Kejutan yang Tidak Manis

1275 Words
“Anak perempuan Om Mahesa?” Gelas kristal Manda berhenti beberapa inci jauhnya dari bibir. Cairan bening pemuas dahaga di dalamnya bergetar sedikit. Ia mencoba mengingat siapa gerangan yang sedang dibicarakan papinya kini. Akan tetapi, hanya berhasil mengingat bayangan gadis kecil dengan pipi merah jambu dan rambut dikucir dua dalam ingatannya. “Sudah lama tidak melihatnya. Sekarang di kelas tiga SMA, kan?” tanya Manda. Maminya yang duduk di sebelah kiri Papi mengangguk. Walau ia tak suka dengan rencana suaminya untuk perjodohan ini, tetapi juga tak melarang. Apalagi ia tahu rekan bisnis suaminya tersebut cukup banyak memiliki asset. Jika seandainya putranya benar menikah dengan gadis bernama Sarah tersebut, tentunya semua asset akan jadi milik Manda juga. “Nanti siang kita akan bertemu dengan mereka. Kamu bisa berkenalan kembali. Kalian bertemu saat Sarah masih kecil. Kudengar dia anak yang penurut.” Papi kembali menjelaskan pada Manda. Manda berusaha menggali kembali bayangan tentang Sarah. Ia lekas melihat seorang gadis manis yang bersembunyi di belakang Om Mahesa. Ia pernah beberapa kali bertemu dengan papa gadis itu saat datang ke kantor Papi dan lelaki itu sedang melakukan kunjungan persahabatan. Syukur-syukur jika gadis itu tetap manis seperti dahulu, harapnya. Restoran yang dipesan Papi nyaris tidak sesuai selera Manda dan maminya. Walau disebut restoran, tetapi tempat tersebut menyediakan makanan khas rumahan. Restoran yang terletak satu deretan dengan mall terbesar di kota tempatnya tinggal tersebut tak terlalu ramai. Kebanyakan pengunjungnya adalah keluarga besar. “Kenapa Papi pilih restoran seperti ini sih, Mi?” bisik Manda pada maminya yang duduk di sebelah. Maminya mencondongkan tubuhnya sedikit dan balas berbisik, “Katanya Om Mahesa suka makanan seperti ini. Kamu maklumi sajalah.” Manda mendengus. Ia ingin cepat-cepat bertemu Sarah dan kemudian pergi. Akan tetapi, orang yang akan ditemui tidak akan cepat sampai. Keluarganya datang lebih awal dari perkiraan. Tepat pukul satu siang, Manda melihat Om Mahesa turun dari mobil. Bersamanya datang seorang gadis memakai dres terusan warna kuning. Make upnya tidak tebal, tetapi wajahnya sangat bersih dan cantik. Bayangan Sarah yang manis di masa kecil langsung tergantikan dengan sosok gadis yang datang. Ia rasanya pernah melihat gadis tersebut di suatu tempat. Sialan, pacarnya Morgan! Manda mengumpat dalam hati. Walau tidak satu jurusan dengan Morgan, Manda tetap mengenal jagoan universitas tersebut. Wajah tampannya menjadi bahan pembicaraan para gadis, tak luput teman-teman jurusan Manda. Bahkan, mantan pacar Manda langsung move on setelah berpapasan dengan pemuda itu di tepi jalan. Lalu bagaimana Manda tahu Sarah adalah pacar Morgan? Ia menjadi salah satu saksi penyataan cinta Morgan di halte bus kampus dua hari lalu. Pernyataan yang cukup berani dan tidak tahu malu menurut Manda. *** “Rasanya restoran itu di tempat ini?” Morgan memelankan laju kendaraanya dan memperhatikan bangunan yang dilewati dengan saksama. Ia sama sekali tak peduli dengan klakson peringatan yang dilancarkan pemilik mobil di belakang. Namun, cubitan dari Maya mampu mengembalikannya ke dunia fana. “Dih, cubitanmu itu sakit loh, May. Kapan-kapan sebelum menganiaya kakakmu ini, kamu coba dulu cubit dirimu sendiri,” protes Morgan. Ia melaju dengan benar kembali. Pengendara motor yang tadi terjebak kemacetan gara-garanya mengumpat dan memaki sambil lewat. Karena merasa memang melakukan kesalahan, Morgan sama sekali tidak tersinggung. “Habis Kakak sedang apa, sih? Sedang cari apa sampai tidak sadar kalau kita lagi di atas motor di jalan raya bukannya di depan rumah.” Morgan tidak bisa mengelak. Ia kembali tengelam ke dalam pecariannya. Ia masih belum menemukan restoran yang sudah dikatakan Sarah kemarin di telepon. Sebenarnya di mana letak tempat itu, kenapa sejak tadi Morgan belum juga melihat plang nama tempat tersebut. “Kakak lagi nyari apa sih sebenarnya?!” Sarah berteriak tepat di telingan Morgan kembali. Kali ini berhasil membuat Morgan kaget hingga motornya oleng. Diputuskannya untuk menghentikan motor di pinggir jalan. Ia memutar tubuhnya sedikit untuk memberi peringatan pada sang adik. Gadis itu memalingkan wajah dan pura-pura tidak melakukan salah apa-apa. “Sarah sedang makan siang di sini. Katanya bersama keluarganya.” Kalau tidak mau mendapat masalah lagi, Morgan tidak punya pilihan selain memberitahu sang adik apa yang sedang dikerjakan. “Yah … kenapa tidak bilang. Aku kan bisa dandan dulu, Kak.” Dengan kejam Maya memukul bahu Morgan. Ia mengeluarkan kotak bedak dari dalam tas dan memperhatikan penampilannya yang kuyu. Ia hanya mengenakan kemeja biru dengan celana jin. Karena Morgan yang mengajak, ia pikir hanya akan pergi membeli sesuatu seperti buku atau jajanan. “Kan tadi aku sudah tanya? Mau ganti baju dulu apa enggak? Kamu sendiri yang dengan percaya diri bilang, sudah cantik tanpa perlu dandan.” Morgan memang sudah memberi kesempatan itu pada Maya. Bahkan setelah menghidupkan motor di halaman, ia kembali bertanya dan mendapat jawaban yang sama. Maya mengerucutkan bibirnya. Kakak lelakinya ini memang tidak pernah peka. Memang sejak awal semua laki-laki itu tidak peka. Morgan bahkan tidak bisa membedakan mana pakaian tidur dan pakaian di rumah. Mana mungkin orang yang sama paham tentang betapa rumitnya situasi yang dirasakan Maya. “Ah … restoran tempat mereka makan juga belum ketemu, kenapa kamu harus panik sih.” Mata Morgan kembali menjelajahi deretan bangunan di samping mall. Maya semakin panik. Pakaian yang dikenakan sekarang tidak cocok untuk masuk ke tempat mewah. Jika mereka sudah sampai di rumah nanti, ia akan memberikan pembalasan yang setimpal untuk kakaknya. “Restoran apa namanya?” tanya Maya jutek. Morgan menyebutkan segera. “Memang ya, cowok yang nggak bisa bedain bedak tabur sama bedak padat susah diajak romatis,” runggut Maya sambil menunjuk restoran yang di maksud. Mereka sudah berdiri di luar restoran sejak tadi. Perasaan bodoh yang dirasakan Morgan, berganti dengan keriangan saat melihat bayangan Sarah di balik kaca transparan. Ia membelokan motornya ke restoran dan parkir. Ia bahkan mengabaikan protes yang didengar dari Maya soal pakaian yang pantas. Sebelum masuk melalui pintu otomatis, Morgan memastikan kondisi rambut dan pakaiannya rapi. Sudah ada skenario di dalam pikirannya soal pertemuan tidak sengaja dengan Sarah dan papanya. Pacarnya mungkin sadar jika ia sengaja, tetapi tentu tidak dengan papanya. Ia juga telah menyiapkan hati untuk kemungkinan tidak akan disukai di pertemuan pertama. Morgan duduk cukup dekat untuk mendengar obrolan keluarga tersebut. Ia membelakangi meja-meja Sarah. Sementara Maya bisa memperhatikan wajah kakak iparnya dengan leluasa. Begitu duduk dan kemudian melihat Sarah, adiknya mencondongkan badan dan memberi pujian tentang mata kakaknya yang bisa mengenali gadis cantik dengan baik. “Tapi Sarah sepertinya buta. Apa yang dikagumi dari Kakak sampai-sampai ia menyatakan cinta pertama kali?” cibir Maya. Morgan adalah pemuda yang menjunjung tinggi kesetaraan jenis kelamin. Maya juga harusnya begitu, karena mereka dibesarkan dengan cara yang sama. Baginya tak masalah jika perempuan menyatakan perasaan lebih dulu, tetapi Maya nyatanya berpendapat lain. Saat obrolan di belakang sudah mulai mengalir dengan santai, Morgan pikir inilah saatnya untuk muncul dan berkenalan. Seperti skenario yang sudah dirancang Morgan di dalam otaknya sejak kemarin. Untuk itulah ia memangkas uang jajan mingguan hanya untuk mentraktir Maya puding mahal. Adiknya dijadikan semacam alasan jikalau papa Sarah curiga dengan alasan kebetulan. Semua perempuan selalu tergila-gila dengan makanan manis yang cantik. Adiknya juga begitu. “Saya harap kedua anak kita bisa saling jatuh cinta. Jadi perjodohan ini bisa lanjut ke tahap selanjutnya.” Morgan membeku mendengar perkataan riang dari belakang. Perjodohan? Ia membatin kaget sekaligus bertanya-tanya. Sarah tidak memberitahunya soal itu kemarin. Mungkin saja pacarnya juga tidak tahu maksud makan siang bersama yang direncanakan papanya. Morgan merasa ini bukan waktu yang tepat untuk muncul. “Kamu sudah selesai?” tanya Morgan. Adiknya, Maya sedang tersenyum-senyum kecil memperhatikan ponsel. Puding di depannya sudah tandas sedari tadi, tapi sebaiknya ia mengajukan pertanyaan dulu. Saat Maya mengangguk, Morgan lantas berdiri dan menarik adiknya keluar. “Loh, tidak jadi menemui Kak Sarah? Kenapa?” Morgan tidak akan menjawab karena ia sendiri tidak tahu jawaban apa yang bisa diberikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD