Sepanjang perjalanan dari pemakaman mereka hanya diam seribu bahasa. Air wajah Felix sudah tidak sedap dipandang mata. Sorot matanya tajam menegaskan amarahnya. Kedua tangannya mengepal kuat di setir kemudi. Rahangnya mengetat keras pertanda ia sedang berusaha keras untuk meredam amarahnya.
Sebenarnya banyak hal yang ingin Hazel pertanyakan, namun ia menahan diri demi keselamatan mereka juga. Akhirnya sepanjang perjalanan ia memilih tidur.
Entah sudah berapa lama ia tertidur seperti mayat hidup. Karena begitu ia membuka mata, ia sudah berada di atas ranjang mereka dan tidak menemukan Felix di sana.
Hazel mengambil ponselnya, memutuskan untuk menghubungi Dave. Tidak butuh waktu lama, Dave segera menjawab panggilannya..
"Ya, Hazel. Ada apa? Tumben sekali menghubungi, Kakak?"
"Hmm, Felix, apa dia ada di kantor?" Tanya Hazel to the point.
"Ya, dia sedang ada di ruang rapat. Kenapa? Apa ada hal yang mendesak? Kakak akan menyampaikannya."
"Oh tidak..tidak..tidak ada yang perlu untuk disampaikan. Ya sudah, selamat bekerja, Kak.". Hazel pun memutuskan panggilan telepon. Ia hanya perlu tahu keberadaan suaminya.
__________
"Jadi Ariana wanita itu?" Hazel menyerah. Ia sudah tidak tahan lagi menahan rasa penasaran yang sudah ia tahan sejak tadi pagi. Dan akhirnya menyerah di malam hari ini. Saat mereka hendak tidur. Sepanjang hari ia menahan diri untuk tidak mendatangi Felix ke perusahaan hanya untuk menjawab rasa penasarannya. Dan ia juga segera mengenyahkan pikirannya yang hendak menghubungi kakaknya Amber untuk bertanya tentang Ariana.
"Aku lelah, Sayang." Hazel menutup matanya dengan sebelah tangannya. Jelas sekali ia sedang menghindari Hazel.
"Apa yang mengakibatkan kau dan dia putus?" Hazel masih saja mendesaknya. Ia tidak akan tenang sebelum Felix memberikan jawaban yang ia inginkan.
"Tidurlah, ini sudah malam, Hazel. Sungguh aku lelah sekali, Sayang."
"Dia yang mengakhiri atau kau yang mengakhiri? Jawab aku, Felix. Aku bisa mati penasaran."
"Jangan mati, aku bisa gila."
"Kalau begitu berikan aku jawaban!"
"Tidak ada yang menarik."
"Aku melihat Maxime sangat mirip denganmu, apa dia putramu?"
Felix sontak saja membuka matanya, ia menoleh cepat ke arah Hazel. "Maxime? Siapa dia?"
"Kau tidak melihat anak kecil di sana?"
Felix memang tidak memperhatikannya. "Jangan mengatakan hal konyol. Ayo, tidurlah." Felix menarik tubuh Hazel agar berbaring di sampingnya.
"Aku akan meminta Amber atau mungkin para sahabatmu yang lain untuk menjawab rasa penasaranku. Jangan melarangku dan jangan terkejut karena aku sudah memberi tahumu."
"Dia yang meninggalkanku. Dia yang memilih pergi dengan pria itu. Dia yang berkhianat. Dan mereka penyebab adikku tiada. Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakannya." Suara berat Felix menyiratkan kesedihan, sorot matanya kembali memancarkan kemarahan dan kebencian yang sangat kentara.
"Itu artinya kau sangat mencintainya sampai kau berfikir ingin mengakhiri hidupmu hari itu." percayalah Hazel merasakan hatinya berdenyut mengatakan kalimat itu. Kalimat bahwa suaminya mencintai wanita lain. Melihat sosok Ariana adalah wanita yang sangat cantik, anggun dan sangat dewasa, membuatnya merasa rendah diri. Mereka terlihat sangat berbeda.
Hais, apa yang sedang kupikirkan ini. Kenapa aku justru membandingkan diriku dengan wanita itu.
"Sudah kukatakan kau salah paham waktu itu, Sayang. Aku tidak sebodoh itu mengakhiri hidup hanya karena satu wanita yang tidak penting. Aku hanya merasa bersalah untuk Cherry."
"Apa kau mencintainya?" Felix tidak menyangka ia harus mendapat pertanyaan seperti itu dari Hazel. Apa pentingnya membahas masa lalu menyakitkan itu.
"Felix, aku sedang bertanya padamu." Desak Hazel.
"Tidak."
"Aku bertanya perasaanmu saat dulu, bukan sekarang."
Felix menghela napas kasar, "Dulu, mungkin,"
Hazel menggigit bibirnya begitu mendengar jawaban suaminya. Perasaan tidak nyaman di hatinya itu datang lagi. Perasan takut akan kehilangan.
