bc

Suami Sempurnaku

book_age18+
2.3K
FOLLOW
12.5K
READ
family
billionairess
sweet
genius
office/work place
mxm
like
intro-logo
Blurb

Dewasa itu bukan dari berapa umurmu, berapa tinggi badanmu. Atau ... berapa jumlah gigi depanmu. Behaha ....

Enggak, enggak! Dewasa bukan itu.

Tapi, dewasa itu tentang bagaimana cara menyikapi setiap masalah yang datang. Dan pasti Tuhan akan menjadikan kita dewasa dengan cara itu.

Elang Prakosa

Raudyar Puspa Damsya

chap-preview
Free preview
Eps 1
Ada banyak kertas yang berserakan diatas meja depan tv, bahkan tv yang menyala itu menjadi penonton si tuan rumah yang sedari tadi sibuk didepan laptop. Wanita cantik dengan perut yang buncit itu keluar dari dapur, membawa nampan berisi segelas air putih dan sepiring nasi. “Lang, makan dulu ya. Kamu dari pagi belum makan lho. Ini udah jam sebelas, udah masuk jam makan siang.” Bujuknya, meletakkan nampan diatas sofa. Ikutan duduk selonjoran disamping suami. Yang diajakin ngomong fokus natap layar tanpa berniat menjawab ataupun sedikit melirik. Audy meraih gelas, tangannya terulur memaksa wajah Elang untuk menoleh ke arahnya. Menyodorkan segelas minum itu. “Ayo, minum dulu.” Tanpa expresi, Elang meneguk air dalam gelas itu. Lalu kembali dengan layar didepannya. Audy hanya menghembuskan nafas, sangat kesal sama tingkah Elang belakangan ini. Kesibukannya dengan pekerjaan dan kuliah yang diambil malam, membuatnya tak memiliki waktu untuk sekedar istirahat. Daddy udah peringatkan untuk tak kuliah ambil kedokteran, tapi Elang kekeh tetap kuliah di jurusan yang ia inginkan. Tekadnya untuk meraih cita-cita sangatlah besar. Bahkan dia tak lagi meminta pendapat pada Audy. “Aakkk ....” Audy menyodorkan sesendok nasi serta lauk kemulut Elang. Elang menoleh, menatap wajah istrinya yang semakin kelihatan cubby. Tersenyum lembut. “Makasih ya, sayang.” Lalu mangap, dan masuklah sesendok nasi kedalam mulutnya. Audy tersenyum dan kembali menyendok nasi. “Kamu bisa sakit, Lang, kalo nggak bisa bagi waktu begini.” “Ini tugasnya harus dikumpulin nanti, mbak. Dosennya nggak main-main. Aku bisa di depak kalo nanti nggak ngumpulin ini.” Kembali mangap, dan masuk lagi sesendok nasi. Audy hanya diam, nggak ngerti harus ngasih jawaban yang gimana. “Semoga cepat kelar ya. Maaf aku nggak bisa bantu apa-apa.” “Iya, may. Yang penting kamu sama baby sehat. Aku udah seneng kok.” Ngambil kertas kosong dan memasukkannya kedalam mesin print. Ddrrtt....drttt Ponsel Elang yang tergeletak disofa belakang Audy bergetar. Sebuah panggilan telfon masuk. Audy menoleh, tertera nama Kenzo si penelfon. “Ini, Kenzo telfon, Lang.” “Angkat aja, may. Loadspeaker.” Pintanya. Audy menurut, lalu meletakkan ponsel dimeja samping laptop. “Lang!” seru Kenzo. “Apa, nyet?” jawab Elang. “Ikut lomba mancing nggak?” Elang memanyunkan mulutnya. “Kapan? Dimana?” “Di sungai Nil. Hadiahnya Hiu.” “Anjing! Gue nanya serius juga!” mangap lagi, masuklah sesendok makanan kemulut Elang. “Behah ... ntar jam tengah satu, di sungai G. Raka juga ikutan.” “Ikan apa?” Audy menyodorkan segelas minum, lalu beranjak kedapur karna sepiring nasi itu sudah habis. Sesampainya didapur, Audy ngambil makan untuk dirinya sendiri. Mulai makan dengan nyaman didapur. Selesai makan, dia sibuk membersihkan dapur. “May!” panggilan dari Elang yang ada dikamar. “kaos warna maroonku kamu taruh mana?” teriaknya lagi. Audy menghentikan aktifitas didapur. Bejalan sedikit berlari menuju kamar. Di lihatnya sang suami yang telanjang d**a didepan lemari. Tanpa menjawab, segera ia ngambil kaos yang dimaksud itu ditumpukan pakaian yang belum sempat ia setlika. “Belum aku setelika, Lang.” Menunjukkan kaosnya. Elang manyun. “Yaah, padahal mau kupakai sekarang. Setlikain bentar dong, may. Ya ya ya ...” bujuknya. Melingkarkan tangannya dilengan Audy, lalu mengecup pipi Audy. “Cantik deh.” Nyengir karna merayu istrinya. “Kan bisa pakai yang alain dulu.” “Lagi pengen pakai yang itu, may.” Rengeknya, mirip anak kecil. Emang dari awal udah manja, apalagi dinyatakan ngidam sejak Audy hamil, manjanya bertingkat. “Iya, iya, Lang.” Audy segera berjalan keluar dari kamar menuju ruang sebelah, tempat nyetlika. Dengan senyum senang Elang mengekori istrinya, duduk di kursi sebelah Audy. Sedangkan Audy sendiri memilih berdiri. Tetiba memeluk pinggang Audy, mengelus perut bulat yang terbungkus dress bahan katun polos. Lalu menciumnya dengan sangat manja. Audy tersenyum mendapat perlakuan Elang yang hampir setiap hari selalu seperti ini. Mengelus kepala Elang dengan penuh sayang. “May, baby tau nggak ya, kalo Damudnya lagi nyium dia?” tanyanya tanpa natap Audy, bahkan kembali mencium perut Audy dari samping. Audy tertawa kecil. “Nggak tau lah. Tapi dia tau, kalo Damudnya sayang banget, bahkan tiap hari manjaaaa ... banget.” Mencubit pipi Elang dengan sangat gemas. Elang tertawa kecil. “Manja? Aku manja?” mendongak natap Audy mencari jawaban. Audy kembali tertawa, mulai menggelar kaos Elang dan meraih setlika yang udah panas. “Emang kamu nggak nyadar?” Elang berdiri, memeluk Audy dari belakang. “Tapi kamu suka nggak?” menyingkirkqn helaian rambut yang menutupi tengkuk Audy, lalu mencium aroma tubuh Audy yang sekarang sangat ia sukai. Padahal kemarin sempat mabok tiap dekat sama Audy. “Suka kok, malah makin sayang.” Jawab audy sambil begidik. Geli banget sama kelakuan Elang. “May, ikut aku ya,” ajaknya saat menerima kaos yang udah rapi. Audy mengerutkan kening. “Kemana?” “Mancing, sama temen-temen.” Audy manyun. “Enggak ah, aku dirumah aja.” Ngeloyor keluar dari ruangan. Elang kembali mengekorinya sampai dikamar. “Kenapa nggak mau?” Audy Cuma geleng, merebahkan tubuhnya miring ditepi ranjang. “Aku mau bobok siang.” Elang jongkok didepan Audy. Tangannya terulur, kembali mengelus perut bulat itu. “Pasti capek ya, bawa baby kemana-mana.” Audy mengelus pipi Elang sambil tersenyum. “Enggak kok, Lang. Aku menikmati ini, seneng banget bisa ada di moment seperti ini. Nggak setiap wanita bisa ngerasain kek aku.” Elang tersenyum, imut banget. Mendekatkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Audy. Ciuman yang sekilas. “Ya udah, aku pergi ya. Kamu med bobok siang.” Mengelus kepala Audy dengan sayangnya. “Nanti sepulang main, kamu pengen dibuatin apa?” tawar Audy. Elang menerawang. “Pengen dibuatin mie kuah rasa soto jeruk nipis.” Lalu tersenyum lebar. Kembali mendaratkan ciuman dibibir soft pink milik Audy. “Iya, nanti aku bikinin.” “Makasih ya, may. Aku pergi dulu.” Mencium kening Audy dan keluar dari kamar.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kala Terang Dinanti

read
11.0K
bc

My Secret Little Wife

read
52.6K
bc

Dilema Hati Istri Bayaran Sang Bos

read
46.0K
bc

Turun Ranjang, Dinikahi Kakak Ipar

read
26.9K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
6.9K
bc

Tuan Bara (Hasrat Terpendam Sang Majikan)

read
108.1K
bc

Nasib Istri Tersakiti

read
6.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook