MEH-BAB 10

1632 Words
Hazel sudah tenang, tidak merengek lagi seperti anak kecil. Setelah mendapat penjelasan dari keluarganya, ia pun mencoba menerima pernikahannya bersama Felix. Mereka akan sama-sama belajar dan ia berharap semoga saja Felix bukan tipe p****************g. Dalam sebuah hubungan, pengkhianatan adalah sesuatu yang fatal, bukan? "Tidak menyangka kau mendahului, Kakak?" Amber melompat ke dalam pelukan adiknya. "Selamat, Sayang. Jadilah istri yang baik. Felix pria yang penuh cinta dan kau akan bahagia dibuatnya," Amber mengusap lembut wajah adiknya yang masih enggan untuk tersenyum. Ya, walau pun sudah mencoba untuk menerima pernikahan itu, tetap saja Hazel menekuk wajahnya. "Kau pasti senang aku pergi, 'kan?" Hazel menggerutu. "Tentu saja. Aku akan menjadi satu-satunya putri kesayangan Ibu dan Ayah," Amber sengaja menggoda adiknya dan benar saja, wajah Hazel semakin merengut. Ia pun tertawa karena sudah berhasil menggoda adiknya. "Menyingkirlah, kau membuatnya kesal. Kakak macam apa kau ini?" Dave menarik tangan Amber agar menjauh dari Hazel. "Kak Dave," adu Hazel. "Wah, kau terlihat sangat cantik. Sungguh aku masih tidak percaya pria itu benar-benar menikahimu." Dave melirikkan matanya pada Felix dan pria itu pun mendengkus dengan wajah menyebalkan. "Selamat untuk pernikahanmu. Aku tidak tahu apakah ini bisa membuatmu tenang dan lega, tapi pria yang menikahimu itu adalah pria yang teramat sangat mencintaimu. Rela menunggu selama bertahun-tahun. Menjagamu dari kejauhan." Ucapan Dave membuat dahi Hazel mengernyit bingung. Sesungguhnya dari tadi ia juga bingung kenapa semua mengatakan Felix sangat mencintainya, bahkan Ayahnya sendiri pun mengatakan demikian. Adakah sesuatu hal yang ia lewatkan atau mungkin ia lupakan. Berbeda dengan Dave, Sean justru menghampiri Felix dan merangkul pria itu. "Selamat, Dude. Akhirnya kau mendapatkan yang kau inginkan. Aku bangga padamu. Dan aku percaya kau mampu membahagiakan Hazel." ______ Setelah acara pernikahan sederhana itu selesai, Felix dan keluarganya segera membawa Hazel ke rumah mereka. Mansion keluarga Grissham sangat indah dan mewah, dan tentunya itu bukan rumah yang sama di mana ia dan Felix tadi pagi terciduk. "Kita sudah sampai, anggap seperti rumah sendiri, Sayang." Laura Grissham-ibu dari Felix menuntunnya masuk sembari merangkul pundaknya dengan hangat. "Ya, Mom." Sahut Hazel dengan singkat. Matanya merotasi bangunan itu. Sangat indah, termasuk penyusunan tata letak benda-benda yang ada di dalamnya. Foto keluarga mereka terpampang dengan jelas saat Hazel melangkahkan kaki untuk masuk lebih dalam. Di dalam bingkai tersebut terdapat empat foto. Tuan dan Ny. Grissham, Felix dan seorang gadis yang terlihat sangat cantik. Dari wajahnya yang mirip dengan Felix, Hazel menduga jika itu adalah adik perempuannya. Tapi di mana adik perempuannya? "Bawa Hazel ke dalam kamar, ia mungkin sudah lelah," perintah Jeremy-ayah mertuanya. "Tidak,,tidak,," Hazel menggeleng kuat. Melihat hal itu, Felix mengulum senyumnya. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan istri cantiknya itu. "Maksudku, aku masih ingin melihat-lihat mansion indahmu, Dad." Hazel memberi alasan. "Kau bisa melihat-lihatnya besok, rumah ini tidak akan pergi ke mana-mana," Felix segera mendorong tubuh istrinya, menuntunnya menuju kamar. Sesampainya di dalam kamar, suasana canggung pun terjadi. Keduanya hanya duduk berdampingan dalam diam. Pakaian keduanya bahkan belum berganti. Hazel terlihat gugup, fantasinya sudah melayang entah ke mana. Jemarinya saling bertaut dan buku kukunya sudah memutih. Jantungnya tidak tenang, berdegup lebih kencang seperti genderang mau perang. Dan percayalah bokongnya juga terasa panas karena merasa tidak nyaman. Keheningan itu begitu menyiksa. Felix mungkin terlihat lebih tenang, namun itu hanya tampilan luarnya saja. Sama seperti Hazel, ia juga merasa gugup. "Sayang." "Suamiku." Akhirnya Hazel dan Felix bersuara setelah sepuluh menit lamanya terdiam di kamar. Mendengar panggilan sayang yang terdengar lembut membuat tubuh Hazel memanas seketika. Lain halnya dengan Felix, ia terlihat mengulum senyumnya mendengar panggilan Hazel yang terdengar sangat kaku. "Ya, ada apa, hmm?" Tanya Felix sembari mengubah posisi duduknya agar bisa menatap wajah Hazel dengan jelas. Hazel menggelengkan kepala, "kau saja yang pertama," ucapnya. Felix tersenyum membuat darah Hazel berdesir seketika. "Kau boleh memakai kamar mandinya terlebih dahulu," ucapnya kemudian. "Kau ingin mengatakan itu?" Hazel memastikan. "Ya," "Karena aku melihatmu cukup kegerahan dengan gaun pengantin yang kau kenakan," imbuhnya. "Hmm..baiklah. Aku akan mandi," Hazel beranjak dari tempatnya. Baru dua langkah ia kemudian berhenti dan memutar tubuhnya, menatap pria yang tidak lain adalah suaminya. Pria yang akan ia habiskan waktu seumur hidupnya. Ia tidak tahu kedepannya seperti apa tapi ia akan berusaha untuk menjadi istri yang baik. Istri yang baik tidak harus memberikan itukan? Hazel membatin. Hazel menggemeretakkan giginya, bingung bagaimana untuk mengatakannya pada Felix. Bukan ia tidak ingin memberikan hak suaminya, tapi ia butuh waktu untuk itu. Ia selalu bermimpi ingin memberikannya pada suami yang dicintainya kelak. Tapi kenyataannya sekarang ia sudah menikah dan dirinya adalah hak suaminya sekalipun ia tidak mencintainya. Tapi tetap saja ia harus lebih mengenal Felix sebelum melakukannya. "Kau ingin mengatakan sesuatu?" Felix melihat keraguan di wajah Hazel. "Katakan saja jika ada mengganggu pikiranmu," Felix meyakinkan dengan senyum hangat di wajahnya. "Suamiku," suara Hazel terdengar kikuk. Ketara sekali ia sedang memaksakan diri memanggil Felix seperti itu. Felix menahan senyumnya. Ia tidak ingin Hazel merasa malu. "Hmm..katakanlah." "Maafkan aku, mungkin ini akan terdengar sedikit aneh," Hazel menjeda dan menelan ludahnya susah payah. Ia harus mengatakannya tapi ia tidak tahu harus memulainya bagaimana. Felix menunggu. Dari mimik wajah Hazel sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan istrinya itu. Tapi ia memilih diam dan menunggu. "Ini adalah malam pertama kita. Malam yang biasanya paling dinantikan oleh pasangan pengantin baru di seluruh dunia ini," akhirnya kalimat itu terlontar dari mulut Hazel dengan air wajah yang menurut Felix sangat menggemaskan. Felix mengangguk sebagai respon ia mendengar dan mengerti apa yang dikatakan Hazel. Nah 'kan seperti dugaanku. Dia membicarakan itu. Felix membatin dan susah payah menahan senyumnya. "Tapi seperti yang kau tahu kasus kita sedikit berbeda," cicit Hazel. Felix mengerutkan dahinya. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan mendekati Hazel. Hazel ikut mengerutkan dahinya melihat suaminya yang berjalan ke arahnya dengan tatapan aneh yang tertuju padanya. Apa dia sedang marah? Aku belum mengatakan intinya. Apa ia akan menyerangku tanpa mendengar ucapanku selesai. Apa karena aku mengungkit malam pertama ia kira aku menginginkannya. Hazel bertanya-tanya. Felix berhenti di hadapannya, dan Hazel menelan ludahnya dengan susah payah. "Apa kakimu tidak pegal?" "Hah?" Hazel bingung dengan pertanyaan yang diberikan Felix. "Jika ingin membicarakan sesuatu sebaiknya kita duduk. Tidak seperti tadi, aku duduk, kau berdiri. Aku terlihat seperti hakim yang sedang mendakwah tersangka," Felix menarik tangan Hazel dan menuntunnya untuk duduk di tempat semula, di atas ranjang. "Lanjutkan," perintah Felix, menatap Hazel dengan tatapan lembut mendayu yang membuat wanita itu tenggelam dalam tatapan kehangatan yang terpancar dari maniknya. "Aku butuh waktu sebelum aku memberikan hakmu," seru Hazel secepatnya. Ia tidak ingin membuang-buang waktu dengan berbasa basi. Lebih baik mengatakan intinya secepatnya. Tidak ada respon dan wajah suaminya juga terlihat datar saja. Hazel tidak bisa menebak apa yang sedang ada di pikiran Felix. "Maksudku pernikahan kita ini terlalu mendadak," Hazel mulai merasa gugup dengan tatapan Felix yang begitu intens. "Sekali pun mendadak tapi tidak ada paksaan di dalamnya, Sayang." Oh Tuhan, bisakah ia berhenti memanggilku dengan cara seperti itu. Hazel membatin. "Pernikahan kita sah di mata hukum maupun agama. Kita sah sebagai suami istri," jelas Felix seolah Hazel tidak mengerti keadaan sebenarnya. "Iya, yang kau katakan benar, tapi tetap saja kita adalah dua orang asing yang dipersatukan dalam pernikahan mendadak." "Bagiku kau bukan orang asing, Hazel." Felix menegaskan. "Tapi aku baru mengenalmu belum lama ini. Dan tiba-tiba saja kita sudah menikah karena keadaan yang tidak cukup menguntungkan untukku. Aku terbangun dan tiba-tiba berada di dalam kamarmu dan dalam sekejap statusku berubah menjadi istrimu. Bukan berarti aku menyesali pernikahan ini. Maafkan aku, tapi bagiku kau masih asing. Dan akan aneh rasanya melakukannya dengan orang asing. Itu akan sedikit canggung. Bukannya aku tidak akan memberikan hakmu tapi berikan aku waktu untuk mengenalmu terlebih dahulu," ucap Hazel panjang lebar dengan raut wajah sedikit memohon. Felix tersenyum mendengar penuturan istrinya yang menurutnya wajar. Hazel mengatakan sejujurnya apa yang ia rasakan. Ia cukup senang mendengar kejujuran wanita itu. Artinya istrinya akan belajar membuka hati untuk dirinya dan ternyata Hazel juga cukup sadar akan posisinya sekarang. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu memberikan kehangatannya tapi ia tidak ingin membuat Hazel merasa tidak nyaman disaat mereka membahas hal yang sakral. Tidak salah memang pilihannya. Dari luar Hazel mungkin terlihat kekanakan, tapi ternyata Hazel juga memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Baiklah ia akan mengalah. Ia tidak boleh egois. Jika ingin mendekati wanita berikan rasa aman dan nyaman terlebih dahulu. Dengan sendirinya wanita akan memberikan kepercayaannya. Bukan begitu? "Baiklah jika itu maumu," ujar Felix. "Benarkah?" pekik Hazel semangat. Itu artinya tidak akan ada hari canggung malam ini. Felix mau memberinya waktu dan ruang. "Aku akan bersabar dan menunggu. Dan kau tahu aku sangat ahli dalam menunggu jika itu menyangkut dirimu," FeLix mengerling namun terselip keseriusan dalam kalimatnya. "Terima kasih, Suamiku." Spontan Hazel melompat ke dalam pelukan Felix. Kewaspadaannya menghilang begitu saja ketika suaminya menerima gagasannya. Ia mengira Felix akan egois dan tetap memaksakan haknya dengan dalih aku suamimu dan aku ingin hakku. Hazel sungguh merasa lega dengan pengertian Felix. Namun pria itu sendiri terkejut mendapati Hazel sudah ada di dalam pelukannya. Wajahnya merona. Hazel-nya memeluknya terlebih dahulu. Astaga, benarkah Hazel sedang memelukku? "Sama-sama, Istriku," baru saja Felix ingin mengangkat tangannya membalas pelukan istrinya, Hazel sudah melepaskan pelukannya dan segera berdiri. Tangan Felix pun mengambang di udara. "Aku akan mandi," dengan senyum lebar Hazel berbalik. "Hazel.." Panggilan Felix menghentikan langkahnya. Ia berbalik dengan senyum manis di wajahnya. "Aku sangat giat mengejar apa yang kuinginkan. Siapkan dirimu menerima limpahan cinta dariku. Aku akan membuatmu memandang ke arahku secepatnya." Mendengar penuturan Felix yang terlihat sangat meyakinkan membuat Hazel terkesiap untuk sesaat lalu di detik selanjutnya ia pun tersenyum. "Aku akan menantikannya," ucapnya lalu berbalik kembali, masuk ke dalam toilet. Sepuluh menit Hazel habiskan waktu di kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Waktu yang cukup singkat bagi seorang wanita. Ia pun ke luar dari kamar mandi dan melihat Felix masih berada di tempatnya semula. "Kau sudah selesai?" tanya Felix. Hazel mengangguk, "ya, kau bisa menggunakan kamar mandinya sekarang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD