Ketukan pintu pagi-pagi membuat Kris kesal. Muka bantal masih terlihat jelas di wajahnya. Sembari mengusap kedua matanya mengingat dia tak ingin tamu melihat dirinya dalam keadaan buruk, Kris berjalan menuju ke pintu. Tentu apartemen ini canggih di mana orang di luar sana tidak bisa masuk kecuali dia memiliki password apartemen Kris. Setelah membuka pintu, di depan Kris berdiri seorang pria dengan pakai formal yang melekat di tubuhnya. Kris masih mencoba mengumpulkan nyawanya, seingatnya ia tak sedang mengadakan janji. "Kumpulkan seluruh nyawamu sebelum aku benar-benar menghilangkannya." Suara bass itu membuat Kris tersadar. Kris berkedip beberapa kali. Seketika kedua matanya pun membola terkejut dan dia sedikit mundur beberapa langkah. "Ka ... u?" Bahkan suaranya terbata-bata sekarang

