MEH-BAB 3

1119 Words
Felix memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ia berjalan santai dan sesekali bersenandung dan bersiul seperti tidak ada beban dalam hidupnya. Felix memeluk erat Shandy di dalam pelukannya. Mengelus sayang dan penuh kelembutan seolah Shandy makhluk yang sangat rapuh tapi berharga. "Hai.." sapa Felix menyapa orang-orang yang menatapnya dengan tatapan berbagai ekspresi. "Apa aku melewatkan sesuatu? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?" tanyanya dengan perasaan tidak bersalah sama sekali. Kelima pasang mata itu menatap lekat ke arahnya. Felix menoleh ke belakang memastikan apa ada orang lain selain dia yang mungkin saja adalah orang yang ditatap oleh kedua orang tuanya dan ketiga sahabatnya itu "Kenapa kalian menatapku seperti itu" Felix merasa risih begitu menyadari bahwa tatapan itu ditujukan padanya. Shelia Grissham yang tak lain adalah Mommy-nya orang yang pertama kali berdiri dari tempatnya. Ia berjalan perlahan mendekati putra tunggalnya itu. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Felix mengernyit tatkala melihat buliran bening itu mengalir di kedua pipi Mommy nya. Mommy nya menyentuh wajahnya seolah tidak percaya orang yang ada di hadapannya adalah putra kesayangannya "Kenapa menangis, hmm?" Felix mengusap air mata dari wajah Mommy nya. Bukannya tenang, Mommy nya malah semakin mengangguk. Felix panik. Ada apa dengan Mommy nya? Felix segera menarik Mommy-nya ke dalam pelukannya dengan satu tangannya. Mengusap-usap punggung Mommy nya seraya menenangkan. "Kau dari mana saja anak muda? Tidak kah kau sadar kami semua khawatir?" Daddy Felix yang berbicara, seraya mendekat ke arahnya. Felix mengerutkan dahinya. Jadi ia penyebab Mommy nya menangis. "Kami hampir saja menghubungi polisi untuk meminta bantuan agar mencarimu. Kau menghilang selama satu minggu tidak ada kabar dan ponselmu juga tidak bisa dihubungi" jelas Daddy nya yang melihat kebingungan di wajah putranya, seperti tidak menyadari apa yang terjadi. "Oh astaga..maafkan aku. Jadi kalian berkumpul di sini karena aku?" Felix menatap satu persatu sahabatnya yang masih menatapnya dengan tatapan aneh. "Oh..Dad tolong ambil Mommy dari pelukanku. Mommy menyakiti Shandy." "Shandy?" Mommy nya bersuara untuk pertama kalinya. Mommy menatap Felix bingung lalu mengarahkan matanya menunjuk Shandy yang ada di dalam gendongannya. "Oh astaga..dari mana kau mendapatkan kucing manis ini?" tanya Mommy nya mengambil alih Shandy dari tangannya. Mommy-nya memang sangat menyukai kucing. Felix tersenyum simpul tidak menjawab pertanyaan Mommy nya. Felix berjalan mendekati para sahabatnya begitu Mommy dan Daddy nya sibuk dengan Shandy. Maklum saja namanya juga kekurangan anak. "Kau dari mana saja?" Dave yang merupakan sahabat dan juga sepupunya itu yang pertama kali bersuara begitu Felix duduk di sampingnya. "Kau membuat kami semua panik. Kau menyetir seperti orang gila dan pergi tanpa kata. Ada apa denganmu? Apa kau mengingat Clarissa lagi?" Felix mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar sahabatnya Sean tidak melanjutkan ucapannya. "Apa kau baik-baik saja" Kali ini wanita cantik yang di seberangnya yang bertanya dengan raut wajah khawatir. Terlihat jelas di wajahnya selain khawatir ia juga gugup dan takut. Amber Gloria. Felix tiba-tiba berdiri dari tempatnya dan duduk di samping Amber "Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?" Felix menatap Amber penuh selidik "Maafkan aku Felix..aku.." Amber semakin gugup dan pucat. Ia sudah pasrah jika sahabatnya itu melampiaskan kemarahannya kepada dirinya. Amber tahu ia juga salah dalam hal ini. Tapi tetap saja ia merasa takut menghadapi kemarahan Felix. Amber melirik Dave meminta bantuan dengan sorot matanya. Dave mengerti dan segera beranjak dari tempatnya. "Felix..kendalikan dirimu. Ini bukan salah Amber, dan ini sudah satu tahun berlalu, tapi Clarisa.." Dave menghentikan ucapannya karena dengan tiba-tiba Felix memeluk erat tubuh Amber. Amber cukup terkejut mendapat pelukan dari Felix. Itu artinya Felix tidak marah padanya. Sean dan Dave juga terheran-heran melihat sikap Felix yang seolah tidak terjadi apa-apa itu. Padahal ia sudah membuat orang tua dan sahabatnya panik gara-gara ulah kekasihnya, Clarissa yang bertingkah. Ia murka dan mengamuk sejadi-jadinya. Ketiga sahabatnya itu masih mengingat jelas bagaimana mengerikannya wajah Felix jika sedang mengamuk. Bahkan tak segan-segan ia menyakiti dirinya sendiri untuk melampiaskan kemarahannya itu. Mereka juga tidak menyangka Felix pulang dengan sendiri ke rumahnya dalam keadaan baik-baik saja bahkan dengan senyuman di wajahnya. Selama satu minggu ini mereka sudah mencari ke seluruh tempat yang biasa mereka datangi tapi tak juga menemukan Felix. Jika saja mereka tahu Felix akan pulang dengan sendirinya mereka tidak akan mau repot-repot dan susah-susah mencari keberadaan pria itu. Tapi namanya juga sahabat tentu merasakan empati terhadap sahabat mereka yang terkena masalah. Jadi tidak bisa dipungkiri rasa khawatir dan panik itu menyerang diri mereka tatkala ponselnya tidak bisa dihubungi dan ia tidak muncul selama satu minggu kepermukaan. "Felix.." Amber menepuk punggungnya agar pria itu melepaskan pelukannya karena ia sudah merasa sesak, pria itu memeluknya terlalu erat. "Kau memeluknya terlalu kuat. Amber bisa mati kekurangan udara" Sean menarik kasar kerah baju Felix, sedikit melampiaskan kekesalannya karena selama seminggu ini mengkhawatirkan sesuatu yang sia-sia karena pada kenyataannya orang dikhawatirkan ternyata baik-baik saja. Padahal selama seminggu ini tidurnya tak nyenyak, makannya tak teratur dan bahkan mandi pun jarang. "Oh..maafkan aku, aku terlalu bersemangat" Amber mengernyit mendengar kalimat yang keluar dari mulut Felix. Pria itu berdiri dari tempatnya dan menarik tangan Amber agar mengikutinya. Amber bingung tapi tetap menurut. "Jangan coba-coba mengikuti kami. Tetap pada tempat kalian masing-masing" Felix memberi peringatan seperti bisa membaca pikiran para sahabatnya. Felix membawa Amber ke dalam kamarnya. "Kau memang penyelamatku Amber. Aku bahagia sekali.." Felix membawa Amber ke dalam pelukannya dan berputar-putar. Amber yang tidak tahu apa maksud ucapan dari Felix hanya bisa pasrah. "Kenapa kau tidak pernah mengatakan kalau kau mempunyai seorang adik yang sangat manis" Felix menatap Amber dan memegang kedua bahu sahabatnya itu. Ia tahu adik kecil yang menyelamatkannya beberapa waktu lalu pasti kerabat Amber mengingat gadis kecil itu masuk kekediaman Gloria yang tidak lain adalah sahabat Daddy nya dan ia juga bersahabat baik dengan putrinya, Amber. Bagaimana bisa ia tidak tahu bahwa Amber mempunyai seorang adik perempuan. Ia memang jarang berkunjung ke rumah Amber tapi bukan berarti tidak pernah. Jadi kemana gadis kecil itu selama ini? "Hah.." Amber masih belum bisa mencerna arah pembicaraan Felix. "Adik perempuanmu yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama," jelas Felix. "Hazel?" pekik Amber dengan suara tertahan. "Jadi namanya Hazel?" senyum merekah mengembang di wajah tampan Felix. "Kau mengenal Hazel?" Amber bingung bercampur penasaran. Felix mengangguk antusias. "Adikmu itu menyelamatkanku" Amber makin mengerutkan dahinya tidak mengerti bagaimana bisa adik cerewetnya itu menyelamatkan sahabatnya yang sedang patah hati ini. "Amber, aku akan menikahi Hazel" "APA!!!" "KAU GILA. AKU TAHU KAU PATAH HATI DAN TIDAK BISA BERFIKIR DENGAN JERNIH. TAPI BAGAIMANA MUNGKIN KAU MAU MENIKAHI ADIKKU YANG MANIS ITU. HAZEL MASIH DUDUK DI BANGKU SMP SIALAN. APA KAU PUNYA KELAINAN" Amber mengabaikan rasa bersalahnya terhadap Felix berganti menjadi rasa gusar yang luar biasa. " Aku tidak mau tahu, aku akan meminta Tuan dan Nyonya Grissham melamar Hazel buatku. Titik!" putus Felix yang membuat Amber semakin geram. "DASAR SINTING!" Amber pergi meninggalkan Felix yang masih dengan senyum merekah diwajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD