PART 4 : KINA

1377 Words
Happy Reading ^_^ *** Seorang berjalan dengan langkah yang tergolong cepat sesaat setelah mendapat kabar kalau perempuan yang ditolongnya kemarin sudah siuman. Hanya saja kondisinya terlihat aneh, begitulah kata tangan kanannya yang dia tugaskan untuk menjaga si perempuan. Kurang dari dua puluh menit pria itu sudah sampai di rumah sakit dan langsung bertemu dengan tangan kanannya tersebut. “Bagaimana keadaannya? Apa aku bisa menemuinya sekarang juga?” Sang tangan kanan yang diketahui bernama Eldric Handy itu pun terlihat meragu. Kemudian kepalanya menggeleng dengan tidak yakin. “Kupikir tidak bisa, sir. Perempuan itu sedikit... linglung.” “Linglung dalam artian?” pria itu yang diketahui bernama Mike mengernyitkan keningnya dengan bingung. Dia tidak paham dengan bahasa yang dipakai oleh sang tangan kanan. “Kupikir dia hilang ingatan. Dia terus menggeleng saat ditanyai siapa namanya atau dia tinggal di mana. Lalu saat dia mencoba untuk berfikir keras, kepalanya langsung pusing. Dokter langsung melarang aku untuk menginterogasi dia lebih dalam lagi.” “Tapi dia baik-baik saja kan?” Mike tidak tahu berasal dari mana kepeduliannya ini, tapi dia benar-benar mengkhawatirkan perempuan itu. Dari menara Hercules, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana frustrasinya perempuan itu. Sepintas mungkin terlihat seperti kecelakaan biasa, tapi bisa saja itu adalah caranya untuk mengakhiri hidupnya. Menyaksikan seorang perempuan yang frustrasi sampai ingin mati—hati Mike yang katanya sudah mati secara tiba-tiba kembali bergetar dan merasa iba. Makanya secara impulsif dia langsung berlari dan menolong perempuan itu sebelum terseret oleh ombak semakin jauh lagi. Pertanyaan Mike tadi hendak dijawab oleh Eldric, tapi interupsi dari dokter yang baru saja keluar dari ruang perawatan perempuan itu membuat mata Mike tertuju ke arahnya. Pertanyaan tentang kondisi perempuan itu yang belum terjawab oleh tangan kanannya pun dia lontarkan lagi pada pria berjas putih yang sudah dipastikan sebagai ahlinya di bidang ini. “Bagaimana keadaannya, dokter?” kata Mike Tanaka dalam bahasa Inggris yang fasih sekali. “Keadaan Nona tersebut tidak bisa dibilang baik atau buruk secara gamblang. Dia mungkin terlihat baik-baik saja, tapi sepertinya otaknya yang bermasalah. Dia tidak mengingat namanya sendiri. Tak hanya namanya, bahkan dia pun tidak ingat dia berasal dari mana.” “Artinya?” “Dugaan sementara dia mengalami amnesia. Hal itu akan kita pastikan besok karena aku sudah menjadwalkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikannya. Saya harap anda sebagai penanggung jawab Nona itu untuk hadir agar kami bisa memberikan informasi yang tepat pada orang yang tepat juga.” Mike dan Eldric bertatapan sebentar. Nama Mike Tanaka dicatat sebagai penanggung jawab perempuan itu semata-mata karena perempuan itu harus ditindak secara cepat dan butuh persetujuan keluarga. Hanya ada dia saat itu, jadi hanya namanya-lah opsi satu-satunya saat itu. Tapi untuk disebut sebagai orang yang tepat—Mike tidak yakin. Dia tidak mengenal perempuan itu sama sekali. “Ada masalah, sir?” “Oh, tidak ada. Sebisa mungkin aku akan datang setelah pekerjaanku selesai. Tapi untuk sementara asistenku yang akan mengurusnya,” Mike memberi pengertian. “Aku ingin berbicara dengan perempuan itu. Apa dia bisa ditemui sekarang?” “Tentu saja. Tapi tolong jangan memaksakan ingatannya. Hal ini bisa memicu serangan panik tiba-tiba dan membuat kondisinya semakin memburuk.” “Terima kasih atas bantuannya.” Tepat setelah mengatakan itu, Mike Tanaka langsung memasuki ruang rawat inap VIP yang disiapkan sesuai dengan perintahnya. Si pemilik ruangan yang tadinya sedang bersandar dengan ekspresi bingung langsung menatap ke arah Mike dan Eldric kala dua pria itu memasuki ruang perawatan tersebut. “K-Kalian siapa?” Cicit perempuan itu dalam Bahasa Inggris yang sama fasihnya dengan Bahasa Inggris yang Mike gunakan. Pada titik ini Mike menduga kalau perempuan itu bukanlah orang Spanyol asli. Lagipula dari wajahnya pun sudah terlihat jelas. Dia orang Asia, yakin Mike dalam hati. “Justru akulah yang seharusnya bertanya—kau siapa? Apa yang kau lakukan di tebing bibir pantai kemarin? Kau berencana untuk bunuh diri?” “Aku berencana untuk bunuh diri? Kenapa bisa begitu?” Bukannya mendapatkan sebuah jawaban, Mike malah ditanya balik. Lantas bagaimana dia bisa menjawabnya? Demi Tuhan, mereka tidak saling mengenal sama sekali. “Nona Muda, aku tidak mengenal kau. Bagaimana mungkin aku bisa tahu kenapa kau berencana bunuh diri? Yang tahu alasannya kenapa ya hanya dirimu sendiri.” “Aku... tidak tahu...” Penyesalan langsung menyelubungi Mike kala sadar betapa ngototnya dia barusan. Perempuan itu hilang ingatan. Bukan tidak mungkin kalau dia pun melupakan peristiwa kemarin. “Sudahlah. Kau beristirahat saja. Jangan pikirkan apa pun karena aku yang akan mengurus masalah ini untukmu.” Perempuan itu langsung mendongak dan menatap Mike dengan rasa haru yang melingkupi sekujur tubuhnya. Dan melihat raut penuh harapan dari perempuan tersebut, tangan kanan Mike langsung membawa sang tuan untuk berbalik sebentar. Ada yang harus dia katakan dan bisa jadi bahan pertimbangan sang tuan yang dilayaninya sebelum melangkah terlalu jauh dalam kasus ini. “Sir, anda serius ingin menangani masalah ini untuk perempuan itu? Anda tidak mengenalnya sama sekali. Tapi bagaimana bisa—“ “Kalian... dari Indonesia?” Mike dan Eldric bertatapan sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada perempuan yang mereka belakangi. Tujuannya berbicara Bahasa Indonesia pada Tuannya adalah agar perempuan itu tidak memahami perkataannya sama sekali. Tapi siapa sangka perempuan itu malah bisa berbahasa Indonesia juga. Bahkan dari intonasinya, suaranya terdengar lancar sekali! Eldric tercengang sekaligus malu di saat yang bersamaan. “Kau orang Indonesia?” Mike memastikan dan perempuan itu mengangkat bahunya sebagai respon pertama dari pertanyaannya. “Kau tidak tahu atau kau tidak yakin? Tapi tadi dokter bilang kau tidak ingat sama sekali dari mana kau berasal.” “Aku tidak yakin...” perempuan itu menjeda sebentar. “dari awal aku berspekulasi kalau aku adalah orang Indonesia. Tapi aku tidak mengakuinya karena aku tidak yakin. Aku tidak punya identitas apa pun.” Kali ini Mike dan perempuan itu resmi berbicara dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan ya, tata kalimatnya rapi selayaknya orang Indonesia pada umumnya. Pada titik ini Mike semakin yakin kalau perempuan itu mungkin saja orang Indonesia yang tengah berlibur ke Spanyol dan akhirnya mengalami kemalangan ini. “Kita satu negara. Kau benar-benar akan menolong aku kan? Kau... tidak akan meninggalkan aku kan?” Mike menatap mata perempuan itu yang matanya berbinar penuh harapan setelah mengetahui kalau mereka berasal dari negara yang sama. Seketika Mike langsung merasa memiliki tanggung jawab untuk mewujudkannya. Ada apa sebenarnya? Kenapa batinnya begitu lemah hanya karena menatap perempuan mungil nan rentang yang ada di depannya? “Beristirahatlah. Kita lanjutkan pembicaraan ini besok. Sekarang aku punya pekerjaan yang harus diurus.” Mike berbalik, tapi suara perempuan yang ditolongnya kembali terdengar. Secara naluriah Mike dan Eldric menghentikan langkah mereka. “Kau—siapa namamu? Setidaknya aku harus tahu namamu untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya...” Mike berbalik sepenuhnya. Dia menatap perempuan itu lekat-lekat. Haruskah dia memberitahukan namanya? Tidakkah ini akan berbahaya? “Mike Tanaka. Kau bisa memanggil aku dengan panggilan Mike—seperti yang orang-orang lakukan.” “Tuan Mike... aku... aku benar-benar berterima kasih pada kau. Terima kasih karena sudah menyelamatkan aku dari maut. Dan terima kasih juga atas bantuan yang akan kau berikan ke depannya. Aku benar-benar bersyukur karena bertemu dengan kau di antara sekian banyak manusia.” Mike tersentuh. Dan demi Tuhan—bagaimana mungkin? Pria yang diyakini semesta kalau hatinya sudah mati, lalu secara tiba-tiba bergetar karena iba pada seorang perempuan yang secara tak sengaja dia tolong? “Lalu kau—bagaimana aku bisa memanggilmu, Nona? Apa kau benar-benar tidak mengingat sesuatu tentang dirimu yang bisa kau jadikan identitas sementaramu di sini?” Perempuan itu terdiam lumayan lama. Namun dari raut wajahnya, Mike tahu kalau perempuan itu berfikir keras. Seketika dia ingat nasihat dokter untuk tidak terlalu memaksakan ingatan perempuan itu atau hal ini akan memicu sesuatu yang fatal akan kondisinya. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi dan memperumit keadaan ini, Mike mengibaskan salah satu tangannya untuk menarik perempuan itu dari lamunannya. “Sudahlah, lupakan. Tidak perlu terlalu dipikirkan mengenai siapa dirimu. Yang terpenting kau sehat dulu.” Mike berbalik dan hendak pergi, tapi suara perempuan itu kembali menahannya. “Kau bisa memanggil aku Kina. Kina...” perempuan itu menjeda dengan lamunan sesaat. “... aku tidak tahu Kina itu siapa, tapi sekelebatan bayangan muncul dan orang tersebut memanggilku Kina. Jadi, ya, kau bisa memanggil aku Kina.” “Kina?” Perempuan itu mengangguk mantap. “Ya. Kina.” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD