Perlawanan Sarah

1156 Words
Pergelangan tangan Sarah terasa sakit dan ia merasa sangat malu. Ia tidak pernah merasa sejahat ini pada orang lain. Mungkin ini karena ia memiliki perasaan pada Morgan. Atau ia menganggap Morgan sangat berharga untuknya. Sebenarnya ini bukan kali pertama papanya memperlakukan orang dengan buruk, sudah sangat sering malah. Bahkan Blair, sang mama, tidak tinggal bersamanya. Mamanya pergi meninggalkan rumah setelah cekcok dengan Papa saat Sarah berumur sepuluh tahun. Ia hanya bisa bertemu dengan sang Mama di luar rumah, itu pun harus melalui izin ketat yang diatur sang papa. Karena kesal Sarah menarik tangannya dari genggaman Mahesa hingga terlepas. Ia berhenti dan memijit-mijit pergelangan tangannya yang nyeri. Mahesa sendiri cukup kaget dengan reaksi putrinya. Ia berhenti juga dan berbalik menatap anaknya. Sarah adalah anak yang patuh. Sangat patuh sampai ia tak perlu mengkhawatirkan sesuatu. “Ada apa?” Mahesa bertanya. Ia butuh jawaban dari Sarah. Sarah menegakkan tubuh, mereka-reka jawaban yang bisa diberikan pada Papa. Ia punya banyak keluhan dan juga pertanyaan, diantaranya perlakuan kasar papanya. Bukankah ia adalah putri tunggal yang harus disayangi, kenapa ia diperlakukan seperti barang pajangan untuk memperindah ruangan papanya? “Kenapa Papa menarik Sarah dari luar. Ada teman Sarah tadi, kan tidak sopan.” Suara Sarah mengecil begitu melihat tatapan tajam dari Mahesa. Ia yang awalnya begitu berani dengan kepala tertegak, kini menunduk menatap ujung sepatunya yang berdebu. Sarah masih belum punya keberanian untuk melawan dan mengatakan apa yang diperbuat papanya salah. “Memangnya kamu merasa pantas berteman dengan anak seperti itu?” Rasanya sakit sekali d**a Sarah karena dianggap penilaiannya salah. Ia memiliki mata dan hati untuk menilai. Sampai saat ini perlakuan Morgan selalu baik, bahkan sebelum menjadi kekasihnya. “Tentu saja, Pa. Morgan memperlakukan Sarah dengan baik, kok,” katanya membela. Mahesa membuang muka. Putrinya belum dewasa dan tidak pandai menilai seseorang. Pemuda yang berasal dari keluarga seperti Morgan hanya seperti lintah. Pelan-pelan dan pasti saat Sarah sudah bisa dikendalikan, pemuda tersebut pasti akan memoroti Sarah. Apalagi ia tahu jika Sarah adalah anak satu-satunya. “Dia sama sekali tidak pantas bersamamu!” tegas Mahesa sekali lagi. Ia bisa melihat kilatan kecewa di mata putrinya. “Bukannya Manda menjemputmu ke sekolah tadi? Kenapa kamu malah pulang dengan cecungguk di luar?” Mahesa hampir saja lupa dengan telepon dari Manda yang mengabarkan akan menjemput Sarah ke sekolah dan mengajaknya makan siang sebelum mengantarkan putrinya sampai rumah dengan selamat. Sarah mendadak gelisah. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada Mahesa. Ia tak mungkin mengatakan pada Mahesa bahwa Morgan hampir saja menabrak Manda dengan motor dan mengusir pemuda itu pergi. Morgan akan semakin tidak disukai karena hal tersebut. Lalu Sarah tidak bisa berbohong kalau Manda tidak menjemputnya. Pemuda yang dikenalkan papanya tersebut pasti akan melaporkan kembali apa yang terjadi. Maka Sarah tidak menjawab dan malah memilih naik ke lantai dua, ke kamarnya. Ia tidak bisa berbohong pada papanya yang akan menambah daftar kelakuan buruknya secepat mungkin. “Kamu belum jawab pertanyaan Papa!” seru Mahesa yang masih berdiri di depan pintu. Sarah sama sekali tidak berkeinginan untuk menjawab pertanyaan papanya atau menyahut. Walau ada kengerian yang dirasakan saat terus melangkah. *** Morgan hanya bisa memandang saja. Ia kemudian mendesah dan memasang kembali helm yang dilepas tadi saat papa Sarah muncul. Ia sama sekali tidak kecewa karena diperlakukan seperti ini. Malahan ia sudah menduga akan mendapatkan perlakuan macam ini. Walau kehidupannya berkecukupan dan bisa saja membawa mobil ke sekolah, Morgan tidak berkeinginan untuk pamer seperti para pemuda pada umumnya. Semua yang dipakai dari ujung kaki sampai ujung kepala, bahkan kendaraan yang saat ini masih dibawa adalah milik kedua orang tuanya. Ia sama sekali tidak pantas berbangga diri. Telah selesai merenung dengan semua hal yang terjadi, Morgan membelokan motornya untuk bisa kembali ke jalan raya. Baru selesai berbelok, ia mendapati Gema berdiri di balik jalan. Segera ia membuka kaca helmnya dan menatap tajam pada Gema. Morgan bertanya-tanya, apa mungkin Gema melihat aksi orang tua lelaki Sarah tadi. “Sudah diusir, kan? Kenapa masih berdiri di sana? Sarah tidak akan keluar lagi sampai besok,” ujar Gema tanpa ekspresi. Perkataan Gema bagai hantaman telak bagi Morgan. Ia mengigit bibirnya karena kesal. Dalam bayangannya ia melajukan motor dan menabrak Gema hingga terjengkang. “Cih, bukannya kamu bahkan sudah ditolak sebelum membicarakannya? Bandingkan itu dan pikirkan mana yang lebih tragis?” Morgan tak mau kalah. Di matanya Gema hanya pengecut kecil yang mendapatkan banyak kesempatan tetapi tidak bisa memanfaatkannya. Gema mengenggam tali tas di kedua sisi tubuhnya erat-erat. Kulit tangannya bahkan sangat perih karena itu. Ia tidak bisa memberikan balasan karena yang dikatakan Morgan benar. Ia hanya pengecut yang membiarkan banyak kesempatan berlalu begitu saja. Morgan sama sekali tidak ingin berbasa-basi lagi, ia memutar pedal gas dan melaju meninggalkan Gema yang berdiri menahan amarah sendirian. Dua lampu merah terlewati, beberapa tikungan membuat laju motor Morgan melambat. Ia memarkir motornya asal di depan rumah. “Mereka tadi bertengkar, Ma, wajah kakak iparku benar-benar tidak sedap dari pagi tadi!” Langkah Morgan berhenti, ia menoleh lekas ke ruang makan. Ia masih mendengar celotehan Maya adiknya yang bercerita tentang keadaan Sarah di sekolah tadi. Saat kehidupannya terasa dalam bahaya karena cerita tersebut, Morgan harus muncul segera dan menutup mulut sang adik dengan tangannya. “Aku tidak bertengkar dengan Sarah. Semua yang Ibu dengar fitnah!” serunya membela diri. Begitu muncul di belakang Maya, ibunya sudah menatap jengkel. Sepertinya sang ibu percaya dengan semua kata-kata Maya. Maya berhasil melepaskan diri dan lari ke arah ibunya di sisi lain meja makan. “Bohong … Kak Sarah tadi wajahnya seperti menyaksikan akhir dunia!” Pelototan ibunya semakin tajam terasa. Jika nanti Maya lepas dari perlindungan Meira ibu mereka, ia akan memberikan hadiah kaus kaki kotor untuk si adik yang mulutnya terlalu ringan itu. “Aku tidak bertengkar dengannya. Sungguh?” Jika ada efek blink-blink yang bisa keluar dari mata, Morgan sedang berusaha melakukan hal itu. Namun, tampaknya usaha tersebut sama sekali tidak berarti. “Ibu seharusnya kasihan padaku sekarang. Apa Ibu tahu kalau aku baru saja diusir papanya Sarah?” Morgan menjatuhkan kepalanya di meja makan, dagu terlebih dahulu. Kali ini dirinya yang berekspresi seperti dunia akan segera berakhir. “Diusir bagaimana?” tanya ibunya penasaran. “Papa Sarah terang-terangan  memperlihatkan perasaan tidak suka padaku. Ia bahkan menarik Sarah dengan kasar ke dalam rumah. Sepertinya Sarah akan mendapatkan masalah karenaku,” kata Morgan sambil memejamkan mata. Namun, bukannya prihatin, Morgan malah mendengar Maya cekikikan. Ia langsung berdiri tegak dan melotot pada pada adiknya. “Sepertinya aku memang bukan anak kandung keluarga ini!” candanya dengan wajah serius. Ibu Morgan sama sekali tidak bereaksi. Ia hanya mengangkat bahu dan membawa piring kotor ke tempat cuci piring. “Baru pertemuan pertama, selanjutnya mungkin lebih baik,” kata ibunya perlahan. Morgan buang muka dan berdiri sambil menyeret tasnya. “Kamu sudah ketemu sama papa Sarah. Sarah tidak diajak ketemu sama Mama dan Papa?” tanya ibu Morgan segera. Ia seperti baru tersadar dari pengaruh sihir. Morgan sudah ambil langkah seribu ke kamarnya. Samar-samar ia mendengar teriakan Maya dan ibunya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD