MEH-BAB 17

1119 Words
"Felix, ponselmu berbunyi." Teriak Hazel agar suaminya yang berada di dalam toilet bisa mendengarnya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hubangan Felix dan Hazel semakin ada kemajuan. Hazel tidak sungkan-sungkan lagi untuk bermanja-manja kepada suaminya itu. "Sayang, kau mendengarku." Dan bahkan wanita itu juga tidak merasa canggung lagi untuk merubah panggilannya. Felix menyembulkan kepala dari balik pintu dengan busa yang memenuhi rambutnya. "Ada yang meneleponmu berulang kali." Hazel menunjuk ponsel milik suaminya yang sedang berada di atas nakas. "Dan tidak ada nama pemanggilnya." "Abaikan saja, Sayang. Omong-omong kau terlihat cantik sekali." Felix mengerling jenaka. "Aku merasa gugup." Aku Hazel. Felix terkekeh, "kita hanya mengunjungi makam adikku, bukan persidangan skripsimu, Sayang.' Ya, hari ini tepat tujuh tahun kematian Cherry-adik kesayangannya dan untuk pertama kalinya Felix membawa Hazel untuk mengunjunginya. Hampir dua puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi akhirnya Felix pun ke luar. Hazel menekuk wajahnya begitu melihat Felix. "Kenapa kau lebih membutuhkan banyak waktu saat di dalam toilet di bandingkan diriku yang wanita ini." "Banyak hal yang bisa dilakukan pria di dalam toilet, Sayang." Felix mengulum senyumnya. Ia yakin Hazel tidak tahu hal apa yang dimaksud olehnya. "Nomor itu masih saja menghubungimu, kau tidak penasaran siapa dia?" Hazel memberikan ponsel milik suaminya. Felix memeriksa nomor tersebut, dahinya sedikit mengernyit. "Abaikan saja." Ucapnya sembari melempar ponselnya ke atas ranjang. "Aku sudah meletakkan pakaianmu di dalam, cepatlah, kau ini lama sekali!" Hazel mendesak dengan mendorongnya agar masuk ke dalam kamar. "Ya, ya, kau tidak ingin membantuku berpakaian?" "Felix!" "Oke, aku hanya bertanya," kelakarnya sembari masuk ke dalam walk in closet. _________ Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam lamanya, akhirnya Hazel dan Felix sampai di pemakaman.Felix ke luar dari mobil dan terdiam untuk sesaat, memindai sekitar. Ia pun mengitari mobil dan membuka pintu penumpang agar Hazel segera ke luar. "Apa kau ingin aku menemanimu ke sana, atau aku menunggumu di sini?" Hazel bertanya setelah keduanya berdiri dan saling berhadapan. "Aku ingin kau menemaniku, aku ingin mengenalkanmu padanya." Felix tersenyum dan menggenggam tangan Hazel untuk berjalan. Hazel tidak menolak sama sekali. Tujuan mereka selain untuk memperingati kematian Cherry adalah untuk mengenalkan wanita itu pada adiknya. Setelah sampai di depan makam adiknya, Felix bersimpuh, mengusap batu nisan yang bertuliskan nama adiknya. Wajahnya sendu seketika. Tersirat jelas bahwa ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk meredam emosinya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Felix merasakan gejolak amarah yang berkobar. "Hai Sayang," sapanya dengan suara yang tercekat. "Kakak datang setelah sekian lama. Apa kau sangat merindukan, Kakak? karena percayalah Sayang, Kakak sangat merindukanmu." Felix tersenyum getir. "Sayang, Kakak tidak datang sendiri, Kakak membawa seorang wanita cantik yang baik hati. Hazel, kakak iparmu," ucap Felix memperkenalkan HAzel. Hazel tersenyum, ia pun ikut berjongkok di samping Felix "Hai CHerry, aku Hazel. Aku harap kau bahagia di sana." Ucap Hazel sembari tersenyum tipis. Selanjutnya yang ia lakukan hanya diam seraya mengusap punggung suaminya guna menenangkan. Felix menatap HAzel penuh arti lalu mengangguk seraya tersenyum. Hazel menangkap maksud pria itu. Ia pun segera mundur memberi waktu untuk Felix. Hazel memutuskan kembali ke dalam mobil agar tidak menganggu waktu Felix dengan adiknya. Sebelum sampai ke dalam mobil Hazel melihat seorang anak kecil yang terjatuh. Ia segera berlari seraya menghampirinya. "Astaga, adik kecil, kau tidak apa-apa?" Hazel membantu anak laki-laki itu berdiri. "Terima kasih, Aunty" ucap anak kecil tersebut. Hazel menebak bocah di hadapannya itu berusia lima atau enam tahun. "Ouh, ini pasti sangat menyakitkan? Wajah Hazel meringis, seraya berjongkok untuk melihat memar di kaki anak tampan itu. "Tidak apa-apa, Aunty, aku seorang lelaki luka seperti ini tidak akan menyakitiku," ucapnya dewasa. Hazel sampai dibuatnya terkekeh lalu mengacak rambut anak kecil itu gemas. "Baiklah anak tampan, sekali pun ini tidak menyakitimu, tapi lukanya tetap harus dibersihkan, mari kita obati lukamu," HAzel menuntun anak tersebut menuju ke mobil mereka. Ia yakin di dalam mobil ia akan menemukan kotak P3K. Tebakannya tidak salah, ia mendapatkannya dengan mudah. Ia pun segera membuka kotak tersebut dan mengeluarkan apa yang ia butuhkan untuk mengobati luka bocah kecil itu. "Katakan, Sayang, siapa namamu?" tanya Hazel seraya membersihkan luka anak itu dengan kapas dan anti septik. Sesekali Hazel meniup-niup luka tersebut agar bocah itu tidak merasakan perih. "Maxime, Aunty, dan katakan siapa namamu, Aunty?" Maxime balin bertanya. "Hazel" jawab Hazel masih dengan meniup-niup luka di lutut Maxime. "Sudah selesai," ucap Hazel dan merapikan obat-obatannya, memasukkan kembali ke dalam kotak. "Lain kali berhati-hatilah, jagoan," nasehat Hazel. "Jadi kau ke sini bersama siapa, Jagoan?" "Mommy, aku datang bersama mommy untuk mengunjungi temannya," jelas Maxime. "Lalu ke mana mommy-mu, Sayang?" Hazel memindai tatapannya. Dan sejauh mata memandang, ia tidak melihat ada siapa-siapa di sana selain dirinya dan bocah kecil itu. Maxime pun ikut merotasi matanya hinga ia menoleh ke belakang mencari sosok ibunya. "Mommy," panggil Maxime begitu melihat sosok wanita cantik berjalan setengah berlari ke arah mereka. Hazel ikut menoleh ke arah wanita yang di panggil Mommy oleh Maxime. Ia menyipitkan mata setelah melihat wanita itu mendekat. Wanita itu sedikit tidak asing baginya, tapi ia tidak mengingat kapan dan di mana ia melihatnya. "Sayang, kau membuat Mommy panik," ucap wanita itu seraya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Maxime. "Lalu luka apa ini, kau terjatuh lagi?" tanyanya dengan nada khawatir. Maxime tersenyum dan mengangguk. "Ya Mom, dan Aunty ini sudah membantuku membersihkan lukanya juga memberi obat di atasnya," ucapan Maxime tersebut membuat wanita itu menoleh. Wanita itu mendongak dan baru menyadari keberadaan Hazel. Dia pun segera berdiri lalu tersenyum ramah. "Terima kasih" ucapnya tulus. Hazel mengangguk sembari balas tersenyum. "Aku mommy-nya Maxime, Ariana," wanita itu mengulurkan tangannya. Ariana, Ariana, namanya Ariana. Sungguh tidak asing, tapi di mana aku mendengarnya? Hazel membatin. "Maaf?" Ariana berseru karena Hazel tidak kunjung menyambut uluran tangannya. "Akh, ya. Maafkan aku, Ariana," Hazel tersenyum canggung. Tangan keduanya kini saling berjabat. "Hazel," menyebutkan namanya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Ariana tertawa, "jika pria yang mengatakan hal tersebut, aku sudah mengira itu adalah salah satu trik kuno untuk mengajak wanita berkenalan." Hazel tergelak mendengar hal itu. "Sebelumnya aku memang tinggal di sini, tapi selama tujuh tahun ini aku berada di luar negeri. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini." "Felix," Mendengar Hazel menyebut nama Felix, Ariana segera berbalik mengikuti arah pandang Hazel. Waktu seperti berhenti berputar. Felix menghentikan langkahnya dan mematung di tempatnya. Ariana menutup mulutnya dengan kedua tangannya ,terkejut melihat Felix yang ada di hadapannya. Hazel menatap Felix dan Ariana secara bergantian, menyadari atmosfer yang berada di sekitar mereka. "Mommy," seruan Maxime memecahkan keheningan. Ariana mengalihkan tatapannya dari Felix ke Maxime. "Masuk ke mobil, Hazel." Wajah Felix tampak pucat dan dingin. Ingin rasanya Hazel bertanya namun melihat kondisi Felix, bertanya dalam kondisi seperti ini sepertinya bukan waktu yang tepat. Akhirnya tanpa bersuara, Hazel masuk ke dalam mobil. "Felix." Panggil Ariana. Dengan mendengar Ariana memanggil Felix, Hazel sudah cukup mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD