MEH-BAB 14

1406 Words
"Apa tidak ada ciuman untukku?" Felix menahan tangan Hazel. "Apa kau gila? Ini di tengah lapangan, Mr. Grissham." Hazel mengingatkan seakan Felix lupa di mana mereka berada saat ini. "Lalu apa salahnya?" "Kita akan menjadi bahan tontonan," Hazel terlihat geram dengan sikap Felix yang masa bodoh. "Anggap saja kita sedang memberi hiburan, Sayang." "Astaga! Tapi omong-omong bukannya mencium itu hobbimu, Mr. Grissham? Kau saja yang melakukannya?" Hazel kembali masuk ke dalam mobil dan mendekatkan wajahnya agar memudahkan Felix untuk menciumnya. Felix menggeleng sembari mengibaskan sebelah tangannya, "jika aku yang melakukannya itu sudah biasa. Aku ingin kau yang melakukannya. Jika kau merasa enggan, setidaknya lakukan sebagai ucapan terima kasih karena suamimu ini sudah bersedia mengantarmu." "Aku tidak memintamu mengantarku," Hazel memberikan protes. "Ayolah Hazel, aku memohon," Felix memasang wajah memelas seolah ia akan mati jika Hazel tidak memberikan ciuman padanya. Hazel berdecak, wajah memelas suaminya terlihat begitu menggemaskan. "Mendekatlah kalau begitu. Aku tidak akan bertanggung jawab jika setelah ini kau ketagihan. Tidak ada permintaan tambahan, mengerti?!" Felix mengangguk dengan segera. Ia pun mendekatkan wajahnya sesuai permintaan Hazel. Begitu bibir Hazel mendekat ke arah pipinya, ia memutar kepalanya hingga bibir Hazel tepat mendarat di bibirnya. Itulah memang yang ia inginkan. "Felix! Kau m***m sekali!" Wajah Hazel memerah karena malu dan marah bercampur jadi satu. Felix tertawa puas, tidak merasa bersalah sama sekali. "Kau menyebalkan sekali, sungguh sangat menyebalkan!" Hazel mengusap kasar bibirnya dan melihat hal itu Felix kembali tertawa. "Aku pergi!" kesalnya, namun Felix kembali menarik tangannya. "Apa lagi?" tanya Hazel dengan nada malas. Felix menarik kepala Hazel agar mendekat. Cup! Ia mendaratkan satu kecupan hangat di kening Hazel yang membuat tubuh Hazel panas dingin seketik. Darahnya berdesir hebat mendapat kecupan lembut penuh makna itu. "Belajar yang baik, Sayang." Felix senyumnya mengembang di wajahnya. Melihat hal itu Hazel kembali dibuat terpana. "Aku tidak ingin kau dekat-dekat dengan pria mana pun itu. Aku suami yang tidak bisa menahan cemburu," tangannya terulur mengusap kepala Hazel dengan lembut. "Ck! Aku tidak tahu apakah aku kuat berpisah denganmu. Bagaimana jika kau berhenti kuliah, kau menempel saja denganku, Sayang. Dengan begitu aku bisa mengawasimu selama 24 jam." "Berlebihan! Sudah lah, aku pergi." Hazel segera ke luar dari dalam mobil sebelum Felix mengeluarkan kalimat-kalimat yang lebih konyol lagi. "Hubungi aku jika kelasmu sudah selesai. Aku akan segera datang menjemputmu. Setengah jam sebelum kelasmu selesai, kau mengerti?" "Ya, selamat bekerja. Hati-hati saat mengemudi." Hazel melambaikan tangannya begitu Felix meninggalkan halaman kampus. Hazel memutar tubuhnya hendak berjalan ke ruangannya. Ia sedikit terkejut melihat keberadaan Valen yang sudah berdiri beberapa meter di depannya. Menatapnya dengan tatapan menyelidik seakan Hazel adalah tersangka. "Jadi kau mengabaikanku karena dosen baru itu?" Valen mendekat ke arahnya dengan memasang wajah tidak terima. Mengabaikan pertanyaan Valen, Hazel melangkah melewati pria itu begitu saja. Tidak ada gunanya meladeni Valen. Bukankah sebelumnya ia sudah mengatakan dengan sangat jelas bahwa hubungan mereka sudah selesai. "Jadi karena pria itu kau mengabaikanku?" Valen mengikutinya dan melemparkan pertanyaan yang sama dengan nada memaksa meminta jawaban. Hazel tetap enggan membuka mulutnya dan terus saja berjalan. Dijelaskan seperti apapun sepertinya Valen tidak akan terima. Dan keadaan ini sedikit membingungkan menurut Hazel, Valen yang mengkhianati tapi pria itu juga bertingkah seakan dirinya lah ya g menjadi korban. Lucu sekali. "Aku sedang meminta penjelasanmu, Hazel!" Valen menahan tangan Hazel dan memutar tubuh wanita itu agar menghadap ke arahnya. Hazel memutar bola matanya dengan jengah, "Aku mengabaikanmu karena kau memang pantas. Bukankah beberapa minggu yang lalu aku sudah mengatakan dengan jelas bahwa kita sudah selesai. Aku sudah menikah dan beberapa minggu tidak masuk, kau pikir aku ke mana? Aku dan suamiku berbulan madu," tentu saja jawabab yang diberikan oleh Hazel itu terselip kebohongan. Tidak ada bulan madu sama sekali. Faktanya yang mereka lakuka. hanya berdiam diri di rumah. Menonton, makan, dan saling berbagi cerita. Ya, kabar baiknya hubungan Hazel dan Felix secara emosianal semakin dekat dan sentuhan-sentuhan kecil seperti kecupan dan pelukan, mereka sudah membiasakan diri. Tepat Hazel yang sudah membiasakan diri dan bahkan harus ia akui, ia menikmatinya. "Aku tidak menyukai kau dengan dosen baru itu?" protes Valen, mengabaikan penjelasan panjang lebar yang baru saja terlontar dari mulut Hazel. Lihatlah, betapa bebalnya otak pria yang ada di depannya itu. "Apakah kau masih waras?" Hazel menatapnya dengan tatapan bingung yang dibuat-buat. "Omong-omong, aku tidak butuh pendapatmu tentang aku sedang bersama siapa. Dan yang kau sebut dengan dosen baru itu adalah suamiku. Namanya Felix Grissham. Tolong catat dan ingat baik-baik. Aku sedikit terganggu dengan sebutan dosen baru itu." "Tidakkah caramu ini terlihat sangat kejam, Hazel. Aku hanya bermain-main dengan wanita itu dan kau membalasnya dengan cara menikah dengan orang lain." Hazel tertawa mendengar penuturan Valen. Tertawa sumbang mendengar perkataan yang terkesan tidak tahu malu itu. "Kau terlihat menggelikan, sobat." sinis Hazel. "Apa kau berharap aku percaya? Semuanya sudah terjadi, Valen. Bagaimana aku harus menjelaskannya padamu agar kau mengerti? Ini bukan tentang aku sedang membalas dendam padamu atas pengkhiantan yang kau lakukan. Bagiku ini juga terjadi begitu cepat. Aku bahkan masib tidak mempercayainya. Tapi Valen, tolong kau hargai keputusanku dan juga statusku." "Jangan ganggu aku lagi. Aku sudah menikah." HAzel berbalik berniat meninggalkan Valen. Untuk kesekian kalinya ia menjelaskan hal yang sama dan ia harap kali ini pria itu mengerti dan paham dengan situasinya. Ternyata Valen tetap saja tidak bisa menerima. Ia menarik tangan Hazel kembali dan mendorong tubuh wanita itu hingga terpojok ke dinding. "Apa yang kau lakukan?!" Hazel memekik tajam. Suara Hazel yang melengking membuat keduanya kini menjadi bahan tontonan mahasiswa lainnya. Oke, hari ini Hazel sukses menciptakan skandal di kampusnya. Menjadikan topik sebagai bahan gosip. Hazel harus mempersiapkan diri dengan telinga yang nanti tiba-tiba berdenging dan memanas akibta betapa banyaknya mulut yang sedang membahas tentang dirinya. "Sudah kukatakan jangan bergurau denganku. Aku sudah minta maaf tapi sepertinya kau sangat menyepelekanku. Tidak mengindahkan apa yang baru saja kukatakan. Apa hebatnya pria itu? Apakah dia sudah menyentuhmu? Jika demikian kenapa saat aku meminta kau begitu jual mahal. Munafik!" Valen mengeluarkan kata-kata menghina yang membuat darah Hazel merangkak naik seketika. Plak! Tamparan itu menggema sepanjang koridor kampus. Semuanya terjadi begitu cepat. Hazel bahkan tidak menyadari bahwa tanganya sudah melayang dalam sekejap dan mendarat di tempat yang pas. Valen memang layak mendapatkannya. "Siapa yang bergurau denganmu? Hah? Perhatikan ucapanmu, b******k!" Hazel mendorong tubuh pria itu dengan kasar dan segera berlari menjauh dari pria itu. "Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Hazel. Kau adalah milikku!" teriaknya. Bugh Bogem mentah melayang di wajah tampannya. Bogeman yang cukup kuat sehingga Valen sampai tersungkur ke lantai dibuatnya. "Oh s**t!!" VAlen segera berdiri dan melihat siapa orang yang berani melayangkan tinju di wajahnya. Ia pun terkesiap melihat kehadiran Felix. "Aku tidak hanya akan melayangkan tinjuku jika kau masih berani menyentuh milikku" ancam Felix seraya menatap VAlen dengan tatapan membunuh. Ia juga bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tidak ada yang boleh mengusik miliknya. "Milikmu?" Valen mengusap bibirnya lalu meludah dengan kasar. "Jadi Kutegaskan sekali lagi padamu, k*****t! jangan coba-coba untuk menyentuh istriku lagi seujung rambut sekalipun, karena aku tidak akan segan-segan menghabisimu." Setelah memberikan peringatan yang cukup, ia berjalan menuju ruangan Hazel. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya dan ternyata tidak menemukannya di sana. "Oh Mr. Grissham. Aku tidak tahu jika kita ada kelas hari ini." Keira yang baru datang menyapa Felix dengan senyum lebar. "Di mana Hazel?" "Hazel? Aku baru datang dan belum melihatnya sejak dua minggu yang lalu. Ia menghilang di bar malam itu. Aku tidak berani datang ke rumahnya untuk bertamu, dan kau tahu, Sir. Dia mengabaikan panggilanku! Astaga aku jadi curhat padamu. Tapi demi Ibuku yang kecantikannya mengalahkan Ratu Elisabeth, aku juga penasaran dengan kabarnya." "Kau tidak perlu khawatir dengan nasibnya. Hazel baik-baik saja dan dia sudah menikah dengan pria tampan yang sangat mencintainya." Felix menepuk bahu Keira dan segera pergi meninggalkan ruangan itu, menyisakan tanda tanya besar pada Keira. Ke luar dari ruangan kelas, Felix berniat mencari Hazel ke kantin. Langkahnya terhenti begitu melihat gadis yang ia cari sedang berjalan ke arahnya. "Kenapa kau suka sekali berjalan sambil menundukkan kepala seperti itu, hmm?" mendengar suara Felix, Hazel mengangkat kepalanya begitu . Ia pun tersenyum begitu melihat wajah tampan pria itu yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Felix tercengang tidak menyangka Hazel akan tersenyum hangat seperti itu padanya. "Kau meninggalkan ini." Felix menunjuk tas milik Hazel yang ada di tangannya sembari mengikis jarak keduanya. "Terima kasih," HaZel mengambil tas miliknya. "Aku ingin membolos. Bisakah kau membawaku bersenang-senang?" "Itu sangat melanggar aturanku sebagai dosen, tapi berhubung aku adalah suami yang baik yang tidak bisa menolak permintaan istrinya, baiklah! Ayo kita pergi bersenang-senang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD