“Bagaimana kalau yang ini?” Morgan menyodorkan contoh undangan yang disukainya pada Flo. Sejak kemarin mereka sudah disibukan dan model undangan yang terus berdatangan. Mulai dari yang berbahan tebal hingga bisa dijadikan pemukul sampai yang luasnya hanya tiri jadi dan dipastikan akan langsung tercecer setelah diberikan karena dikira sampah. Usulan Morgan sudah ditolak. “Flo? Kamu bisa mendengarku?” tanya Morgan kembali. Ia tidak lagi menatap tumpukan contoh dan kepalanya beralih menatap Flo yang termenung. Gadis yang sudah sibuk sejak pagi. Morgan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin. “Hei, ada apa?” Jarinya dijentikan di depan Flo. Dilihatnya Flo terkesiap dan mengerjap cepat. “Maaf, aku memikirkan hal lain,” ujar Flo sambil tersenyum manis. Morgan bertanya-tanya tentang a

