PART 3 : SPANYOL DAN PATAH HATI

2066 Words
Happy Reading ^_^ *** Spanyol sore ini terpantau cerah. Dan suasana seperti ini sangat-sangat diidamkan oleh traveler yang haus akan momen indah selama mereka berlibur. Esther seharusnya bahagia seperti traveler-traveler lainnya, tapi sayangnya problematikanya dengan sang pacar menuntut Esther untuk tidak bahagia barang sedikit pun. Bagaimana tidak—di kepalanya dia membayangkan Nick akan meminta maaf dan menyesali sikapnya yang sudah membuat dirinya dan keluarganya bersitegang. Kesalahpahaman ini akan berakhir dan dia akan bahagia bersama Nick di negara Spanyol yang indah. Tapi apa yang dia dapat? Tidak ada. Nick sangat sulit dihubungi dan Esther seperti anak ayam yang kehilangan induknya mencari jejak sang pacar. Menyedihkan? Sangat. Kenapa dia terkesan seperti mengemis pada sang kekasih demi kata maaf yang seharusnya dilakukan oleh Nick, bukan dirinya?! Pada akhirnya Esther berakhir di Provinsi Pontevedra, yaitu salah satu provinsi yang ada di bagian Barat Laut Spanyol, demi menyusul sosok Nicholas Cheung. Di pikirannya, Nick mungkin sendirian karena sedang emosi karena Esther gagal membujuk kedua orang tuanya lagi. Tapi fakta yang didapat sungguh membuat hati Esther mencelos. Dia bersama seorang perempuan di sebuah bar. Dan pacarnya itu tertangkap basah sedang berciuman! Esther marah sekali dan menyeret pria itu sejauh mungkin dari perempuan murahan yang tadi menggodai dirinya. “Apa-apaan kamu, Esther?!” “Kamu yang apa-apaan?!” Esther balas membentak. “Aku memperjuangkan hubungan kita, tapi kau malah menjalin hubungan dengan perempuan lain? Betapa jahatnya kau pada aku, Nick.” Tak terima dibentak oleh perempuan, Nick pun balas membentak. “Dengan cara apa kau memperjuangkannya, hah? Apa kau berhasil mendapatkan jabatan sesuai dengan permintaan aku?” Esther memutar bola matanya. “Aku tahu aku gagal lagi, tapi bukan berarti kau bisa bertindak seenak ini bersama perempuan lain!” Esther berusaha mengatur napasnya yang memburu. “Aku memperjuangkanmu, Nick, tapi ini balasanmu padaku?” “Aku tidak bisa bersama dengan perempuan yang lemah tanpa kekuasaan seperti dirimu. Kau bahkan tidak mampu mendapatkan apa yang kau inginkan!” Esther tercengang. Apa dia perlu menunjukkan segala benda-benda tidak berguna yang dia dapatkan secara mudah hanya karena dia menginginkannya? Demi Tuhan—dia adalah Esther Kinara Wang! Sejauh ini apa yang tidak berhasil dia dapatkan? Tidak ada. Kalau pun dia tidak mendapatkannya, itu artinya dia memang tidak menginginkannya. Dan dia memang tidak ingin bergabung di perusahan! Apa hal sesederhana ini pun tidak dipahami dengan baik oleh Nicholas? Tapi kemudian benak Esther menyadari betapa tidak pedulinya Nicholas pada dirinya. Pria itu terus memaksa dirinya untuk melakukan hal yang tidak diingininya. Seorang pacar yang sayang seharusnya tidak bertindak seperti ini kan? “Do you love me, Nick?” Esther mempertanyakan perasaan Nick yang sebenarnya dengan hati yang teriris pilu. “Dulu. Sekarang tidak.” Esther terkekeh penuh ironi. Enteng sekali jawabannya. Padahal baik dulu atau sekarang Esther masih sangat mencintai Nicholas. “Sekarang aku memahami maksud saudara kembarku dengan baik,” lirih Esther. “Kau hanya memanfaatkan keluargaku. Sialan kau, Nick!” makinya. “Keluarga harus saling membantu, kan? Kalau kau dan aku berhasil menikah, keluargamu akan menjadi keluargaku. Jadi tidak ada istilah memanfaatkan di sini karena kita saling membantu sama lain.” Nick berujar dengan percaya dirinya. “Tapi sayangnya keluargamu begitu perhitungan. Hal semudah memberi kau jabatan pun tidak bisa mereka lakukan. Keluarga semacam ini jelas bukan keluarga yang menguntungkan untuk diajak bekerja sama.” “Keluargaku perhitungan?” Esther mengulangi kalimat Nicholas dengan kekehan mengejek. Sepertinya Nick benar-benar tidak menyelami keluarga Esther dengan baik. Dia belum tahu bisa seroyal apa keluarganya kalau berhubungan dengan keluarga yang lain. Tapi dia tidak perlu mengoreksi apa pun. Biar Nicholas dengan otak dangkalnya mengira seperti ini. Ini adalah cara termudah untuk menyeleksi orang-orang yang benar-benar tulus dengan yang tidak. “Ya, kau benar. Keluargaku memang perhitungan. Tapi dari perhitungan ini, apa kau melihat bisnis keluargaku yang gagal? Tidak ada. Kami sesukses ini karena perhitungan kami selalu tepat.” jawaban Esther begitu menyinggung Nick yang notabene-nya sering mengalami kegagalan karena sering salah perhitungan. Esther menyeringai, apalagi melihat ekspresi tersindir Nick yang kentara sekali. “Bahkan perhitungan keluargaku tentang dirimu pun benar. Syukurlah orang sepertimu tidak menjadi bagian dari kami. Perusahaan kami hanya akan hancur di tangan orang-orang yang tidak pandai memperhitungkan sesuatu seperti dirimu.” Esther berbalik, tapi tangannya dicengkeram dengan kuat. Bahkan setelahnya pun tangann Esther dihempaskan tanpa nurani hingga bahu perempuan itu sedikit menghantam dinding. “Kau bilang apa barusan?!” “Memangnya kau mau apa kalau aku mengulanginya lagi, hah?!” balas Esther dengan tak kalah tajamnya. “Menjauhlah kau dari hidupku, b******n!” “Kau benar-benar—” Nick sudah mengangkat tangan kanannya untuk menampar Esther. Tubuh Esther gemetar karena perlakuan Nick yang ternyata jauh lebih b******n dari orang paling b******k yang pernah dikenalnya. Tapi meskipun begitu, Esther tetap tak mau terlihat ketakutan. Oleh karenanya dengan tubuh yang gemetar dan tangan yang terkepal kuat di samping tubuhnya, perempuan itu memberikan pipinya seolah-olah dia tidak ketakutan sedikit pun. “Kau mau menampar aku? Tampar saja. Tapi ingat bahwa aku adalah Esther Kinara Wang. Hidupmu tidak akan tenang setelah melakukan itu pada putrinya Christopher Wang!!” Nick mengepalkan tangannya yang sudah melayang di udara. Pacarnya pun menyela dan meminta Nick untuk berhenti saja. Dan dari situ Esther tahu kalau perempuan itu berkebangsaan sama dengan dirinya dan juga Nick. Dilihat dari keakraban mereka, bisa jadi Nick memang sudah menduakan dirinya sejak lama. Pria itu berselingkuh! Esther memutuskan untuk pergi setelah itu. Dadanya sudah penuh sesak dengan segala fakta yang didapatkan hari ini. Dan dia tidak akan sanggup bertahan meskipun hanya sebentar lagi. Oleh karenanya dia langsung berbalik dan meninggalkan Nick dengan selingkuhannya. Namun pada detik yang sama juga air matanya menitik. Dia menangis—sebuah tangisan yang sudah dia tahan sejak tadi karena diperlakukan sekasar ini. Jadi begini rasanya patah hati. *** Esther menangis sesegukan di dalam taksi yang dipilihnya secara random. Dia benar-benar tidak mengira kalau hubungannya dengan Nicholas akan kandas di negara Spanyol yang indah ini. Padahal dia berharap kalau hubungan mereka akan langgeng sampai ke jenjang yang lebih serius. Tapi malang tak bisa ditolak—inilah takdir mereka yang sebenarnya. Karena punya keluarga yang begitu luar biasa, Esther begitu pemilih saat bergaul. Dia tidak ingin hanya sekedar dimanfaatkan karena kekayaan keluarganya yang begitu luar biasa. Belum lagi dengan adiknya yang juga sama menawannya—Esther benar-benar ragu ada orang yang mendekatinya karena benar-benar tulus pada dirinya. Semua orang punya maksud terselubung, seperti Nick. Sebenarnya Esther sejak lama sudah merasa bahwa Nick memang mendekatinya karena dia adalah putri sulung Keluarga Wang. Dia merasa akan mendapatkan tangkapan yang luar biasa makanya begitu gencar mengejar Esther yang pada saat itu masih enggan membuka hati untuk pria mana pun. Tapi Nick terlalu mempesona, batin Esther mengenang segala usaha Nick untuk mendapatkannya pada saat itu. Dia pikir seiring berjalannya waktu Nick akan berubah dan mereka akan bahagia seperti di dongeng-dongeng yang sering Papanya bacakan. Tapi siapa sangka Nick tetap tidak berubah. Malah keserakahannya semakin menjadi-jadi makanya dia mendorong Esther untuk bergabung ke perusahaan secara terang-terangan. Tidak ada basa-basi lagi. Seharusnya di detik itu Esther sudah memutuskan Nick, tapi sayangnya dia masih berharap Nick akan berubah karena dirinya. Benar kata orang, tidak baik membayangkan dirinya bisa mengubah seorang pria menjadi seperti keinginannya. Justru sebaliknya, kalau pria itu memang mencintai dirinya, dia yang akan mengubah dirinya sendiri demi perempuan yang dicintainya. Karena tangisannya yang memilukan, driver taksi yang ditumpanginya pun membawa Esther berkeliling sampai tangisannya mereda. Lalu ketika perempuan itu sudah tenang, Esther pun meminta untuk diantarkan ke tempat terdekat yang bisa menenangkan dirinya. Dan berakhirlah Esther di tempat yang sering disebut-sebut sebagai Menara Hercules. Menara Hercules atau yang dalam bahasa Spanyol dikenal sebagai Torre de Hércules ini adalah Mercusuar Romawi Kuno yang terletak di Barat Laut negara Spanyol. Tepatnya, menara ini terletak sekitar dua puluh empat kilometer dari pusat kota A Coruña, Galicia, dengan tinggi sekitar lima puluh lima meter dan menghadap pantai Atlantik Utara Spanyol. Kesan pertama yang Esther rasakan adalah keindahan. Hanya saja saat terkenang patah hatinya, dia kembali merasa sedih. Tempat seindah ini seharusnya didatangi dengan orang yang terkasih, seperti dua orang pengunjung yang sedang berfoto bersama pasangannya. Mereka tertawa bahagia, sedangkan Esther menangis pilu karena baru saja putus. Tak tahan dengan kondisi ini, Esther pun memutuskan untuk menjauh saja. Dia memilih berjalan ke sebuah area yang tak didatangi oleh pengunjung. Di tempat itu kebetulan ada sebongkah batu yang memanjang, tapi alih-alih duduk di sana, Esther malah memilih untuk melewatinya dan berjalan melalui jalan terjal untuk sampai ke bibir pantai. Ini terlalu berbahaya, tapi sebagai orang yang sedang patah hati, perempuan itu tidak menangkap sinyal yang diberikan oleh benaknya. Esther tetap ke sana dan berteriak layaknya orang gila. “Sialannnnn!!!!” Untuk siapa makiannya? Esther juga tidak tahu. Kalau diurutkan, ini adalah kesalahan Michael Chu yang secara tiba-tiba muncul sebagai CEO baru perusahaan Mamanya. Ya, sebelum pria itu datang, semuanya masih baik-baik saja. Hubungannya dengan Nick pun bisa dikatakan baik karena pria itu belum uring-uringan padanya. Tapi setelah dipikir-pikir pun, Mama dan Papanya juga bersalah. Apa susahnya memberi jabatan pada sang putri kesayangan? Ada banyak keluarga yang seperti ini. Tapi kemudian pikiran Esther disentil dengan pembicaraannya dengan sang papa dan juga sang adik sebelum ke Spanyol. Seketika dia malu karena sudah dijabarkan oleh dua pria dalam keluarganya secara detail namun pikirannya masih sesempit ini menilai keluarganya sendiri. Esther malu. Seharusnya dia tidak