Setelah satu minggu tinggal di mansion pribadi milik keluarga Grissham, akhirnya Felix membawa Hazel pindah ke rumah pribadinya. Rumah di mana saat mereka terciduk hari itu.
Meong!
Beberapa anak kucing menyambut kedatangan mereka. Mungkin karena terlalu panik hari itu, Hazel tidak menyadari bahwa Felix mempunyai peliharaan berupa kucing.
"Astaga, kucing-kucing ini manis sekali." Hazel duduk dan mengusap satu-satu persatu kucin-kucing tersebut.
"Ya, anak-anak kucing ini adalah keturunan Sandy."
"Sandy?" Hazel mengerutkan keningnya. Tidak berapa lama dua ekor kucing ikut bergabung dengan para anak kucing. Hazel menduga jika kedua kucing itu adalah emak bapaknya.
"Sandy. Ya, kau yang memberi nama oada kucing itu. Hazel, apa kau sungguh tidak mengingatku?"
Hazel kembali berdiri, memandangi Felix dengan intens sembari menggali memorinya mencoba mengingat-ingat wajah Felix. Apakah mereka suungguh pernah bertemu sebelumnya. Beberapa detik berlalu, tetap saja ia tidak mengingatnya.
"Ini sedikit memalukan, tapi kuharap dengan aku mengatakan ini kau bisa mengingatku." Felix pun menjelaskan kapan mereka tepatnya bertemu. Mengatakan saat itu Hazel salah sangka padanya dan mengira Felix akan bunuh diri karena patah hati.
Begitu Felix menjelaskan kata bunuh diri, Hazel pun langsung bereaksi. Ya, ia ingat kejadian itu.
"Astaga, ini sungguh kau, Uncle?!" Pekiknya tidak percaya. "Saat itu kau tidak setampan ini. Mungkin karena itu aku tidak mengenalimu."
Felix pun akhirnya bisa tersenyum lega begitu Hazel mengingatnya.
"Jadi sejak itu kau mengikutiku? Sungguh?"
"Ya," jawab Felix singkat.
"Astaga, apakah aku sungguh penyelamat bagimu?" Hazel merasakan jantungnya bedebar tidak karuan. Ia sudah melupakan kejadian beberapa tahun yang lalu dengan begitu mudah. Dan mengetahui Felix ternyata sejak hari itu justru menjaga dan mengawasi Hazel sepenuh hati membuat perasaannya campur aduk. Ia mengira cerita semaxam itu hanya ada di dalam novel dan drama-drama romantis lainnya.
"Ya, kau pusat kehidupanku sejak hari itu."
"Artinya kau sangat mencintaiku?"
"Tentu saja."
Wajah Hazel merona merah. Ia yang bertanya namun ia juga yang terkesiap mendengar jawaban tenang Felix yang terlihat sangat meyakinkan.
"Aku merasa tersanjung, sungguh. Tapi untuk saat ini aku tidak tahu harus bersikap seperti apa."
"Tidak usah terburu-buru. Aku masih kuat menunggu dan sekarang kau sudah tahu bagaimana perasaanku terhadapmu, bagiku itu sudah cukup."
"Hm, aku penasaran dengan foto keluargamu." Hazel mengganti topik. Ia berjalan mendekati bingkai foto besar yang tertempel di dinding. Foto wajah-wajah yang sama dengan yang ada di mansion. Felix berdiri di belakangnya, pria itu langsung mengerti apa kiranya yang membuat Hazel penasaran. Adik perempuanya-Cherry.
"Cherry?"
Hazel berbalik da sedikit terkejut dengan jarak mereka yang sangat tipis. d**a Felix hampir saja menabrak hidungnya.
"Jadi namanya Cherry?" Hazel memundurkan tubuhnya beberapa langkah.
"Ya," sahut Felix, menatap penuh arti foto tersebut. Hazel menangkap kesedihan di dalam sorot matanya.
"Di mana dia?" Hazel tidak bisa menekan rasa penasarannya.
Mendengar pertanyaan Hazel, Felix menghembuskan napas berat. Melihat hal itu, Hazel menyesali pertanyaannya. Sepertinya ada kejadian yang tidak mengenakkan. Harusnya jika ia penasaran, ia bisa bertanya kepada kakaknya-Amber.
"Hm, apa kau lapar? Aku akan membuatkan makan malam kalau begitu," Hazel memutar tubuhnya dan hendak berjalan ke dapur.
"Cherry sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia memilih bunuh diri setelah mendapati kekasihnya berselingkuh." Felix tersenyum getir. "Dan selingkuhan kekasihnya adalah kekasihku."
Hazel terkesiap mendengar fakta itu. Kini ia menyesal kenapa ia harus bertanya tadi.
"Oh, aku turut prihatin." Hanya kalimat itu yang bisa ke luar dari mulutnya. Ia tidak tahu bagaimana caranya menghibur yang baik.
"Aku tidak tahu bagaimana cara untuk menghiburmu, apa kau keberatan jika aku memelukmu?"
Felix tersenyum, sejak tadi ia menahan diri untuk tidak memeluk Hazel. "Tentunya aku sangat senang."
Dalam sekejap keduanya sudah saling berpelukan.
Sejak malam itu hubungan keduanya ada kemajuan. Baik Felix maupun Hazel tidak membatasi untuk sentuhan-sentuhan kecil, seperti kecupan dan pelukan. Bahkan Hazel mulai menikmati perhatian yang diberikan Felix. Dan kabar baiknya, tidak ada lagi pembatas guling disaat mereka tidur. Tidak ada lagi rasa canggung saat Felix hanya mengenakan handuk di tubuhnya.
Felix akan dengan sabar menunggu sampai Hazel siap memberikan haknya. Felix hanya juga tidak pantang menyerah menunjukkan cintanya yang luar biasa terhadap Hazel. Dan sepanjang pengamatannya, Hazel juga mulai menikmati perannya sebagai istri dari Felix Grissham. Mereka benar-benar berhasil menyingkirkan kecanggungan yang ada diantara mereka.
_______
"Selamat pagi," sapa Felix sembari menuruni anak tangga.
Hazel menoleh sekilas, "selamat pagi, Felix."
Setelah libur beberapa minggu, akhirnya mereka kembali ke rutinitas awal.
"Kau ada kelas pagi ini?" Felix memeluk Hazel dari belakang. Hal yang selalu ia lakukan setiap pagi.
"Hmm, bagaimana denganmu?" Tanya Hazel, sibuk mengocok telur di dalam wadah. Pagi ini ia menyediakan omellet sebagai sarapan. Hazel bukanlah wanita yang gemar memasak. Ia bukan koki yang handal dan hanya beberapa menu masakan yang bisa ia masak. Untung saja Felix bukan pria yang pemilih dalam hal makanan.
"Aku tidak ada kelas tapi aku akan ke kantor hari ini. Ada rapat penting yang harus kuhadiri."
"Menyingkirlah agar aku bisa menyelesaikan masakan ini."
"Aku akan mengantarmu," Felix mendaratkan satu kecupan hangat di puncak kepala Hazel lalu melepaskan peluknnya dan menyiapkan piring untuk mereka sarapan.
Di kampus mereka menjadi pusat perhatian. Berita tentang pernikahan mereka tentu saja cepat tersiar.
"Semua memperhatikan kita?" Hazel menatap kerumunan yang sedang memperhatikan mereka secara terang-terangan. Wajar saja mereka menjadi pusat perhatian mengingat Felix membawa mobilnya ke tengah lapangan.
"Abaikan saja," seru Felix sembari turun dari mobil. Ia pun mengitari mobil untuk membuka pintu buat Hazel.
"Ini salahmu!" Hazel mendelik dan menggerutu. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian yang nantinya pasti akan selalu ada beberapa komentar yang tidak enak untuk didengar.
"Salahku?" Felix terlihat bingung. "Bisa kau katakan apa kesalahanku?"
"Tentu saja kau salah. Kau terlalu suka tebar-tebar pesona dan kenapa juga kau harus mengantarku ketengah lapangan kampus seperti ini," sungut Hazel.
Felix tergelak, "aku cukup tampan dan menawan. Tanpa aku harus tebar pesona, semua sudah memperhatikanku, Sayang. Tidakkah kau menyadari jika suamimu ini sangat memesona."
"Oh yeaahh??" Hazel memutar bola matanya dan memasang wajah berpura-pura mual mendengar tingkat kepercayaan Felix yang memuji ketampanannya. Di dalam hati Hazel memang mengakuinya.
"Tapi ini memalukan! Aku tidak suka menjadi pusat perhatian."
"Apa mempunyai suami sepertiku memalukan?" Felix memasang wajah menyedihkan yang sengaja dibuat-buat
Hazel kembali memutar bola matanya. "Sebaiknya aku pergi sebelum aku benar- benar memuntahkan isi perutku."
"Apa tidak ada ciuman untukku?" Felix menahan tangannya.
"Apa kau gila? Ini di tengah lapangan, Mr. Grissham."
"Lalu apa salahnya?"
"Kita akan menjadi bahan tontonan!'
"Tidak ada yang salah. Mereka punya mata dan kita adalah suami istri," pungkas Felix.