Mata yang Mengawasi dengan Kebencian

1146 Words
Mahesa bertanya-tanya, apa pemuda yang ditemui di depan rumah kemarin sama dengan yang diceritakan Manda padanya? Ia tidak bisa dengan mudah percaya. Pemuda yang rencananya akan ditunangkan dengan putrinya telah diselidiki sebelumnya. Ia menyewa seorang detektif dan mengetahui bahwa Manda memiliki seorang kekasih di kampus. Bahkan kekasih tersebut kerap menemaninya pada acara keluarga. Bertambah satu alasan lagi untuk Mahesa supaya tak serta merta mempercayai perkataan Manda. “Aku akan memperhatikan dengan baik putriku. Kamu juga sebaiknya memperhatikan putramu,” kata Mahesa dingin sebelum menutup teleponnya. Keluarga calon besannya begitu bernafsu untuk segera melangsungkan pernikahan. Bagus juga sebenarnya, hanya saja tidak semudah itu. Sarah putri Mahesa satu-satunya dan untuk masa depan gadis itu tak akan main-main. Sekali lagi ponsel Mahesa berdering. Ia pikir ditelepon kembali oleh calon besannya. Rupanya telepon itu berasal dari mamanya Sarah. Sebelum mengangkat telepon, ia menyambar pena dan melingkari kalender. Ia harus ingat kapan terakhir wanita yang pernah menjadi istrinya tersebut menelepon. Ia tidak mau diakali lagi soal perhatian terhadap keluarga. “Bagus sekali, akhirnya kamu menanyakan kabar anakmu setelah sebulan lebih,” sambut Mahesa dengan cepat. Ia tidak membiarkan mantan istrinya bicara berbasa-basi terlebih dahulu. Wanita yang ada di telepon di seberang sana terdiam, sepertinya mencoba menyusun kembali kata-kata yang akan diucapkan pada mantan suaminya. “Aku tidak benar-benar mengabaikan putriku, oke? Hanya saja aku tidak bisa sering-sering menghubunginya,” jelas mantan istri Mahesa. Mahesan yang mendengar hal tersebut mendengus. Ia kemudian menekan amarahnya dan berdehem sebentar sebelum bertanya kembali. “Jadi, apa yang kamu ingin ketahui tentang putriku?” Mama Sarah berdecih kesal. Pernyataan Mahesa tadi menegaskan kalau ia tak memiliki andil dalam membesarkan Sarah. Ia memang mengakui itu. Hari-harinya waktu Sarah kecil dihabiskan untuk menata karirnya yang mulai menanjak, sehingga tak sadar jika putrinya sudah tubuh jadi gadis kecil. Ia kemudian juga tersandung kasus perselingkuhan hingga harus meninggalkan rumah Mahesa. Ditambah lagi mantan suaminya mendapatkan hak asuh atas putri semata wayang mereka. “Aku … bolehkan aku bertemu dengan Sarah?” “Untuk apa bertemu denganmu?” tanya Mahesa tak suka. Pengaruh mantan istrinya untuk Sarah pasti buruk. Itu yang kebanyakan terjadi dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya. “Dia juga putriku! Aku yang melahirkannya!” “Harus kuingatkan padamu, kamu hanya melahirkannya saja. Setelah itu kamu bahkan tidak peduli padanya, kan? Jadi … jangan berkata dia putrimu sekarang.” Suara Mahesa dingin. Ia ingin sekali membanting telepon supaya terputus. Namun, ia berhasil menahan diri. “Aku akan tanyakan Sarah, kapan ia bisa menemuimu,” pungkasnya sebelum mematikan telepon. *** “Jadi … apa kamu dimarahi?” tanya Morgan ragu-ragu. Sekarang pukul sembilan malam, ia yakin Sarah ada di dalam kamar dan sudah selesai mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ia menelepon dengan rencana menanyakan apa yang terjadi. Sudah hampir dua minggu hal ini dilakukan, seperti rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan. Mendengar suara Sarah sebelum tidur adalah pertanda yang sangat baik. Lebih baik lagi kalau bisa mendengar suara tawa tertahan Sarah yang takut ketahuan. “Tidak apa. Papa hanya menarikku ke dalam dan bertanya aku pulang dengan siapa.” Sarah menjawab cepat. Ia memaknai pertanyaan Mahesa menjadi lebih baik. “Syukurlah. Aku pikir sudah membuat masalah untukmu,” sahut Morgan. Memang seperti itu kecemasan yang ia rasakan sejak tadi. Bagaimanapun orang tua Sarah jelas-jelas memperlihatkan ketidaksukaannya pada Morgan. Itu sedikit melukainya tadi. “Aku akan berusaha untuk disukai oleh papamu dipertemuan selanjutnya!” katanya pada Sarah. Sarah tertawa sedikit di seberang sana. Jika ada di depannya pasti sudah dipeluk Morgan erat-erat. Sarah memang sangat imut ketika sudut matanya berkerut dan sudut bibirnya tertarik ke atas. “Baiklah, aku percaya padamu,” kata Sarah. Morgan mendengar penyataan Sarah seperti ejekan. “Aku barusan merasa kamu tidak percaya padaku?” katanya. “Kata siapa?” Sarah balik bertanya. Hampir lima belas menit kemudian pertarungan dengan tema ejekan tersebut menjadi bahan obrolan mereka. Morgan baru mematikan panggilannya begitu tidak terdengar lagi suara Sarah. Kekasihnya itu pasti sudah tertidur. Rasanya baru sebentar Morgan memejamkan mata, begitu terbuka hari sudah pukul setengah enam. Ia bergegas ke kamar mandi. Dengan tampang sangat rapi ia turun ke bawah untuk sarapan. “Dih, kalau aku yang bagunin pasti belum turun sekarang,” keluh Maya begitu melihatnya. “Aku harus tanya jurus menundukan Kakak pada Kak Sarah nanti,” tekad gadis berusia 16 tahun itu. Morgan menarik hidung Maya yang mancung. Jelas aksinya mendapatkan protes tegas dari pemilik hidung, tapi ia tak terlalu peduli. Nasi goreng sosis porsi jumbo dan telur dadar dengan porsi yang sama disantap secepat kilat. “Perut Kakak benar-benar ajaib. Bagaimana bisa makanan sebanyak itu masuk ke dalam mulut dan sama sekali tidak memberi efek? Kakak masih tetap ceking!” Belum puas rasanya Maya mengejek. Ia masih dendam dengan perkara penistaan hidung mancungnya di pagi hari. “Jelas, dong! Kakak kan tingginya ke atas, bukan ke samping kayak kamu!” Morgan mencibir seketika. Ia senang melihat pipi adiknya yang chubby mengembung. Dibandingkan dengan Morgan, tubuh Maya lebih berisi. Akan tetapi, ia tidak bisa tergolong gemuk. Malah ia merasa tubuhnya lebih mantap dari para gadis-gadis pemuja kurus. “Lihat, tuh, Bu! Kak Morgan body shimming!” seru Maya meminta dukungan. Namun, dua orang lain yang duduk di meja makan adalah pihak netral. Jadi rengekan Maya sama sekali tidak bisa menghasilkan apa-apa. Maka sepanjang sarapan ia tetap cemberut seperti itu. “Hati-hati di jalan, kakak ipar Maya jangan diajak ngebut!” Pesan Maya saat ia sudah menaiki motornya yang terparkir di samping milik Morgan. Satu cubitan lagi bersarang di hidung Maya sebelum Morgan melaju lebih dulu melintasi pagar rumah. Morgan senang berhasil membuat pagi adiknya buruk. Lengkingan suara Maya mengiringi kepergiannya ke rumah Sarah. Ia melihat Sarah duduk di halte biasa. Kali ini si penjaga tidak ada di sampingnya. Sayang sekali memang, karena Morgan berencana membuat suasana hati seorang lagi buruk. “Pagi … cantik! Lagi nungguin pacarnya ya?” sapa Morgan dengan suara mendayu-dayu. Setelah berpacaran dengan Sarah, ia memang merasa menjadi orang lain. Maksudnya, hal-hal yang pernah dulu diejak ketika dilihat sekarang dilakukan hanya untuk memperoleh senyuman Sarah. “Yah, sepertinya pacar saya hari ini amnesia makanya tidak bisa jemput.” Sarah mengedip manja. Morgan mengira gadis itu pasti memaksakan diri berbuat seperti ini padanya. Ia mengendalikan diri untuk tidak lari tanpa mempedulikan apapun dan memeluk Sarah selanjutnya. Ia cukup waras untuk tidak melakukan hal yang tidak perlu. “Pacar bisa aja … mana mungkin bisa amnesia punya pacar sebaik ini,” kata Morgan sambil menyerahkan helm. “Mau dibantu pakai helmnya?” tanya Morgan. Sarah lekas menolak. Ia mau berusaha sendiri. Setiap hari Morgan selalu saja membantunya memasang helm dan rasanya jantung Sarah tidak akan aman karena hal itu. Dari kejauhan seseorang di dalam mobil memperhatikan. Ia memang setir mobil erat-erat dan menahan diri untuk tidak marah. Ia bisa saja berlari dan melampiaskan amarahnya, tetapi hubungan dua orang yang baru dilihat malah akan semakin erat. Harus ada sesuatu yang bisa memaksa dua orang tersebut berpisah dengan sendirinya tanpa mengotori tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD