Zaman memang sudah modern, tetapi pemikiran para orang tua selalu bertambah kolot. Mereka masih saja tidak membiarkan para anak-anaknya memilih sendiri calon suami. Buat mereka anak walaupun telah dewasa tetap seperti anak-anak.
“Kakakmu kenapa?” tanya Meira.
Ia menyambut kedua anaknya yang pulang. Bahkan mengoda Morgan tentang oleh-oleh yang harusnya didapatkan setelah tinggal sendirian di rumah. Namun, tangapan Morgan sangat dingin. Ia sendiri sampai bertanya-tanya apa yang dulu sangat diinginkan sampai memiliki anak tidak peka seperti Morgan.
Maya yang ikut dengan Morgan hanya mencebik sedikit dan mengangkat bahu tanda tidak tahu. “Aku juga heran, Bu. Padahal kami berhasil bertemu Kak Sarah dan keluarganya. Tapi Kak Morgan malah menarikku pulang.”
“Memang seram, ya?” Pertanyaan Meira menjurus pada tampang papa Sarah. Mungkin saja Morgan begini karena tampang mertuanya sangar seperti mafia.
Maya berusaha mengingat-ingat, tapi tak bisa menjawab. Ia kan duduk di belakangi oleh Sarah dan papanya. Namun, dari belakang tubuh papa Sarah terlihat bagus. “Maya nggak lihat, Bu.” Maya menutup mulutnya segera. Bisa gawat kalau ibunya tahu apa yang baru saja dinikmati sebagai sogokan.
Karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, Meira hanya bisa bersenandung kecil tentang jatuh cinta untuk menganggu Morgan.
Pemuda itu sudah masuk ke kamarnya sejak pulang dan mondar-mandir tidak karuan. Ia bertanya-tanya apakah benar menghubungi Sarah di saat ini keputusan yang tepat. Ia cukup penasaran dengan kata “perjodohan” yang sebelumnya didengar. Ia takut Sarah tidak punya kesempatan untuk menolak perjodohan tersebut. Lalu, bagaimana dengan hubungan cinta mereka yang baru saja dimulai? Walau begitu banyak kekhawatiran Morgan, ia tetap saja bersyukur dengan usia Sarah yang masih delapan belas tahun serta latar belakang keluarga gadis tersebut yang mengedepankan pendidikan.
Perjodohan yang sebenarnya pasti masih akan lama terlaksana. Butuh beberapa tahun lagi bagi Sarah untuk melaksanakan pendidikannya. Selama itu Morgan bisa berusaha untuk menjadi calon menantu idaman. Ia yakin bisa melakukannya.
Ia tiba-tiba menyadari masalah lain. Bagaimana kalau calon tunangan Sarah tersebut lebih bagus segala-galanya dari Morgan? Apa benar ia akan tetap menjadi calon menantu idaman saat itu? Morgan jadi mengacak-ngacak rambutnya karena frustrasi.
“Lah, bukannya rambut Kakak diatur bagus-bagus sejak pagi? Kenapa jadi diacak-avak kayak rambut setan begitu?”
Maya muncul dari pintu dengan membawa bungkusan keripik dan tanpa izin duduk di atas kasur. Ia tidak mengindahkan tatapan penuh dendam kakaknya.
“Kamu itu cewek kok tidak ada malu-malunya masuk kamar laki-laki,” keluh Morgan. Ia menarik kursi belajar dan duduk secara terbalik. Dagunya ditumpangkan di atas sandaran kursi.
Maya menatap sekeliling dengan heran. “Kamar laki-laki apanya?” tanyanya sok tidak tahu. Ia melanjutkan aksi makan keripik dengan santai. “Kenapa wajah Kakak jadi jelek seperti itu? Kita barusan pulang dari luar loh.”
“Bukan urusanmu.” Morgan berpegangan pada sandaran kursi dan menatap langit-langit kamar. Bayangan Sarah melambai-lambai di pelupuk matanya.
“Kak Sarah ketahuan selingkuh, ya!”
Buku kuduk Morgan merinding seketika. Ia melotot memandang Maya. “Jangan bikin kakakmu ini takut, deh. Sarah tidak akan mungkin seperti itu.” Ia lalu menambahkan di dalam hati kalau Sarah seperti bidadari yang tidak akan menyakiti siapapun.
“Terus kenapa wajah Kakak yang sudah hancur jadi semakin mengerikan.”
Morgan kembali mempelototi adik perempuan semata wayangnya. Pasti ada masalah dengan penglihatan Maya sampai ketampanan Morgan sama sekali tidak terlihat. Ia akan meminta ibu mereka untuk membawa Maya ke dokter mata secepat mungkin.
Maya menatap Morgan dengan keingintahuan yang besar. Akan tetapi, Morgan sudah memutuskan tidak akan memberitahu Maya apa masalahnya sekarang. Adiknya yang masih kecil dan polos harus dijaga sampai seperti itu. Walau sampai saat ini apa saja yang keluar dari mulut Maya tidak mendukung wacana gadis polos yang coba dipertahankan Morgan.
“Ya sudah kalau tidak mau kasih tahu.” Maya mencibir dan membawa kantong kripik yang tersisa keluar kamar.
Dipandangi bekas keripik yang berceceran di atas tempat tidur. Sambil merunggut Morgan membersihkan dan membuang semua remahan ke tong sampah. Ia tidak menunggu sore untuk membuang bungkusan sampah ke bawah karena takut serangga akan lebih dulu mengerubungi.
“Awas kalau kamu masuk kamarku lagi dan bawa keripik. Sungguh, akan kulempar dari jendela bersama dengan dirimu sekalian!” ancamnya dengan mengebu-gebu saat menemukan Maya menikmati masakan Meira di meja makan.
Setelah kembali ke kamar diputuskan untuk menghubungi Sarah sekarang. Rasanya tidak layak jika ia hanya menduga-duga tanpa bertanya pada gadis itu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengar semuanya dari Sarah, hati Morgan tidak lagi akan berprasangka.
***
Panggilan tersebut berasal dari Morgan. Gema tahu. Maka ia berdiri dan pergi pulang ke rumahnya sendiri.
Sarah berterima kasih dalam hati karena akhirnya Gema pergi tanpa diminta. Ia tidak mau mengusir Gema karena hubungan mereka yang terasa janggal menjadi baik lagi setelah dua hari yang mengesalkan.
“Hai … Sayang.”
Wajah Sarah langsung panas mendengar sapaan Morgan. Sampai saat ini Morgan selalu berhasil membuatnya salah tingkah walau mereka tidak sedang bertemu. Ia merasa hubungannya dengan pacar pertamanya ini berwarna-warni. Lebih indah dari kisah-kisah yang diceritakan para teman wanitanya.
“Ah, hai juga Sa-yang!” Sarah tergagap mengucapkan sapaan yang sama.
“Ulang lagi!” perintah Morgan tiba-tiba.
Sarah memikirkan apa yang harus diulang. “Apa?” tanyanya karena sama sekali tidak paham dengan perintah itu.
“Ulang lagi manggil sayang, mau aku rekam.”
Tidak mungkin Sarah akan mengulang sapaan yang bisa membuatnya ingin menenggelamkan diri ke dalam lubang. Ia lebih memilih menjepitkan lidahnya ke pintu hingga tak bisa bicara sekarang juga.
“Kenapa? Kamu tidak sayang padaku ya?” Mendadak nada suara Morgan menjadi sedih.
Sarah jadi merasa bersalah sendiri. Ia sangat menyayangi Morgan. Lebih dari apa yang bisa diucapkan dengan kata-kata.
“Bu-kan. Ya, Sayang ….” Sarah menyerah pada akhirnya. Walau mengucapkan kata sayang seperti kejutan listrik tenaga tinggi yang membuat jantungnya berdebar-debar.
Lalu ada keheningan yang tidak bisa dijelaskan Sarah tiba-tiba terjadi di antara mereka. Lidahnya juga kelu untuk memulai.
“Aku melihatmu di restoran hari ini.” Morgan memulai. Nada suaranya datar, berusaha setenang mungkin untuk tidak membuat Sarah kaget. “Sebenarnya aku membuat skenario pertemuan dengan calon mertua. Seperti yang ada di drama itu.”
Sarah sudah menduga kalau yang dilihatnya tadi bukan cuma sebuah halusinasi. Ia sudah kenyang dan dalam kondisi sangat sehat untuk berhalusinasi. Jelas-jelas itu Morgan dan mengandeng seorang gadis. Tiba-tiba d**a Sarah menjadi nyeri seperti tercubit. Ia ingin sekali mendapat jawaban tentang identitas gadis yang tangannya digenggam Morgan.
“Apa … aku mendengar kamu akan dijodohkan. Apa aku tidak salah?”
Sarah tidak bisa berbohong saat ini. “Ya,” jawabnya singkat dan ia bisa mendengar suara desahan frustrasi Morgan.
“Apa pemuda itu tampan?” tanya Morgan.
Sarah membandingkan di dalam otaknya. Selain lebih tinggi dari Morgan beberapa senti, tidak ada yang lebih dari tampang Manda.
“Tidak ada yang bisa mengalahkanmu kalau soal itu.”
Morgan terkekeh. Mungkin karena pujian tanpa sadar yang diucapkan Sarah. “Kalau begitu aku tidak boleh patah semangat, ya. Aku masih lebih tampan dari dia.”
Sarah senang jika Morgan tidak putus asa. “Mmm … gadis yang tadi bersamamu siapa?” tanya Sarah hati-hati. Ia berharap Morgan akan menjawab “hanya teman”. Akan tetapi, tetap saja ia masih akan tetap curiga setelah itu.
“Dia hanyalah tukang makan yang selalu membuat kamarku berantakan.”
Dada Sarah jadi berdenyut sakit lagi. Ia tidak suka rasanya.
“Kapan-kapan akan kukenalkan dengan bocah itu. Dia bilang satu sekolah denganmu. Kalau sudah ketemu dia jangan sekali-sekali mentraktinya makan. Adikku itu rakus.” Morgan bercerita panjang lebar.
“Adik?” Sarah hampir tak percaya jika tak mendengar sendiri. Akan tetapi, Sarah benar-benar mendengar kata "Adik" keluar dari mulut Morgan.
Adik ipar? Sarah jadi tersenyum membayangkan akan mendapatkan seorang adik perempuan di saat seperti ini.