Pertanyaan dan Jawaban

1280 Words
“Kak Sarah!” Sarah menoleh ke belakang. Sekilas ia melihat Morgan yang sedang menarik seorang gadis keluar. Ia tidak pernah melihat gadis itu. “Temanmu, Sarah?” Sarah terkesiap dan kembali ke alam nyata. Ia memandang papanya sebentar dan kemudian mengangguk pelan. Pembicaraan selanjutnya yang penuh berisi basa-basi dan pujian tidak terlalu diperhatikan Sarah. Pikirannya terlalu terfokus pada gadis yang memanggil namanya tadi. “Makanannya sangat enak, bukan begitu Sarah?” Sarah terkesiap kembali. Ia lekas mengangkat kepala dan kemudian berusaha tersenyum senatural mungkin pada wanita yang merupakan ibunya Manda. Ia berharap mereka tidak menyadari jika dirinya sama sekali tak nyaman dengan pertemuan semacam ini. Ia berharap mamanya ada di sini, sehingga obrolan tidak hanya berputar tentang betapa manis dirinya di waktu kecil. Sarah tahu Mahesa tidak punya banyak kenangan bersamanya. Papanya terlalu sibuk dengan banyak bisnis. Merupakan sebuah keajaiban jika Mahesa bisa duduk di meja makan di hari minggu dan sarapan bersama Sarah. Bukan berarti mamanya ada di samping Sarah. Hanya saja, keberadaan Blair tentu membuatnya lebih nyaman. “Kapan-kapan kamu datang ke rumah, ya, Sarah. Biar Manda yang jemput kamu.” Sarah melirik papanya terlebih dahulu sebelum menjawab. “Ya, Tante,” ujarnya kaku. Pertemuan tersebut berakhir tanpa ada kejadian yang memalukan. Padahal di rumah sebelum berangkat Sarah sudah sangat cemas karena kemungkinan melakukan kesalahan saat gugup. “Papa masih ada urusan sama Om, Frans. Kamu bisa pulang dengan Manda, kan?” Langkah Sarah terhenti. Ini pasti juga ada rencana para orang tua. Mereka berpikir jika menghabiskan waktu bersama bisa menumbuhkan keakraban. Mereka tidak berpikir kemungkinan lain bahwa bisa jadi menghabiskan waktu bersama malah membuat semakin canggung. Harusnya ada pilihan seperti itu. Harusnya pada orang dewasa menyadari sebab sejak awal, Sarah nyaris tidak berbicara. “Baik, Om. Saya akan antar Sarah selamat sampai tujuan.” Manda mengikuti permainan tersebut. Mau tidak mau, Sarah tentu juga harus begitu. Bagai robot ia berjalan menuju parkiran dan menunggu di sana. Ia tidak tahu kendaraan apa yang digunakan Manda. Lelaki itu cukup lama berada di dalam dan masih berbasa-basi dengan papanya. “Terima kasih,” katanya saat Manda berinisiatif membukakan pintu mobil. Air conditionair membuat Sarah mengigil saat pintu berdebam tertutup di sebelah kirinya. Setelah melambai pada Papa, Sarah tidak berusaha mengobrol dengan Manda. Ia tidak punya bahan untuk dibicarakan. “Aku juga punya pacar.” Sarah menoleh. Tidak ada siapapun di dalam mobil saat ini dan Manda juga tidak sedang menggunakan perangkat seluler. Pasti dirinya yang sedang diajak bicara oleh Manda. “Aku punya pacar dan kamu juga, kan?” Manda kembali bicara hal yang sama. Sarah tidak tahu apakah boleh berbicara seperti ini pada Manda. Akan tetapi, ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak suka dengan obrolan tentang persoalan perjodohan. Jika Manda memiliki kekasih, artinya ia juga tak menyukai obrolan tersebut seperti Sarah. “Lalu?” Sarah tidak boleh gegabah menduga ini adalah kesempatan. Ia tak mau dijebak Manda. “Tidak ada. Aku hanya memberitahumu hal itu. Aku akan berusaha mengenalkan pacarku pada Papi. Mungkin sebaiknya kamu melakukan hal yang sama. Mungkin saja salah satu dari kita akan beruntung dan membuat wacana perjodohan ini batal.” Sarah merasa lega mendengarnya. Sepertinya bukan tidak ada harapan jika rencana papanya batal di tengah jalan nanti. Tak terasa mobil yang dikendarai Manda sampai di depan rumah Sarah. Ia turun dan mengucapkan terima kasih. Sarah pikir Manda tidak akan ikut turun. Ia kaget saat pemuda itu menarik tangannya dan menyarangkan kecupan. “Tapi, jika wacana ini tidak jadi dibatalkan. Aku tidak merasa ini tidak adil karena sepertinya aku menyukaimu.” Sarah tidak menyukai banyak hal di dunia. Ia tidak suka warna abu-abu karena terkesan kotor. Ia tidak suka saat tiba-tiba mati lampu pada saat badai terjadi, karena petir membuatnya ketakutan. Ia juga tidak suka pada Manda, pemuda ini pembohong. *** Saat Gema melihat Morgan mencium pipi Sarah dan gadis itu berteriak kesal karena malu, Gema rasanya ingin mencongkel matanya sendiri. Hatinya bagai kaca yang meledak. Namun, ia berusaha mengendalikan diri dan kabur. Selama seharian penuh, tidak melihat wajah Sarah adalah obat yang paling mujarab menurutnya. Walau ia rindu mendengar kecerewetan Sarah tentang semua hal. Walau kenyataan kalau Sarah sudah menjadi pacar orang tidak berubah. Ia benar-benar hanya ingin melihat Sarah sebentar saja. Makanya alih-alih belajar di dalam kamarnya yang nyaman karena AC. Ia membawa semua buku berisi PR ke teras yang menghadap jalanan. Sedikit tidak nyaman karena matahari bersinar terang. Akan tetapi, semua akan selesai jika sudah melihat wajah Sarah nantinya. Ia bersiap menyerukan nama Sarah dan perpura-pura mengingatkan tentang PR yang sering dilupakan gadis itu. Perkiraannya nyaris meleset, hatinya mencelos karena Sarah tidak juga keluar dari kamar dan duduk di balkon. Mobil Ayla warna putih itu tiba-tiba berhenti di depan rumah Sarah. Dari sana, Sarah keluar dan menunduk mengucapkan terima kasih. Gema suka pada Sarah bukan tanpa alasan. Selain gadis tersebut memang cantik, kepribadiannya juga baik. Ia tahu karena mengenal Sarah sejak kecil. Ia menarik napas dalam-dalam dan akan berteriak memanggil. Dari arah pengemudi keluar seorang pria, Gema tidak tahu siapa itu. Tanpa aba-aba ia menarik Sarah dan menciumnya. Sarah sama kagetnya dengan Gema. “WOI SIALAN!” Gema bahkan tak sadar jika ia berteriak memaki dengan keras dari lantai dua. Sarah dan pemuda tidak dikenal Gema tersebut melihat ke arahnya. Teman Gema sangat bersyukur sementara lelaki kurang ajar tersebut malah mengernyit tidak terima. Kalau saja Gema punya kekuatan super, ia akan melompat dari teras lantai dua dan mendaratkan tendangan tepat di wajah orang itu. Namun, ia hanya bergegas lari menuju bawah. Saat sampai hanya ada Sarah saja di sana. “Kamu tidak apa-apa, kan?” Gema bertanya setelah menarik napas dalam dan menenangkan ritme tarikan napasnya. Matanya memeriksa dari ujung kaki sampai ujung kepala, kalau-kalau ada bekas kotor yang terlihat. Sarah seperti akan menangis. Ia berusaha tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Akan tetapi, Gema tahu sudah terjadi apa-apa. “Kalau orang seperti itu melakukan hal buruk lagi, kamu tendang saja!” usulnya. Sarah menelengkan kepala tidak mengerti. “Tendang sekuat tenaga di antara kedua pahanya. Dia pasti akan pergi!” Butuh waktu lama bagi Sarah untuk mencerna omongan Gema. Biasanya Sarah pintar dan cepat tanggap. Mungkin kecupan kejutan tadi membuat otaknya dalam mode pemahaman lambat. “Itu pasti sakit,” komentar Sarah dengan wajah sedikit memerah. Sarah mungkin malu memikirkan bagaian mana yang menjadi sasaran kemarahan. “Tidak masalah menurutku. Memang harusnya dia mendapatkan ganjaran setimpal atas pelecehan, kan?” kata Gema. Ia pikir sebaiknya Sarah memperlakukan Morgan dengan cara yang sama. Ia suka saat Sarah tertawa. sudut matanya akan berkerut. Bibir yang tertarik ke atas dan suara manis yang mengelitik pendengaran Gema. Rasanya seumur hidup ia akan bahagia jika mendapat kesempatan menikmati itu. “Kamu tidak marah lagi?” Gema tersentak dari lamunannya. Ia sama sekali tidak marah pada Sarah. Ia hanya mengutuk kebodohannya sendiri yang terlambat. Bukan berarti Gema tidak memiliki kesempatan lainnya. Namun, yang ia punya sangat kecil bahkan bisa dianggap mustahil. “Kapan aku marah padamu?” Gema balik bertanya. “Dua hari ini kamu sama sekali tidak menyapaku. Apa kamu mau pura-pura tidak ingat!” seru Sarah kesal. “Itu bukan karena aku marah padamu.” Sarah terlihat benar-benar kesal. Bibirnya secara Ajaib membentuk gumpalan yang lucu dan hidungnya mengernyit. Gema pikir ia bisa mengambil kesempatan. Ia menunduk dan mengecup puncak kepala Sarah tiba-tiba. “Ini pembalasan karena kamu sama sekali tidak tahu apa-apa!” Sarah mengerjap-ngerjap tidak paham. Wajahnya yang seperti bertanya “Sebenarnya apa yang telah terjadi?” sangat mengemaskan. Gema benar-benar tidak bisa menyerah dan membiarkan Sarah didapatkan oleh orang lain. Kalau seperti ini hancur pun aku tidak masalah, Sarah. Bagaimana aku bisa membiarkanmu bersama orang yang tidak pantas? Gema merasa sudah terjebak, tetapi ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melarikan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD