"Oh Tuhan, apa yang kau lakukan dengan wajahmu." Hazel memekik kaget begitu melihat penampakan seseorang yang sedang menunggu kedatangannya. Xavier. Bocah laki-laki yang berusia 4,5 tahun yang tidak lain adalah putranya. "Apa kau bertengkar lagi?" Hazel bertanya tanpa bermaksud untuk menuding. Pasalnya, akhir-akhir ini, Xavier memang kerap kali pulang dengan keadaan terluka. "No, Mom." jawabnya singkat dengan menyilangkan jari telunjuknya dan jari tengahnya di belakang punggungnya. "Aku hanya terjatuh saat merebut bola dari temanku," bohongnya begitu melihat tatapan menyelidik ibunya. Hazel menarik tangan putranya itu dan membawanya ke depan. "Mommy tidak suka anak pembohong, Xavier." Hazel mendelik tajam. "Jika hanya karena permainan bola, harusnya kakimu yang terluka, bukan wajah tam

