MEH-BAB 2

1593 Words
"Apa yang kau lakukan?" akhirnya ia bersuara setelah beberapa menit berlalu tanpa ada yang mengeluarkan suara diantara mereka. Felix menatap sepasang manusia yang sedang berada di atas ranjang berada di bawah selimut yang sama. Felix bukan pria polos apalagi lugu, tanpa harus bertanya ia tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi. Keringat yang masih mangalir di tubuh keduanya sudah cukup jelas. Menjijikkan dan semakin terlihat menjijikkan tatkala tidak terlihat raut penyesalan di wajah keduanya. Antara percaya dan tidak, tapi ia sadar betul apa yang ia lihat di hadapannya itu nyata. Kekasihnya sedang berada di atas ranjang bersama seorang pria yang tidak lain adalah temannya. Wah, kejutan yang sangat manis di hari aniversarry hubungan mereka yang berjalan dua tahun lamanya. "Apa kau bodoh?!" terdengar jawaban sengit dari mulut si wanita sambil menatapnya dengan tatapan mencemooh, menyunggingkan senyum sinis seakan menegaskan bahwa keduanya tida merasa bersalah sama sekali dengan apa yang mereka lakukan "Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, aku hanya akan percaya dengan ucapanmu." Felix masih bertingkah konyol. "Apa aku perlu membuka selimut yang menutupi tubuh kami, agar otak bodohmu itu bisa tahu apa yang sedang kami lakukan, maksudku, aku dan kekasihku lakukan. Tentu saja aku tidak akan keberatan memperlihatkannya padamu, bukan begitu sayang," Wanita itu menoleh ke arah pria di sampingnya, membelai wajah pria itu dengan lembut. Dan si pria b******k itu tersenyum penuh kemenangan, menatap Felix dengan tatapan mengejek. "Cukup!!" Triinggg... Bunyi alarm akhirnya membangunkan Felix dari mimpi buruknya yang selalu mengganggu tidurnya selama satu tahun terakhir ini. Felix menarik napas panjang, mengusap peluh yang membasahi wajahnya. Mimpi yang sangat mengganggu namun ia tidak tahu bagaimana menghilangkan mimpi itu. Cara pengobatan yang ia lakukan sama sekali tidak berhasil. Masa lalu yang kelam membuat seorang Felix enggan untuk menjalin hubungan bersama wanita. Kepercayaannya menipis untuk manusia berjenis kelamin wanita. Ia tidak membenci semua wanita, tapi ia menolak kehadiran wanita di hidupnya. Kejadian itu cukup menorehkan luka yang mendalam. Waktu saja tidak cukup untuk mengobatinya. Felix beranjak dari ranjangnya, mengambil kunci mobil dan melangkah keluar. Ia butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Sudah satu minggu ia dalam masa pelarian. Tepat dua hari yang lalu adalah tanggal kejadian menjijikkan itu terjadi. Menghentikan mobilnya di sebuah jembatan setelah berkeliling tidak jelas. "Uncle, apa yang kau lakukan di sana?" pekik seorang gadis remaja seraya berlari mendekatinya yang sedang berdiri di atas jembatan. Ia pun terkejut mendengar suara cempreng yang sangat tidak enak didengar itu. Felix menoleh dan mendapati seorang gadis kecil yang sedang menggendong seekor kucing di pelukannya sedang mendongak tepat berada di bawahnya. Posisinya yang berdiri di atas jembatan dan gadis kecil yang berada di bawahnya terlihat seperti raksasa yang sedang memangsa timun emas. "Uncle, kau tidak boleh bunuh diri di sana," Gadis kecil itu menarik-narik celananya agar segera turun. Felix mengernyit bingung mendengar kalimat yang ke luar dari mulut gadis kecil itu. "Bunuh diri?" Felix mengulang sepenggal kalimat gadis itu untuk memastikan bahwa ia tidak salah mendengar. Felix turun dari tempatnya dan berdiri di hadapan gadis yang mengenakan seragam Sekolah Menengah Pertama itu seraya melipat tangan di dadanya. "Uncle, aku tahu patah hati itu sakit tapi jangan sia-siakan waktumu hanya untuk orang yang membuatmu lemah. Kau bisa menemukan orang yang dapat membuat cahayamu lebih terang lagi." Felix terpaku mendengar kalimat bijak yang terlontar dari gadis kecil yang ada di hadapannya ini. "Adik kecil dengarkan aku..." "Uncle, apa kau masih mempunyai Mom, Dad?" Felix mengangguk. "Bagaimana bisa kau berpikir akan mlompat dari sana dan tidak memikirkan bagaimana tanpa memikirkan perasaan mereka." "Aku tidak.." "Uncle, mengakhiri hidup bukan menyelesaikan masalah tapi akan menambah masalah. Paman berpikir akan loncat dari sana, iya kalau mati. Bagaimana jika kau yang sudah capek-capek terjun ke bawah sana tapi ternyata tidak mati, yang ada kau terluka parah, Uncle, dan lebih buruknya lagi kau mengalami cacat permanen. Oh itu akan seperti mimpi buruk bagimu. Orang yang membuatmu lemah akan tertawa senang dan orang tuamu akan kehabisan uang dan waktu hanya mengurusi anak mereka yang cacat. Fikirkan itu," cerocos gadis beranjak remaja itu panjang lebar. Felix mematung, melongo mendengar ceramah singkat gadis itu. Gadis itu sudah salah faham padanya. Walau sebagian dari ucapan yang dikatakannya ada benarnya juga. Felix memang sedang patah hati bahkan setelah kejadian itu berlalu setahun yang lalu. Kekasihnya berselingkuh. Tapi ia tidak sekonyol itu, hanya gara-gara seorang wanita ia akan mengakhiri hidupnya. Oh Tuhan, adakah yang lebih konyol dari itu. "Uncle, jika kau mati dengan cara menyedihkan seperti itu pikirkan bagaimana oang-orang yang sayang padamu akan melanjutkan hidup mereka." Oh Tuhan, sepertinya kesalahpahaman ini harus dihentikan, sebelum otak kecilnya berpikiran yang lebih aneh lagi. Felix membatin. "Adik kecil dengarkan aku" Felix mengatur nada suaranya agar terdengar selembut mungkin. Ia menyadari gadis yang dihadapinya adalah ABG labil. Gadis yang di hadapannya itu menggeleng "Maafkan aku Uncle, aku sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk mendengarkanmu. Aku sudah sangat terlambat untuk pulang. Ibuku pasti sudah khawatir." Felix mengernyitkan dahi, ini masih terlalu pagi untuk pulang sekolah, lalu kenapa gadis itu mengatakan sudah terlambat untuk pulang. "Di mana rumahmu aku akan mengantarmu?" tawar Felix. "Dan ini masih terlalu pagi untuk pulang, apa kau sedang membolos?" tuduhnya. Gadis itu kembali menggeleng "Sekali lagi maafkan aku Uncle, bukannya aku menolak kebaikanmu, tapi ibu berpesan agar tidak terlalu percaya kepada orang yang baru saja dikenal," jawabnya polos. Felix terkekeh mendengar ucapan jujur gadis itu. "Dan ini adalah akhir pekan, sekolah tutup dan tidak ada yang mengingatkanku." imbuhnya dengan wajah polos dan menggemaskan membuat Felix kembali tertawa. Kapan ia terakhir kali tertawa? Sesungguhnya Felix pun lupa. "Apa wajahku terlihat seperti penjahat?" tanyanya. Gadis itu menatap Felix dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik "Karena kau tampan, kau tidak terlihat seperti penjahat tapi bisa saja ketampananmu hanya modus belaka," lagi dan lagi gadis itu mengatakan semuanya dengan polos tanpa beban. "Apa kau pernah melihat penjahat setampan diriku?" tanya Felix tidak kalah narsis. "Tidak, hanya saja.." "Katakan di mana rumahmu, aku akan mengantarmu, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah menyelamatkanku" bujuk Felix lagi. "Kau ingin berterima kasih?" tanya gadis itu lagi dengan wajah sumringah. Felix mengangguk. "Jika kau ingin berterima kasih tolong jaga Sandy buatku, Uncle. Kasihan dia sudah tidak punya keluarga lagi." "Sandy?" tanya Felix bingung. Gadis itu mengangguk "Iya, Sandy temannya SpongeBob dan Patric." "Tupai?" tanya Felix lagi dengan bodohnya. Gadis itu menggeleng seraya menyerahkan kucing yang sedari tadi di gendongnya. Felix mengernyit menatap kucing yang sekarang ada di tangannya. Bukannya tadi dia mengatakan Sandy temannya si kuning SpongeBob dan si Patric yang bodoh. Kenapa dia menyerahkan kucing ini. Bukannya Sandy seekor tupai atau Sandy memang seekor kucing? Felix bertanya-tanya dalam hatinya. Baru saja Felix ingin menyuarakan kebingungannya. Gadis itu kembali mengeluarkan ceramahnya. "Uncle, namanya hidup