MEH-BAB 11

1865 Words
Begitu Felix masuk ke dalam toilet, Hazel menjatuhkan diri ke atas ranjang empuk yang begitu sangat nyaman. Ia berguling ke sana ke mari. "Tubuhku sangat lelah dan ranjang ini nyaman sekali. Aku khawatir tidak bisa bangun esok pagi." Hazel segera duduk kembali dan menoleh ke arah pintu toilet. "Aku biasanya tidur di sisi kiri tempat tidur. Bagaimana dengannya? Apa ia juga mempunyai kebiasaan seperti itu?" Hazel bermonolog. "Baiklah aku akan menunggunya untuk menanyakannya langsung." Hazel beringsut untuk mencari tasnya. Dan begitu melihat tasnya, ia segera mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Dahinya mengernyit begitu melihat betapa banyaknya panggilan dan pesan masuk. Hazel pun segera mengusap layar ponselnya dan seketika mengumpat. Semua panggilan dan pesan masuk berasal dari mantan kekasihnya, Valen. "Apa lagi maunya? Mengirim banyak pesan, apa ia tidak mempunyai kegiatan lain selain merecokiku," Hazel menggerutu, tanpa membaca pesan dari mantan kekasihnya, Hazel segera membersihkan chatnya. Tidak berapa lama kemudian, ponselnya kembali menyala dan berdering. Valen menghubunginya entah untuk yang keberapa lagi. "Ada apa?!" Hardik Hazel dengan kesal. Menurutnya Valen sangat tidak tahu malu mengingat pria itu sudah mengkhianatinya dan dengan beraninya masih menghubunginya. "Akhirnya kau menjawab panggilanku, Sayang. Kau di mana? Kau baik-baik saja. Kenapa tidak masuk kampus hari ini? Aku menghubungimu sepanjang hari dan aku khawatir kau tidak kunjung menjawab panggilanmu. Kau baik-baik saja 'kan?" "Hmm," kalimat beruntun yang dilontarkan Valen mengenai kekhawatirannya hanya dijawab Hazel dengan gumaman. Ia tidak akan tersentuh sama sekali. Mungkin benar Valen kahwatir padanya, tapi tetap saja kesalahan pria itu tidak bisa ia tolerir begitu saja. Dan apa yang terjadi sekarang dengan statusnya yang berubah dalam sekejap tidak lepas dari ulah pria itu. Andai saja Valen tidak berselingkuh, ia tidak akan pergi ke bar, tempat berbagai macam dosa bersarang. "Sayang, aku ingin meminta maaf. Aku tahu aku salah. Sangat salah, tapi sungguh aku khilaf, Sayang." Khilaf? Cih, alasan klasik yang selalu diucapkan pria setiap mereka melakukan kesalahan dan tidak bisa mengelak. Andai tidak tertangkap basah, pengkhianatan itu akan terus berlanjut secara berkepanjangan. Lalu masihkah hal itu bisa dikatakan khilaf saat sepasang pengkhianat sama- sama menikmatinya. "Aku akan memaafkanmu jika kau berhenti menggangguku dan mengirim spam seperti tadi," Hazel tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Valen. Jadi memberikan maaf sesuai permintaan pria itu adalah solusi cepat. "Jadi kau sungguh memaafkanku, Sayang?" Terdengar kelegaan dari nada suara Valen dari seberang telepon. "Ya, ya, aku memaafkanmu. Tapi berhenti menghubungiku mulai sekarang dan jangan memanggilku 'sayang' karena wanita yang sedang kau telepon sekarang adalah wanita yang sudah memiliki suami." "Suami?" Valen seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Di seberang telepon, kening pria itu tampak mengernyit. "Lelucon apa ini, Hazel?" Ia tidak mempercayai perkataan wanita itu sama sekali. Sangat tidak masuk akal Hazel tiba-tiba sudah menikah. "Memangnya setelah apa yang kau lakukan padaku aku masih berniat bergurau denganmu?" sinis Hazel mulai bosan meladeni Valen. "Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku sudah menikah dan tidak ada gunanya aku membohongimu. Memangnya kau pikir semua orang sama denganmu, suka berbohong!" Sekalian saja Hazel meluapkan kekesalannya. "Sudahlah, aku mau tidur!" "Hazel, tunggu! Sa-sayang dengarkan aku.." Hazel memutuskan panggilan sepihak. Meladeni Valen tidak akan ada habisnya. Dan sebelum Felix ke luar dari dalam toilet, ia harus mengakhiri panggilannya. Ia tidak ingin ada drama salah faham di hari pertama mereka menikah. Meski pernikahan ini tanpa cinta, setidaknya harus ada penghargaan atas janji suci yang mempersatukan mereka. Hazel menoleh, pintu kamar mandi masih tertutup rapat. "Lama juga dia di dalam sana," gumam Hazel sembari meletakkan ponselnya di atas nakas. Nomor Valen sudah ia masukkan ke dalam daftar hitam agar pria itu tidak bisa menghubunginya lagi. Sembari menunggu Felix selesai, Hazel melihat-lihat sekeliling kamar. Tidak ada yang spesial. Hanya ada ranjang, sofa dan beberapa lukisan. Di sisi kiri ruangan ada pintu penghubung yang terbuat dari kaca. Hazel menduga itu adalah ruang ganti. Tanpa berpikir panjang ia pun segera mendorong pintunya. Berniat untuk melakukan tugas pertamanya sebagai istri, yaitu menyiapkan pakaian suaminya. Tapi apa yang dilihatnya di ruangan itu sungguh membuatnya terkesiap. Ruangan yang ia kira sebagai walk in closet ternyata ruangan yang lebih mirip disebut sebagai ruang studio. Hampir seluruh permukaan dinding dipenuhi dengan foto. Dan yang mencengangkan dari itu semua, foto yang tersebar di dinding adalah foto wajahnya yang diambil dengan berbagai gaya. Jelas sekali jika foto itu diambil secara sembunyi-bunyi. Hazel melangkah masuk lebih dalam, dengan mulut menganga, ia memperahtikan deretan itu satu persatu. Sejak kapan pria itu mengawasinya? Bahkan foto saat ia masih belia juga ada. Perkataan ayahnya dan juga beberapa orang lainnya yang mengatakan bahwa Felix sudah sejak lama mencintainya mulai terngiang-ngiang. Jadi pria itu sungguh menguntitku sudah sejak lama? Hazel membatin. Sekarang setelah melihat apa yang terpampang, Hazel tidak tahu harus bereaksi seperti apa selain tercengang. Ia tidak menyangka jika selama ini ia memiliki pengagum rahasia yang benar-benar rela menunggunya hingga dewas. "Tapi apakah ia sungguh mencintaiku atau jangan-jangan ia terobsesi kepadaku?" Seketika Hazel bergidik ngeri. Drama tentang cinta dan obsesi sedang marak ditayangkan di televis. Dan semuanya memiliki akhir yang menyedihkan. Hazel menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran buruknya. Ia segera berbalik menuju pintu ke luar sebelum Felix menyadari bahwa ia sudah lancang masuk ke ruang pribadi pria itu. "Akhh! Kau mengagetkanku," pekik Hazel. Saat ia hendak mendorong pintu, Felix terlebih dahulu mendorongnya. "Oh, maafkan aku." Felix terkikik geli. Wajah terkejut Hazel terlihat sangat menggemaskan. "Indah bukan?" Felix bertanya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk yang menutupi kepalanya. Yang ia maksud dengan indah adalah kumpulan foto istrinya. Glek! Hazel menelan salivanya, Felix hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Mempertontonkan dengan jelas bentuk tubuh Felix yang menurut Hazel sangat wow! Kedua lengan Felix mempunyai otot yang kekar. Ingin rasanya Hazel bergelantungan di sana untuk membuktikan apakah ototnya sekokoh yang terlihat. Beralih dari lengan, kini Hazel tidak bisa menutup mulutnya. Ia menganga, menatap takjub perut Felix yang berbentuk kotak-kotak berlapis. Selama ini, ia mengira hal semacam itu hanya ada di dalam serial komik yang sering ia baca. Roti sobek! jerit Hazel dalam hati. Ini sungguh sama persis seperti yang terlihat di dalam komik. Astaga, ini bahkan jauh lebih daripada yang ada di komik. Sungguh maha karya yang sempurna. Akh!! Ini akan sangat menyenangkan bisa menikmati pemandangan seperti ini setiap hari. Hazel memekik kegirangan. Tidak menyadari bahwa ia sedang dikuasai setan m***m yang sangat liar. Menyadari arah tatapan Hazel, Felix merasakan darahnya berdesir. Ia berdiri dengan kikuk, ia salah tingkah! "Ku-Kupikir kau sudah tidur dan begitu tidak menemukanmu di atas ranjang, aku menduga kau memang kemari." Felix menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku menunggumu," jawab Hazel tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh milik Felix. "Aku akan segera mengenakan pakaianku agar kau nyaman," Felix berjalan terburu-buru. Bukan Hazel yang tidak nyaman tapi dirinya lah yang tidak tahan melihat cara Hazel menatapnya. "Tidak usah terburu-buru, aku nyaman-nyaman saja, sungguh!" Seru Hazel dan berhasil menghentikan langkah suaminya. Felix berbalik, dan seketika telinganya merah melihat tatapan Hazel layaknya seekor singa betina yang sedang kelaparan. "Ehmm," Felix sengaja berdehem. Sungguh ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Hazel mengangkat kepalanya dan mata mereka saling mengunci. Hazel pun menyadari keliarannya. "Oh, maksudku kau tidak perlu sungkan seperti itu. Kita adalah suami istri dan aku harus terbiasa melihatnya, bukan?" Hazel menggigit lidahnya begitu mendengar kalimat yang menurutnya sangat ambigu. "Maksudku aku harus belajar terbiasa melihat tubuh telanjangmu." Oh Hazel, apa yang sedang kau katakan dan apa yang di dalam pikiranmu! Hazel menggeleng, berusaha mengembalikan akal sehatnya. Melihat hal itu, Felix terkikik geli. Terlintas di pikirannya untuk menjahili Hazel. "Ini belum bisa dikatakan telanjang, Sayang. " Felix mulai beraksi dan pria itu mengulum senyumnya, melihat semburat merah yang terpancar di wajah Hazel. "Maksudku, dadamu, dadamu ya dadamu, hm, perutmu, tidak-tidak." Hazel melambaikan kedua tangannya. "Aku memdengar beberapa pria tidak berpakaian saat tidur. Aku tidak akan keberatan dengan itu dan aku tidak akan terganggum." Felix terkekeh melihat kegugupan Hazel. Ucapan wanita itu semakin ke mana-mana. "Karna kau tidak keberatan dengan d**a telanjangku, jadi aku tidak akan sungkan. Aku terbiasa tidur tidak mengenakan baju." Jelas Felix dan itu memang benar adanya. Awalnya ia berniat untuk mengubah kebiasaannya itu untuk sementara waktu sampai Hazel bisa menerimanya. "Aku akan mengenakan sesuatu kalau begitu." Felix menarik tangan Hazel dengan lembut agar menyingkir dari depan pintu lalu ia pun masuk. Tidak berapa lama, Felix pun keluar dengan hanya mengenakan celana piyama. "Tidurlah!" Tangannya terulur mengusap kepala Hazel. "Aku akan tidur di sofa," tukasnya sembari membaringkan Hazel dan memasangkan selimut. "Kenapa kau harus tidur di sofa?" Hezel bertanya dengan raut wajah bingung dan Felix yang mendengarnya pun tidak kalah bingung. Bukankah ia tidak ingin melakukannya sampai ia bisa menerimaku? Atau ia berubah fikiran setelah melihat otot perutku. Felix membatin kegirangan. "Tempat tidurmu lumayan besar. Kita berdua bisa berbagi di sini jadi kenapa kau harus tidur di sofa? Itu akan sangat tidak nyaman." "Tapi kau tidak ingin melakukannya denganku?" Felix perlu memastikan sebelum kegirangannya mempermalukan dirinya sendiri. "Ya," sahut Hazel dengan polos membuat wajah Felix berubah seketika, dan percayalah, wajah tampannya tampak sangat bodoh. "Lalu kenapa?" "Bukan berarti kita tidak bisa berbagi tempat tidur. Bukankah suami istri harus tidur bersama? Maksudku tidur di atas ranjang yang sama" jawab Hazel. Felix terkekeh dengan pemikirannya sendiri. "Kau tidak takut aku menerkammu?" Ia sengaja menggoda Hazel. "Aku akan menggigitmu jika kau berani macam-macam!" Felix tertawa renyah hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Aku terbiasa tidur di sisi kiri ranjang. Apa kau keberatan jika aku di sini?" Hazel bertanya. Dari tadi ia menunggu Felix untuk mempertanyakan hal ini. "Lakukan apa yang membuatmu nyaman," sahut Felix dengan lembut. Hazel mengangguk sembari tersenyum lebar. Ia pun lalu membuat guling sebagai pembatas. Lagi dan lagi Felix mengernyit melihat apa yang dilakukan Hazel. "Jangan salah paham, aku melakukannya untuk kebaikanmu. Bukan karna aku takut kau menerkamku tapi aku takut aku tidak bisa mengendalikan diriku dan mendapati diriku yang sudah menggerayangi otot seksi di perutmu itu," Hazel menunjuk perut six pack milik suaminya. Dan memusatkan tatapannya untuk beberapa saat di sana. Felix tidak tahan lagi, tawanya seketika meledak. Hazel selalu di luar dugaan. "Dan sebagai peringatan agar kau tidak terkejut nantinya. Aku mendengkur saat tidur dan mungkin besok bantalmu juga akan bergambar berbagai pulau di dunia karena bekas ilerku." Hazel mengumumkan tanpa tahu malu yang membuat Felix memegangi perutnya karena merasa tegang akibat tawanya yang meledak. Oh istriku yang unik! Selamat datang hari penuh warna dan kebahagiaan. "Baiklah aku akan berusaha tidak terkejut." jawabnya di sela-sela tawanya. Dan bagaimana bisa Hazel tidak tertawa saat mengatakan hal itu. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuatmu malu esok hari. Aku mengatakan aibku untuk mengantisipasi hal yang bisa mempermalukan diriku sendiri," seru Hazel dengan memandangi Felix dengan serius. "Aku tidak akan tertawa seperti kau menertawakanku," sindir Hazek secara terang-terangan dan tawa Felix pun kembali meledak. "Oh maaf..maaf..maaf jika kau tersinggung tapi sungguh aku tidak bermaksud menertawakanmu. Aku hanya terlalu bahagia. Bahagia mempunyai istri yang menghibur seperti ini. Terima kasih, Hazel." "Aku bukan pelawak!" ketusnya, ia pun segera berbaring dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. "Baiklah.baiklah. Maafkan aku. Kau juga janganlah terlalu terkejut begitu membuka matamu esok hari begitu menemukan malaikat tampan yang tertidur di sampingmu." Felix terlalu percaya diri. Hazel menyingkap selimutnya hingga sebatas leher. "Percaya diri sekali kau! Aku terbiasa tidur dengan lampu yang tidak menyala." "Seperti yang kau inginkan, Istriku. Selamat malam, Hazel. Tidurlah." Felix mengusap kepalanya, menekan keinginan untuk memberikan kecupan di kening Hazel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD