felix mengernyit karena tidak menemukan apa yang dicarinya. Sebelum ke sini ia sudah memastikan bahwa gadisnya memang memasuki kelas ini.
"Baiklah Mr.Grissham, sekarang perkenalkan diri Anda, sepertinya para mahasiswa ini sudah mulai tidak sabar." goda Mrs.Laura yang dibalas Felix hanya dengan anggukan dan sedikit senyum di bibirnya tapi mampu membuat para mahasiswi itu histeris.
Baru saja Felix akan membuka suaranya, terdengar suara ketukan pintu. Felix spontan menoleh ke arah pintu. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia terpaku melihat gadis yang sedang berdiri dibalik pintu itu. Gadisnya.
"Hazel Gloria..lagi lagi kau terlambat. Katakan kali ini apa alasanmu?" tanya Mrs. Laura melotot ke arahnya. Hazel yang ditatap seperti itu hanya bisa cengir kuda.
"Maaf Mrs. Laura, tadi saya.." Hazel menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kali ini ia tidak tahu mau memberikan alasan apa. Otaknya blank. Hazel celingak-celinguk ke sembarang arah untuk mencari alasan yang pas untuk dikatakan kepada Mrs. Laura. Tatapannya berhenti ke arah Felix. Hazel mengernyit lalu melihat Felix dari atas sampai bawah.
Felix merasakan jantungnya kembali menggila ketika Hazel menatapnya secara intens. Oh Tuhan Felix seperti ABG labil yang baru pertama kali jatuh cinta. Sekujur tubuhnya memanas hanya gara-gara Hazel menatapnya.
"Kenapa kau membawa suamimu, kemari, Mrs. Laura?" tanya Hazel tanpa mengalihkan tatapannya dari Felix. Pria itu tersedak mendengar pertanyaan Hazel. Felix juga dapat mendengar para mahasiswa itu tertawa dengan kerasnya.
"Hazel..kau sangat tidak sopan sekali. Bapak Felix ini masih muda. Bagaimana bisa kau menyamakan dengan suamiku yang botakan itu" hardik Mrs. Laura seraya menatap Felix dengan perasaan tidak enak.
"Oops..maaf Mrs. Laura," Hazel membungkukkan badannya.
"Saya memang kurang mengenali suamimu, Mrs. Laura." bohong Hazel. Ia memang sengaja tadi mengalihkan topik karena tidak tahu ingin memberikan alasan apa kepada Mrs. Laura. Hazel menggunakan Felix sebagai pengalihan topik dan sepertinya memang berhasil karena Mrs. Laura menyuruhnya masuk dan duduk di tempatnya. Hazel berjalan melewati Felix tanpa mempedulikan tatapan terkejut Felix.
Seperti dugaanku kau memang melupakanku sweetheart. Tapi tenang saja aku akan membuatmu mengingatku kembali.