Hazel ke luar dari kamar Felix, dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, ia meninggalkan Felix di sana. Tidak munafik, Hazel merasa ada sesuatu yang hilang darinya. Tapi ia mencoba meyakinkan diri, bahwa keputusan yang ia buat sudah tepat. "Aunty?" panggilan Maxime menghentikan langkahnya. Ia segera mengusap air matanya, mengilangkan jejak kesedihan dari wajah cantiknya. Hazel pun berbalik dan menemukan Maxime tidak jauh darinya. "Maxime, kau sudah pulang sekolah?" ia berjalan mendekat ke arah bocah tersebut. "Ya, Aunty. Kau datang untuk mengunjungi Daddy?" "Hm," Hazel mengangguk membenarkan. "Apakah Daddy bersedia menemuimu, Aunty?" Hazel megernyitkan dahi, "ya, Daddy-mu bersedia menemuiku." "Apakah aku juga sudah bisa menemuinya?" tanya bocah itu dengan penuh harap. "Te