marah pada Michael Chu atau pun keluarganya, tapi pada dirinya sendiri yang terlampau cinta sampai sebodoh ini. Dia sudah merasakan ketidaktulusan Nick sejak awal, bukan? “Oliver! Aku putus dengan Nick! Apa yang harus aku lakukan sekarang?” “Oh, kau putus? Syukurlah.” Esther memutar bola matanya akan jawaban sang adik yang terdengar begitu santai. Setahu dirinya, Oliver berhubungan dengan banyak perempuan. Apa sang adik belum pernah merasakan patah hati satu kali pun? “Kenapa jawabanmu enteng sekali, hah?! Aku patah hati, Oliver!” “Patah hati itu siklus hidup seseorang yang sudah dewasa. Kamu akan menjadi lebih hebat setelah berhasil baik-baik saja.” Esther terkekeh mendengar nasihat sang adik yang terdengar seperti Guru Besar dalam bidang percintaan. Apa sang adik juga seorang player? Astaga. “Lalu bagaimana caranya baik-baik saja, hah? Aku bahkan sedang menangisinya seperti orang gila sekarang ini.” “Jangan menangisinya, sist. Kamu membuang-buang tenagamu. Kenapa tidak begini saja—” Oliver menjeda dan menarik perhatian Esther. Perempuan itu menanti dengan penasaran. “—lakukan saja seperti biasa. Berbelanja. Shopping dan travelling. Spanyol sangat indah, sayang kalau kamu habiskan waktumu dengan menangisi seorang pria yang sejak awal sudah terlihat tidak baik.” “Apa kau pikir aku sedang dalam mood shopping atau travelling? Aku ingin menghilang saja dari dunia ini!” “Tutup mulutmu, Esther. Mama dan Papa pasti sedih kalau mendengar kau mengatakan hal semacam ini. Apalagi semua ini karena pria b******k semacam Nicholas Cheung.” Esther langsung menutup mulutnya karena ditegur seperti itu oleh sang adik. Baiklah, dia sudah cukup sadar betapa kekanakannya dia sekarang dibanding sang adik. “Sudahlah, aku lelah. Aku mau—” Esther memandangi ponselnya dengan horor kala suara Oliver terdengar putus-putus. Bahkan sinyal pun sedang mengkhianatinya, huh?! Kakinya menghentak-hentak sebal dan dia menurunkan ponselnya dari telinga dengan gemas. Esther sebenarnya tidak ada niatan untuk membanting ponselnya, tapi benda itu merosot begitu saja dari tangannya dan mendarat ke bebatuan pantai dan tercebur ke laut. Matanya membulat. Kenapa dia begitu sial sekali sih hari ini?! Esther menunduk berusaha meraih ponselnya lagi, tapi malang tak bisa ditolak, dia malah tersandung oleh bebatuan yang tajam dan akhirnya terpeleset di atas bebatuan yang licin karena air. Perempuan itu tercebur ke laut. Phobianya akan kedalaman laut langsung menyeruak dan membuat perempuan itu panik sendiri. Karena ketidakmampuannya dalam hal berenang namun begitu menyukai laut, Esther sebenarnya sudah diajari teknik agar dirinya bisa selamat kalau hal-hal semacam ini terjadi. Tapi demi Tuhan—dia belum pernah mempraktekkannya secara langsung. Dia pikir itu akan mudah, tapi ternyata ini sangat mengerikan! Kakinya tidak merasa menyentuh bongkahan apa pun yang bisa dijadikan pijakan. Dia berusaha meraih apa pun, tapi nihil. Tidak ada yang bisa dia pegang untuk bertahan hidup. Esther tidak menyerah dan terus mencari walau tidak mudah. Tapi sepertinya gerakannya yang terlalu tergesa-gesa malah membawa tubuhnya semakin menjauh dari daratan. Intensitas kepalanya masuk ke dalam air pun semakin sering. Hingga kemudian kepalanya membentur batu yang tajam. Rasanya sakit sekali dan pada titik ini Esther akhirnya mulai menyerah. Kesadaran Esther menghilang sepenuhnya. Dan bukan hanya kesadarannya, sosok Esther Kinara Wang yang manja pun dinyatakan resmi menghilang dari peredaran bumi. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD