"Selamat pagi, Sayang." Satu kecupan hangat Felix berikan di pucuk kepala istrinya yang sedang mempersiapkan sarapan untuk mereka, keluarga kecilnya. Tidak lantas beranjak dari belakang Hazel, Felix justru memeluk perut rata Hazel dengan erat, menopangkan dagunya di atas bahu istrinya. "Kau sedang membuat apa untuk sarapan?" Dengan nakal ia mengecup leher jenjang istrinya. "Terlihat sangat lezat, tapi tetap saja tidak ada yang mengalahkan nikmatmu, Sayang." Hazel hanya tersipu malu mendengar pujian yang bernada vulgar tersebut. Tapi meskipun demikian, Hazel tidak pernah bosan dengan pujian yang dilontarkan suaminya. Setiap kalimat pujian yang diberikan Felix selalu mampu mengantarkan getaran dan sensasi yang selalu mampu membuatnya melayang. "Mom, Dad, aku tidak ingin terlambat!" Terde

