Awan Hitam yang Samar-Samar Datang

1294 Words
Satu pukulan dari Morgan langsung menjatuhkan Manda. Bukan tanpa alasan pacar Sarah melayangkan jotosan penuh tenaga super ke wajah Manda. Ia mendengar hal-hal yang tidak senonoh tentang apa yang dilakukan Manda pada gadis bernama Sarah. Memang ada kemungkinan ada seseorang yang bernama Sarah di suatu tempat di universitas. Hanya saja begitu mendengar kalau itu terjadi kemarin, Morgan yakin hal itu dilakukan pada Sarah. Sarah pacarnya! “Tunggu, Morgan!” seru teman-temannya sambil memeganggi pemuda itu. Morgan masih berusaha maju untuk memukul Manda untuk kedua kalinya. Manda tampak tidak menyesal sudah mengatakan hal yang dianggap Morgan tabu. “Orang seperti dia harus diberi pelajaran!” teriak Morgan. Ia berontak sekuat tenaga untuk bisa melayangkan pukulan lagi pada Manda. “Kamu sebenarnya berbuat apa, sih, Manda. Bisa-bisanya kamu ganggu pacar teman!” seru teman-teman yang sedang menahan Morgan. Manda hanya mengangkat bahu dan kemudian berdiri. Ia tidak merasa bersalah sudah mengatakan pada Morgan kalau dirinya juga suka pada Sarah. Menurutnya rasa suka itu wajar. Sarah sangat pantas untuk disukai. Selain cantik, Sarah gadis yang ramah dan berasal dari keluarga terpandang. Manda menepuk bagian tubuhnya yang kotor karena debu di lantai dan menyeringai sebelum pergi. Merasa diremehkan, Morgan berontak kembali. Kali ini lebih keras dari sebelumnya, hingga teman-teman yang awalnya duduk ikut membantu menenangkan Morgan. “Kalau kamu emosi seperti ini ... akan ada pertumpahan darah!” Morgan terhenti sekarang. Ia menjunjung tinggi perdamaian. Akan tetapi, tetap saja rasanya kesal saat mendengar Manda juga merasakan ketertarikan pada Sarah. Ia memang mendengar pembicaraan keluarga tersebut sekilas. Ia mendengarnya kalau Sarah dan Manda akan dijodohkan. Namun, ia tahu Manda memiliki kekasih. Jadi ia pikir pemuda itu akan menolak. “Dia b******k!” ungkap Morgan segera. Begitu Morgan sudah terlihat lebih tenang, teman-temannya mulai melepaskan peganggan mereka. Mereka juga tahu kalau Morgan cukup pintar untuk mengejar Manda secara membabi buta. Morgan mendesah keras. Ia tipe orang yang tak mau menceritakan apa masalah yang sedang dihadapi. Namun, sekarang ia ingin seseorang mendengarnya. Ia melirik satu-satunya manusia yang dianggap memiliki kewarasan yang setara dengannya, Dryad. “Sarah dan Manda bertemu kemarin.” Morgan memulai ceritanya. Bahkan itu baru permulaan, sebagai sahabat yang baik Dryad sudah meradang. Ia langsung memaki Manda. “Memang b******k itu orang!” “Makasih,” kata Morgan tulus. Ia kemudian menghela napas untuk mulai bercerita lagi. “Tapi awalnya mungkin bukan keinginannya. Sarah berkata padaku kalau dia dan papanya ada rencana makan siang bersama. Karena itu aku berpikir ini mungkin rencana kedua orang tua mereka. Aku tidak masalah dengan itu. Yang membuatku kesal karena perkataan b******n itu. Kamu tahu kan kalau dia punya kekasih?” Dryad mengangguk. Tentu saja dia tahu kekasih Manda. Gadis cantik dengan surai bergelombang itu juga sempat menjadi incarannya. Sayang sekali tampang Dryad tidak seindah namanya, Manda memenangkan hati gadis itu segera. “Aku ingin menghajarnya supaya menjadi buruk rupa,” ungkap Dryad sepenuh hati. “Aku ingin segera bertemu Sarah,” ujar Morgan sambil menengadah menatap kanopi alami dari dahan-dahan pohon berkayu besar. Dryan mengusap punggung Morgan. Ia sering menyukai gadis cantik, tetapi tidak berharap untuk jatuh cinta. Soalnya banyak sekali teman-temannya yang merana karena cinta. Bahkan banyak di antara mereka mengutuknya supaya jatuh cinta saat ia mengolok-olok kisah cinta tersebut. “Semoga saja Sarah tidak jatuh cinta juga pada Manda.” Sontak Morgan melotot. Ia ingin sekali melompat dan mencakar mulut Dryad hingga terluka. Pemuda di depannya memang sahabat yang baik. Baik saat mendengarkan kisah tragis dan baik juga untuk dipukul karena asal bicara. “Tidak mungkin dia jatuh cinta pada Manda!” seru Morgan tidak terima. Jika biasanya ia bisa bersikap tenang biasanya. Namun, dalam kasus Sarah sepertinya tidak apa-apa jika sesekali Morgan bertindak kekanak-kanakan. “Cih, yakin sekali,” gelak Dryad. Ia mengacak rambut Morgan yang rapi sehingga mendapatkan jotosan keras di bahu. “Kenyataannya aku lebih tampan dari Manda. Jika Sarah punya mata, tak mungkin dia pindah pada pemuda yang kalah tampan dariku, kan?” ujar Morgan percaya diri. Hanya saja, sesungguhnya banyak hal yang membuatnya takut sekarang. *** Sarah menghela napas sekali lagi setelah jam-jam panjang berada di sekolah. Untung saja perlajaran pertama yang dihadapi Matematika dan selanjutnya Fisika, sehingga sikap lesu Sarah dianggak karena hal tersebut. Namun, Sarah tahu bukan itu penyebabnya. Ia cemas waktu pulang datang dan Morgan akan menunggu di gerbang depan seperti biasa. Untuk kejadian kemarin, ia takut pertanyaan yang terlontar dari mulut Morgan. Ia harus menjawab apa untuk keingintahuan Morgan. Ia sendiri tidak tahu soal perjodohan tersebut sampai telah ada di dalam restoran dan selesai menikmati makanan. “Apa kalian bertengkar?” Sarah yang sibuk mengaduk-aduk makanan dan tidak peduli dengan sekitar mengangkat kepala. Ia tidak kenal dengan gadis yang duduk dan menyeruput jus di depannya. Ia menoleh pada Gema dan mendapatkan jawaban sebuah gelengan kepala. Artinya teman dari kecilnya tersebut sama sekali tidak kenal dengan gadis yang baru bergabung di meja mereka. Namun, Sarah mendapatkan firasat kalau dirinya pernah melihat gadis ini. “Ya, kamu ada perlu dengan Gema?” Setahunya Gema memiliki cukup banyak pengemar perempuan. Bahkan ada yang nekat bergelayut manja padanya. Kejadian itu beberapa hari setelah naik ke kelas tiga, pelakunya adalah gadis centil kelas dua yang sudah setahun mengamati Gema di kelas satu. Gadis yang bergumam di depan Sarah tadi tersenyum dan mengeleng. “Aku bicara sama Kakak,” katanya dengan yakin. Sarah menunjuk ke dadanya sendiri dan segera paham jika gadis yang bergumam bicara padanya. Namun, ia tidak kenal dengan gadis ini. Ia yakin gadis yang duduk di depannya bukan kelas tiga. Gadis itu lalu mengulurkan tangan dengan yakin pada Sarah. “Maya, calon adik ipar Kak Sarah,” katanya memperkenalkan diri. Butuh beberapa lama sampai Sarah memahami apa yang dikatakan gadis di depannya. Matanya melotot dan kemudian menoleh dengan panik pada Gema. Sahabatnya itu hanya mengangkat bahu dan bersikap tidak mau tahu. Memang Gema tidak suka dengan segala sesuatu tentang Morgan. “Ha-hai ...,” sapa Sarah tergagap. Ia hampir menyebutkan namanya kembali, tapi dengan cepat menhentikan hal itu. Jika sampai terjadi pasti dirinya sangat malu sekali. “Kalian bertengkar, ya?” Maya mengajukan pertanyaan dengan maksud yang sama persis seperti tadi. Sarah memutar bola matanya. Ia dan Morgan tidak bisa dikatakan bertengkar. Mereka bahkan belum bertemu dan mengajukan pertanyaan yang menyakiti satu sama lain. Ia dan Morgan juga tidak perang dingin. Masalah saja belum jelas, bagaimana mereka memutuskan untuk melakukan hal itu. “Tidak.” Akhirnya Sarah putuskan untuk menjawab seperti itu. Maya mengangguk-angguk tanda paham. Selama beberapa saat hanya terdengar suara Maya menyeruput minuman. Begitu selesai ia kemudian mengajukan pertanyaan lagi. “Kemarin Kak Morgan mengajakku untuk membuat kejutan denganmu. Kami menemukanmu di restoran. Dia bahkan sudah mentraktirku makan dessert di sana. Akan tetapi, ia menyeretku begitu dessert habis dan suasana hatinya menjadi buruk sejak saat itu.” Sarah sudah tahu itu. Morgan memberitahunya kemarin. Namun, Ia tak berencana memberitahu Maya apa yang menjadi permasalahan penyebab suasana buruk hati kekasihnya. “Aku pikir kalian bertengkar.” Maya menyudahi celotehannya. Begitu pula dengan Sarah yang sudah kembali ke dunia nyata dari dalam alam pikirannya sendiri. “Tidak, kami bahkan belum bertemu dari kemarin. Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Alasan dia menjadi kesal?” Jika Morgan memberitahu sedikit saja, maka Sarah akan memperjelasnya. Maya mencebik dan mengeleng. Minuman yang sejak tadi diseruputnya sudah habis dan bel masuk juga sudah berbunyi. “Kalau aku tidak melihat langsung kakakku itu mengatakan akan menerimamu sebagai pacarnya, mungkin dia tidak akan memberitahu padaku soal kamu yang jadi pacarnya.” Setelah itu ia pamit pada Sarah dan—sedikit malu-malu melambai pada Gema. “Hubunganmu dan dia tidak akan berjalan lancar. Kenapa tidak berhenti sekarang saja?” Tiba-tiba Gema berbicara pada Sarah. Sarah akan menyatakan protes terang-terangan, tetapi Gema sudah berdiri dan pergi. Rupanya sulit sekali bagi Gema menerima dirinya dan Morgan berpacaran. Sesekali Sarah ingin mengintip ke dalam pikiran Gema.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD