NPH 7

1200 Words
“Ini oleh-oleh untuk kalian,” ujar seorang wanita paruh baya yang meskipun umurnya sudah tidak lagi muda, tetapi semangatnya masih membara. Wanita itu memberikan satu set perlengkapan bayi untuk Eden dan Milly setelah kepergian mereka ke beberapa negara untuk melakukan perjalanan bisnis. Milly menerima hadiah itu dengan kening yang mengkerut. Pasalnya untuk apa barang-barang ini? “Ma, tidak perlu repot-repot seperti ini. Eden bisa membelikan semuanya,” kata Eden kepada sang mama. Wanita paruh baya itu pun tersenyum. Kemudian, dia berpindah tempat untuk duduk tepat di samping sang menantu—Milly. “Untuk menantu dan cucu Mama tentu tidak ada yang merepotkan,” seru wanita itu yang membuat tubuh Milly menegang. Apalagi ketika sang mama menyentuh perut ratanya saat ini. Milly langsung memandang Eden penuh, mencoba meminta penjelasan kepada pria itu. Eden pun terlihat meringis ketika melihat tatapan menuntut dari sang istri. Habislah dia nanti. “Sepertinya Milly harus istirahat, Ma,” ujar Eden mengalihkan pembicaraan mereka. Wanita paruh baya itu pun mengangguk. “Mama dan Papa juga istirahatlah. Kamar tamu sudah Eden siapkan,” ucapnya. Eden pun berpura-pura mengantar Milly ke kamar mereka yang berada di lantai satu, sedangkan orang tua Eden menuju ke kamar tamu yang ada di lantai dua. Ketika sampai di dalam kamar, Milly langsung menjauhkan tubuhnya dari Eden. Menatap pria itu dengan tatapan penuh intimidasi, tentu saja ia ingin mendengar penjelasan sejelas-jelasnya. “Maaf.” Satu kata itu keluar dari mulut Eden. “Aku terpaksa memberitahu mereka bahwa kamu sedang hamil,” jelasnya yang langsung membuat Milly benar-benar terkejut. Apakah Eden sudah gila? Apa yang akan mereka lakukan ketika kedua orang tuanya tahu jika itu sebuah kebohongan? “Apa kau gila?!” “Ya, aku tau ini gila. Tapi, aku tidak memiliki pilihan lain. Mereka akan terus bertanya tentang anak, dan mereka akan terus memaksa kita. Aku ... aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman,” jelas Eden. Dia benar-benar terpaksa mengatakan hal itu. “Tidak nyaman? Kita sudah sepakat sebelumnya, Eden. Apakah kamu akan membuat semuanya menjadi lebih rumit lagi? Sudah cukup dengan pernikahan ini, tidak untuk berita hamil,” seloroh Milly yang tampak terlihat bersungut karena kesal. Bagaimana bisa Eden memiliki pemikiran seperti ini? Masalah akan kembali datang nantinya. Eden terlihat diam, dia sedang memikirkan langkah apa yang bisa mereka ambil saat ini. Setidaknya dia harus menyiapkan rencana cadangan. “Karena kamu yang memulai kebohongan ini, maka kamu juga yang harus mencari solusi untuk ini juga,” sahut Milly yang kemudian berlalu menuju ke kamar mandi. Eden memandang wanita itu dengan rasa bersalah. Seharusnya dia tidak melibatkan Milly lebih jauh lagi. *** Milly tidak menolak segala bentuk perhatian yang diberiakan oleh mertuanya. Rasanya akan sangat mengecewakan jika dirinya menolak itu semua. Apalagi dia sudah mengenal orang tua Eden sejak kecil yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri. “Kata teman-teman Mama, makanan ini baik untuk ibu hamil. Nanti Mama akan belikan yang banyak untuk kamu,” kata mama dari Eden. Milly pun tersenyum canggung, namun dia tetap menerima makanan itu. Sedangkan Eden terlihat gelisah karena dia belum memikirkan solusi apa yang bisa dia ambil. “Terima kasih, Ma.” “Sama-sama, Sayang.” Kemudian, wanita paruh baya itu beralih kepada Eden. “Eden, kamu harus kurangi aktifitas kerjamu. Milly sedang hamil muda, jadi dia butuh perhatian yang ekstra. Untuk beberapa hari ke depan, lebih baik kamu ambil cuti dulu,” ucapnya yang langsung membuat Milly terkejut. “Eh? Tidak usah, Ma. Milly bisa jaga diri di rumah. Lagi pula di sini banyak pekerja juga,” balas Milly. “Milly ... kamu jangan terlalu baik kepada suamimu. Dulu, saat Mama mengandung Eden, Papa selalu nemenin Mama terutama di saat awal kehamilan dan menjelang persalinan,” cerita wanita itu. “Iya, Ma. Eden akan ambil cuti nanti,” putus pria itu yang membuat Milly langsung menatapnya. Tentu saja dia tidak setuju. “Mama dan Papa kapan balik?” tanya Eden membuat sang mama langsung melotot. “Kamu ini. Mama dan Papa baru saja sampai, dan kamu mau mengusir kami?” “Eh? Bukan begitu, Ma,” timpal Eden. Apakah dia salah memberi pertanyaan? “Lagi pula untuk apa kamu meminta kami pulang? Oh, Mama tau. Pasti kamu ingin meminta jatah kepada menantu Mama ini, kan? NO! Big no, Eden,” kata wanita ini dengan nyaring hingga membuat kedua anaknya terkejut. “Milly ... jika nanti Eden meminta kamu untuk melakukan itu, kamu jangan mau, ya. Kamu sedang hamil muda, jadi harus dijaga baik-baik,” nasihatnya yang diangguki oleh Milly. “Dan kamu, Eden.” Dia beralih kepada putranya. Kali ini nadanya tidak selembut seperti berbicara dengan Milly. Terkadang Eden berpikir siapakah anak kandung dari mamanya ini. “Kamu harus berpuasa. Kalau kamu sedang bernafsu, lebih baik main solo saja,” tuturnya. Milly pun tertawa dibuatnya, sedangkan Eden terlihat malu, wajahnya memerah. Sang papa pun terlihat tertawa juga, meskipun pria paruh baya itu lebih banyak diam. “Bersabarlah, Nak. Papa juga pernah merasakan itu. Setidaknya berpuasa lebih baik dari pada bermain solo,” timpal sang papa yang semakin membuat Eden merasa malu. “Sudahlah, Ma, Pa, kasihan Eden. Mukanya sampai memerah,” kata Milly. Mereka akhirnya menghabiskan waktu bersama, banyak obrolan yang mereka lakukan. Meskipun pada awalnya Milly kesal karena kebohongan yang Eden buat, tetapi dia cukup senang ketika melihat kedua orang tua mereka bahagia. Tetapi, tidak selamanya kebahagiaan dibayar dengan kebohongan. “Aku sudah minta pelayan untuk membersihkan kamar di sebelah kamarku. Kamu bisa menempati kamar itu. Dan sepertinya kita harus sekamar ketika ada keluarga yang berkunjung,” ujar Eden ketika keduanya telah selesai membersihkan diri. Pasangan pengantin ini baru saja menyelesaikan acara mereka. Milly sendiri merasa tubuhnya terasa lelah, dia hanya mengangguk menanggapi perkataan Eden. Untuk malam pertama ini, keduanya tidur sekamar, dengan Milly yang menempati kasur, sedangkan Eden di sofa empuk miliknya. Untung saja di dalam kamarnya ada sofa berukuran besar yang empuk. Milly bukannya durhaka kepada Eden yang sudah sah menjadi suaminya itu, tetapi dia sudah menawarkan kepada pria ini untuk tidur di kasur yang sama dengannya. Toh, tidak akan terjadi apa-apa kepada mereka. Tetapi, pemikiran Eden berbeda dengan Milly. Eden adalah pria normal yang akan menjadi tidak terkendali ketika berada di tempat seperti ini. Untuk menghindari hal itu, maka dia pun memilih mengalah. Baik Eden dan Milly yang sudah memulai permainan ini, maka mau tidak mau mereka harus menjalani dan menyelesaikan. Setidaknya permainan ini harus berakhir dengan keputusan bersama, sesuai seperti dengan isi perjanjian pra nikah tersebut. “Kamu yakin bisa, Mil?” tanya Kris ketika keduanya sedang berada di dalam kamar, di mana Milly sudah dirias dengan tatanan bak ratu pagi ini. Perlu Kris akui jika temannya ini terlihat begitu cantik. Beruntung pria yang bisa memiliknya, dan keberuntungan itu ada pada temannya sendiri—Eden. Milly menatap Kris dari pantulan cermin besar yang ada di depannya. Memang pria ini sengaja menemui dirinya sebelum akad nikah terjadi. “Aku sudah setengah jalan, Kris. Jadi, aku harus menyelesaikannya,” balas Milly. Pria di belakangnya menggeleng. “Bukan setengah jalan, tetapi ini adalah awal. Awal di mana kamu akan menjalani kehidupan dan peran yang baru,” timpal Kris membuat si pengantin wanita tertawa. “Tidak, Kris. Kehidupan dan peranku tetap sama, menjadi Milly. Tidak ada yang berubah nantiya,” tekan Milly. “Ada pepatah yang mengatakan bahwa sekali kita berbohong, maka akan timbul kebohongan lainnya.” Milly mengerti, inilah risiko yang harus dia ambil. “Aku tidak ada pilihan lain, Kris. Aku minta doa darimu, berdoalah agar aku tetap yakin dengan pendirianku sejak awal hingga akhir nanti,” pinta Milly dengan wajah serius. Kris pun mengangguk, doa terbaik selalu dia berikan kepada dua teman terbaiknya ini. Menurut kalian nasib Milly jelek banget, nggak? Pernikahan bagi seorang wanita itu adalah momen yang paling mereka tunggu. Tapi, jadinya akan berbeda jika Milly menikah dengan Eden. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD