"Hazel, kau yakin dengan keputusanmu?" Sean bertanya saat mereka sedang berada di dalam perjalanan. "Apakah kau yang tidak yakin? Jika ka berubah pikiran, aku tidak masalah. Kita bisa membicarakannya nanti," Hazel mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya. "Kau baik-bai saja?" Sean baru menyadari jika Hazel tampak sedikit pucat. "Aku hanya merasa lelah. Katakan, apa kau berubah pikiran?" "Menikahimu adalah keinginan terbesarku, Hazel. Aku hanya tidak ingin kau menyesal karena tindakan yang menurutku sangat tiba-tiba." "Apanya yang tiba-tiba. Bukankah kau dan ayahku juga sudah membicarakannya." Hazel terlihat tampak kesal. "Baiklah, mari kita melakukanya seperti yang kau inginkan. Aku akan mempersiapkan semuannya." Ia tidak ingin memancing kemarahan Hazel. Wanita itu memang