Wajar aku takut kehilangannya, dia suamiku. Hazel dengan segera menepis rasa tidak nyaman itu.
"Bagaimana dengan sekarang?" jantung Hazel berdebar menunggu jawaban pria itu. Bisa saja hubungan yang berakhir tidak jelas terjalin kembali, melihat bagaimana tadi Ariana menatap Felix. Dan namanya pria bisa saja luluh melihat kerapuhan seorang wanita. Apa lagi wanitanya cantik seperti Ariana. Mungkin saja Felix tidak terkecuali dari pria yang mungkin saja akan luluh di hadapan Felix mengingat mereka pernah bersama.
"Sekarang aku hanya mencintaimu. Hanya ada kau di sini," Felix menunjuk dadanya. "Sekarang dan selamanya," Felix menatap Hazel dengan tatapan meyakinkan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku tapi kau selalu membuatku percaya dengan ucapanmu," Hazel tersenyum karena ia memang tidak melihat kebohongan di manik pria itu. Jujur hatinya menghangat mendengar ucapan suaminya. Dan ketakutannya sedikit demi sedikit berangsur menghilang.
Hazel merasa ketakutannya itu wajar mengingat umur pernikahan mereka yang masih terhitung jari. Tidak lucu jika pernikahan yang masih baru itu harus bermasalah hanya karena cinta masa lalu suaminya yang belum kelar. Ia cukup tahu diri pertahanannya belum cukup kuat untuk menjamin Felix tetap memilihnya dan tetap berdiri di sampingnya. Jadi untuk itu ia mempertanyakan perasaan Felix terhadapnya. Dan ternyata jawaban pria itu membuatnya cukup senang. Ia bisa bernapas lega.
"Kapan kau akan memberikannya?" Felix mengganti topik.
"Sabarlah. Sebentar lagi. Aku masih belajar mengenalmu," Hazel mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya. Malam pertama mereka.
"Kita sudah berpelukan dan bahkan berciuman dan kau masih mengatakan belajar mengenalku. Bukankah itu terdengar sangat lucu?" Felix sengaja menggodanya.
"Aku sudah mengantuk! Ayo kita tidur," Hazel merebahkan dirinya dan menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya.
"Baiklah. Aku akan bersabar," Felix menarik tubuh Hazel agar mendekat kepadanya. Membenamkan wajahnya di punggung wanita itu dan rasanya sangat nyaman sekali.
"Jangan pernah meninggalkanku, Sayang." Bisiknya dengan suara parau.
"Dan jangan pernah mengkhianatiku," sahut Hazel.
Jantung Hazel berdesir. Untung saja ia memunggungi suaminya, jika tidak ia yakin Felix akan melihat wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Aku tidak akan kuat melihatmu dengan pria lain. Aku pasti akan gila," lirihnya
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku adalah istrimu dan aku adalah milikmu," Hazel mengusap tangan Felix yang melingkar di perutnya.
"Aku justru khawatir kau yang akan berpaling dariku," gumam Hazel menyuarakan kekhawatirannya. Ia segera memutar tubuhnya ketika tidak mendengar jawaban dari Felix. Ia tersenyum ternyata pria itu sudah tertidur. Hazel membelai wajah Felix dengan lembut.
"Maafkan aku yang belum memberikan hakmu. Aku takut jika aku memberikannya aku jatuh terlalu dalam karena tanpa kau melakukan apa-apa dalam waktu singkat, sepertinya aku sudah jatuh hati padamu. Tanpaku sadari kau sudah bersemanyam di dalam sini, di hatiku." Hazel memegang dadanya.
"Maafkan aku yang tidak mengenalimu sejak awal. Dan terima kasih untuk cintamu yang luar biasa. Sungguh aku merasa sangat tersanjung, Felix.
"Benarkah?" Tiba-tiba Felix sudah membuka matanya. Menatap dalam kedua manik Hazel. Mencari kebenaran di sana. Hazel yang terpaku sesat tiba-tiba menyadari situasinya.
"Akhh!" pekiknya, spontan mendorong wajah Felix agar menjauh. Ia pun menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Sementara kakinya menendang tubuh Felix hingga terjungkal ke lantai.
"Kau menyebalkan!" Hazel masuk ke dalam selimut. Menyembunyikan seluruh tubuhnya.
"Katakan lagi sebesar apa kau menyukaiku? Dan sejak kapan kau jatuh cinta padaku padaku?" Felix berusaha menarik selimut yang menutupi Hazel dan tentu saja wanita itu menahannya.
"Kau mendengar semuanya?" Hazel menurunkan sedikit selimutnya dan hanya memperlihatkan matanya. Felix tersenyum dan mengangguk
"Kau menyebalkan!" Hazel kembali menyembunyikan dirinya ke dalam selimut. Ini memalukan!
"Aku tidak akan pernah berpaling darimu." ucapan lembut Felix membuat Hazel kembali menurunkan selimutnya. "Menyakitimu adalah hal yang tidak akan pernah kulakukan. Percayalah."
"Bagaimana jika itu terjadi?" Tanya Hazel. Ck, ia benci pertanyaan itu.
"Aku bersumpah bahwa aku akan merasakan beribu kali sakit yang kuberikan padamu jika hal itu sampai terjadi."
"Berhati-hati lah dengan ucapanmu, Felix," Hazel tidak menyukai perkataan suaminya.
"Kenapa? kau mengkhawatirkanku?" Felix selalu menggodanya setiap ada kesempatan.
"Jangan khawatir, karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Baik kau atau pun aku tidak akan ada yang tersakiti. Kita akan hidup bahagia. Selamanya." Felix menarik Hazel ke dalam pelukannya. Hazel membenamkan wajahnya ke d**a Felix membalas erat pelukan suaminya l.
"Aku harap juga seperti itu," Hazel bergumam.
Manusia hanya bisa berencana tapi pada akhirnya Tuhan lah yang menentukan karena Tuhan lah pemilik skenario sesungguhnya.
________
"Kenapa kau kembali? Apa pria itu sudah jatuh miskin jadi kau membuangnya seperti kau membuang dan mengkhianati Felix dan Cherry?" Pertanyaan sinis itu keluar dari mulut Sean.
"Kau kembali karena melihat Felix yang sudah sangat sukses sekarang?" Sena masih memojokkan Ariana.
"Sean, kita dengarkan penjelasannya dulu." Dave menengahi.
Ia juga sama terkejutnya dengan Sean saat wanita itu tiba-tiba menghubungi mereka dan mengatakan ingin bertemu.
"Penjelasan apa?! Apa penjelasan masih perlu menurutmu setelah apa yang dilakukannya tujuh tahun lalu?" Sean menatap Dave tidak percaya.
"Dan yang membuatku penasaran kenapa kau harus kembali sekarang, Ariana? Disaat Felix sudah melupakanmu dan sudah bahagia dengan Hazel. Kau tahu Felix menikah?" Sean melayangkan pertanyaan itu pada Ariana. Wanita itu menggeleng lemah. Sungguh ia memang tidak mengetahuinya.
"Ya, Felix sudah menikah dengan Hazel, adiknya Amber." Pernyataan itu kembali membuat Ariana terkejut.
Jadi wanita tadikah istrinya? Ariana membatin.
"Berterima kasih lah pada Hazel, dia yang membuat Felix kembali hidup setelah rasa frustasi yang ia alami atas kepergian adiknya dan juga pengkhianatan yang kau lakukan dengan kejam." lanjutnya kemudian. Ariana tertohok, ia pun menangis terisak.
"Apa sekarang kau sedang menangisi kebodohanmu yang telah meninggalkan Felix? Menyesal?" masih saja sindiran pedas Sean lemparkan kepada Ariana. Wajar saja karena Felix adalah sahabatnya dan ia melihat bagaimana kekacauan itu menghancurkan hati dan kehidupan pria itu.
"Maafkan aku!" lirihnya.
Sena mendengus sedangkan Dave hanya menarik napas panjang.
"Kenapa kau harus meminta maaf kepada kami?" Dave lah yang bersuara setelah memilih diam membiarkan Sean yang bersuara.
"Percayalah aku terpaksa saat itu," sontak saja pernyataan Ariana tersebut membuat mereka terkekeh. Kenapa ada kata terpaksa setelah beberapa tahun berlalu. Kenapa harus ada penjelasan sekarang?
"Jadi kau ingin kami semua memaafkanmu hanya karena kau terpaksa melakukannya. Oh Ariana, ayolah, aku harap kau tidak lupa bahwa kami semua melihat apa yang kau lakukan. Kau menarik tangan pria itu di hadapan kami semua dan bahkan kau dan pria itu berciuman dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Mengabaikan tangisan Cherry saat itu." Dave mulai ikut terpancing, ia mulai tidak bisa mengontrol emosinya.
"Dan jangan pernah berfikir kau bisa mengulangi kesalahanmu yang dulu, merusak kebahagian Felix dan Hazel. Aku harap kau masih punya perasaan. Hazel adalah adik sahabatmu." Sean mengingatkan. Sesungguhnya Ariana tidak bisa mengingat siapa Hazel sebenarnya, tapi ia tahu Amber memang mempunyai seorang adik yang begitu manja.
"Aku tidak sejahat itu, Sean." lirihnya di tengah perasaannya yang tidak menentu.
"Sepertinya Felix juga tidak akan berbuat hal bodoh, ia tidak akan tergoda padamu. Ia sangat mencintai istrinya." Ariana merasakan sesak di dalam dadanya mendengar pernyataan Sean. Mereka berharap kedatangan Ariana tidak merusak kebahagiaan Felix dan Hazel.
Mereka hanya bisa berharap, namun di detik berikutnya harapan mereka tersebut harus terpatahkan dengan segera seiring kalimat menakutkan yang tidak pernah mereka duga meluncur dari mulut Ariana.
"Aku mempunyai anak dan Felix adalah ayah biologisnya."