Setelah menenangkan Hazel dengan mengajaknya berkeliling tidak jelas, Felix akhirnya memarkirkan mobilnya di sebuah mini markat. Hazel dan Felix, memasuki mini market membuat semua mata kini tertuju pada mereka. Ya, mereka memang terlihat seperti pasangan suami istri yang sangat serasi.
Tapi Hazel menyadari bahwa yang menjadi pusat perhatian bukanlah dirinya, melainkan pria yang sedang mendorong troli yang berada di sampingnya dan juga menggenggam sebelah tangannya. Tidak dipungkiri, Felix adalah sosok pria yang sangat menawan, selain tubuh tinggi tegap yang mempertegas kemaskulinannya, ia juga memiliki sorot mata tajam, dan manik mata biru itu mampu membuat para wanita tenggelam dalam pesonanya. Dan sekarang dengan bangga hatinya berucap bahwa pria itu adalah suaminya.
Hazel mengabaikan sorot mata iri para pengunjung mini market yang memang di d******i para wanita itu. Ia lebih memilih menyibukkan diri untuk memilih cemilan yang ia suka, dan tidak butuh waktu lama, troli yang di dorong oleh suaminya sudah penuh dengan dengan barang belanjaannya.
Felix juga sepertinya terlihat tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan kagum yang tertuju padanya. Alih-alih memperhatikan sekitarnya, kini ia menatap tidak percaya pada keranjang yang ia pegang. Belum sepuluh menit mereka sampai, troli tersebut sudah berisi penuh. Ia menatap Hazel, yang sedang memegang dua bungkusan di tangannya, terlihat sedang bingung karena tidak ada tempat lagi untuk menaruh barang yang baru saja ia ambil.
"Apa kau butuh keranjang lagi?" tanya Felix.
"Hmm," Hazel mengangguk
"Apa belanjaanmu masih banyak?" tanya Felix lagi sembari berjalan untuk mengambil keranjang.
"Hmm," kembali Hazel mengangguk. "Aku menginginkan ini, ini, ini, dan itu, dan ya, yang di sana juga," tunjuk Hazel satu per satu barang yang ia inginkan. Tentu saja Feli tidak akan menoleh ke arah yang ia tunjuk. Ia lebih tertarik melihat wajah istrinya yang terlihat begitu menggemaskan. Tidak ada lagi sorot mata sedih seperti beberapa waktu lalu. Entah apa yang dikatakan si Valen sialan itu pada istrinya.
"Dan buah. Ya, jangan lupakan buah," lanjutnya lagi.
"Apa aku perlu membeli mini market ini untukmu?" tanya Felix datar tanpa niat untuk menyindir. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia menemani seorang wanita belanja. Dan sekarang ia tahu, bahwa wanita kalau belanja tidak akan ada puasnya. Belanja apa pun itu.
"Apa kau sedang menyindirku?" Hazel memasang wajah kesal.
"Aku sedang bertanya," Felix terkekeh geli.
"Kau tidak akan jatuh miskin hanya karena menghabiskan uangmu dengan membayar dua keranjang belanjaanku."
"Tentu saja. Aku tidak mengatakan demikian, Sayang. Aku hanya mengusulkan, karena yang aku perhatikan kau sangat menyukai semua benda yang ada di sini, khususnya makanan."
"Aku sedang kesal. Makanan adalah pelarianku." Hazel merengut dengan nada manja.
"Ya sudah, ambil sepuasnya dan secepatnya. Aku tidak ingin kau lelah."
"Kita belum sepuluh menit di sini, astaga!" Protes Hazel.
"Tapi kita sudah berkeliling hampir satu jam."
"Astaga," pekik Hazel begitu mengingat sesuatu.
"Ada apa?"
"Rapatmu, bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Felix mengembuskan napas, ia mengira ada sesuatu yang terjadi. Ternyata hanya tentang rapat.
"Rapatnya ditunda."
"Karena aku?" Hazel merasa bersalah.
Felix tersenyum sembari mengacak rambutnya, "tidaklah. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu."
"Selama dua minggu kita selalu bersama."
"Dan bagiku itu selalu kurang,"
"Gombal!"
Felix tertawa.
"Dan sekarang kau juga sudah memenuhi satu keranjang lagi, hanya untuk cemilanmu."
"Kau keberatan?" tanya Hazel.
"Aku akan mengambilkan troli baru lagi kalau begitu," Felix berniat hendak mengambil keranjang ketiga tapi Hazel menahannya.
"Ini sudah cukup."
Felix mengangguk, "baiklah, ayo kita membayarnya."
"Katakan sesuatu yang kau sukai, Felix?" tanya Hazel begitu mereka sudah berada di dalam mobil menuju pulan.
"Kau." sahut Felix simpel dengan senyuman nakal di bibirnya.
Hazel berdecak. "Aku serius!"
"Aku juga serius, Sayang."
"Maksudku benda tau makanan."
"Aku tidak pemilih dalam hal makanan," menggidikkan bahu.
"Lalu dengan benda."
"Aku suka otomotif."
"Terus?"
"Hazel, tidak ada yang lebih kusukai selain wanita yang bernama Hazel. Sering aku bertanya-tanya, kapan wanita itu akan luluh padaku. Akan percaya pada ketulusan yang kutawarkan. Tidakkah gadis itu melihat mataku yang selalu memancarkan tatapan penuh cinta dan kagum ke arahnya."
"Feliiixx...." rengek Hazel yang membuat tawa Felix lepas seketika.
"Ya, ya, aku tidak akan memaksamu. Katakan kau mau makan apa untuk makan siang?"
"Aku tadi membeli daging, tapi aku tidak pandai memasaknya."
"Kalau begitu aku yang akan memasaknya," Felix mengerling jenaka.
_______
Di meja makan, Hazel memperhatikan Felix yang sedang memotong sayuran untuk dijadikan lalapan. Daging steak sudah siap saji, tinggal menunggu pria itu menyajikan sayuran.
Benarlah apa yang diceritakan di dalam novel-novel romantis dan juga yang terlihat di dalam drama. Pria saat berkutat di dalam dapur, bermain dengan pisau ketampanan seorang pria meninggkat satu juta kali.
Demikianlah yang disaksikan Hazel. Felix menggulung lengan bajunya hingga ke siku. Memainkan pisau dengan sangat telaten saat memotong sayuran.
Ingin rasanya Hazel juga melakukan hal-hal yang sering terjadi di dalam novel-novel love story yang ia koleksi. Memeluk dari belakang si tokoh pria yang sedang memasak.
Dan sekarang di sini lah ia berdiri, tepat di belakang pria itu dan langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Felix.
"Akhh.." ringisan Felix membuat Hazel spontan melepaskan pelukannya.
"Ada apa?" tanyanya dan seketika memekik begitu melihat jari Felix yang teriris dan mengeluarkan darah.
"Jarimu terpotong, jarimu terpotong," Hazel panik. "Rumah sakit. Ya, ayo ke rumah sakit!" ia segera melepaskan apron yang dikenakan pria itu dan menarik tangan suaminya.
Felix tidak bergerak sama sekali. Ia justru menahan tangan Hazel. Pria itu tersenyum melihat kepanikan Hazel.
"Kenapa tertawa? Kau sedang terluka."
"Ini bukan masalah besar, Hazel. Ini hanya teriris sedikit. Aku akan membasuhnya dan lukanya akan segera sembuh." Felix tertawa sembari berjalan ke arah wastafel. Dengan wanita itu ia jadi sering tertawa untuk hal-hal kecil sekalipun. Apapun yang dilakukan Hazel selalu mengundang tawanya.
"Aku hanya terkejut kau tiba-tiba memelukku dari belakang," ucapnya setelah selesai membasuh lukanya.
Mendengar hal itu, Hazel merona. Ia juga sesungguhnya terkejut mendapat dirinya sudah menempel di punggung Felix yang sangat bidang. Ia juga bertanya-tanya bagaimana bisa ia sampai di belakang Felix.
"Jangan membuatku terkejut dengan hal semacam itu, Hazel. Jantungku tidak kuat, Sayang. Berikan aba-aba sebelum kau menyentuhku." Dan kembali penuturan Felix sukses membuatnya mati kutu.
"Ayo kita makan." Felix merangkul pundaknya dan membimbingnya kembali ke meja makan.
"Bagaimana lukamu?"
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan kehabisan darah karena hal itu. Kau khawatir?" goda Felix.
"Aku hanya merasa bersalah," sahut Hazel.
"Ck! Kupikir kau khawatir." Felix masih saja menggodanya.