pasti ada masalah. Tapi paman saat paman memikirkan dan mengkhawatirkan masalah justru akan menggandakan masalah itu paman. Jadi aku harap hadirnya Sandy memberikan alasan untukmu tetap bertahan hidup paman." "Oh Tuhan, gadis cerewet sekarang dengarkan aku.." "Tidak sopan memotong pembicaraan orang lain Uncle. Tunggu aku selesai berbicara baru kau bisa berbicara." Oh Tuhan apa gadis ini tidak sadar, sedari tadi ia juga menyela ucapanku sehingga menyebabkan kesalahpahaman ini semakin melebar. Lagi, Felix hanya bisa merutuk dalam hati. "Uncle, apa kau melihat luka di lutut dan di siku tanganku ini?" tanya gadis itu. Felix mengangguk. Sedari tadi ia ingin menanyakan itu tapi ia tidak punya kesempatan karena sedari tadi gadis itu yang memegang kuasa penuh atas pembicaraan ini. "Lalu kenapa kau tidak bertanya?" "Aku tidak tertarik" bohong Felix. "Baiklah, aku akan bercerita" ucap gadis itu yang membuat Felix menaikkan alisnya. "Perasaan tadi aku mengatakan aku tidak tertarik" protes Felix. "Dan perasaanku mengatakan kau berbohong. Jadi begini ceritanya, luka ini kudapatkan karena jatuh dari atas pohon untuk menyelamatkan Sandy yang malang, Uncle. Sandy sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Kasihan dia." Dia terluka hanya untuk seekor kucing. Selain cerewet ternyata ia memiliki hati yang penuh kasih sayang. "Lalu apa hubungannya denganku?" Tanya Felix dengan wajah datar. "Kau harus merawatnya. Memastikan hidupnya baik-baik saja" jawab gadis itu enteng. Felix mendengus kesal. "Kenapa harus aku, kenapa bukan kau saja." "Tentu saja aku ingin, tapi ibu dan kakak perempuanku yang cantik alergi dengan kucing, jadi aku tidak bisa membawanya ke rumah" jawab gadis itu jujur. Felix menghela nafas frustasi. "Baiklah, Uncle, aku pergi. Hiduplah dengan baik" ujarnya seraya berbalik. "Tunggu!!" Gadis itu berhenti dan berbalik lagi menghadap Felix. "Apa kau tidak takut aku dan Sandy terjun bebas lagi ke bawah sana?" Gadis itu melebarkan matanya mendengar penuturan Felix. "Wah kau tidak berprikehewanan, Uncle, baiklah antar aku pulang. Aku harus memastikan kau dan Sandy menjauh dari tempat ini." Felix tersenyum penuh kemenangan. "Baiklah, ayo naik ke mobilku" Felix menunjuk sebuah mobil sport hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Selama perjalanan Felix tahu bahwa gadis itu sekarang masih belia. Felix menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar. "Jadi ini rumahmu?" tanya Felix memastikan. "Ya, maaf aku tidak bisa mengajakmu masuk, Uncle, dan terima kasih sudah mengantarku dengan selamat" ucapnya tulus seraya membuka seat beltnya. Felix mengangguk. Gadis itu mengambil Sandy dari pangkuannya. "Sandy, jadilah kucing yang manis jangan merepotkan Uncle, oke." Kau yang sudah merepotkanku gadis kecil, batin Felix. "Aku pasti merindukanmu, Sandy" gadis itu menggesek-gesekkan hidungnya ke wajah Sandy. Sandy menjilati wajah mulus gadis itu. Semua itu tidak luput dari penglihatan Felix. Beruntungnya jadi Sandy. Ingin rasanya aku bertukar tempat dengan Sandy. Oh astaga pemikiran apa ini. Aku tidak menyangka aku memiliki sisi menjijikkan ini. Felix membatin lagi. "Uncle, hiduplah dengan baik, dengan begitu Sandy bisa hidup dengan nyaman " Felix tersentak dari lamunannya. Ia menatap gadis kecil yang sedang menatapnya dari tadi. Gadis itu tersenyum. Felix terpaku melihat senyum gadis itu. "Tolong rawat Sandy buatku, Uncle" gadis itu menyerahkan Sandy ke pangkuan Felix. Felix hanya mengangguk bodoh. "Baiklah, aku pergi" gadis itu turun dari mobil Felix lalu berlari masuk ke dalam rumahnya. Felix hanya menatap gadis sampai gadis kecil itu sudah tidak terlihat lagi. Felix tersentak menyadari ia belum mengetahui nama gadis itu dan gadis itu juga tidak mengetahui namanya. Felix menatap rumah besar itu lalu tersenyum penuh arti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD